
Larry turun dari mobil. Lelaki itu langsung tersenyum ke arah kedua anak sambung tuannya. Ketika melihat Yuma dan Yumi, Larry merasa tertegun. Dia bisa melihat Yuma dan Yumi menatapnya dengan tatapan kecewa, dan Larry jelas tahu kenapa Yuma dan Yumi menatapnya seperti itu.
"Halo," sapa Larry pada kedua anak kembar tersebut. Yuma dan Yumi tersenyum kecil, bahkan senyum mereka begitu samar nyaris tak terlihat.
"Ayo, Paman akan mengantarkan kalian," ajak Larry.
"Paman kena ...." Yumi tiba-tiba menghentikan ucapannya ketika tangannya dipegang oleh Yuma, pertanda Yumi tidak boleh menanyakan tentang Aaron.
"Ayo kita pulang," ajak Larry lagi, hingga Yuma dan Yumi pun mengangguk.
Yuma dan Yumi sama-sama diam ketika berada dalam mobil. Keduanya merasakan rasa perih yang luar biasa. Mobil ini adalah mobil yang selalu mereka gunakan dengan sang ayah. Sang ayah biasa menjemputnya dengan mobil yang sedang mereka tumpangi. Namun sekarang, semuanya berbeda.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Larry sampai di basement apartemen. Dia juga tadi sudah meminta Leana untuk tidak menjemput kedua anak kembarnya, sebab dia akan menjemput keduanya. Semula, Leana menolak, tapi pada akhirnya Larry berusaha meyakinkan.
Larry kini turun dari mobil, lelaki itu langsung membukakan pintu untuk Yuma dan Yumi.
"Terima kasih, Paman," ucap Yuma dan Yumi secara bergantian. Mereka kemudian menunduk hormat pada Larry yang dibalas oleh pria itu dengan senyuman.
"Yuma ... Yummy,” panggil Larry, hingga Yuma dan Yumi seketika menghentikan langkah mereka, kemudian berbalik lalu setelah itu menatap Larry.
"Iya, Paman?" sahut Yuma dan Yumi secara bersamaan.
Larry menekuk kakinya, menyetarakan diri dengan Yuma dan Yumi, lalu setelah itu dia mengelus rambut ke dua anak kembar di depannya. "Kalian tidak perlu bersedih, kalian boleh menganggap Paman sebagai ayah kalian," ucap Larry, sebagai sekretaris yang sudah bekerja bertahun-tahun dengan Aaron, tentu secara sadar atau tidak, dia sudah menyanyangi kedua anak ini.
"Terima kasih, Paman," ucap Yuma, "kalau begitu, permisi."
Sepertinya, Yuma benar-benar tidak ingin ada sangkut pautnya lagi dengan sang ayah, hingga dia menganggap ucapan Larry hanya angin lalu. Jika saja mungkin tadi Leana menjemput, dia juga tidak ingin menaiki mobil sang ayah.
Larry menghela napas, kemudian mengembuskannya. Ketia melihat punggung kedua gadis kecil itu dan ketika pintu apartemen sudah terbuka, Larry pun berbalik kemudian berjalan ke arah basement.
"Mommy, kenapa Mommy menyuruh dia untuk menjemput kami?" tanya Yumi yang langsung protes pada sang ibu ketika mereka saja berjumpa.
"Maaf, tapi tadi Mommy sakit kepala," ucap Leana membuat Yumi mengubah sorot tatapannya, kekesalannya pada sang ibu sedikit berkurang meskipun masih tak terima dengan Larry yang menjemput mereka.
"Mommy, jika Mommy sakit, jangan biarkan mereka menjemputku dan Yumi. Biar saja aku memakai taksi," ucap Yuma lagi. Leana mengangguk, kemudian Yuma berjalan ke dalam.
"Mommy, kenapa Yuma selalu seperti itu? Dia bahkan melarang aku untuk bertanya tentang Daddy—maksudku Paman Aaron," ucap Yumi yang hampir saja memanggil Aaron dengan sebutan Daddy, hingga dengan cepat dia melarat ucapannya.
"Yumi, Yuma benar. Kita tidak boleh terus berharap pada Paman Aaron," jawab Leana dengan hati yang luar biasa pedih, hingga Yumi mengangguk.
"Baiklah Mommy. Aku mengerti," sahut Yumi.
