Cinta Seorang Tuan Nauder

Cinta Seorang Tuan Nauder
Dua belas tahun berlalu


__ADS_3

Maudy merasakan lemas yang luar biasa. Entah kenapa, beberapa hari ini mood-nya memburuk. Dia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul empat sore.


Maudy sungguh merasa tak sabar menunggu Steve untuk segera pulang, karena dia merasa kesepian. Apalagi, Leana dan Geo ada acara di sekolahnya, dan akan pulang besok pagi.


Maudy memutuskan bangkit dari duduknya, dia berencana untuk menyegarkan diri kemudian berdandan untuk menyambut Steve.


Waktu menunjukkan pukul lima sore, dan Steve belum juga kembali. Berkali-kali dia menelepon pria itu, tapi ponsel Stev tidak bisa di hubungi.


Rasa curiga mendadak menghantui Maudy. Tak dipungkiri, sejak pulang ke Rusia, dia seringkali overthinking karena takut Steve akan bertemu dengan Alya lagi.


Ada kalanya pula, Maudy menyesal kembali ke Rusia. Namun saat melihat Leana, dia juga merasa bersyukur atas keputusannya mengingat kini, gadis itu tak lagi banyak melamun.


***


Waktu menunjukkan pukul tujuh malam ketika Steve turun dari mobil. Hari ini banyak sekali pekerjaan di kantor, yang membuatnya sama sekali tak sadar bahwa ponselnya mati. Lalu tanpa mengecek, dia pun memutuskan untuk langsung pulang.


Steve kini masuk ke dalam rumah yang tampak sepi.


"Di mana Nyonya?" tanya Steve saat pelayan lewat di hadapannya.


"Nyonya ada di kamar, Tuan."


Steve berjalan ke arah lift untuk naik ke kamarnya. Dia membuka pintu lalu mengerutkan kening ketika suasana di dalam sana begitu gelap.


"Sayang?" panggil Steve. Dia berjalan ke arah saklar, kemudian menyalakan lampu. Dia semakin bingung saat melihat Maudy sedang berbaring dan menutup sekujur tubuhnya dengan selimut.


Tak lama, mata Steve membulat ketika mendengar isak tangis dari Maudy. Secepat kilat dia menyimpan tas kerjanya, kemudian berjalan ke arah ranjang dan mendudukkan diri di samping sang istri.


"Sayang, kau kenapa?" tanya Steve. Dia menarik selimut, dan secepat kilat Maudy menyingkirkan tangannya.


"Apa aku mempunyai salah?"


"Iya kau bersalah. Kau pasti menemui dia lagi, 'kan? Kau pasti menikmati waktu bersama Alya, 'kan?"


Steve menghela napas. Selalu saja masalah ini yang membuatnya dicurigai oleh Maudy.


"Sayang, mana ada aku menemui dia? Hari ini aku banyak sekali pekerjaan. Kau bisa mengecek CCTV di kantorku."


Steve merogoh saku untuk mengambil ponsel, dan dia membulatkan matanya saat menyadari bahwa benda itu mati. Kini dia memoleh ke arah Maudy.

__ADS_1


Steve melepaskan jas juga kemejanya, hingga kini dia bertelanjang dada, lalu kemudian berbaring di samping Maudy. Dia memeluk sang istri dari belakang, sebab Maudy hanya bisa ditenangkan oleh cara ini.


"Sayang, sampai kapan kau akan seperti ini?" tanya Steve dengan lemah lembut.


"Kau yang meminta kita untuk pindah ke mari."


"Aku bersumpah, aku tidak pernah menemui dia. Kau bisa membuka ponselku dan melihat tayangan CCTV di ruanganku," kata Stebe membuat Maudy menggigit bibirnya.


"Sungguh, Sayang. Aku tidak bertemu Alya. Jangankan itu, aku bahkan tak berniat menemuinya," kata Steve membuat Maidy seketika berbalik hingga kini mereka berbaring berhadapan.


"Apa aku menyebalkan?" tanya Maudy.


Steve mengelus rambut Maudy. "Mana mungkin istriku yang cantik ini menyebalkan? Tentu saja tidak," ucapnya membuat wajah Maudy memerah.


Maudy langsung memeluk Steve. "Peluk aku," kata Maudy membuat pria itu beringsut untuk membalas dekapannya.


