Cinta Seorang Tuan Nauder

Cinta Seorang Tuan Nauder
Mengungkapkan


__ADS_3

Hati Leana diselimuti rasa panas. Sungguh, dia begitu benci, apalagi ketika Claudia menetap Geo dengan genit, sedangkan Geo hanya menggeleng saat melihat Leana seperti itu.


"Maafkan Leana," ucap Geo pada Claudia hingga Claudia pun mengangguk.


"Tidak apa-apa, Geo," jawab Claudia, seperti biasa, jika di dekat Geo, Claudia akan menjelma menjadi anggun, agar lelaki itu tertarik padanya.


"Ambil saja sepatu itu. Leana akan memilih yang lain," kata Geo lagi.


Setelah mengatakan itu, Geo pun pergi. Dia menghampiri Leana yang berjalan ke arah lain. Leana melihat sepatu di depannya. Tidak ada yang buatnya menarik selain sepatu yang tadi dipegang oleh Claudia. Dia menginginkan sepatu itu, tapi dia tidak ingin sepatu yang sudah disentuh oleh Claudia.


Kini mood-nya mendadak memburuk. Jadi, Leana memutuskan untuk keluar dari store disusul Geo di belakangnya.


"Kau tidak jadi memilih?" tanya Geo yang menyusul Leana.


"Tidak, mood-ku sudah hancur. Aku ingin pergi ke store pakaian saja," jawab Leana.


Geo menghela napas. Jika bukan demi membujuk Leana, dia tidak mungkin mau menemani wanita ini pergi ke tempat seperti ini, yang menurutnya sangat membosankan dan sangat merepotkan. Dia tidak pernah sesabar ini sebelumnya, tapi sekarang dia harus sabar. Tentu saja agar Leana tidak merajuk lagi.


Namun, belum dia pergi ke store pakaian, Leana berbelok masuk ke dalam store yang menjual tas. Wanita itu pun langsung masuk, kemudian dia melihat satu persatu lalu membawa dua tas ke hadapan Geo.


"Menurutmu, yang mana yang pantas?" tanya Leana, dia mengangkat dua tas dan menyuruh Geo memilihnya.


"Yang mana saja, dua-duanya bagus," kata Geo membuat Leana berdecak.


"Pilih salah satu," kata Leana.


"Yang ini, yang ini Leana," ucap Geo menunjuk ke salah satu tas yang di pegang oleh Leana.


"Tapi aku rasa ini terlalu norak. Aku pilih yang ini saja," ucap Leana yang malah memilih tas yang tidak di pilih oleh Geo.


"Lalu, untuk apa kau bertanya?" Geo sedikit kesal membuat Leana langsung terdiam, hingga Geo tersadar dengan raut wajah wanita di depannya ini.


"Tidak-Tidak maafkan aku, maksudku bukan begitu, yang ini saja," kata Geo.


"Ah, kau ini menyebalkan sekali," ucap Leana yang menyimpan kedua tas itu, hingga dia pun berbalik dan keluar dari store tas, membuat Geo lagi-lagi hanya menggeleng seraya menghela napas dalam. Kelakuan Leana benar-benar membuat dia kesal.


Satu jam kemudian.


Ini sudah satu jam berlalu Leana berjalan ke sana kemari mencari hal yang dia inginkan, tapi setelah satu jam memasuki beberapa store tidak ada yang Leana beli, dan itu sukses membuat darah Geo mendidih.


"Leana," panggil Geo, dia berniat melayangkan protesnya karena Leana sedari tadi hanya membuang waktu.


"Aku lapar," kata Leana.


Geo memejamkan matanya. Beruntung dia belum mengungkapkan kekesalannya. "Ya sudah ayo," ajaknya.


Geo pun mengajak Leana untuk ke restoran yang ada di mall tersebut, dan akhirnya mereka pun masuk ke dalam satu restoran, lalu Geo memilih meja. Setelah mereka memesan, tiba-tiba seseorang berdeham membuat Geo dan Leana menoleh.


