
Akhirnya acara operasi palsu pun selesai. Maudy menyuruh Geo untuk berpura-pura tidur sebelum mereka keluar dari ruang operasi, begitu pula dirinya.
Sementara Steve yang sedang berada di depan ruangan, kini menghela napas lega ketika lampu berwarna hijau pertanda operasi sudah selesai. Lalu tak lama, dokter keluar dari ruang operasi.
"Bagaimana keadaan anakku?" tanya Steve pada dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi.
'Dia hanya menanyakan keberadaan anaknya saja,' batin Maudy saat mendengar ucapan Steve yang tidak menanyakannya.
"Dia baik-baik saja dan operasi berjalan lancar. Kami akan segera memindahkan pasien ke ruang ICU." Dokter pun berlalu meninggalkan Steve yang kini kembali mendudukkan diri di kursi tunggu karena pintu ruang operasi kembali tertutup.
Sepuluh menit kemudian, pintu ruangan kembali terbuka. Para perawat kini muncul mendorong brankar yang ditempati oleh Maudy juga Geo.
Maudy ingin sekali tertawa saat keluar dari ruang operasi. Dia terbayang bagaimana tersiksanya Steve menunggu dalam waktu yang cukup lama, sedangkan di dalam sana sejak tadi dia dan Geo bermain game.
***
Dua pekan kemudian.
Dua minggu sudah berlalu semenjak operasi mereka di lakukan. Lalu akhirnya sekarang Geo dan Maudy diizinkan untuk pulang dari rumah sakit.
Selama dua minggu ini pula, Steve terus menemani Geo dan Maudy di rumah sakit, karena mereka ditempatkan di ruangan yang sama. Sementara Alya, sejak awal putranya masuk rumah sakit, dia tak berhenti datang ke rumah sakit walaupun Steve melarangnya masuk.
Seperti saat ini, Alya terus mengintip. Rasanya dia ingin melihat keadaan Geo secara langsung, tapi di dalam sana ada Steve. Jelas tidak mungkin untuknya masuk meski sangat ingin memeluk anak itu..
Maudy yang sedang duduk memainkan ponsel, menoleh ke arah jendela karena merasa ada yang memperhatikan. Benar saja, ternyata Alya yang melihatnya.
Namun saat Maudy memergoki Alya, wanita itu langsung menyingkir dari pintu. Dia terlalu gengsi jika tertangkap basah oleh mantan istri Steve tersebut.
"Steve, bisa kita bicara?" tanya Maudy.
Steve yang sedang bersama Geo, mengangguk. "Sebentar, aku akan menyelesaikan ini dulu."
Maudy berjalan ke arah sofa. Dia merasa harus berbicara dari hati ke hati dengan Steve karena tak ingin ada pertikaian lagi ke depannya, dan dia juga akan meminta pria itu untuk mengijinkan Alya bertemu dengan Geo untuk terakhir kalinya, karena anak itu akan menetap dengan Maudy di Jerman, sementara Steve kembali ke Rusia.
Steve berniat datang ke Jerman sekali dalam sebulan. Hal ini sudah disepakati sebelumnya, dan Maudy pun sama sekali tidak keberatan dengan hal itu.
"Ada apa, Maudy?" tanya Steve.
Sejak operasi tersebut, hubungan keduanya membaik. Steve mulai nyaman berteman dengan Maudy, begitu pula sebaliknya. Tidak ada lagi keraguan dalam diri wanita itu. Dia yakin bahwa Steve tak akan mengulangi kesalahannya.
Mungkin terdengar mustahil jika Maudy bersedia memaafkan Steve dengan gampang, tapi percayalah wanita itu sudah berperang dengan batinnya sendiri untuk kembali mempercayai Steve. Sebab, jika dia terus berpikiran buruk, dia sendiri yang akan terjebak dengan perasaannya.
