
Setelah mencari Maudy kesana kemari, Richard memutuskan untuk mengunjungi Mateo. Setelah mobil terpakir di depan sebuah rumah, Ricard turun dari mobilnya, Lelaki langsung berjalan masuk ke dalam sebuah rumah di mana Matteo dikurung. Dia membuka pintu dan melihat pria itu yang sedang duduk di sofa kemudian menghampirinya.
"Matteo," panggil Richard pada Matteo yang hanya menoleh sekilas. Dia menatap kesal pada Ricard.
Richard menghela napas. Seperti biasa, dia paling tidak bisa jika didiamkan oleh Matteo. Mateo adalah Satu-satunya orang yang selalu ada dalam titik terendah, hingga cinta Ricard pada pria itu begitu menggebu.
"Kau tidak melakukan hal apapun pada Maudy, 'kan?" tanya Ricard dengan hati-hati, dia takut menyinggung perasaan Mateo.
Matteo yang sedang membaca majalah, langsung menoleh. "Jika bisa, aku ingin melakukan sesuatu pada wanita itu, tapi kau mengurungku di sini, lalu bagaimana caranya aku bisa seperti itu? Apa kau likir itu masuk akal?" Mateo berucap dengan sewot.
Matteo langsung menutup majalah kemudian pergi meninggalkan Richard. Dia masih kesal pada pria itu yang mengurungnya di sini. Richard kini mengusap wajah kasar.
Seharian ini Richard sudah mencari Maudy ke mana pun, tapi tak ada hasil membuatnya memutuskan untuk pulang. Lalu sekarang, belum selesai urusan tunangannya, dia malah harus berurusan dengan Matteo.
***
Steve kini menepikan mobil di pinggir jalan berniat untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Sudah selama dua belas jam dia mencari Maudy ke sana ke mari sampai dia melewatkan makan siang, tapi sayangnya dia tidak ada di manapun.
Dan sekarang, tubuh Steve merasa begitu lemas. Dia lapar tapi malas untuk makan karena selalu teringat Maudy. Dia takut jika wanita itu tidak diberi makan oleh penculiknya.
Tak lama, ponsel Steve berdering. Sebuah panggilan masuk dari Elsa yang langsung dia angkat.
"Iya, Mom?" sapa Steve, bahkan untuk menjawab ucapan Elsa pun dia begitu lemas.
"Kau di mana?" tanya Elsa.
"Aku masih mencari Maudy, aku akan pulang sebentar lagi," jawab Stev.
"Stev, tadi Maudy menelpon Mommy."
"Apa?!" Steve langsung terperanjat kaget mendengar ucapan Elsa di seberang sana.
"Apa katanya?"
"Dia memang sedang diculik oleh seseorang, tapi dia mengatakan kabarnya baik-baik saja," jelas Elsa.
"Mommy, bagaimana mungkin Maudy bisa menelpon Mommy saat ponselnya tidak ada?" Steve bertanya balik.
"Maudy menelepon dari telepon rumah penculiknya, hingga dia bisa mengatakan baik-baik saja. Sekarang, dia sedang mencari cara untuk kabur. Daddy juga sudah mengarahkan anak buahnya untuk ke titik lokasi Maudy betada," dusta Elsa, berharap putranya segera pulang.
Rasanya. Elsa tidak tega melihat Steve seperti ini, hingga dia menyuruhnya untuk pulang. Pria itu kini menghela napas lega saat mengetahui bahwa Nauder sudah bergerak. Setidaknya sekarang, dia bisa tenang dan istirahat.
Steve yang mulai sudah kembali bertenaga, langsung menyalakan mesin dan kembali menjalankan mobilnya untuk pergi ke sebuah restoran.
***
Steve kini sudah berada di sebuah restoran. Dia pun langsung turun dan berjalan dengan lesu ke dalam sana. Setelah memesan makanan, dia terdiam melamun di meja.
Steve masih terus memikirkan Maudy, dia takut terjadi sesuatu mantan istrinya, walaupun sekarang sang ayah sudah mengetahui titik keberadan Maudy. Tapi, tetap saja dia tidak bisa berhenti khawatir.
