Cinta Seorang Tuan Nauder

Cinta Seorang Tuan Nauder
Terbongkar


__ADS_3

Larry yang sedang berdiri di belakang tuannya, juga ikut memperhatikan Leana. Sesekali dia melihat ke arah Aaron yang sepertinya sedang meneliti gadis di depannya ini.


"Kau boleh pergi," ucap Aaron hingga Leana menghela napas. Leana berbalik, kemudian dia pun keluar dari ruangan tuannya, dan ketika dia keluar, Leana menyandarkan tubuhnya ke pintu. Wanita itu memegang dadanya. Tulang-Tulang seakan terlepas dari tubuh Leana, saat keluar dari ruangan yang menurutnya sangat menegangkan.


Setelah Leana pergi, tatapan Aaron masih tertuju pada pintu yang barusan dilewati olehnya. Aaron tidak memalingkan tatapannya sedikit pun, walau Leana sudah keluar dari ruangannya, membuat Larry yang sedang berada di sisi bosnya menoleh.


"Tuan, apa ada yang harus saya kerjakan lagi?" tanya Larry pada sang bosnya.


"Tidak perlu. Kerjakan tugasmu," kata Aaron hingga Larry mengangguk. Lelaki itu langsung keluar dari ruangan bosnya, lalu berjalan ke arah ruangan sendiri meninggalkan Aaron di ruangan tersebut.


Aaron menyandarkan tubuhnya ke belakang. Lelaki itu memutar kursinya seolah sedang berpikir sesuatu.


***


Waktu menunjukkan pukul lima sore, akhirnya jam kerja Leana selesai. Dia memegang perutnya yang terasa lapar, sebab dia melewatkan waktu makan siangnya. Tentu saja karena banyaknya pekerjaan, apalagi ini hari pertamanya bekerja. Dia tidak boleh mengecewakan Aaron, sebab jika dia dikeluarkan dari perusahaan ini, dia bingung harus mencari pekerjaan ke mana lagi.


Leana membereskan mejanya, wanita itu langsung bangkit dari duduknya dan tepat ketika dia keluar, ternyata Aaron dan Larry pun berjalan, dan sepertinya mereka pun akan pulang hingga ketika Aaron melewatinya, Leana menunduk hormat.


Beruntung dia belum pergi, sebab akan terasa canggung jika dia mendahului Aaron. Setelah Aaron tidak terlihat, Leana langsung keluar dari ruang kerjanya. Wanita itu berjalan ke arah lift.


Jantung Leana berdebar dua kali lebih cepat, saat melihat ternyata lift masih terbuka.


Aaron sedang bersidekap kemudian menatapnya. Seketika, Leana dilanda kebingungan. Tidak mungkin dia menaiki lift yang sama dengan bosnya, hingga Leana hanya diam kemudian menunduk.


"Kau tidak masuk?" Tiba-Tiba suara Aaron terdengar, membuat Leana langsung menoleh. Dia mengangkat kepalanya kemudian melihat ke arah Aaron. Entah itu sebuah perintah ataupun hanya sebatas pertanyaan, tapi dia memutuskan untuk masuk hingga Larry langsung menekan tombol lift, dan pintu lift pun tertutup.


Akhirnya, lift sampai di lantai dasar. Leana mundur satu langkah, membiarkan Larry dan Aaron keluar dari lift terlebih dahulu, sedang setelah itu dia langsung turun.


***


Leana masuk ke dalam rumah. Di tangannya sudah ada beberapa makanan yang barusan dia beli dari kantin. Beruntung, jarak pabrik dan rumah sewaannya tidak terlalu jauh, hingga bisa berjalan kaki.


Saat Leana akan pergi ke kamar, tiba-tiba Leana menghentikan gerakannya. Dia memegang perutnya yang terasa kram, lalu setelah itu dia perlahan berjalan ke arah sofa lalu mendudukkan diri di sana.


Lima belas menit kemudian, keram Leana sudah berkurang. Wanita itu pun langsung bangkit dari duduknya, kemudian mengambil makanan yang tadi dia beli lalu memindahkannya ke piring.


***


Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Leana melamun, tidak ada aktivitas yang bisa dia lakukan. Tidak ada televisi, dan bermain ponsel pun rasanya Leana sudah malas, hingga dia hanya bisa terdiam.


Tak lama, pikiran Leana mengembara di masa kecilnya. Seandainya kau tidak memilih jalan yang salah, aku pasti tidak akan kesepian seperti ini. Kenapa kau lebih memilih laki-laki itu daripada putrimu sendiri?


Tangis Leana sudah berlinang mengingat kenangannya bersama sang ayah. Walaupun bukan suami yang baik untuk ibunya, tapi harus Leana akui ayahnya adalah ayah terbaik untuknya, walaupun terkadang dia merasa ayahnya lebih memilih Matteo daripada dirinya.


Leana yang sedang duduk di ranjang, memanjangkan kakinya kemudian dia merebahkan tubuhnya lalu memeluk guling. Dia menatap ke depan dengan tatapan nanar. Selain mengingat ayahnya, dia juga mengingat keluarga angkatnya.