"Sebelum kau pulang ke Rusia, tolong izinkan Geo untuk bertemu dengan Alya dan setelahnya, bawa dia pulang. Setidaknya saat ini, dia bisa bertemu dengan Geo sebelum keluar dari Jerman."
Steve tampak berpikir, entah kenapa dia begitu kagum dengan sosok wanita di depannya ini. Dia dan Alya sudah banyak menyakiti Maudy dari mulai Geo lahir sampai tiga tahun yang lalu, tapi lihatlah sekarang, dia malah ingin mempertemukan Geo dan Alya.
"Kenapa kau ingin mempertemukan Geo dengannya?"
"Steve, jika aku tidak mengizinkan Alya bertemu dengan Geo, bisa saja dia berbuat nekad padanya saat kita lengah. Tidak ada yang tau bukan.”
Steve kembali diam. Apa yang diucapkan Maudy terdengar masuk akal.
"Baiklah, aku akan berbicara nanti."
Setelah itu, Maudy bangkit kemudian membereskan pakaian dan lain-lain karena nanti sore, dia dan Geo akan keluar dari rumah sakit. Sementara Elsa dan Nauder, mereka sudah lebih dulu pulang ke Rusia.
Steve keluar dari ruangan, dan untuk pertama kalinya dia berinisiatif mengajak Alya bicara, sebab dia ingin menyelesaikan hubungan mereka sebelum kembali ke Rusia.
***
__ADS_1
Lalu, di sinilah pasangan suami-istri itu berada, yakni sebuah kafe yang tidak jauh dari rumah sakit.
Alya diam, begitupun dengan Steve. Beberapa hari lalu, pria itu masih merasa emosi karena apa yang dilakukan oleh istrinya di masa lalu. Namun, saat melihat ketenangan Maudy, dia mulai belajar sesuatu bahwa tidak semua hal harus diselesaikan dengan emosi termasuk saat ini.
Steve berusaha untuk berbicara dari hati ke hati dengan Alya karena setelah di Rusia, dia tidak ingin terikat hal dengan istrinya atau yang sebentar lagi akan menjadi mantan.
"Alya, seperti yang aku bilang, mari kita bercerai."
Alya mengangkat kepalanya. Mata wanita itu sudah berkaca-kaca. "Steve, kenapa kau menghukumku seperti ini? Itu terjadi di masa lalu, kenapa kau harus menyangkut pautkannya sekarang? Selama kita menikah, aku sudah melakukan yang terbaik untukmu juga Geo. Aku bahkan menyayanginya seperti anakku sendiri, dan kau tahu itu, 'kan?" Alia berbicara dengan handuk.
"Aku tahu, tapi ada satu hal yang aku tidak terima Alya dan kau tahu jawabannya jadi aku tak perlu mengatakan apapun lagi." Stev tetap tenang. Namun, dia terlihat tegas. Seolah tidak ada keraguan
"Tidak adakah kesempatanku untuk kembali, Steve?" bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Alia, dia menatap Stev dengan tatapan terluka.
"Alya, aku mengenalmu sudah lebih dari dua belas tahun dan aku yakin, kau pasti akan menemukan lelaki yang lebih baik dari aku. Aku juga bukan suami yang sempurna, tapi untuk terus bersamamu, aku tidak bisa. Aku akan terus terbayang apa yang kau lakukan di masa lalu dan aku akan terus menyalahkanmu atas kelakuan ibumu. Jika kita memaksakan untuk terus bersama, maka kita hanya akan saling melukai."
"Alya, aku tidak akan pernah melarangmu untuk bertemu dengan Geo, tapi tolong jangan pernah berpikir seperti dulu di mana kita ingin merebutnya dari Maudy. Maudy masih berbaik hati membiarkanmu bertemu dengan Geo, jadi tolong hargai kebaikannya."
Alya menunduk dengan bibir bergetar. Sepertinya, percuma jika dia terus memaksa Steve untuk terus menerimanya. Wanita itu kini menghela napas.