Dua puluh menit kemudian, steak pesanan Steve tiba hingga dia langsung memakannya tanpa ada rasa nikmat di dalam sana. Dia menyantap dengan pikiran yang kosong.
Sampai akhirnya, acara makan pun selesai. Steve dengan cepat meninggalkan restoran dan memutuskan untuk pulang dan mengistirahatkan tubuhnya.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai Steve sampai di rumah. Lelaki itu langsung turun dari mobil kemudian berjalan gontai ke dalam sana.
Ternyata, Nauder dan Elsa sudah berada di sana.
"Kau sudah makan?" tanya Elsa.
Steve menggangguk kemudian mendudukkan diri di sebelah ayahnya
"Bagaimana, apa anak buahmu sudah bekerja, Dad?" tanya Steve.
Nauder menggangguk. "Mereka sudah mengetahui posisi Maudy, dan kini kita hanya perlu menunggu hasilnya," Jawab Nauder. Rasanya, dia ingin sekali tertawa ketika melihat putranya seperti ini.
Steve melihat pada Nauder dan Elsa yang di matanya terlihat sangat santai seolah menghadapi penculikan Maudy.
"Apakah kalian tidak khawatir pada Maudy? Bagaimana mungkin kalian terlihat santai?" tanya Steve membuat suasana menjadi tegang, dan tak lama Elsa dan Nauder saling tatap.
"Steve, apa kau tahu kami saja baru pulang mengunjungi kantor polisi? Daddy sudah meminta bantuan polisi untuk mengepung penculikannya, karena tidak mungkin anak buah Daddy bisa bebas bergerak tanpa izin petugas. Apalagi ini negara asing."
Nauder mempunyai seribu satu alasan untuk meyakinkan Steve yang sekarang tampak percaya.
Pria itu menghela napas kemudian pun bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam kamar. Dia tidak melihat Geo di sini dan berpikir bahwa dia sedang tidur, padahal nyatanya Geo sedang berada di rumah Maudy.
***
Richard turun dari mobil, lelaki itu berjalan ke rumah dengan langkah gontai. Setelah menenangkan Matteo, dia kembali mencari Maudy.
Namun mencari sekian lama, Maudy tetap tidak ditemukan hingga kini dia pun masuk ke kamar Leana karena sejak kemarin dia belum melihat putrinya.
Richard membuka pintu kamar Leana yang belum tidur padahal hari sudah malam, hingga Leana menoleh, Gadis itu menatap Ricard dengan malas.
__ADS_1
"Leana," panggil Richard. Dia mendudukkan diri di sebelahnya. "Kau sedih Daddy tidak jadi bertunangan dengan Maudy?" tanya Ricard, yang ingin tau apa yang di lakukan Maudy.
Leana menyimpan tabnya kemudian menatap sang ayah. "Tidak, aku tidak sedih sama sekali," jawab Leana dengan acuh.
Richard mengerutkan keningnya. "Maksudmu?" tanya Ricard yang heran, bukankah putrinya ini sangat menyayangi Maudy.
"Sudahlah, Daddy tidak perlu membahas Bibi Maudy. Daddy urus saja Paman Matteo," ketus Leana.
Richard memejamkan matanya mendengar ucapan Leana yang kini berkata, "Oh ya, satu lagi, jika Bibi Maudy ditemukan, aku ingin tinggal bersamanya." Leana langusung mengatakan keinginannya.
"Leana, apa-apaan kau? Kenapa kau ingin tinggal bersama orang lain di saat Daddy masih hidup?" tanya Richard, Dia bahkan meninggikan suaranya.
"Sekarang katakan padaku, jujur apakah kau lebih menyayangi Paman Matteo daripada aku?" Untuk pertama kalinya dia berani menanyakan hal semacam ini, padahal dia sudah tau jawabannya.
Richard mematung saat mendengar pertanyaan Leana. Hal yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya, di mana gadis ini akan bertanya seperti itu. Padahal masing-masing mereka mempunyai porsi tersendiri dalam hidupnya.
"Kenapa? Apa Daddy tidak bisa menjawab?" Leana berucap dengan hati yang hancur.
