
Waktu menunjukkan pukul empat dini hari Geo memutuskan untuk pulang ke apartemennya sebentar, sebelum dia kembali mencari Leana pada keesokan harinya.
Geo turun dari mobil, lelaki itu berjalan dengan sempoyongan karena dia merasakan tubuhnya yang luar biasa lelah. Dia membuka pintu, kemudian dia menyalakan lampu lalu setelah itu berjalan ke dalam lalu membanting tubuhnya di sofa. Ya, dia memang tidak pernah pulang ke mansion karena dia tidak ingin diganggu oleh Claudia. Jika dia pulang, pasti dia harus menjawab pertanyaan dari istrinya.
Geo menyandarkan tubuhnya ke belakang, menengadahkan kepalanya ke atas dengan tatapan sendu. "Leana, ada di mana kau?" monolognya dengan lirih.
Walaupun merasakan rasa lelah yang luar biasa, tapi tetap saja nama Leana terus terngiang-ngiang di otaknya. Bayangan-Bayangan Leana akan hidup menderita, menabrak otak Geo.
Pada akhirnya, setelah lama melamun kantuk pun menyerang Geo, hingga lelaki itu memejamkan matanya kemudian terlelap.
***
"Merry, bisakah kau beritahu jika Geo tidak menginap di sini, dia pergi ke mana?" tanya Claudia. Rasanya, dia sudah kehilangan kesabaran. Dia sudah menunggu Geo selama satu bulan, tapi Geo masih juga tidak bisa ditemui. Dia juga sudah bertanya pada kedua mertuanya yang kini ada di rumah sakit, tapi kedua mertuanya berkata tidak tahu, karena memang Steve dan Maudy pun juga tidak tahu Geo di mana.
Merry tampak terdiam. Ini sudah tidak terhitung beberapa kali Claudia menanyakan Geo padanya, yang jelas-jelas dia pun tidak tahu karena dia hanya sebagai pelayan.
"Aku tidak tahu, Nona. Aku benar-benar tidak tahu di mana Tuan Geo dan tempat yang biasa dikunjungi olehnya," jawab Merry. Rasanya dia ingin segera pergi dari hadapan Claudia, sebab Claudia terus bertanya.
"Apa Geo punya teman dekat yang selalu diajak ke sini selain Leana?" tanya Claudia yang masih tak menyerah.
"Setahu aku, tidak. Tuan Geo lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Lea—"
"Sudah, jangan diteruskan lagi," potong Claudia yang tidak ingin mendengar nama Leana disebutkan, hingga pada akhirnya Merry pun mengangguk disertai helaan napas lega.
"Ya sudah kalau begitu aku pamit ke belakang," ucap Merry hingga Claudia mengangguk. Claudia langsung berbalik kemudian naik ke dalam kamar. Wanita itu berusaha mencoba untuk mencari petunjuk di kamarnya, siapa tahu Geo mempunyai tempat ataupun teman yang bisa di hubungi.
Satu jam kemudian, Claudia sudah mengobrak-abrik seluruh isi kamar. Semua bagian sudah dia periksa, bahkan beberapa berkas milik Geo pun tak luput dari pemeriksaannya. Tidak ada apapun di sana, hingga rasanya Claudia ingin mengamuk.
Claudia melihat berkas-berkas yang berserakan di bawah karena barusan dia belum membereskannya lagi, hingga tanpa sengaja tatapan matanya tertuju pada sesuatu di antara tumpukan kertas yang barusan dia keluarkan. Dia pun membungkuk untuk mengambil itu, dan ternyata itu adalah sebuah brosur.
'Tunggu, ini sepertinya bukan brosur biasa.' Claudia membatin saat melihat brosur yang merupakan informasi dari sebuah apartemen.
"Yah, aku yakin dia pasti ada di sini," kata Claudia yang yakin bahwa Geo membeli apartemen tersebut karena brosur ini ada di kamar suaminya.
Tanpa menunda waktu lagi, Claudia langsung menyambar kunci mobil. Wanita cantik itu langsung keluar dari kamar.