"Ayo masuk, Mommy akan siapkan makanan untuk kalian," ucap Leana.
Sementara Yumi masuk, Leana berlalu ke dapur. Dia membuka kulkas, wanita itu melihat seisi kulkas yang sangat penuh. Ya, sepertinya Aaron benar-benar mempersiapkan semuanya secara detail, dari makanan yang biasa Yuma dan Yumi makan pun segala ada.
Dua kulkas benar-benar terisi dengan sempurna, tapi itu bukan membuat Leana senang, melainkan membuat Leana sedih. Leana mengusap perutnya.
"Nak, tidak apa-apa. Daddy-mu tidak tahu tentang kehadiranmu. Ada Mommy dan kedua kakakmu yang akan selalu membersamamu," ucap Leana dengan lirih sambil mengelus perutnya, dan setelah itu, dia menarik bahan-bahan untuk membuatkan makanan untuk kedua anak kembarnya.
***
"Bagaimana, apa kau sudah menjemput Yuma dan Yumi?" tanya Aaron. Tadinya, Aaron sendiri yang akan menjemput keduanya, bahkan dia sudah bangkit dari duduknya dan bersiap untuk menjemput kedua putri sambungnya, tapi tak lama dia tersadar bahwa mau tak mau, dia harus membiasakan menjauhi dari Yumma dan Yumi.
__ADS_1
"Sudah, Tuan," jawab Larry.
"Bagaimana reaksi mereka, dan juga ...." Aaron menghentikan ucapannya ketika Larry maju. Seperti biasa, Larry memberikan memori card yang menampilkan Yuma dan Yumi ketika tadi sedang dijemput olehnya, hingga Aaron menerima memory card itu kemudian membukanya di laptop.
Di sana, menampilkan Yuma dan Yumi yang melamun, bahkan Yumi berapa kali terlihat mengusap air matanya.
"Yuma, Yumi maafkan Daddy," ucap Aaron dengan hati yang tersayat.
"Kau boleh pergi," kata Aaron pada Larry, hingga Larry mengangguk. Ketika Larry sudah keluar, dan pintu sudah tertutup, pintu kembali terbuka. Muncul sosok Melisa membuat mata Aaron membulat.
"Baby, bukankah hari ini kita akan berbelanja?" tanya Melisa. Dia langsung berjalan ke arah meja Aaron, kemudian mendudukkan diri di pangkuan lelaki itu. Jujur saja, dulu Aaron paling menyukai ini. Dia paling menyukai Melisa yang manja, tapi sekarang jika Melisa melakukan ini, dia hanya teringat dengan Leana, di mana Leana selalu malu-malu.
"Baby," panggil Melisa lagi. Dia menarik dagu Aaron, hingga Aaron melihat ke arahnya.
"Kita belanja sebentar lagi," jawab Aaron. Melisa pun bangkit dari duduknya, kemudian dia mengubah posisinya hingga mereka berhadap-hadapan. Dia mulai menggoda Aaron hingga tubuh Aaron bereaksi. Walaupun sempat malas dengan kehadiran Melisa, tapi ketika digoda tentu saja Aron mengikutinya dan tepat ketika mereka akan berbuat lebih jauh, tiba-tiba terlintas lagi wajah Leana hingga Aaron langsung menjauhkan wajahnya dengan wajah Melisa.
"Baby, why?" tanya Melisa dengan nada tak terima.
"Aku sedang banyak pekerjaan," ucap Aaron, menolak. Dia sedikit mendorong tubuh Melisa, hingga Melisa bangkit dari pangkuan Aaron. Dia berdecak kesal kemudian berjalan ke arah sofa.
Jika saja dia tidak butuh uang Aaron, sudah dipastikan dia tidak mau lagi kembali pada lelaki ini. Sementara Aaron, dia tidak mau menyentuh Melisa karena dia merasa mengkhianati pernikahannya, padahal jelas-jelas sebentar lagi dia akan menggugat cerai Leana.
Tiga jam kemudian.
Aaron menyandarkan tubuhnya ke belakang. Dia melihat ke arah sofa di mana Melisa tertidur, dan ketika dia melihat Melisa seperti itu, dia teringat Leana. Dulu, ketika Leana sering tertidur di sofa kantornya, dia sering ikut berbaring di sana dan memeluk Leana dari belakang. Namun sekarang, rasanya berbeda. Dia seolah tak acuh dengan kehadiran Melisa.
