Cinta Seorang Tuan Nauder

Cinta Seorang Tuan Nauder
Sesal yang tak berguna


__ADS_3

Ruangan itu dipenuhi dengan keheningan. Leana, Aaron dan Geo sama-sama terdiam. Aaron menghela napas lega, karena Leana tidak memberitahukan bahwa Yuma dan Yumi adalah anak Geo, sedangkan Leana yang was-was dengan keputusannya. Begitu pula dengan Geo yang bingung dengan apa yang terjadi di depannya.


Jelas-Jelas Yuma dan Yumi sangat mirip dengannya, tapi Leana mengatakan Yuma Yumi bukan anaknya, diperkuat dengan ucapan Aaron. Sebenarnya Geo tidak terlalu mengerti kertas USG yang saat itu dia temukan, dan beruntung Leana bisa menggunakan itu sebagai alasan.


"Geo, aku minta maaf karena tidak bisa menjaga anak kita, tapi kau boleh menganggap Yuma dan Yumi anakmu," ucap Leana yang masih berusaha menenangkan Geo.


"Tidak boleh, Yuma dan Yumi adalah anakku." Tiba-Tiba, Aaron berbicara membuat mata Leana pmembulat.


'Tuhan, kenapa lagi dengan lelaki ini?' Leana membatin ketika mendengar ucapan Aaron. Masih teringat jelas di benaknya bahwa saat itu Aaron tidak memperkenankan lagi Yuma dan Yumi memanggilnya 'daddy', lalu sekarang dia bangkit dari duduknya.


"Leana, kita bicara nanti." Setelah mengatakan itu, Geo pun bangkit dari duduknya kemudian berbalik lalu setelah itu dia memutuskan untuk keluar dari apartemen Leana. Geo rasa tidak ada gunanya berbicara sekarang. Jika Leana tidak mau bercerita atau tidak mau jujur, Geo yang akan mencari tahu semuanya. Tidak peduli itu membutuhkan waktu yang lama.


Setelah Geo pergi, Leana mengusap wajah kasar dia menunduk kemudian menutup wajahnya dengan telapak tangan. Sedangkan Aron masih diam di tempat, tidak keluar dari apartemen yang di tempati Leana, padahal Geo pun sudah tidak ada di sana.


Tadi, Aron memang tidak ada niat untuk menyusul Leana, tapi perasaannya begitu menggebu-gebu hingga menuntunnya kemari dan setelah sampai di sini, Aaron baru menyadari bahwa tindakannya keliru karena jelas-jelas dia yang melepaskan Leana, Yuma dan Yumi dari kehidupan. Namun, dia juga yang menghampiri ketiganya.


"Ma-maafkan aku, aku tidak bermaksud," ucap Aaron hingga Leana tersadar kemudian wanita cantik itu menegakkan tubuhnya.


"Terima kasih kau telah datang kemari, terima kasih juga telah mengakui Yuma dan Yumi sebagai anakmu," ucap Leana yang memang sangat sederhana, tapi membuat hati Aaron tersayat.


"Apa dia ayah Yuma dan Yumi?" tanya Aaron hingga Leana mengangguk membuat dada Aaron terbakar. Membayangkan Yuma dan Yumi memanggil orang lain sebagai 'daddy' membuat dada Aaron bergemuruh.


Saat akan berbicara dan menentang ucapan Leana, tiba-tiba Aaron kembali teringat tentang apa yang dia lakukan hingga akhirnya dia mengatupkan bibirnya.


"Aaron, terima kasih telah datang. Aku ingin beristirahat." Leana mengusir Aaron dengan halus, membuat Aaron langsung menoleh hingga Aaron mengangguk. Lelaki itu pun langsung bangkit dari duduknya.


"Jika kau ingin menghindarkan Yuma dan Yumi, kau bisa kembali ke rumahku. Setidaknya di sana kalian aman," ucap Aaron dengan tidak tahu malunya, sedangkan Leana hanya tersenyum getir. Tidak terasa bahwa ucapan Aaron barusan sangat menyakitkan untuk Leana, dia seperti sampah yang dibuang kemudian dipungut kembali. Namun, tentu saja dia hanya mampu menyamarkannya dengan senyuman.