"Merry, tolong bereskan kamarku," kata Claudia ketika dia sudah turun ke lantai bawah, hingga Merry pun mengangguk. Setelah itu Claudia pun langsung pergi keluar.
Claudia menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh. Rasanya, dia tidak sabar untuk menghampiri suaminya. Berjuta-juta tanya menghinggapi Claudia. Kenapa Geo bisa pulang ke apartemen tersebut? Kenapa Geo tidak pulang ke mansion? Ada apa dengan suaminya? Walaupun Claudia tahu Geo mencari Leana, tapi rasanya begitu aneh ketika dia tidak pulang sama sekali selama satu bulan.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Claudia sampai di basement apartemen. Claudia pun bergegas turun kemudian wanita itu langsung keluar dari basement, dan berjalan ke arah lobi untuk bertanya tentang Geo.
"Ada yang bisa kami bantu, Nona?" tanya resepsionis ketika Claudia sudah berada di depan meja resepsionis.
"Saya ingin menanyakan unit apartemen milik Alexander Geovanni," kata Claudia.
"Sebentar," ucap resepsionis itu yang kini mengotak-atik komputer, hingga setelah itu, dia kembali menatap Claudia.
"Maaf ada hubungan apa Anda bersama Tuan Geo?" tanya resepsionis.
__ADS_1
Claudia berdecih. "Apa itu penting?" tanya Claudia dengan nada tak bersahabat, tidak terima.
"Tentu saja itu penting, sebab apartemen ini adalah apartemen yang mempunyai sistem keamanan sangat ketat. Jadi, tolong Anda bisa beritahu siapa Anda, dan apakah perlu Anda bertemu dengan Tuan Geo?" tanya resepsionis tersebut dengan tegas.
"Aku istrinya," jawab Claudia.
Claudia menunduk mengutak-atik ponselnya kemudian dia memperlihatkan sebuah foto, di mana itu adalah surat pernikahan mereka yang dikeluarkan oleh catatan sipil tempat mereka menikah. Resepsionis itu mengambil ponsel Claudia, kemudian melihatnya dengan seksama.
Karena bukti yang dibawa Claudia meyakinkan, akhirnya resepsionis itu memberitahukan di mana letak unit apartemen Geo.
Sekarang, di sinilah Claudia berada, di depan apartemen suaminya. Dia tidak mungkin memencet bel sebab Geo pasti akan murka, hingga pada akhirnya Claudia memilih menekan sandi. Saat menekan sandi, dia melakukannya dengan menebak-nebak sandi yang Geo gunakan.
Lima menit kemudian, semua kode sudah dimasukkan oleh Claudia, dari mulai ulang tahun kedua mertuanya sampai ulang tahun Geo, tapi tidak ada satu pun yang berhasil membantunya membuka pintu, hingga tak lama Claudia terpikirkan sesuatu. 'Tidak, dia tidak mungkin memakai kode itu,' batin Claudia.
Entah kenapa, Claudia mempunyai feeling kode yang dipakai di pintu apartemen Geo menggunakan hari ulang tahun Leana. Claudia mengusap wajah kasar. Pada akhirnya, dia menyerah. Wanita cantik itu merogoh tas, kemudian mengambil ponsel lalu mengutak-atiknya dan mencari tahu tanggal Leana lahir lewat blog yang ditulis oleh Leana.
Caudia pun bisa melihat informasi detail tentang wanita itu, hingga pada akhirnya Claudia langsung menekan kombinasi tanggal bulan dan tahun Leana lahir. Claudia memejamkan matanya dengan hati yang hancur saat ternyata kombinasi yang baru saja dia lakukan berhasil. Geo menjadikan ulang tahun Liana sebagai kode apartemennya.
Tak lama, Claudia tersadar. Tidak, bukan waktunya dia memikirkan ini. Wanita itu pun memegang gagang pintu kemudian memutarnya, lalu setelah itu masuk ke dalam.
"Geo," panggil Claudia. Dia yakin Geo ada di dalam, sebab ada sepasang sepatu di depan pintu.
