Cinta Seorang Tuan Nauder

Cinta Seorang Tuan Nauder
Pedih


__ADS_3

Maudy terbangun dari tidurnya. Wanita itu langsung melihat samping membuatnya bisa melihat jam yang menunjukan pukul lima pagi. Pantas saja Geo belum bangun.


Maudy turun dari ranjang. Dia memutuskan untuk berolahraga. Lalu saat keluar, wanita itu terperanjat kaget ketika melihat sosok pria yang sedang tidur di sofa.


"Tunggu, bagaimana dia bisa pulang?" lirih Maudy, karena sepengetahuannya, perjalanan dari tempat kemarin sampai di rumahnya membutuhkan waktu dua jam. "Ah mungkin dia naik taksi," ucapnya.


Saat Maudy hendak pergi, dia mengurungkan niat ketika melihat kaki pria itu tampak memerah. "Apa jangan-jangan, dia berjalan kaki?"


Faktanya memang benar bahwa Steve berjalan kaki selama lima jam lamanya. Pria itu melakukannya, karena dia merasa tidak mungkin terus berdiam diri di sana. Selama perjalanan yang dia lakukan, berkali-kali dirinya tersasar.


Namun, mengandalkan potongan ingatannya yang masih bisa dia andalkan, dia pun berhasil tiba di rumah sang mantan istri. Bukan hanya itu, dia bahkan berjalan dalam keadaan hujan, alhasil dia kembali dalam keadaan basah kuyup membuat suhu tubuhnya meningkat.


Maudy kini menutup mulut terkejut saat melihat wajah Steve yang pucat. "Steve," panggilnya.


Steve membuka matanya sesaat sebelum kembali tertutup. Maudy meraba kening pria itu membuatnya tahu bahwa dia sedang demam.


Maudy berlalu dari sana untuk mengambil ponselnya dan memanggil dokter.


***


"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Maudy ketika dokter sudah berhasil menginfus tangan Steve.


"Pasien mengalami dehidrasi dan demam tinggi," ucap dokter.


Setelah berbincang sejenak, dokter pun berlalu untuk keluar dari rumah Maudy usai memberikan resep.


Setelah mengantar dokter ke teras, Maudy kembali masuk ke dalam kamar mantan suaminya. Dia berjalan dengan langkah pelan ke arah ranjang, kemudian menundukkan dirinya di sisi Steve.


'Steve, andai waktu itu kau tidak memperlakukanku dengan buruk, mungkin aku setuju untuk memperbaiki dan membuat semuanya dari awal. Tapi sayang, luka di hatiku terlalu dalam untuk mengiyakan keinginanmu,' batin Maudy.


luka yang ditorehkan Stev cukup dalam dan walaupun melihat Steve seperti ini, dia hanya sebatas merasa khawatir dan tidak merasakan apapun lagi.


Saat Maudy melamun, Steve membuka matanya. Dia menarik lembut tangan wanita itu hingga dia tersadar dan bertanya, "Ah, kau sudah bangun?"


Walaupun dalam keadaan demam, Steve ingat misinya untuk tetap mengambil hati wanita itu, hingga saat tersadar dia langsung menarik tangan Maudy, padahal dalam hatinya dia sangat ingin mengumpat dan mengamuk, karena wanita ini berani meninggalkan dia sendiri.


"Apa kau lapar?" tanya Maudy.


"Iya, bisakah kamu menyuapiku?" Steve bertanya balik, padahal sebenarnya dia sudah sedikit bertenaga, tapi dia berpura-pura lemas agar Maudy memberikan perhatian kepadanya.


"Sebentar, aku akan membuatkan bubur." Maudy bangkit dari duduknya kemudian keluar dari kamar menuju dapur untuk membuat bubur.


***


Setengah jam berlalu, pintu terbuka dan Steve langsung mengubah ekspresinya agar terlihat sakit. Namun tiba-tiba, dia membulatkan mata ketika ternyata yang masuk ke kamarnya adalah pelayan.


"Ke mana Maudy?"


"Nyonya Maudy sedang mengurus Geo, Tuan, jadii biar aku yang menyuapimu."


"Tidak usah, aku bisa makan sendiri," jawab Steve.