"Tilda perlu, terima kasih," ucap Leana.


Aaron yang akan berjalan untuk pergi, langsung menghentikan langkahnya kemudian dia menoleh ke sekitarnya, mencari Yuma dan Yumi.


"Boleh aku menemui Yuma dan Yumi?" tanya Aaron.


"Mungkin ini sedikit terlalu banyak, tapi boleh aku minta tolong?" tanya Leana hingga Aaron mengangguk.


"Tolong jangan menyapa Yuma dan Yumi untuk ke depannya jika kalian tidak sengaja berpapasan di jalan," pinta Leana.


"Kenapa?" tanya Aaron. Dia tidak terima dengan perintah Leana.


"Selama delapan tahun, mereka menyangka kau adalah ayahnya, mereka menyangka kau adalah rumahnya. Apa yang kau katakan kemarin sepertinya terlalu mendadak untuk Yuma dan Yumi, hingga sekarang aku masih bisa melihat luka di kedua anakku. Jika kau terus seperti ini, mereka tidak akan pernah bisa sembuh dari lukanya. Jika kau terus menghampiri mereka, mereka akan terus mengingat apa yang kau katakan. Anakku hanya butuh waktu untuk melupakan semuanya," ucap Leana yang begitu menghantamnya, menguliti seluruh tubuhnya. Aaron seperti orang yang tidak berdaya ketika mendengar ucapan Leana, hingga pada akhirnya Aaron mengangguk lalu setelah itu lelaki itu pun berjalan untuk keluar dari apartemen yang ditempati oleh Leana dan kedua anaknya.


***


Geo menyandarkan tubuhnya ke belakang, dia meminta seluruh anak buahnya untuk keluar dari mobil, karena dia ingin menyendiri. Setelah keluar dari apartemen Leana, rasanya Geo benar-benar tidak karuan. Ekspektasi tidak sebanding dengan realita. Ekspektasi Leana akan memeluknya ataupun dia akan memeluk Leana, dengan dia berharap bisa melihat anaknya, memeluk anaknya begitu erat, tapi ternyata realita tidak seperti itu.


Leana sudah dinikahi oleh lelaki lain dan anaknya sudah meninggal. Geo juga bingung apakah harus mempercayai ucapan Leana atau tidak, sebab dia merasa mempunyai ikatan batin dengan mereka.


Ketika melamun, ponsel di samping Geo berdering. Satu panggilan masuk menyadarkan Geo dari lamunannya, hingga lelaki itu pun langsung merogoh saku kemudian mengambil ponsel, lalu setelah itu melihat siapa yang menelepon, ternyata Claudia hingga dia pun langsung mengangkatnya.


"Claudia," ucap Geo.


Claudia terdiam di seberang sana. "Apakah sudah bertemu dengan Leana?" tanya Claudia.


"Sudah," jawabnya lesu.


"Geo, apa kau baik-baik saja? Kenapa kau terdengar lemas?" tanya Claudia yang mengkhawatirkan Geo. Wanita itu berusaha menegarkan hatinya. Jangan ditanyakan betapa sakit Claudia ketika menanyakan keberadaan Geo yang sedang menemui wanita lain.


"Dia sudah menikah, dia mengatakan anak kami sudah tidak ada, tapi aku bisa melihat bahwa anak yang aku lihat bersama Leana adalah anakku, mereka kembar dan mereka sangat mirip denganku. Claudia apa yang harus aku lakukan?" tanya Geo, tanpa sadar telah melukai hati Claudia.


Claudia tersenyum getir di seberang sana, kemudian dia berusaha menegarkan hatinya. "Coba saja kau selidiki pelan-pelan," kata Claudia hingga Geo mengangguk-anggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Bagaimana Rea? Apa kondisinya sudah baik-baik saja?" tanya Geo.


Claudia lagi-lagi terdiam. "Rea baik-baik saja," jawabnya.