Tidak terdengar sahutan dari Geo, hingga Claudia memilih berjalan semakin dalam, dan tak lama Claudia menghentikan langkahnya ketika melihat siapa yang terbaring di sofa yang tentu saja itu adalah Geo, suaminya.
Claudia meringis saat melihat tampilan Geo yang sangat kacau, bahkan walaupun sedang tertidur, Claudia bisa melihat bahwa Geo tampak lebih kurus dari sebelumnya.
Satu jam kemudian, Geo terbangun kemudian dia mengerjapkan pandangannya. Lelaki tampan itu memegang kepalanya yang terasa berdenyut nyeri. Dia melihat jam di dinding. Mata Geo membulat saat melihat waktu menunjukkan pukul sembilan pagi. Seharusnya, dia sudah bangun dari tadi dan mencari Leana.
Saat Geo akan bangkit, tiba-tiba terdengar suara yang aneh seperti orang yang sedang mencuci piring, hingga Geo langsung bangkit dari duduknya kemudian melihat ke sana kemari. Lagi-Lagi Geo dibuat terkejut ketika apartemennya sangat rapi, padahal kemarin apartemennya sangat berantakan.
Rasa takut tiba-tiba membayangi Geo, hingga lelaki itu memutuskan untuk pergi ke dapur.
Saat berjalan Geo melakukannya dengan mengendap karena Geo takut itu bukan keluarganya, dan tak lama Geo menghentikan langkahnya ketika melihat siapa yang sedang mencuci piring, ternyata itu adalah Claudia.
"Cla-Claudia," panggil Geo dengan terbata. Melihat Claudia, tiba-tiba rasa malu menghinggapi, dan seperti biasa Claudia hanya tersenyum.
"Oh, ternyata kau sudah bangun," ucap Claudia dengan hati yang hancur, tapi dia tetap memaksakan senyumnya.
"Kau tahu dari mana aku di sini?" tanya Geo, menatap Leana dengan bertanya-tanya.
"Oh soal itu, aku tahu dari Mommy dan Daddy," ucap Claudia yang berbohong. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa dia mencari tahu di kamar Geo.
"Kau mandilah Geo, aku akan membuat sarapan untukmu," kata Claudia lagi. Sepertinya Claudia harus mempertebal stok kesabarannya, sebab jika dia merajuk, maka Geo akan semakin menjauh.
Geo merasa terpaku saat melihat ekspresi Claudia yang tampak pasrah, tapi tak urung dia pun berbalik kemudian berjalan ke arah kamar untuk menyegarkan tubuhnya.
Claudia mengusap dadanya yang terasa sesak. "Tidak apa-apa Claudia, tidak apa-apa. Kelak cepat atau lambat dia akan menjadi milikmu," ucapnya untuk menyemangati dirinya sendiri, walaupun dia juga tidak yakin dengan apa yang diucapkan.
Setelah itu, Claudia berbalik untuk kembali melanjutkan aktivitasnya yang sedang mencuci piringnya, dan setelah ini dia pun berniat akan memasak untuk Geo sarapan.
__ADS_1
***
Air dari shower membasahi tubuh Geo hingga Geo mendongakkan kepalanya ke atas. Rasanya, dia begitu malas menghadapi Claudia karena pasti Claudia akan bertanya tentang kenapa selama sebulan ini dia tidak pulang, dan rasanya tidak mungkin dia mengatakan bahwa alasan di balik itu adalah karena dia benar-benar mencari Leana.
Akhirnya, acara mandi pun selesai. Geo keluar dari kamar mandi kemudian lelaki itu berjalan ke walk-in closet. Dia memakai setelan rapi, karena walaupun ada Claudia, tapi dia harus tetap mencari Leana.
Saat berada di depan pintu, Geo menghela napas kemudian mengembuskannya. Dia berusaha untuk memutar otak menjelaskan pada Claudia, hingga pada akhirnya Geo membuka pintu kamar lalu setelah itu berjalan.
Ternyata, Claudia sudah memasak untuk dia sarapan. Claudia tersenyum ketika melihat suaminya kemudian dia mengangguk. Geo menarik kursi kemudian dia mendudukkan diri, lalu melihat sarapan di depannya.