***


Maudy masuk ke dalam kamar Steve yang ternyata sedang tertidur. Wanita itu membawakan salep untuk mengobati kaki mantan suaminya yang memerah.


Maudy kini mendudukkan dirinya di ranjang, lalu dengan perlahan dia mengusapkan salep ke kaki Steve membuat pria itu terbangun dan meringis. "Aw."


Ringisannya terlihat kesakitan, padahal sebenarnya itu adalah wujud kekesalan kepada mantan istrinya, karena telah membuat dia terbangun. Namun beruntung, dia masih bisa berpikir logis hingga mampu untuk meredam emosi yang dia rasakan.


"Kakimu akan cepat sembuh pakai ini," ucap Maudy.


Tiba-tiba, jantung Steve berdetak dua kali lebih cepat saat Maudy tiba-tiba meniup lembut kakinya karena dia tahu bahwa pria itu kesakitan.


Apa yang dilakukan Maudy memang sederhana, tapi berhasil membuat Steve merasa tak karuan. Pria itu menggeleng pelan, menahan diri untuk tidak terpesona dengan Maudy.


Meskipun otaknya berkata seperti itu, tapi sorot mata Steve mengatakan yang sebaliknya saat dia melihat Maudy yang sedang membenarkan rambut.


"Steve," panggil Maudy membuat Steve tersadar dan langsung mengubah ekspresinya.


"Apa kau ingin makan sekarang?" tanya Maudy, karena memang sekarang waktu sudah menunjukkan jam makan siang.


Steve menggeleng. "Maudy, kepalaku sedang sakit. Bisakah kau eluskan kepalaku?"


Maudy menggigit bibirnya.

__ADS_1


"Ayolah Maudy, kau yang membuatku begini. Andai kau tidak meninggalkanku ...." Steve menggantung ucapannya saat Maudy berpindah tempat ke sebelahnya.


Maudy kemudian mengelus pelan rambut lelaki itu. Perlakuan sederhana yang lagi-lagi membuat Steve merasa tak karuan. Jantungnya berdebar begitu kencang.


***


Nauder tersenyum saat melihat pesan yang dikirimkan anak buahnya, yakni sebuah foto di mana Maudy sedang mengelus rambut Steve.


Rupanya, anak buah Nauder memotret mereka dari jendela yang setelah berhasil, tanpa ditunda lagi langsung dia kirimkan pada Nauder.


"Kau kenapa?" tanya Elsa ketika nauder tersenyum seorang diri.


Nauder itu menarik lembut tangan istrinya. "Lihat ini, Sayang,” Elsa mengambil ponsel suaminya kemudian tersenyum.


"Kalian kenapa?" Tiba-tiba terdengar suara Gina yang baru saja pulang bekerja. "Ada apa? Kenapa kalian tampak senang?" tanyanya lagi.


Elsa memperlihatkan ponsel di tangan Nauder kepada putrinya. Namun, alih-alih ikut senang, Gina justru merasa aneh. "Apa kalian yakin lelaki ini sudah berubah?"


"Gina, apa maksudmu?" tanya Elsa.


"Mom, kita mengenal Steve lebih dari siapapun. Dia itu manipulatif, jadi mana mungkin dia bisa berubah pada Maudy secepat itu."


Nauder dan Elsa terdiam memikirkan ucapan Gina.


"Tapi jika kalian ingin percaya pada Steve, ya silakan percaya saja," ucap Gina karena menyesal telah mengganggu kebahagiaan orang tuanya.


"Ya sudah, aku naik ke atas dulu." Gina berlalu dari sana dan berjalan ke arah lift untuk kemudian pergi ke kamarnya.


***


Waktu berlalu begitu cepat, hingga tidak terasa bahwa sudah tiga bulan berlalu sejak Steve tinggal di India. Lalu, selama itu pula dia tak pernah berhenti mendekati Maudy agar wanita itu luluh.


Namun sayang, Maudy sama sekali tak terpengaruh dengan apapun yang dilakukan oleh Steve.


Namun, walau Steve tidak berhasil meluluhkan Maudy, tapi dia berhasil menenangkan hati Geo hingga sekarang, Geo tak terlalu dekat dengan ibunya sendiri.


Bahkan jika Maudy ingin mengantarkannya ke sekolah, Geo selalu menolak dan ingin pergi dengan Steve. Anak itu juga seringkali menolak memakan masakan Maudy.