"Apa dia tidak menanyakanku?" Geo penasaran.


"Ya, dia menanyakanmu, hanya saja aku mengatakan kau sedang pergi ke luar negeri untuk bekerja," kata Claudia, "ya sudah, Geo jaga kesehatanmu. Jangan terlalu banyak berpikir, jangan terlalu banyak makan pedas. Ingat kamu mempunyai asam lambung, semoga urusanmu cepat selesai dan semoga kau bisa membawa Leana kemari."


Setelah itu, Claudia langsung menutup panggilannya karena tangisnya sudah berlinang. Dia mengatakan itu dengan hati yang pedih, dia menyuruh cintanya untuk mencari cinta yang lain.


Claudia menyimpan ponselnya di bawah, kemudian dia menutup wajahnya dengan telapak tangan, lalu setelah itu menangis sesenggukan. Pada akhirnya, hari yang paling Claudia takutkan itu terjadi, hari di mana dia akan melepaskan semuanya. Mungkin Claudia memang benar bodoh, tapi Claudia selalu berpikir bahwa dengan Geo memang sulit.


Claudia langsung bangkit dari duduknya kemudian menghampiri brankar sang putri. "Rea," panggil Claudia. Sesakit apapun, Claudia berusaha untuk tidak menangis di hadapan Rea. Wanita itu tetap tersenyum di hadapan putrinya.


"Kapan Daddy pulang?" tanya Rea dengan mengecilkan suaranya, karena ketika berbicara dadanya masih terasa nyeri.


"Daddy akan pulang sebentar lagi," ucap Claudia.


Tak lama, pintu terbuka. Seperti biasa, Maudy masuk sambil menenteng makanan, karena dia yakin Claudia belum memakan apapun.


"Claudia, ayo makan," ucap Maudy.


"Mommy kenapa repot-repot? Aku bisa membelinya di bawah," ucap Claudia, dia menatap ibu mertuanya dengan sendu.


"Kau tidak akan membelinya dan kau akan melewatkan makan siangmu. Ayo makan, Mommy sudah memaksakan makanan kesukaanmu," ucap Maudy hingga Claudia pun mengangguk. Dia mengambil paper bag di tangan ibu mertuanya, sedangkan Maudy langsung menghampiri cucunya.


Claudia menatap makanan yang sudah tersaji dengan tatapan nanar, mungkin ini detik-detik terakhir dia merasakan masakan ibu mertuanya. Walaupun banyak sekali masalah yang diderannya, rasa sakit yang dialaminya, tapi masih ada sedikit rasa syukur yang Claudia rasakan, yaitu bisa mendapatkan mertua sebaik Maudy dan juga sebaik Steve.


"Kenapa kau melamun? Ayo makan," titah Maudy, hingga pada akhirnya Claudia mengangguk kemudian dia memasukkan sup buatan Maudy ke dalam nasi.


Maudy menatap Claudia lekat-lekat. Dia mengerti betul bagaimana perasaan wanita ini. Walaupun Claudia tidak menceritakan keluh kesah padanya, tapi Maudy yakin saat ini, Claudia sedang merasakan sakit yang luar biasa karena kelakuan putranya. Dia juga sudah menelepon Geo, tapi Geo tidak mengangkat panggilannya.


"Mommy ini enak sekali. Terima kasih," ucap Claudia. Dia mengatakan itu dengan berusaha mati-matian agar tidak menangis. Claudia sudah memikirkan langkah apa yang akan diambil ke depan ketika dia bercerai dengan Geo, salah satunya adalah pindah ke luar negeri. Tidak mungkin dia terus berada di sini, di negara ini negara yang sama dengan Geo dan juga Leana. Dia tahu dan dia yakin, lambat laun dia pasti akan melupakan sosok Geo. Dia juga yakin, Rea tidak akan terlalu tergantung dengan Geo, karena walau bagaimanapun Claudia menyadari betul akan ada saatnya Geo melupakan Rea, karena anak Leana.