"Baik, mari kita bercerai," ucap Alya dengan senyuman. Namun, wajahnya terlihat jelas bahwa Alia sangat terluka.
Walaupun tak dapat dipungkiri bahwa rasa cintanya untuk Alya masih ada, tapi inilah keputusan di terbaik yang bisa Steve ambil karena dia tidak ingin saling melukai. Apalagi sekarang, hubungan dia dan Maudy sudah membaik dan mental Geo bisa tetap terjaga.
"Alya, mungkin ini tidak akan bisa menghapus rasa sakitmu karena diceraikan olehku, tapi aku akan membagi beberapa aset denganmu. Uang tunjangan dan lain-lain, jadi kau tidak perlu bekerja karena aku akan tetap memberikanmu jatah setiap bulan. Aku juga akan tetap memberikan fasilitas untukmu, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi. Kau bahkan boleh menempati apartemen yang kita tempati sekarang, dan aku akan pindah ke mansion orang tuaku."
Alya mengangguk-nganggukkan kepalanya. Dia menghapus air mata. "Ya sudah kalau begitu, aku akan menemui Geo sebelum aku pulang ke Rusia." Alia mengakhiri ucapannya dengan senyum yang mengembang.
"Sampai jumpa, Stev. Jangan lupa kabari aku jika sudah selesai mengurus semuanya. Aku juga akan datang ke pengadilan untuk sidang perceraian kita," jawab Alya dengan hati yang remuk. Steve mengangguk dan Alia pun keluar dari kafe.
Sepeninggal Alya, Steve menghela napas lega. Entah kenapa, dia merasakan tenang yang luar biasa ketika sudah berbicara baik-baik dengan Alya. Kini dia mengerti kenapa Maudy mengambil langkah damai dengannya juga istrinya.
***
Sekarang, Alya tidak punya pilihan apapun selain melepaskan Steve juga Geo dengan rela.
Setelah lebih tenang, Alya bangkit dari duduknya. Dia berencana untuk menemui Geo karena sudah tidak tahan lagi berada di sini, dan memutuskan untuk pulang ke Rusia nanti malam.
***
Alya terdiam cukup lama di depan ruang rawat putranya. Ketika itu, pintu terbuka oleh Maudy.
Sejak tadi, Maudy melihat Alya membuatnya berinisiatif keluar untuk mengajaknya masuk. Lalu kini, mereka berdiri berhadapan.
"Kau ingin menemui Geo?" tanya Maudy.
Alya menggangguk, dia tidak berani menatap Maudy karena begitu malu dengan wanita itu.
"Temuilah, aku akan berada di luar," ucap Maudy, dia keluar dari ruang rawat Geo sedangkan Alya langsung masuk ke dalam.
"Geo," panggil Alya.
Geo yang sedang bermain ponsel, langsung menoleh lalu tersenyum. "Halo Mommy."
Tidak ada tatapan penuh kebencian di mata Geo seperti dulu, dan tentu saja itu karena nasehat Maudy. Alya merasa ingin menangis sekencang-kencangnya saat melihat Geo seperti ini.
Bagaimana mungkin dia tahan meninggalkan putranya yang selama dua belas tahun ini dia rawat?
Alya menghapus air mata dan berusaha menegarkan hatinya. Wanita itu menarik kursi kemudian mendudukkan diri di sebelah Geo.
__ADS_1
"Geo," panggil Alya lagi.
Tangan kecil Geo terulur untuk menghapus air mata Alya yang tertinggal membuat tangis wanita itu kian kencang. Alia menggenggam tangan Geo kemudian mengecupnya.
"Mommy menyayangimu," ucap Alya.
Geo turun dari brankar kemudian langsung meneluk Alya. "Geo juga menyayangi Mommy," jawab Geo membuat tangis Alya semakin menjadi-jadi
Alya memeluk Geo begitu erat. Dia mencium seluruh bagian wajah putranya. Dia mencurahkan seluruh kasih sayangnya untuk anak itu.