"Apa yang dilakukan Daddy dan Paman Mateo adalah salah, dan sebagai permintaan maaf kau boleh meminta apapun dari Daddy."
Leana tersenyum getir, saat mendengar ucapan sang ayah, yang menyiratkan bahwa ayahnya tidak
"Aku ingin Daddy melepaskan Paman Matteo."
"Daddy tidak bisa, Leana."
Mata Leana berkaca-kaca saat mendengar ucapan Richard. Tangis yang sempat terjeda kembali terulang.
"Daddy sudah seperti ini sejak awal, Daddy tidak bisa mengatur hasrat pada siapapun termasuk pada Paman Matteo. Daddy juga menyayangimu karena kau adalah Putri Daddy." Ricard berusaha untuk memberi pengertian pada putranya.
"Cukup, aku tidak mau mendengarnya," kata Leana, "aku tidak mau mendengar lagi."
Bibir Leana gemetar saat bicara yang secara tidak langsung, Ricard lebih memilih Mateo dari pada dirinya.
Merasa bahwa Leana sedang tidak bisa diajak bicara, Richard pun memutuskan untuk bangkit dari duduknya. "Istirahatlah, kita bicara nanti."
Setelahnya, Richard pun keluar kamar Leana. Gadis itu kini memeluk lutut kemudian kencang setelah dia sendirian di sana.
Sungguh, rasanya dia ingin menginap di rumah Maudy, tapi sayang wanita itu melarangnya untuk menghindari kecurigaan Richard dan Stev. Sedangkan Maudy i sendiri berencana untuk menampakkan diri di hadapan Ricard dan Steve dua hari ke lagi, agar semuanya terlihat nyata dan bukan sandiwara.
Richard kini menyandarkan tubuhnya ke belakang. Dia yang baru saja masuk ke dalam kamar, memutuskan untuk duduk sejenak. Ketika itu, ucapan Leana kembali terngiang membuat hatinya patah. Dia sungguh tidak bisa memilih antara Matteo dan Leana.
***
Steve beringsut bangkit dari berbaringnya, dia memutuskan untuk berdiam di luar sembari rokok. Dia kini membuka pintu balkon dan berdiri di sana sembari melihat rumah Maudy yang gelap.
Kegelapan tersebut membuatnya berpikir tidak ada siapapun di sana. Dia juga mengira Januar masih belum pulang karena mencari kakaknya, tapi semua itu salah.
Faktanya sekarang, Maudy pun sedang melihat ke arah Steve.
Semula Maudy juga sedang melamun di balkon, tapi saat melihat siluet Steve, dia langsung mematikan lampu kemudian duduk dan mengintip Steve dari celah-celah pagar pembatas.
Maudy menyandarkan kepalanya ke samping. Dia terus menatap Steve yang sedang merokok. Senyumnya tiba-tiba mengembang ketika mengingat tentang ucapan Elsa bahwa pria itu mencintainya.
"Steve, untuk kali ini bisakah aku percaya padamu bahwa kau tidak akan melukaiku lagi?" lirih Maudy dengan bulir bening jatuh dari pelupuk matanya. Entah kenapa, Tuhan kembali menghadirkan rasa cinta kepada mantan suaminya.
Sementara itu, Steve yang sudah puas merokok, langsung bangkit dari duduknya berniat untuk mengunjungi rumah Maudy agar kerinduannya bisa sedikit terobati.
Maudy yang melihat pergerakan itu, berpikir bahwa Steve keluar dari balkon akan tidur mengingat malam sudah larut, tapi dia salah. Dia kini mendengar suara gerbang terbuka hingga dia menyadari sesuatu.
Maudy cepat bangkit kemudian berlari ke arah kamar Geo. Dia memanggilnya, "Geo."
Geo yang biasanya susah untuk terbangun setelah tertidur, kini membuka matanya. "Ada Daddy di luar, kau berpura-pura saja tidur di sini karena merindukan Mommy, oke?"
Geo yang setengah sadar hanya berdeham, meskipun begitu, dia mengerti ucapan Maudy yang kini bersembunyi di bawah ranjang putranya.