Claudia tersenyum samar. Setelah itu, Geo pun langsung menyimpan makanan ke dalam piring, dan ternyata rasa masakan Claudia sangat enak.
Hening, tidak ada yang berbicara. Claudia dan Geo sama-sama terdiam dan pada akhirnya, acara sarapan pun selesai.
"Claudia," panggil Geo untuk meminta izin.
"Aku tidak apa-apa, Geo. Carilah Leana sampai ketemu," jawab Claudia.
Mata Geo membulat saat mendengar ucapan Claudia. Dia menatap Claudia dengan bingung bercampur terkejut. Ya, pada akhirnya Claudia mengambil jalan ini, pura-pura mendukung Geo untuk mencari Leana. Dia berencana untuk mengambil hati Geo perlahan, sebab jika dia protes dengan apa yang dilakukan oleh Geo, Geo akan semakin menjauh.
Tidak apa-apa Claudia menahan rasa sakit, yang terpenting Geo tidak akan menjauhinya seperti sebulan kemarin.
"Kau serius?" tanya Geo karena sejak tadi dia pikir Claudia akan meradang ataupun akan protes, tapi ternyata istrinya malah memberikan senyuman yang tanpa Geo tahu, itu adalah senyuman penuh luka.
"Pergilah aku tidak apa-apa," kata Claudia. Helaan napas terlihat dari wajah Geo. Geo tersenyum pada istrinya dan mungkin untuk pertama kalinya selama menikah, inilah senyuman hangat yang diberikan padanya.
"Terima kasih, Claudia," ucap Geo dengan tulus.
Claudia mengangguk. "Pergilah, tapi boleh, 'kan, aku menginap di sini nanti bersamamu?" tanya Claudia.
"Tapi jika kau keberatan ...."
"Tidak, tidak apa-apa. Kau bisa pulang ke sini," kata Geo lagi. Lelaki itu bangkit dari duduknya kemudian berjalan dengan penuh senyuman karena merasa Claudia mendukungnya, dan tepat ketika pintu tertutup, Claudia menunduk. Bahunya bergetar dan tak lama, terdengar suara tangisan sesenggukan dari wanita itu. Dia yang masih berada di meja makan hanya mampu mengeluarkan air matanya. Dia seorang istri yang dipaksa untuk menerima suaminya mencintai wanita lain, tapi Claudia tidak pernah menyesali apapun. Sedari awal, dia mencintai Geo dan dia akan tetap menunggu Geo berbalik mencintainya walaupun dia tidak tahu kapan itu terjadi.
***
Aaron tampak keluar dari ruang kerjanya. Senyum tak henti-hentinya menggembang di bibir pria itu dan menghiasi wajahnya yang tampan tersebut. Hari-Hari Aaron kini terasa kian berwarna karena tinggal bersama Leana. Dia seperti menemukan semangat hidupnya yang baru, seperti ada yang menunggunya untuk pulang.
Aaron masuk ke dalam kamar, dan ternyata Leana sedang menonton televisi hingga Leana yang menyadari keberadaannya pun seketika menoleh.
"Melisa, apa kau lapar?" tanya Aaron dengan lemah lembut.
Tiba-Tiba Leana terdiam. Walaupun sempat sepakat bahwa Aaron akan menganggapnya sebagai Melisa, tapi tetap saja Leana merasa aneh dengan ini. Namun, mau tak mau Leana menerimanya dan tersenyum menutupi rasa pedihnya, hingga Leana pun mengangguk.
"Aku lapar, ayo kita makan malam. Koki sudah membuatkan makanan yang kau suka," ucap Aaron dengan lemah lembut. Lelaki itu mengulurkan tangannya hingga Leana langsung menerima uluran tangan Aaron, dan setelah itu mereka pun keluar dari kamar lalu berjalan ke arah meja makan.
"Wah!" Leana berdecak kagum dengan matanya yang tampak berbinar saat melihat makanan yang ada di depannya, makanan yang sesuai permintaannya tadi, dan ternyata koki benar-benar mengabulkan keinginannya.
"Ayo sayang," kata Aaron hingga Leana pun mengangguk.
__ADS_1