Mood Leana kembali memburuk saat melihat siapa yang berdeham, yang ternyata itu adalah Claudia. Sepertinya, wanita itu mengikutinya dan Geo, hingga sekarang Claudia kembali menghampiri mereka.


"Boleh aku bergabung?" tanya Claudia dengan tanpa tau malunya.


Geo menoleh ke arah Leana. Entah kenapa, dia ingin melihat reaksi Leana ketika dia mengizinkan Claudia untuk makan bersama.


"Boleh, silahkan," jawab Geo, sepertinya menyenangkan melihat reaksi Leana.


Mata Leana membulat saat mendengar ucapan Geo. Dia menatap Geo dengan tatapan tak percaya. Bagaimana mungkin Geo mengizinkan Claudia makan bersama, sedangkan Geo tahu dia paling membenci Claudia?


"Terima kasih," ucap Claudia dengan wajah senang.


Geo menatap ke arah Leana. Wajah Leana langsung memerah seperti ini, pertanda Leana cemburu pada Claudia. Lalu Geo terpikirkan sesuatu lagi, hingga dia langsung menoleh ke arah Claudia.

__ADS_1


"Kau baru selesai berbelanja?" tanya Geo, yang sengaja memanas-manasi Leana.


Leana berdecak saat mendengar apa yang Geo tanyakan. Betapa nyerinya hati Leana, padahal tadi Geo mengajaknya berbelanja. Namun lihatlah, dia malah mengobrol bersama Claudia. Mungkin jia dia mengobrol dengan wanita lain, Leana tidak akan semarah ini, tapi sayangnya Geo malah begitu akrab dengan wanita yang dia benci.


Namun tak lama, Leana tersadar. Dia tidak berhak untuk marah. Leana menarik napas kemudian mengembuskannya. Dia berusaha untuk tidak memperlihatkan ketidaksukaannya, dan dia pun lebih memilih untuk mengotak-atik ponselnya, sedangkan Geo masih berbincang-bincang dengan Claudia.


Sesekali Geo melihat Leana, dan entah kenapa, kali ini dia berbalik kesal ketika ekspresi Leana tampak biasa saja.


Akhirnya, pesanan mereka pun sampai.


"Oh, kalian sudah memesan? Aku pikir kalian belum memesan," ucap Claudia karena memang saat bergabung, Claudia tidak langsung memesan makanan.


"Kau makan saja punyaku," ucap Geo. Dia melihat ke arah Leana, tapi Leana tampak sama sekali tidak terpengaruh, tapi di dalam hati wanita itu jelas-jelas merasakan rasa nyeri yang luar biasa.


Geo saja tidak pernah mau berbagi makanan dengannya, dan sekarang Geo malah berbagi makanan dengan wanita lain. Tanpa memperdulikan lagi Geo dan Claudia, Leana dengan cepat memakan makanannya hingga pada akhirnya Leana selesai.


Leana melihat jam di pergelangan tangannya. "Kau akan terus mengobrol di sini? Kalau begitu aku pulang duluan," ucapnya.


"Tidak, tunggu aku," jawab Geo.


"Claudia, kalau begitu kami pulang dulu," pamit Geo membuat Leana berdecak. Wanita itu pun langsung keluar mendahului Geo.


Walaupun tadi sempat melihat wajah Leana yang tak acuh, tapi sekarang dia bisa melihat bahwa Leana memang cemburu padanya, dan jika sudah begitu, dia yakin Leana mempunyai perasaan yang sama. Lalu sekarang, Geo hanya tinggal mengumpulkan keberaniannya untuk menyatakan perasaan.


Geo menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Lelaki itu sesekali melihat ke arah Leana yang tampak cemberut.


"Kau marah?" tanya Geo. Biasanya Geo akan kesal jika didiamkan oleh Leana, tapi tentu saja kali ini berbeda.