Eratnya pelukan Alya membuat Geo sulit bernapas, tapi dia seolah mengerti akan perasaan Alya, hingga dia tidak melepaskan pelukannya dan membalas pelukan Alia.
Alya kini melepaskan pelukannya kemudian menghapus air mata. Dia lalu memegang kedua pipi Geo dan menatapnya lekat-lekat, merekam dengan baik wajah putranya, sebab dia tidak tahu kapan akan kembali ke sini dan berjumpa dengan Geo.
"Mommy," panggil Geo, ketika Alia menatapnya dengan lekat.
Alya tersenyum kemudian bangkit dari duduknya. "Ya sudah, Mommy ke luar dulu. Jaga dirimu baik-baik, Geo. Mommy menyayangimu.”
Alya berlalu meninggalkan Geo dan keluar ruang rawatnya, di mana Maudy menunggu di sana.
"Terima kasih, Maudy," ucap Alya saat dia keluar dari ruang rawat Geo. Kali ini dia berani menatap Maudy tidak seperti tadi.
"Kau boleh mengunjunginya kapan saja," ucap Maudy, Alia mengembangkan senyumnya.
Alya berlalu meninggalkan Maudy, dan setelah Alia pergi, Maudy sudut matanya. Ternyata sejak tadi, dia mendengarkan pembicaraan mereka.
Mungkin hubungannya dan Alya memang tidak baik, tapi dia bersyukur wanita itu sangat menyayangi Geo.
"Nona Maudy." Tiba-Tiba terdengar suara Richard dari belakang hingga Maudy pun berbalik.
"Hai, Tuan Ricard. Apa ada yang penting, Kenapa kau tidak menelponku saja ?" tanya Maudy. Dia mengerutkan keningnya saat melihat Ricard datang ke rumah sakit.
Richard terdiam, dia bingung harus bercerita dari mana karena kemarin Leana demam, dan dia hanya ingin bertemu dengan Maudy. Hingga Ricard pun datang ke sini karena tahu wanita itu akan pulang dari rumah sakit.
"Ada apa Tuan Richard?" tanya Maudy lagi karena Richard tidak menjawab.
"Nona Maudy, sebenarnya aku tidak enak mengatakan ini." Richard menghentikan ucapannya, dia bingung harus mengatakan apa.
"Kenapa? Katakan saja."
"Saat ini, Leana sedang demam dan dia ingin bertemu denganmu. Aku sudah memberi pengertian, tapi dia tetap ingin kau datang ke rumahku."
Maudy menggigit bibirnya. Dia telah berencana untuk berhenti mengajar karena ada Geo, dan dia ingin menghabiskan waktu secara khusus bersama putranya.
Namun, melihat Leana hidup seperti ini, ia merasa tidak tega. Apalagi, dia pun sudah melihat perubahan yang signifikan dalam diri anak itu karena dirinya.
"Maudy, jika kau ingin pergi, pergilah. Biar Geo bersamaku." Secara tiba-tiba Steve bicara dari belakang Maudy. Dia tahu wanita itu sedang kebingungan.
"Tidak apa-apa, 'kan, aku menitip Geo? Aku akan menyusul pulang nanti," kata Maudy.
Steve mengangguk. "Pergilah."
"Terima kasih Steve."
Lagi-Lagi, Steve tertegun dengan respon Maudy. Padahal wanita itu pernah ditipu dan sudah seharusnya dia curiga. Namun lihatlah, sekarang Maudy malah percaya padanya.
"Sebentar Tuan Richard, aku akan mengambil tasku dulu," ucap Maudy pada Richard
Richard mengangguk, Maudy pun masuk ke dalam lalu pamit pada Geo kemudian pergi bersama pria itu.
__ADS_1