Saat ini, Steve sedang menatap punggung Maudy yang sedang membujuk Geo agar bersedia diantar olehnya. Namun, anak itu tetap enggan. Hingga akhirnya Maudy hanya bisa pasrah.


***


"Kapan kita akan bertemu Mommy Alya?" tanya Geo ketika mereka sedang berada di mobil.


Steve mengelus rambut putranya. "KIta akan bertemu Mommy Alya sebentar lagi, tapi kau janji, kau tidak akan memberitahukan apa yang kita rencanakan pada Mommy Maudy?"


"Aku janji."


"Kau juga tidak boleh memakan lagi masakan Mommy Maudy karena bahaya dan sangat beracun," ucap Steve yang kembali mendoktrin Geo.


"Baik, Daddy," jawab Geo dengan polisnya.


Steve kembali mengelus kepala Geo. Dia tersenyum senang karena perjuangan dia selama tiga bulan lamanya, tidaklah sia-sia. Sekarang, dia tidak perlu lagi untuk membujuk Maudy karena dia sendiri sudah berhasil mengambil hati putranya.


***


Maudy mendudukkan diri di sofa. Wanita itu mendadak merasakan sesak mengingat bahwa ini sudah satu minggu sejak perubahan Geo yang begitu drastis.


Geo bahkan tidak pernah lagi tidur bersamanya seperti biasa.


Maudy kini menyandarkan tubuhnya ke belakang. Tatapan wanita itu lurus ke depan dengan mata yang berkaca-kaca. Ternyata, diacuhkan oleh putranya itu luar biasa menyakitkan.


Sebenarnya, Geo pun tidak sepenuhnya menjauh. Anak itu masih bersedia diajak bicara dan bahkan tersenyum padanya, tapi tetap saja dia merasa kehilangan saat tiba-tiba dia menolak sesuatu dari Maudy.


Maudy menghela napas. "Mungkin ini hanya perasaanku Maudy," ucapnya lirih.


***


Waktu menunjukkan pukul empat sore, Maudy memutuskan untuk memasak makanan kesukaan putranya, dengan harapan Geo mau menyantapnya.


Walaupun sebenarnya, Maudy merasa sedikit was-was karena selama seminggu ini, Geo enggan memakan masakannya.


Satu jam kemudian, Maudy telah selesai berkutat di dapur. Dia membawa masakannya ke atas meja, dan tak lama kemudian dia mendengar suara dari luar yang membuat dia tersenyum karena tahu bahwa Geo telah pulang.


"Geo," panggil Maudy yang menghampiri Steve juga Geo yang mundur selangkah sembari memegang tangan sang ayah, ketika Maudy terlihat merentangkan tangan bersiap untuk memeluk.

__ADS_1


Senyuman di bibir Maudy seketika luntur. "Geo," panggilnya dengan rasa lemas.


"Hai Mommy," sahut Geo sembari tersenyum.


Sepintas memang terlihat bahwa Geo tak berubah, tapi tetap saja bagi Maudy sebagai ibunya, dia merasakan sesuatu yang aneh pada anak itu.


"Ayo peluk Mommy," ucap Steve sembari diam-diam mengeratkan genggamannya ke tangan Geo dengan erat, mengisyaratkan agar tidak mendekat pada Maudy


"Ayo Daddy, kita masuk," ajak Geo.


"Mungkin Geo lelah, Maudy," jawab Steve yang kemudian mengikuti langkah putranya. Setelah melewati Maudy, dia menyeringai.


Maudy cepat berbalik menyusul Geo. "Geo, kita makan dulu? Mommy sudah memasakkan makanan kesukaanmu," ucapnya.


"Tadi aku sudah makan bersama Daddy di restoran, Mom."


Tubuh Maudy lagi-lagi terasa lemas mendengar penolakan halus Geo.


"Maafkan aku, Maudy. Aku tidak tahu kau memasak khusus untuk Geo, jadi aku membawanya ke restoran karena aku tahu dia lapar, apalagi tadi ada pelajaran olahraga di sekolahnya," ucap Steve.


Maudy tersenyum getir kemudian mengangguk. Mata wanita itu berkaca-kaca. Steve melihat itu dan dia pun turut merasa iba. Namun tak lama, dia menggeleng tersadar.


