
Gengs aku up satu bab dulu ya. Nanti tengah malam aku up lagi. Gas komen dong
“Nauder," lirih Elsa etika Nauder masuk ke dalam gerbang, dia membulatkan matanya dari mana Nauder tahu dia ada di sini.
“Tunggu,” Elsa diam terpaku saat melihat anak-anak menghampiri Nauder. “Apa dia sering datang ke tempat ini.”
“Elsa tunggu!” teriak Nauder ketika Elsa terlihat akan berlari.
“Tunggu anak-anak. Paman harus mengejar bibi Elsa.”
“Tidak paman, ayo bermain bersama kami.” para anak-anak menahan Nuader, membuat Nuader frustasi. Sungguh dia takut Elsa akan kabur lagi.
Setengah jam kemudian, Akhirnya nauder bisa bisa lepas dari anak-anak. Dengan cepat, dia pun mengelilingi panti asuhan karena tahu Elsa masih berada di sana, sebab gerbang dalam keadaan terkunci dan Elsa tidak mungkin keluar.
“Elsa ... Elsa!” panggil Nauder.
“Ya Tuhan kenapa dia ke sini," ucap Elsa. Rupanya dia sedang ada di toilet yang ada di samping panti asuhan. Sedari tadi, bersembunyi di sana. Jujur saja dia belum siap untuk membahas Apa langkah yang akan mereka ambil.
“Elsa kau di dalam?”
__ADS_1
“Tidak, aku tidak di dalam. Aish.” Elsa memejamkan matanya, kala dia tanpa sadar malah menjawab ucapan Nauder. Padahal jelas-jelas dia sedang bersembunyi.
Seketika tawa Nauder pecah, dia langsung membuka pintu kamar mandi dan benar saja Elsa sedang ada di dalam.
“Nauder, kenapa kau malah masuk?” tanya Elsa ketika Nauder ikut masuk ke dalam kamar mandi, Nauder tidak menjawab, dia malah mengunci pintu kamar mandi membuat mata Elsa membulat. Hingga kini keduanya berada di kamar mandi.
Nauder bersidekap, lalu menatap Elsa. “Sampai kapan kau akan terus menghindar?” hanya Nauder. “Apa 4 tahun mengikutimu belum cukup, kenapa kau masih ragu padaku? bukankah kita sudah baik-baik saja? kau juga sudah mencintaiku lagi begitupun aku?” tanya Nauder bertanya secara bertubi-tubi.
“Tapi, Kau pasti akan meninggalkanku lagi, karena aku tidak bisa mengandung.” Elsa menunduk terdengar nada kesedihan di dalam suaranya, hingga Nauder menghela nafas.
Nauder berjongkok di hadapan Elsa. Sepertinya dia harus mengatakan apa yang terjadi padanya. “Elsa, bukan kau saja yang bermasalah. Aku juga punya masalah dengan kesehatanku. Hingga kita tidak bisa memiliki anak.”
“ Sebenarnya kita sama-sama bermasalah, dan kita mempunyai kekurangan. Jadi kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri lagi.”
Mata Elsa membeliak. “Kenapa tidak bilang dari kemarin sih, jadi kan aku tidak harus merasa bersalah!” omel Elsa membuat Nauder ingin tertawa. Padahal sedetik lalu, Elsa tampak sedih. Tapi sekarang sungguh berbeda, terlihat jelas bahwa Elsa merasa lega dengan pengakuannya.
“Jadi Sudah, jangan menghindar lagi. Aku mencintaimu, tidak ada yang perlu ditunggu bukan. Ayo kita ke Altar lagi, kita menikah lagi secepatnya.”
“Tidak mau, aku punya pacar siapa.”
__ADS_1
“Siapa pacarmu?” tanya Nauder.
Elsa tampak gugup. “Aku punya pacar, namanya Alexander. Dia sangat baik dia perhatian dia mau mendengarkan apapun yang aku ucapkan.”
“Hmm, dia pasti sangat baik sekali sampai kau terpesona walaupun belum melihat wajahnya." Nauder berusaha menahan tawanya kalau melihat wajah Elsa yang terkejut.
“Da-dari kau tahu?” tanya Elsa. Nauder tampak terdiam, dia memutar otak.
“ Sebenarnya aku tidak mengenalnya, tapi mungkin aku bisa membawanya untuk bertemu denganmu.”
“Apa maksudmu.” Elsa malah semakin bingung dengan penjelasan Nauder.
Nauder bangkit dari berjongkoknya, dengan wajah polosnya, dia mengulurkan tangan pada Elsa
“Halo nona Elsa. Aku adalah Alexander Nauder.”
seketika ...
***
__ADS_1