Tak lama, terdengar derap langkah seseorang yang sedang menaiki tangga hingga sedetik kemudian, pintu kamar terbuka. Ternyata sebelum datang ke sini, dia lebih dahulu mendatangi kamar putranya, hingga kini dia membulatkan mata terkejut saat saat melihat Geo ada di sini.
Steve pikir putranya tidur di rumahnya. Dia kini berjalan ke arah ranjang membuat Maudy yang sedang bersembunyi menahan napas karena begitu gugup dan takut pria itu memergokinya.
"Geo," panggil Steve.
Geo baru saja terpejam, kembali membuka mata kenapa.
"Kenapa kau tidur di sini? Padahal di sini tidak ada siapa-siapa?” tanya Stev, dia menatap heran pada anaknya sebab dia pikir Geo sedang menginap di rumahnya.
"Karena ...." Geo terdiam, dia tiba-tiba tersadar akan ucapan Maudy.
"Karena mau aku merindukan Mommy," jawab Geo sambil mengucek matanya. Nyaris saja dia ketahuan bahwa dia sedang berbohong.
Steve mengangguk. "Ya sudah kau tidur lagi, Daddy juga akan tidur di sini."
Mata Maudy membulat saat mendengar ucapan Steve, begitu juga Geo yang tahu di mana dia sang ibu bersembunyi.
__ADS_1
Jika Steve benar-benar menginap di sini, maka sudah dipastikan bahwa Maudy tidak akan keluar dari kolong ranjang.
"Tidak, ayo kita tidur di rumah saja. Aku tidak nyaman berada di sini karena aku terus mengingat Mommy," ucap Geo dengan mata yang setengah terpejam
Steve mengangguk, dia bangkit dari duduknya kemudian menuntun Geo untuk bangkit dari kamar yang membuat Maudy menghela napas lega. Dia pun langsung keluar dari ranjang kemudian mengunci pintu kamar Geo dan memutuskan untuk tidur di sana.
***
Dua hari kemudian.
"Apakah Daddy belum menemukan kabar dari Maudy?" tanya Steve ketika Nauder terlihat santai. Padahal sebelumnya sang ayah mengatakan akan segera membebaskan Maudy, dan sekarang setelah dua hari berlalu, tak ada tanda-tanda wanita itu ditemukan.
"Kami sedang melakukan penangkapan pada penculik Maudy yang ternyata mempunyai dendam pada Richard," jawab Nauder asal membuat Steve mengerutkan keningnya saat mengingat perkataan Richard.
"Tapi Ricard mengatakan bahwa dia tidak punya musuh," ucap Stev
"Mungkin dia tidak menyadari, bisa saja itu adalah dia musuh dalam selimut. Ayolah, kita ini hidup di dunia bisnis, pasti ada saja orang yang tidak suka," jawab Nauder dengan meyakinkan.
Steve tidak menjawab lagi karena merasa perkataan Nauder adalah benar. Di dunia bisnis tidak ada yang namanya teman, semuanya hanyalah lawan.
"Lalu, harus sampai kapan aku menunggu? Aku sungguh takut terjadi apa-apa dengan Maudy," tanya Stev lagi dengan tak sabar.
"Tunggu saja, nanti polisi akan menyelamatkan Maudy saat penculiknya lengah, dan itu adalah saat malam."
Kali ini, Steve berusaha untuk mempercayai sang ayah walaupun di dalam hati tentu saja dia ragu. Namun, dia tetap berharap bahwa mantan istrinya bisa cepat diselamatkan.
***
Maudy mematut diri di cermin. Kini, dia sedang berada di hotel sejak siang tadi. Walaupun pura-pura, tapi dia harus mempersiapkan semua, termasuk tampilannya agar benar-benar seperti orang yang baru saja diculik
Sekarang, Maudy sudah memakai pakaian yang sederhana agar mereka yakin bahwa itu merupakan pemberian penculik tersebut. Rambutnya pun acak-acakan agar semuanya tampak nyata.
"Rencana kalian sungguh konyol," ucap Januar yang berada di depan kakaknya.