"Paman, Bibi," lirih Leana, hingga pada akhirnya tanpa sadar wanita malang itu terlelap.


***


Malam berganti pagi. Leana terbangun dari tidurnya. Dia melihat jam, ternyata waktu menunjukkan pukul enam pagi. Lalu dengan pelan, Leana pun turun dari ranjang kemudian wanita itu berjalan ke arah kamar mandi untuk menyegarkan dirinya.

__ADS_1


Satu jam kemudian, seperti biasa, Leana sudah siap memakai pakaian kantornya. Wanita itu keluar dan memutuskan untuk tidak sarapan di rumah, karena memang tidak ada apapun yang bisa dia masak, terlebih lagi dia pun juga tidak bisa memasak apapun, hingga pada akhirnya Leana memutuskan untuk membeli sarapan di kantin.


Saat akan keluar dari rumah, Leana menghentikan langkahnya. Wanita itu memegang pinggiran pintu ketika merasakan perutnya terasa keram. Dia bergumam dalam hati dan lima belas menit kemudian, keram Leana sudah tidak terasa. Wanita itu memperlambat jalan langkahnya agar keram tidak terasa kembali, hingga pada akhirnya Leana sampai di perusahaan.


Saat masuk ke dalam ruangan, Leana mengerutkan keningnya ketika melihat sebuah paper bag. Wanita itu langsung maju, kemudian membuka paper bag tersebut yang ternyata di dalamnya adalah kotak berisi makanan. Leana melihat ke sana kemari. Di ruangan ini tidak ada siapa pun. Dia kembali melihat ke arah luar, di sekitar ruangannya juga sepi. Lalu, siapa yang mengirimkan sarapan ini?


Leana membuka kotak makan tersebut. Matanya berbinar saat melihat makanan yang terlihat sangat lezat. Karena perutnya lapar, Leana tidak memikirkan siapa yang memberikan makanan itu. Dia langsung menududukkan diri di kursi kerjanya, kemudian menyantap makanannya itu, tanpa berpikir siapa yang menyimpan di mejanya.


Leana tampak menikmati makanan itu, karena makanan itu benar-benar lezat. Wanita itu makan dengan semangat karena ini benar-benar makanan yang dia inginkan.


Akhirnya, acara makan pun selesai. Wanita cantik itu menyandarkan tubuhnya ke belakang sejenak. Dia belum membereskan bekas makannya.


Leana menatap kotak makan itu dengan aneh. Tunggu, kenapa kotak makan itu ada di mejanya? Setelah dia kenyang dia baru berpikir, apakah ada orang yang salah menyimpan?


"Hmm, pasti ada orang yang salah menyimpan," ucap Leana. Wanita itu menegakkan tubuhnya kemudian membereskan kotak yang ada di depannya, lalu setelah itu bangkit dari duduknya kemudian keluar untuk membuang kotak tersebut ke tempat sampah.


Namun, saat dia akan berbelok tiba-tiba pintu lift terbuka, muncul sosok Larry dan juga Aaron hingga Leana langsung menyembunyikan kotak tersebut ke belakang tubuhnya.


Aaron melihat Leana, tapi seperti biasa, dia hanya melihat Leana sekilas.


"Selamat pagi, Tuan," sapa Leana ketika Aaron berjalan di depannya. Aaron hanya menoleh sekilas, kemudian melanjutkan langkahnya disusul oleh Larry. Setelah itu, Leana pergi ke tempat sampah untuk membuang box yang tadi dia makan.


"Tuan, apa ada yang harus Anda kerjakan di sini?" tanya Larry pada Aaron, sebab dari semua perusahaan, perusahaan kosmetiklah yang jarang sekali Aaron kunjungi.


Biasanya, Aaron hanya akan datang satu bulan sekali, bahkan terkadang dua bulan sekali, tapi kali ini Aaron malah dua hari berturut-turut datang. Dari itu, menjadi tanda tanya bagi Larry.


"Bawakan aku saja berkas yang tertahan bulan lalu," kata Aaron.


"Kau boleh pergi. Diam saja di ruanganmu," ucap Aaron hingga Larry mengangguk. Lelaki bertubuh tegap itu langsung berbalik, kemudian keluar dari ruangan tuanya.


Setelah Larry keluar, Aaron menyandarkan tubuhnya ke belakang. Lelaki itu menggapai mouse, lalu setelah itu mengetik sesuatu hingga layar laptopnya berubah menjadi tayangan CCTV. Ya, saat ini Aaron sedang melihat CCTV beberapa jam ke belakang. Tatapan lelaki itu begitu fokus melihat layar di depannya.


***


Waktu menunjukkan setengah dua belas siang, Larry masuk ke dalam ruangan Aaron. Lelaki itu berniat menawarkan Aaron ingin makan apa untuk makan siang.


"Tuan," panggil Larry.


Aaron yang sedang fokus di depan laptop, langsung menoleh. "Anda ingin makan siang di mana?" tanya Larry.


"Restoran biasa saja," kata Aaron, tiba-tiba Aaron terpikirkan sesuatu.


"Take away beberapa makanan, dan bagikan ke semua staff," titah Aaron membuat Larry kebingungan.