"Tidak. Kenapa juga aku harus marah?" jawab Leana.


"Sepertinya, kau tidak menyukai aku dekat dengan Claudia," tebak Geo.


"Kau seperti tidak menyukai aku mengobrol dengan Claudia. Tunggu, apa jangan-jangan kau cemburu, hah?" tanya Geo.


Leana tertawa menutupi kegugupannya. Padahal, apa yang diucapkan Geo adalah benar. Dia cemburu, tapi dia tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya bahwa dia mencintai Geo. Dia pun cemburu ketika Geo mengobrol dengan Claudia.


Jika ditanya kapan Leana mulai mencintai Geo, jawabannya tidak tahu. Bisa saja mereka mereka saling mencintai dengan waktu yang sama, tapi tentu saja trauma Leana membuat Leana takut untuk melangkah. Dia bahkan memutuskan untuk tidak menikah seumur hidupnya. Itu sebabnya, dia lebih memilih untuk memendam perasaannya.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Geo sampai di rumah. Leana pun dengan cepat turun meninggalkan Geo membuat Geo tertawa.


"Leana, kau kenapa?" tanya Maudy ketika masuk ke dalam rumah. Dia langsung bertanya ketika wajah Leana tampak memerah, bahkan Leana terdengar sedang menggerutu.


Leana menormalkan ekspresinya. "Tidak Bibi, aku hanya lelah," jawabnya.


"Ya sudah istirahat. Biar Bibi nanti meminta pelayan untuk mengantarkan camilan ke kamarmu," ucap Maudy.


"Baik Bibi," jawab Leana.


Leana mencium pipi Maudy, kemudian berjalan ke arah lift untuk naik ke kamarnya.


"Geo, apa ada masalah denganmu?" tanya Maudy ketika melihat wajah Geo yang berseri-seri. Dia heran dengan kedua anaknya. Leana masuk dengan kesal, dan Geo masuk dengan wajah yang tampak riang.


"Tidak apa-apa," jawabnya.


"Jangan bilang kamu mengerjai Leana?" tanya Maudy.


"Mom, memangnya aku anak kecil menjahili dia?" tanya Geo.


Saat Geo akan masuk, Maudy menarik tangan Geo. "Geo, kau tidak lupa, 'kan, bagaimana sikap Leana? Tolong jangan semena-mena padanya. Mommy harap kau ingat bagaimana sikap Leana," kata Maudy.


"Aku mengerti," jawab Geo. Setelah mengatakan itu, Geo pun langsung berbalik kemudian masuk meninggalkan Maudy yang menggeleng dengan tingkah putranya.

__ADS_1


Walaupun Geo mengatakan iya, tapi Maudy tahu bahwa putranya tidak sungguh-sungguh mengikuti nasehatnya. Putranya pasti akan terus mencari gara-gara dengan Leana.


***


Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Suasana makan malam begitu hening, hanya terdengar suara sendok dan garpu saling bersahutan. Sesekali Geo menoleh ke arah Leana yang tidak mau menoleh ke arahnya. Sepertinya Leana masih merajuk.


Biasanya Geo akan kesal jika Leana tidak mau melihatnya, tapi sekarang dia menikmati raut wajah Leana dan sikap dingin gadis itu. Mungkin beberapa hari lagi atau satu minggu lagi, dia akan mengatakan perasaannya pada gadis itu.


Acara makan pun selesai. Leana pamit mendahului keluarganya, disusul juga Geo. Sepertinya dia ingin menggoda wanita itu.


"Leana," panggil Geo ketika Leana akan masuk ke dalam kamarnya.


Leana menoleh kemudian dia menatap Geo dengan malas. Rasanya dia masih merasa sesak ketika melihat lelaki di depannya ini.


"Apa?" tanya Leana dengan sewot.


"Sepertinya, kau masih kesal karena aku tadi mengajak Claudia makan bersama kita?" tanya Geo.