Aaron mengusap wajah kasar, kemudian dia mengutak-atik ponselnya lalu setelah itu berniat menelepon Leana. Namun tak lama, dia melupakan sesuatu bahwa sejak awal dia juga sudah menghapus nomor ponsel istrinya, hingga mau tak mau dia menaruh kembali ponselnya dan meneruskan pekerjaannya.
***
Aaron membuka pintu, kemudian dia tersenyum ketika kedua putrinya menghampirinya.
"Daddy!" teriak Yuma dan Yumi hingga rasa lelah Aaron hilang begitu saja, kemudian dia menekuk kakinya lalu membungkuk untuk menyetarakan diri kemudian memeluk kedua putrinya.
Namun tak lama, Aaron langsung tersadar ketika dia malah memeluk dirinya sendiri. Ternyata, dia barusan hanya berkhayal perihal keberadaan Yuma dan Yumi.
Aaron menegakkan tubuhnya. Lelaki itu melihat ke sekelilingnya. Teringat ketika Yuma dan Yumi selalu menunggunya, tapi sekarang berbeda, hanya keheningan yang menyambutnya.
Aaron menggelengkan kepalanya, kemudian dia pun berlalu masuk begitu saja walaupun perasaannya begitu hampa. Aaron masuk ke dalam kamar.
"Kau sudah pulang? Kenapa kau pulang malam? Apa kau sudah makan?" tanya Leana.
Aaron tersenyum. Dia merentangkan tangannya untuk memeluk Leana, tapi lagi-lagi saat dia mendekat, bayangan Leana menghilang dan sialnya kali ini didasari oleh kerinduannya, Aaron berkhayal lagi.
Aaron menghela napas kemudian mengeembuskannya. Dia pun langsung berjalan ke arah ranjang, lalu membanting tubuhnya di sana. Dia melihat ke arah sisi, di mana biasanya Leana selalu berbaring di sampingnya dan mengelus punggungnya jika dia lelah, tapi sekarang tidak ada lagi. Dia sendirian, kesepian tanpa siapapun selain sunyi.
Ting!
Satu pesan masuk ke ponsel Aaron, hingga Aaron merogoh saku kemudian mengambilnya. Dia mengambil ponsel itu dengan semangat, berharap Leana yang mengirimnya pesan. Namun ternyata bukan, yang mengirimnya pesan adalah Melisa.
"Baby, bisakah kau kirim uang lagi untukku? Aku butuh untuk membeli sesuatu."
Aaron hanya mengiyakan, kemudian dia mengirim uang untuk Melisa, lalu setelah itu dia yang sudah lelah pun tanpa sadar terlelap.
__ADS_1
***
Sementara di sisi lain, Claudia menatap Rea dengan mata yang berkaca-kaca. Dia tahu putrinya begitu kesakitan saat ini. Namun, sebagai seorang ibu, dia merasa tak berdaya karena dirinya hanya mampu menggenggam tangan Rea. Di tengah keterbatasannya, dia berharap bahwa kesakitan sang putri sedikit mereda, walaupun dia tahu rasa sakit yang dialami Rea lebih dari apapun.
Tujuh tahun lalu, ketika Geo terus mencari Leana, Geo mengalami mabuk hingga tanpa sadar dia menyentuh Claudia dan pada akhirnya Claudia mengandung. Saat mengandung, Geo sempat tidak terima karena dia mempunyai anak dengan Leana.
Geo juga sempat berniat untuk menceraikan Claudia, tapi ketika keinginan itu disampaikan pada Claudia, tapi Claudia meminta sesuatu dua mengatakan akan pergi meninggalkan Geo jika Geo sudah menemukan Leana.
Selama delapan tahun ini, Geo tidak pernah berhenti untuk mencari wanita itu, dan hubungannya dengan Claudia pun masih tetap baik. Mereka sepakat untuk berteman.
Pada awalnya, Geo memang tidak terlalu menyanyangi Rea karena walau bagaimanapun dia tak pernah mengharapkan kehadirannya. Namun, seiring berjalannya waktu, akhirnya Geo mampu menerima putrinya hingga kini keduanya hidup berteman dan mengasuh Rea bersama-sama.