***


Waktu menunjukkan pukul sembilan malam Maudy berdiri di depan kamar Geo. Dia mendengar suara tawa anak itu juga Steve yang saling bergantian. Sungguh, dia merasa ingin masuk dan ikut bermain, tapi dia mengurungkan niatnya


Maudy memilih diam di depan kamar putranya, karena setiap dia mencoba ikut bermain bersama mereka, Geo selalu melarang untuk ikut bermain.


Rasa sakit Maudy semakin menjadi-jadi saat dia mendengar suara tawa menggelegar dari dalam sana. Dia tak bisa membayangkan andai Geo benar-benar pergi dari hidupnya.


Maudy mengusap bulir bening di pipi kemudian pergi dari sana untuk menenangkan diri.


***


Di sinilah Maudy berada, yakni di sebuah danau yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Dia sengaja pergi diam-diam agar tidak diketahui oleh anak buah Nauder karena dia sungguh ingin sendirian. Dia ingin menangis tanpa diketahui siapapun.


Maudy mungkin kuat melalui apapun yang terjadi di hidupnya, tapi sungguh dia lemah jika ujian yang datang itu berkaitan dengan Geo.


Maudy menekuk kakinya. Pikiran wanita itu melanglang buana pada masa lalu, di mana dia mengingat pada saat-saat di mana dia masih hidup bersama orang tuanya.


Mereka memang bukan orang kaya, tapi dia tidak pernah hidup kekurangan, karena ayahnya bekerja di keluarga Nauder yang menjamin semua kebutuhan keluarga Maudy.


Namun, semuanya berubah ketika sang ayah meninggal dan tak lama, disusul oleh sang ibu membuat dia hidup terpisah dari adiknya.


Maudy kini menunduk. Wanita itu menangis tergugu meresapi rasa perih yang luar biasa saat memikirkan jika Geo benar-benar menjauh kemudian pergi dari hidupnya.


***


Steve keluar dari kamar Geo dengan rasa senang kala mengingat bahwa semakin hari, anak itu semakin jauh dari Maudy. Steve mendudukkan diri di sofa kemudian merogoh saku untuk mengambil ponsel.


Steve mengutak-atik ponselnya dan menelepon Alya yang tidak mengangkat panggilannya.


Satu jam berlalu, Steve memutuskan untuk bangkit dan berjalan ke arah kamar putranya, karena memang beberapa hari ini, Geo selalu ingin tidur bersamanya.


Saat Steve melewati kamar Maudy, dia terdiam saat melihat pintunya yang terbuka lebar membuat dia langsung masuk untuk memastikan keberadaan sang mantan istrinya yang ternyata tidak ada di sana.


"Kenapa aku mencarinya? Padahal aku tidak punya urusan apapun dengannya," ucap Steve yang memutuskan untuk melanjutkan langkahnya ke kamar Geo.


Saat akan membuka kamar putranya, tiba-tiba Steve teringat saat dia melihat sorot hancur dari Maudy ketika Geo menolak memakan masakannya.


Steve menggeleng, membuang jauh-jauh kepeduliannya kepada Maudy.


***


waktu menunjukkan pukuk dua belas malam ketika Steve yang baru saja selesai bermain game, dia memutuskan untuk berhenti karena sudah mengantuk.


Steve turun dari ranjang kemudian keluar dari kamar untuk mengambil minum. Saat melewati kamar Maudy, dia lagi-lagi didera rasa penasaran karena posisi pintu yang masih terbuka, dan itu berarti bahwa wanita itu belum pulang.


"Ke mana dia sebenarnya?" tanya Steve dengan rasa khawatir yang tiba-tiba menggelayuti hatinya.


Namun, seperti biasa, ego Stev langsung muncul, hingga dia tak memperdulikan Maudy


Sementara di tempat lain, tampak Maudy yang masih duduk di danau, menikmati dinginnya angin malam yang menjadi teman dia menikmati kesedihan. Rasanya dia begitu enggan pulang, hingga dia memutuskan untuk semalaman berada di danau


Tiba-tiba, seseorang memakaikan jaket ke punggung Maudy yang membuatnya langsung menoleh ke belakang.

__ADS_1


__ADS_2