"Diam, kau jika tidak tahu apa-apa," jawab Maudy membuat Januar berdecak.
"Mana mungkin aku tidak tahu apa-apa, sedari kemarin aku seperti orang dungu yang mengikuti rencana kalian," jawab Januar membuat Maudy menoleh.
"Bagaimana tampilanku? Apa aku sudah seperti orang yang diculik?" tanya Maudy.
"Kau ini benar-benar aneh. Tinggal bilang saja kau mencintai Steve, kenapa harus seperti ini."
"Jangan bahas hal lain, katakan apa penampilanku sudah meyakinkan?” tanya Maudy.
“Hmm, sudah sangat meyakinkan, ayo pulang.” Januar bangkit dari duduknya, mereka pun langsung keluar dari hotel, Beberapa orang yang berpapasan dengan keduanya menatap Maudy heran atas penampilannya yang benar-benar berantakan.
Hal itu membuat Januar menunduk, dia sungguh malu berjalan dengan kakaknya.
Saat berada di basement, terlihat beberapa polisi juga sekumpulan orang berjas yang tentu saja adalah orang-orang suruhan Nauder. Polisi itu pun sudah disewa oleh ayah Steve sendiri untuk mendampingi Maudy agar dia terlihat benar-benar diantarkan oleh pihak kepolisian.
"Silakan masuk," ucap polisi
Maudy mengangguk kemudian masuk ke dalam mobil.
***
"Apa kau bisa diam?" tanya Elsa ketika putranya terus berjalan ke sana ke mari.
"Mana bisa aku diam?" tanya Steve membuat Elsa menggeleng.
Saat ini, rasanya Steve sungguh tidak sabar menunggu kepulangan Maudy. Dia ingin segera melihat kondisi orang yang dia cintai. Sejak tadi, dia tidak bisa duduk karena gelisah, dia terus berjalan mondar-mandir sembari melihat ke arah jalan, berharap mobil yang bawa Maudy segera sampai.
Saking bahagianya mengetahui bahwa Maudy sudah ditemukan, Steve tidak menyadari bahwa reaksi Elsa dan Nauder terlihat biasa saja
Lima belas menit kemudian, terdengar suara sirine hingga Steve langsung keluar dari gerbang. Dia melihat mobil polisi berhenti di depannya.
Maudy kini berusaha menormalkan ekspresinya. Dia bahkan sudah memakai tetes mata agar terlihat sedang menangis. Sedetik kemudian, pintu mobil terbuka dari luar.
"Maudy," panggil Steve dengan mata yang membahas
Mata Maudy terlihat berkaca-kaca, dan tentu saja itu hanya akting. Dia pun keluar dari mobil dan Steve langsung memeluknya. Dia bahkan menangis tersedu-sedu membuat Maudy ingin tertawa dan meneteskan air mata bersamaan.
Begitu pula dengan Elsa dan Nauder yang ingin tertawa saat melihatnya reaksi Steve. Jika dipikir, ini pertama kalinya mereka melihat pria itu menangis karena selama ini, dia selalu menyembunyikan perasaannya dari mereka.
Steve melepaskan pelukannya kemudian menatap Maudy. "Kau tidak apa-apa? Apa ada yang terluka? Apa dia menyakitimu?" tanya Steve bertubi sambil menangkup pipi Maudy yang merasa berbunga-bunga saat melihat kepedulian pria ini.
Tak lama, terdengar suara mesin mobil membuat keduanya menoleh pada Richard. Rupanya, Steve yang mengabarkan pada pria itu bahwa Maudy sudah ditemukan m
Saat mobil Richard berhenti, Steve langsung menjauhkan tangannya dari Maudy karena tidak ingin pria itu salah paham. Richard kini turun dari mobil, dia langsung berlari ke arah Maudy.
"Maudy!" panggil Richard.
Baru saja dia akan memeluk Maudy, tiba-tiba Maudy menjauh dan berdiri di dekat Steve membuat Richard mengerutkan keningnya begitu, juga dengan Ricard yang memahami bahwa mantan istrinya ini tidak ingin dipeluk oleh Richard, kembali diam di tempat.
__ADS_1