Maudy tidak menjawab. Dia malah mengelus punggung menantunya. "Kau akan tetap baik-baik saja Claudia. Kau akan tetap di sisi kami," ucap Maudy, Claudia tertunduk.


'Meskipun aku tidak yakin.' Maudy membatin.


Maudy keluar dari ruang rawat Rea. Wanita itu memutuskan untuk menelepon sang suami, menanyakan apakah Steve sudah bertemu dengan Leana atau belum. Rasanya, dia juga ingin menyusul Leana, tapi dia tidak ingin membuat Claudia sendiri itu sebabnya dia tidak ikut bersama Steve.


Beberapa kali berdering tapi panggilan ke suaminya tidak diangkat, hingga pada akhirnya Maudy memutuskan untuk menelepon Steve nanti.


***


Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Leana selesai dengan aktivitasnya yang sedang memasak untuk makan malam kedua anaknya. Sedari tadi, perasaan Leana berkecamuk, ditambah lagi pertanyaan Yuma dan Yumi yang ingin tahu tentang Geo. Kedua anak kembar itu penasaran dengan Geo, karena sang ibu menyebut geo adalah saudara, sedangkan selama ini mereka tidak pernah bertemu dan ditambah lagi Aaron yang terang-terangan selalu menyapa Yuma dan Yumi.


Bukan hanya soal itu, Leana pun takut dan bingung. Bagaimana cara menghadapi Geo ke depannya? Dia yakin Geo tidak akan menyerah dan akan mencari tahu tentang Yuma dan Yumi.


Leana hanya benar-benar tidak ingin melukai perusahaan Claudia, hingga dia memutuskan untuk melakukan ini, tapi dia pun sekarang merasa was-was. Bagaimana jika Geo membawa anaknya kabur secara diam-diam?


Saat Leana melamun, tiba-tiba bel pintu berbunyi hingga Leana mengerutkan keningnya. Tidak mungkin ada yang datang ke apartemen yang dia tempati, hingga wanita itu langsung berjalan ke arah pintu kemudian membuka pintu tersebut.


Leana menjatuhkan sendok yang dia pegang ketika membuka pintu dan melihat siapa yang ada di depannya, sosok yang selama ini dia rindukan yang tak lain adalah Steve, ayah angkatnya.


"Paman Steve," ucap Leana. Ini bagaikan mimpi untuknya, tadi siang Geo datang dan sekarang dia didatangi oleh Steve. Kedatangan Geo membuatnya khawatir, tapi tidak dengan kedatangan Steve. Dia sangat bahagia.


Mata lelaki paruh baya itu berkaca-kaca saat melihat putri angkatnya. Dia tidak menyangka dia akan menemukan Leana setelah bertahun-tahun mencari Leana.


"Leana," panggil Steve.


Mendengar suara Steve memanggilnya, Leana langsung berlari kemudian menubruk tubuh sang ayah, lalu setelah itu memeluk Steve begitu erat, begitu pun dengan Steve yang membalas tak kalah eratnya.

__ADS_1


Tangis sepasang ayah dan anak angkat itu pecah, mereka menangis tersedu-sedu melampiaskan rasa rindu yang menggebu-gebu.


"Mommy." Tiba-Tiba terdengar suara Yumi dari arah belakang, hingga Steve menoleh ke arah Yumi lalu setelah itu dia melepaskan pelukannya.


"Leana," panggil Steve, menatap Leana dengan tatapan tanya, dan sepertinya Leana mengerti dengan apa yang dimaksud oleh ayah angkatnya, hingga pada akhirnya dia mengangguk.


Seketika Steve langsung masuk ke dalam, melewati tubuh Leana kemudian menekuk kakinya menyetarakan diri dengan sang cucu. Melihat wajah Yumi mengingatkannya pada saudara kembarnya, mereka sangat mirip.


Tiba-Tiba, Yumi mundur satu langkah karena dia merasa asing dengan Steve yang tiba-tiba datang ke hadapannya.