***


"Apa, Dok? Istriku hamil?" Steve hampir saja berteriak ketika dokter mengatakan bahwa Maudy hamil. Dia bahkan menatap Dokter tak percaya, juga tak sabar menunggu validasi darinya yang baru saja memeriksa Maudy.


Sementara Maudy sendiri, dia mematung karena tak percaya bahwa dia kembali mengandung.


"Itu serius, istri Anda sedang mengandung."


Tubuh Steve terasa lemah. Bukan karena tak senang, tapi karena bahagia yang begitu menggebu-gebu, hingga dia pun merasa tak berdaya meski hanya untuk bergerak.


"Tuan Steve," panggil dokter membuat Steve tersadar kemudian menegakkan tubuhnya, dan menoleh pada Maudy yang tampak mematung.


Steve kemudian dengan cepat memeluk Maudy. Dia menangis saat mendekap wanita itu. Sungguh tak bisa diungkapkan betapa besar kebahagiannya mengetahui bahwa sang istri kembali mengandung.


Berbeda dengan Maudy, walaupun senang tapi dia merasa sedikit takut. Entah kenapa, trauma itu membayanginya, ketika dia hamil dan Geo diambil oleh Steve dan Alya secara paksa.


***


Steve mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Sembari menyetir, dia mengelus perut Maudy yang sejak tadi hanya diam karena mood-nya benar-benar turun.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Steve pun sampai di rumah. Dia pun langsung turun membuat Maudy tersadar.


Saat Steve akan membukakan pintu untuk Maudy, wanita itu lebih dahulu keluar dari mobil, kemudian berjalan melewatinya begitu saja membuat Steve keheranan.

__ADS_1


Saat akan bertanya, tiba-tiba Steve terpikirkan sesuatu yang membuatnya mengerti betul perasaan Maudy, hingga dia pun membiarkan wanita itu untuk tenang lebih dulu sebelum mengajaknya bicara.


***


Waktu menunjukkan pukul tujuh malam, Steve s terdiam di depan kamar. Dia tidak berani masuk, karena sejak tadi siang Maudy tidak keluar dari dalam sana, dan dia sendiri tak menemuinya karena ingin wanita itu benar-benar tenang dan bisa berpikir jernih.


Setelah cukup lama terdiam, Steve langsung masuk ke dalam kemudian berjalan ke arah ranjang, di mana Maudy sedang duduk dengan kaki menjuntai ke lantai.


Steve berlutut di hadapan Maudy membuatnya tersadar.


"Apa yang aku lakukan di masa lalu pasti begitu menyakitkan," ucap Steve sambil menghapus air mata Maudy.


"Kau masih tidak percaya padaku?" tanya Steve dengan lemah lembut yang dijawab anggukan oleh Maudy.


"Aku tak percaya. Aku takut."


"Apa yang harus aku lakukan untuk membuktikan bahwa aku tidak mungkin mengulang kesalahanku dulu, Sayangku?"


tanya Steve.


"Baiklah, sepertinya mulai sekarang aku tidak akan pernah lagi pergi keluar tanpamu, aku akan memindahkan semua pekerjaanku ke rumah," kata Steve.


"Kenapa kau melakukan itu?" tanya Maudy.


"Aku tidak ingin kau banyak pikiran. Aku hanya ingin kau enjoy menjalani hari-hari, karena selama dua puluh empat jam aku akan bersamamu."


Maudy memejamkan mata. Dia kesal pada diri sendiri. Padahal dia sudah bersiap untuk mengungkit masa lalu mereka, tapi sekarang dia malah melelah mendengar ucapan Steve.


***


12 tahun kemudian.


Waktu berlalu begitu cepat, hingga tak terasa sudah sepuluh tahun berlalu sejak kabar kehamilan Maudy. Namun, tak ada yang berbeda dengan kehidupannya dan Steve yang selalu dijalani dengan penuh cinta bersama tiga anak mereka, Leana, Geo dan juga Carol, putri perempuan mereka yang kini berusia sembilan tahun.


"Mom," panggil Geo yang kini berusia dua puluh empat tahun. "Leana mana?"


"Sepertinya Leana sedang pergi bersama Kenzo."


Tiba-Tiba, rahang Geo mengeras saat mendengar Leana pergi dengan sahabatnya. Hal itu membuat Maudy mengerutkan kening.

__ADS_1


"Memangnya kenapa?" tanya Maudy membuat Geo tersadar. Dia menatap Geo dengan aneh.


__ADS_2