Aaron seperti bukan bosnya, sebab Aaron tidak akan peduli dengan hal seperti ini. Namun, lihatlah sekarang.


"Kenapa kau diam? Kau tidak mendengar perintahku?" tanya Aaron hingga Larry tersadar.


"Baik Tuan," jawab Larry, lalu dengan cepat Larry pun berbalik kemudian lelaki itu langsung keluar dari ruangan Aaron.


***

__ADS_1


Kau tidak becus! Kenapa mencari satu orang saja kau tidak bisa!" Steve berteriak pada anak buahnya. Lelaki itu benar-benar frustrasi. Ini sudah dua hari berlalu, dan selama dua hari ini pula anak buahnya benar-benar tidak bisa menemukan ke mana putri angkatnya, dan selama dua hari ini pula Maudy terus bertanya tentang keadaan Leana.


Sekarang, Steve benar-benar dilanda kebingungan yang luar biasa hebat. Jika Maudy tahu tentang Leana, Maudy pasti akan terkejut, sedangkan kondisi istrinya sekarang sedang tidak baik-baik saja. Steve takut Maudy terkena serangan jantung.


Steve mengusap wajah kasar saat anak buahnya mengatakan tidak berhasil menemukan Leana. Lelaki itu benar-benar depresi. Ketakutan demi ketakutan melanda. Tidak, dia tidak bisa diam saja.


Lelaki itu bergegas keluar dari ruang kerjanya untuk mencari. Tentu saja anak buah yang lain pun bergerak untuk mencari gadis itu. Tadi, anak buahnya mengatakan bahwa sudah melihat semua CCTV dari berbagai arah, dan saat itu Leana terlihat keluar dari bandara dan sekarang Steve yakin ada yang terjadi dengan putri angkatnya.


"Dad," panggil Maudy ketika Steve keluar dari ruang kerjanya.


Steve memejamkan matanya. Bagaimana caranya dia akan berbicara pada Maudy?


"Bagaimana, apakah sudah mendapat kabar Leana? Kenapa dia masih tidak bisa dihubungi? Bukankah seharusnya jika dia sudah sampai di Kanada, dia ...."


Steve berbalik, hingga Maudy menghentikan ucapannya. Raut wajah Steve sudah menjelaskan semuanya, bahwa putri angkatnya tidak baik-baik saja.


“Pasti ada sesuatu yang terjadi kan dengan Leana," tebak Maudy, dia langsung berjalan mendekat ke arah suaminya.


“Jawab, Dad. pasti ada yang terjadi kan dengan Leana.” Maudy kembali mengulangi pertanyaannya. Bahkan dia mengguncangkan tubuh Steve, hingga sepertinya Steve tidak bisa membohongi Maudy lagi.


Perlahan, dia menarik lengan istrinya mengajaknya untuk kembali masuk ke dalam ruang kerja, lalu setelah itu dia mendudukkan diri di sofa, membuat Maudy semakin was-was.


“Dad, Leana sedang tidak baik-baik saja kan?” Maudy dengan cepat berbicara sebelum Stev membuka suara.


“Sayang ....” dan pada akhirnya Stev mengatakan semua tentang apa yang ditemukan anak buahnya, dari Leana masuk ke dalam bandara sampai Leana kembali lagi keluar dari bandara dan itu artinya Leana tidak pergi ke luar negeri, melainkan masih ada di negeri ini.


“Sayang ...sayang!” Steve terpekik ketika Maudy tidak sadarkan diri, Maudy terlalu terkejut dengan apa yang dia dengar hingga akhirnya dia kehilangan kesadaran, dengan cepat Stev langsung membopong tubuh Maudy lalu membawa ke bawah.


“Dad, Mommy kenapa?” tanya Geo karena yang berpapasan dengan sang ayah, Stev tidak menjawab, dia terus melangkah diikuti Geo di belakangnya.


“Sebenarnya Mommy kenapa Dad?” tanya Geo ketika Maudy sudah di baringkan di berangkar.


“Geo di mana Claudia,” Bukannya menjawab pertanyaan putranya, Stev malah menanyakan hal lain.


“Dad, kenapa kau bertanya Claudia, dia masih ada di kampus.”


“Apa ada yang terjadi denganmu dan leana sebelum Leana pergi.” tiba-tiba jantung Geo berdetak dua kali lebih cepat saat mendengar pertanyaan itu dari ayahnya, bahkan wajahnya langsung gugup.


“Kenapa kau bertanya seperti itu?” tanya Geo.


“Daddy rasa, kepergian Leana ada hubungannya denganmu, dan katakan apa yang kau lakukan pada Leana,” ucap Steve yang mendesak putranya untuk jujur mm


“A-aku tidak melakukan apapun," dusta Geo.


“Jika kau tidak melakukan apapun mana mungkin Leana kabur dan pergi dari rumah ini.”


“Dad, sebenarnya apa yang kamu maksud kenapa kau berbelit-belit.”


Leana tidak pergi ke luar negeri, dia kabur dari rumah ini dan mungkin dia tidak akan kembali lagi ke sini.


Deg

__ADS_1


__ADS_2