"Yumi, ada apa?" Tiba-Tiba terdengar suara Yuma dari arah belakang, hingga Steve juga menoleh ke arah Yuma. Sungguh, rasanya tubuh Steve benar-benar lunglai kala menyadari cucunya adalah kembar.


Yuma dan Yumi menatap Steve tanpa berkedip. Tadi pagi mereka kedatangan Geo yang sangat asing di mata mereka, dan sekarang mereka kedatangan orang asing lagi. Tentu saja ini begitu aneh untuk Yuma dan Yumi, sebab sedari mereka bayi, mereka tidak pernah bertemu dengan keluarga ibunya.


"Yuma, Yumi," panggil Leana.


"Ayo sapa kakek," titah Leana.


"Ini kakek kami?" tanya Yumi.


"Ini kakek kalian," kata Leana lagi.


Bulir bening kembali terjatuh dari pelupuk mata Steve. Dia tidak bergerak sedikit pun memperhatikan kedua cucunya. Yuma dan Yumi maju kemudian mereka menunduk hormat pada Steve.


"Halo, Kakek," ucapnya dan seketika Steve langsung merangkul kedua cucunya.


***


Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Yuma dan Yumi sudah tertidur dan kini Steve dan Leana sedang berada di ruang tamu dengan posisi saling bersebelahan. Sedari tadi, Leana menunduk tidak berani menatap Steve. Sementara Steve juga tidak berbicara, karena dia tahu putri angkatnya sedang gugup.


Steve menggenggam tangan Leana hingga Leana mengangkat kepalanya. "Pa-paman, ma-maafkan aku. A-aku tidak bermaksud membohongi Pamam ," ucap Leana dengan terbata


"Kenapa kau menyembunyikan ini dari kami semua? Kenapa kau pergi Leana? Apa kau tahu kami sangat kehilanganmu? Kami mencarimu selama bertahun-tahun, apa kau tidak menyayangi kami?" tanya Steve.


Seketika, Leana langsung memeluk Steve. Dia menumpahkan tangisnya. "Maafkan aku, maafkan aku," ucap Leana yang sudah bisa menguasai diri. Wanita cantik itu menegakkan kembali tubuhnya.


"Selama ini kau mengurus rumah dan mereka seorang diri?" tanya Steve, menggali informasi.


"Tidak Paman, sebenarnya saat aku pergi, aku bekerja di kantor sebuah kosmetik dan entah mulai dari mana, akhirnya aku menikah dengan bosku," jawab Leana


Mata Steve membulat saat mendengar ucapan menikah. "Lalu dimana suamimu sekarang?” tanyanya.


"Kami memutuskan untuk bercerai," jawab Leana jujur.


Steve kembali terkejut dengan Leana yang akan bercerai. "Apa ada yang memperlakukanmu dengan buruk? Apa dia malah menyakitimu?" Steve kembali bertanya, dan dia bertanya dengan nada yang tidak sabar menuntut jawaban.


", dia sangat baik, sangat istimewa. Walaupun dia tahu Yuma dan Yumi bukan anak kandungnya, tapi selalu menyayangi mereka," ucap Leana dengan hati yang tersayat.


"Kenapa kau bercerai?" Steve penasaran.


Dan pada akhirnya, Leana pun menceritakan semuanya, termasuk tentang Aron yang menjadikannya pengganti Melisa.


Mendengar pernyataan Leana, Stev mengusap wajah kasar, dia tidak menyangka kisah putrinya sangat pelik.


“Apa dia menyayangi Yuma dan Yumi?” tanya Stev.


Leana mengguk. "Dia sangat menyayangi Yuma dan Yumi, hanya saja kami mempunyai prinsip yang berbeda," jawabnya.


Steve kemudian mengelus rambut putrinya. Hingga Leana terpikirkan sesuatu. "Apa hubungan Claudia dan Steve baik-baik saja?" tanyanya.


Walaupun Leana sempat mendengar dari Geo dan Geo sudah jujur tentang hubungannya dengan Claudia, tapi entah kenapa Leana ingin mendengar semuanya dari Steve.

__ADS_1


__ADS_2