Cinta Seorang Tuan Nauder

Cinta Seorang Tuan Nauder
Memilih pergi


__ADS_3

“Geo, kenapa kita harus menemui temanmu di hote? kenapa kau tidak bawa saja ke rumah?" tanya Leana.


“Temanku tidak enak jika harus pergi ke ruma, jadi kita bertemu di sini," kata Geo. “Lagi pula, tidak enak soalnya temanku wanita,” jawab Geo yang kembali memanas-manasi Leana.


Raut wajah kesal langsung terlihat dari wajah wanita itu, dan tentu saja Geo tersenyum penuh kemenangan, rasanya dia tidak sabar untuk mengungkapkan perasannya.


“Maksudku, aku takut akan ada masalah paham jika menemui seorang wanita di hotel, jadi aku mengajakmu," jawab Geo lagi ketika Leana masih tampak kesal.


Geo dan Leana pun turun dari mobil, kemu dian mereka berjalan ke kamar hotel yang sudah dipesan oleh Geo, leli itu menempelkan card lock kemudian membuka pintu.


“Kau masuk saja, aku tunggu di sini," kata Leana yang enggan masuk ke dalam, dia sudah membayangkan sehancur apa hatinya ketika dia melihat Geo bercengkraman dengan seorang wanita lain.


Tak ingin Leana menolak, Geo berpindah dan berdiri di belakang wanita itu lalu dengan pelan, Geo mendorong punggung Leana, hingga mau tak mau Leana pun masuk ke dalam kamar.


Leana masuk ke dalam, suasana tampak sepi seperti tidak ada orang di sana, lantas dia pun langsung berbalik untuk bertanya pada Geo.


“Geo, mana tem ....” Leana menghentikan ucapannya ketika secara tiba-tiba Geo langsung menangkup pipinya dan mencium bibir wanita itu.


Awalnya Leana meronta, dia memukul-mukul dada Geo. Walau bagaimana pun apa yang dilakukan Geo sungguh membuatnya terkejut, tapi pada akhirnya, Leana terbawa perasaan, dia mengalungkan tangannya pada leher Geo membuat Geo bersorak.


Geo menarik pinggang Leana, kemudian mereka berjalan ke arah sofa lalu setelah itu dia melepaskan tautan bibirnya, kemudian menundukkan diri di sofa dan mendudukkan Leana di atas pangkuannya, hingga mereka pun melanjutkan yang tadi tertunda.


Ciuman yang tadinya pelan, menjadi ciuman yang menuntut, hingga tubuh keduanya sama-sama panas. Namun saat Geo akan membuka kancing kemeja Leana, Leana tersadar dan dengan cepat Leana langsung menjauhkan wajahnya dari wajah Geo, hingga dia pun langsung bangkit dari pangkuan lelaki itu, lalu berdiri di hadapan.


“Ke-kenapa kau melakukan itu,” ucap Leana membuat Geo mengusap wajah kasar, apalagi Leana berubah seperti orang marah. Leana marah pada dirinya sendiri karena terbuai dengan apa yang dilakukan oleh Geo padahal salah satu prinsipnya dia tidak ingin disentuh oleh siapapun, termasuk Geo, sekali pun Geo lelaki yang dia cintai.


“Aku ingin pulang.” Pada akhirnya, Leana berbalik. Namun dengan cepat, Geo bangkit dari duduknya kemudian menarik tangan Leana lalu memegang kedua bahu wanita itu, hingga Leana langsung berusaha menyingkirkan tangan Geo dari bahunya.


“Sekarang, dengarkan aku," ucap Geo yang semakin erat memegang bahu Leana, agar Leana tidak pergi.


“Aku mencintaimu, Leana. ayo kita menikah.” Geo menatap "Leana dengan penuh ketulusan, binar cinta terlihat dari wajah lelaki itu.


Menikah?


Satu kata itu membuat tubuh Leana menegang, dan sepersekian detik dia merasa otaknya kosong, ucapan Geo barusan mampu meluluntahkan perasaanya.


Menikah? Satu kata yang tidak pernah Leana inginkan. Satu kata yang sangat Leana hindari.


"Le-Leana dengarkan aku. Tidak perlu ada yang ditakuti. Aku ingin jujur tentang perasaanku sendiri. Aku mencintaimu. Aku menginginkanmu. Ayo kita menikah," kata Geo lagi dengan penuh ketulusan.


Sejenak Leana terpaku, karena untuk pertama kalinya dia melihat sorot Geo yang menatapnya dengan penuh ketulusan, karena selama ini Geo selalu usil padanya.


"Maukah kau menikah denganku?" tanya Geo. Sepersekian detik, Leana terpesona dengan tatapan lelaki itu. Namun tak lama, kilasan-kilasan masa lalu pembunuhan ibunya, kelakuan ayahnya, masalah keluarganya, langsung menubruk otak Leana, hingga rasanya Leana ingin berlari dari kenyataan masa lalu yang membelenggunya.