Namun walaupun begitu, sampai saat ini dia tidak menyerah untuk mendapatkan Leana. Dia terus menyebar anak buahnya ke setiap lokasi, yang berpontensi tinggi untuk menemukan Leana.
"Mommy, sakit." Rea berbicara menyadarkan Claudia dari lamunan. Gadis kecil yang kini berusia tujuh tahun itu, baru saja menjalani operasi jantung, sebab Rea mengalami masalah dengan jantungnya.
Rea dioperasi tiga hari lalu, dan selama tiga hari pula Rea selalu mengeluh kesakitan. Dia juga selalu menanyakan keberadaan Geo. Sementara Geo seperti biasa, dia sedang sibuk mencari Leana. Bahkan, ketika Rea dioperasi, Geo tidak ada dan malah menitipkannya pada Claudia, karena sepertinya saat itu dia sudah menerima informasi dari anak buahnya, yang sudah menemukan titik kemungkinan Leana berada.
Itu sebabnya, sekarang Claudia hanya mendampingi Rea seorang diri. Terkadang, dia ditemani juga oleh kedua mertuanya dan kini Claudia diambang rasa sakitnya, di mana dia harus melihat Rea kesakitan seorang diri, dan mau tak mau dia juga harus merelakan Geo untuk kembali pada Leana.
Mungkin Claudia bodoh bertahan dengan Geo yang mencintai orang lain, tapi Claudia lagi-lagi melakukan ini demi Rea. Dia tidak ingin Rea kehilangan sosok seorang ayah. Cukup nasibnya yang pahit, karena menikah tapi seolah tak punya suami. Jangan sampai Rea yang punya ayah, tapi kehilangan jiwa pria itu.
Namun beruntung, ternyata Geo juga sosok seorang ayah yang hangat untuk Rea. Namun, Claudia tidak tahu akankah setelah bertemu dengan Leana dan kedua anak mereka, Geo berubah atau justru akan menjadi sosoknya yang sama?
Tak lama, pintu ruang rawat Rea terbuka. Claudia menoleh dan dia melihat sosok Maudy yang muncul. Wanita itu membawa makanan untuk Claudia, sebab sudah dua hari ini Claudia sepertinya melewatkan jam makan siang.
"Claudia, Mommy membawakan ini untukmu," ucap Maudy.
"Mommy, kenapa kau repot-repot melalukan ini?" tanya Claudia yang merasa sedikit tak enak.
"Tidak apa-apa, Nak. Ayo makan. Mommy sudah memasakkan makanan kesukaanmu," jawab Maudy dengan senyuman.
Mata Claudia berkaca-kaca, mungkin sebentar lagi dia tidak akan menerima perhatian seperti ini dari mertuanya, sebab pasti mertuanya juga akan lebih memperhatikan Leana.
"Geo mana?" tanya Maudy.
“Ge-Geo, pergi Mom.”
"Geo, anak itu lagi," gerutu Maudy.
"Claudia, tenang saja. Mommy akan berhenti menyuruh Geo untuk mencari Leana," kata Maudy.
"Tidak perlu, Mom," jawabnya dengan tegar.
Maudy yang baru saja akan pergi ke brankar untuk menghampiri cucunya, langsung mengelus punggung Claudia. Dia memang mencari Leana, tapi dia juga tidak membenarkan Geo, apalagi Rea sedang dalam keadaan seperti ini.
"Yaa sudah, makanlah," titah Maudy hingga Claudia pun mengangguk.
***
Geo turun dari pesawat. Lelaki tampan itu rasanya tidak sabar untuk menemui Leana. Dia mencari Leana ke seluruh negara, tapi ternyata Leana masih berada di Rusia. Tadi pagi, anak buahnya mengatakan melihat wanita yang mirip dengan Leana menaiki taksi, hingga Geo yang mendengar itu langsung terbang, karena selama dengan Aaron, Leana jarang pergi keluar.
Sekalinya keluar, Leana selalu memakai masker. Namun sepertinya, barusan wanita itu melupakan memakai maskernya hingga anak buah Geo mengenalinya.
__ADS_1
Tanpa Geo sadari, sebenarnya cinta Leana untuknya telah hilang dan tanpa Geo sadari, mungkin dia juga akan kehilangan Claudia.