Leana bersidekap kemudian menyadarkan tubuhnya ke dinding. "Kau ini aneh sekali. Kenapa aku harus cemburu? Kenapa aku harus marah?" tanya Leana membuat Geo semakin berada di atas awan.


Raut wajah Leana menatapnya berbeda, dan Geo tahu Leana saat ini sedang marah padanya.


"Tapi kau seperti sedang marah padaku. Padahal sebelum ada Claudia, kau biasa saja," kata Geo.


Leana menegakkan tubuhnya. "Aku lelah. Tidak ada gunanya membahas ini," jawab Leana. Setelah itu, dia langsung masuk ke dalam kamar, lalu membanting pintu membuat Geo bersorak.


Leana berjalan ke arah ranjang kemudian dia tertawa nyaring. "Hah, cemburu katanya," ucap Leana.


Namun tak lama, raut wajahnya berubah sendu. Dia mendudukkan diri di ranjang kemudian menatap lurus ke depan. Dia memegang dadanya yang terasa nyeri. Dia tidak tahu kenapa Tuhan menitipkan rasa seperti ini pada Geo, padahal dia tidak ingin jatuh cinta pada siapapun. Dia tidak ingin menikah dengan siapapun. Dia hanya ingin terus seperti ini.


***


Satu minggu kemudian.


Ini sudah satu minggu berlalu semenjak pertemuan mereka di mall dengan Claudia, dan selama satu minggu ini pula Leana tak acuh pada Geo.


Ada sedikit keheranan di diri gadis itu, kenapa Geo tidak protes ketika didiamkan. Padahal biasanya lelaki itu akan terus menggerutu. Sementara Geo, sengaja tidak membujuk Leana karena hari ini dia akan meminta Leana untuk menjadi kekasihnya dan mengungkapkan perasaannya.


Geo melihat-lihat mahasiswa satu persatu, mencari keberadaan Leana. Sebab mereka ada kelas yang berbeda. Namun, setengah jam menunggu, Leana tidak tampak di mana pun hingga pada akhirnya Geo mengintip, dan ternyata Leana masih berada di kelas dan masih fokus dengan laptopnya.


"Leana," panggil Geo dari luar hingga Leana menoleh. Dia mengisyaratkan Leana untuk mendekat dengan tangannya, tapi Leana sama sekali tidak menggubris lelaki itu membuat Geo mau tak mau menunggu di depan kelas.


Setengah jam kemudian, Leana selesai dengan aktivitasnya. Wanita itu langsung memasukkan laptop ke dalam tas kemudian dia langsung keluar dari kelas. Dia pikir Geo sudah tidak ada, tapi ternyata dia masih menunggunya.


"Apa?" tanya Leana ketika Geo menatapnya.


"Ayo pulang bersamaku," kata Geo.


"Tidak mau. Aku akan pulang naik taksi," ucap Leana.


"Leana," ucap Geo, menekankan suaranya hingga mau tak mau Leana menerima. Karena dia sudah tahu, jika Geo berbicara dengan nada seperti ini, dia tidak boleh membantah hingga pada akhirnya Leana pun pulang bersama lelaki itu.


Leana masuk ke dalam mobil, begitu pun dengan Geo, dan setelah itu Geo langsung menyalakan dan menjalankan mobilnya.


"Kita mau ke mana?" tanya Leana ketika melihat ini bukan jalan ke rumah mereka.


"Ada temanku di hotel. Dia datang dari Spanyol. Temani aku," kata Geo.


Karena tidak menaruh kecurigaan, Leana tidak menjawab itu, pertanda menyetujui ucapan Geo membuat Geo menghela napas. Setidaknya, Leana tidak curiga.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Geo sampai di hotel. Lelaki itu pun turun diikuti Leana yang juga ikut turun, dan mereka pun langsung masuk lobby untuk naik ke hotel yang sudah dipesan oleh Geo, di mana dia akan mengungkapkan perasaannya di sana.

__ADS_1


__ADS_2