__ADS_1


Leana menunduk kemudian memejamkan matanya. Tiba-Tiba kepalanya langsung berdenyut nyeri saat mengingat semuanya.


"Leana," panggil Geo hingga Leana langsung menghempaskan tangan Geo yang ada di pundaknya.


"Leana," panggil Geo lagi. Dia menatap Leana dengan tatapan tak percaya. Dia pikir Leana akan terharu atau pun tersentuh dengan pengakuannya. Namun, alih-alih merasa seperti itu, Geo malah melihat ekspresi Leana yang datar.


"Kenapa kau seperti ini?" tanya Leana membuat Geo mengerutkan keningnya.


"Kenapa? Bukankah tidak ada salahnya? Walau kita masih berkuliah, tapi aku mempunyai beberapa bisnis yang mampu menghidupimu," ucap Geo.


Leana tertawa seolah mengejek ucapan Geo. "Bukankah jika menikah harus ada dua orang yang saling mencintai?" tanya Leana membuat Geo terpaku.


"Maksudmu?" tanya Geo, kali ini bahkan tatapan Geo menatap Leana dengan tatapan tak percaya.


"Kau mungkin mencintaiku, tapi aku tidak mencintaimu, Geo. Bagaimana mungkin aku bisa menikah dengan lelaki seegois dirimu yang selalu menindasku, yang selalu memperlakukanku dengan buruk," jawab Leana, wajahnya tetap dingin. Namun, hatinya meronta-ronta.


"Leana, apa yang kau ucapkan?" tanya Geo yang mulai meradang. Dia mulai kesal ketika Leana menjawab seperti itu, sedangkan Leana sengaja menjawab seperti ini agar Geo tidak mengajaknya menikah lagi. Biarlah dia menutup perasaannya, agar Geo tidak mengajaknya lagi menikah.


"Sepicik itu pikiranmu?" tanya Geo dengan sedikit meninggikan suaranya.


"Lalu aku harus bagaimana? Memang itu yang aku rasakan. Aku sama sekali tidak mencintaimu," dusta Leana. Dia bisa saja mengatakan seperti itu, tapi hatinya bergejolak mengatakan bahwa dia pun sama mencintai Geo.


Geo berdecak kemudian menatap Leana dengan sinis, setelah itu Geo lebih memilih untuk meninggalkan kamar hotel yang telah dia pesan. Harapan Geo adalah Leana menerima cintanya. Pria itu sudah berkhayal mempersiapkan pernikahan mereka bersama-sama, tapi ternyata dia malah mendapatkan yang sebaliknya dan ketika dia pergi, tubuh Leana langsung ambruk ke bawah. Dia memukul-mukul dadanya yang terasa sesak kemudian bahunya bergetar. Wanita cantik itu menangis. Dia tahu setelah ini pasti Geo akan membencinya, tapi dia rasa ini lebih baik daripada dia menikah lalu menyesal di kemudian hari.


***


Geo mendudukkan diri di kursi, memudian dia meminta bartender untuk melayaninya, meminta alkohol dengan kadar yang tinggi agar dia bisa mabuk dengan waktu yang cepat.


Tegukan demi tegukan dilalui oleh Geo dengan waktu yang singkat, hingga sekarang kepala Geo rasanya sungguh berputar-putar. Dia menunduk, tapi dia masih sempat menggoyangkan gelasnya pertanda meminta bartender untuk mengisikan lagi gelasnya.


Dua jam berlalu, Geo turun dari kursi. Lelaki itu langsung berjalan dengan sempoyongan ke arah luar. Dia memutuskan untuk pulang setelah dia merasa kepalanya benar-benar nyeri.


Saat berada di luar, Geo berusaha menetralkan penglihatannya. Dia tidak mungkin menyetir dalam kondisi seperti ini, hingga akhirnya dia menghampiri lelaki yang sedang berdiri yang merupakan seorang sopir taksi, dan meminta mengantarkannya untuk ke rumah.


Saat berada di dalam taksi, dia menyandarkan tubuhnya ke belakang. Walaupun dalam keadaan mabuk, tapi dia masih merasakan bagaimana rasa sakitnya ditolak oleh Leana, bahkan ucapan Leana yang mengatakan tidak mempunyai perasaan padanya terus berputar-putar di otak lelaki itu dan rasanya dia ingin mengamuk dan ingin berteriak di hadapan wanita itu.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya taksi yang ditumpangi oleh Geo sampai di rumah. Lelaki itu mengeluarkan semua uang yang di dompetnya, kemudian memberikannya pada sopir taksi, lalu setelah itu dia keluar dan berjalan dengan sempoyongan.


Suasana rumah tampak sepi karena sekarang sudah pukul sebelas malam, beruntung, Maudy dan Steve sedang pergi ke luar kota hingga mereka tidak tahu apa yang terjadi dengan Geo.


“Leana!” panggil Geo, dia berteriak seperti orang kesetanan, memanggil Leana dengan amarah yang membara.


***

__ADS_1


Ketika mendengar suara teriakan dari arah luar, Leana yang sedari tadi menangis merasakan kepalanya berdenyut nyeri hingga dia memutuskan untuk kembali tertidur tanpa memperdulikan panggilan dari Geo, karena dia tahu Geo sedang mabuk.


"Leana!" teriak "Geo lagi, hingga Leana yang baru saja akan kembali memejamkan matanya, langsung menghela napas. Dia langsung menutup sekujur tubuhnya dengan selimut, karena dia tidak ingin mendengar lagi teriakan lelaki itu.


Sepuluh menit kemudian, pintu terbuka. Ternyata, Geo menendang pintu kamar Leana hingga Leana langsung membuka selimutnya.


"Geo," panggil Leana. Dia langsung bangkit ketika melihat Geo yang seperti ini.


Saat Leana turun dari ranjang, Geo langsung menghampiri wanita itu. Dia menatap Leana dengan tatapan menyeringai, membuat Leana semakin ketakutan hingga Leana mundur dan hingga tubuhnya menabrak tembok, dan seketika itu juga Geo langsung mendekat. Lelaki itu mencengkeram membuat Leana kesakitan.


"Kau itu manusia yang tidak tahu diri," ucap Geo membuat Leana yang berusaha meronta dari Geo, langsung terdiam.


"Geo," panggil Leana. Matanya berkaca-kaca saat mendengar ucapan lelaki itu, hingga dia langsung menghempaskan pipi Leana dengan keras membuat Leana meringis.


"Kau itu sudah diangkat oleh orang tuaku, sudah diberikan kehidupan yang terbaik. Jika tidak ada orang tuaku, mungkin kau tidak akan hidup seperti ini. Hidupmu akan hancur, dan kau mungkin akan masuk rumah sakit jiwa karena mempunyai ayah gay dan juga ibumu mati di tangan ayahmu. Seandainya tidak ada orang tuaku, mungkin kau sudah menjadi gelandangan atau mungkin bisa saja kau menyusul ibumu," ucap Geo, dia berbicara dengan puas dan itu melukai hati Leana.


Plak!


Satu tamparan mendarat di pipi Geo, Leana menampar Geo dengan keras. Darah Leana mendidih ketika Geo membahas tentang masa lalunya yang jelas-jelas merupakan luka terdalamnya. Saat pipinya ditampar, darah Geo langsung mendidih, hingga dia yang sedang mabuk langsung menarik tangan Leana lalu setelah itu menghempaskan Leana hingga Lena berteriak.


***


Satu bulan kemudian.


"Kau baik-baik saja?" tanya Maudy ketika Leana tampak melamun.


Ini sudah satu bulan berlalu semenjak kejadian itu, dan selama satu bulan ini pula Geo berubah. Lelaki itu menatap Leana seolah Leana adalah musuh, begitu pun Leana. Dia juga tidak pernah menatap Geo hingga keduanya seperti orang asing. Maudy dan Steve sebenarnya menyadari perubahan keduanya, hanya saja mereka tidak ingin terlalu ikut campur.


Sementara Leana, selama sebulan ini lebih banyak diam. Dia lebih banyak merenung, apalagi seminggu lalu Geo mengatakan akan menikahi Claudia. Ya, seminggu lalu Geo mengajak Claudia untuk datang ke rumah, memperkenalkan Claudia pada Steve juga Maudy.


Dan ketika Geo memutuskan untuk menikah, Leana sudah banyak berpikir. Dia akan pergi dari rumah ini karena Geo sendiri mengatakan akan tinggal di rumah ini bersama Claudia, dan Leana tidak akan sanggup melihat itu.


"Paman, Bibi," panggil Leana ketika dia melihat Steve dan Maudy sudah selesai dengan acara makannya, hingga Maudy dan Stev menoleh.


"Setelah pernikahan Geo, aku akan pergi ke Kanada. Aku ingin menjenguk kakek dan nenekku," jawab Leana. Tentu saja dia berbohong. Dia tidak tahu dia harus ke mana, yang terpenting dia harus segera pergi dari rumah ini. Pergi ke rumah kakek dan neneknya pun tidak mungkin, karena mereka sudah membencinya.


"Leana, kenapa kau ingin pergi ke sana?Paman tidak adak mengijinkanmu,” jawab Stev Dia tidak akan pernah membiarkan Leana pergi.


"Apa kau punya masalah dengan Geo?" tanya Maudy yang juga cukup terkejut dengan keinginan Leana.


"Tidak, aku hanya rindu kakek dan nenekku," jawab "Leana.


"Biarkan saja dia pergi, Mom," ucap Geo yang tiba-tiba datang dari arah luar. Dia datang bersama Claudia, hingga tatapan Leana langsung melihat ke arah tangan Claudia yang sedang merangkul tangan Geo.

__ADS_1


“Geo, tutup mulutmu," ucap Maudy


Geo


__ADS_2