
"Kau tidak minum?" tanya Aaron ketika dia mengambil soda miliknya.
"Maaf Tuan, aku tidak ...."
"Tidak meninum soda?"
"Iya Tuan."
"Ya sudah." Aaron membuka kaleng soda tersebut, kemudian menenggaknya hingga tandas. Sesekali dia melihat ke arah Leana yang terus menunduk, lalu dia menyeringai. Setelah menghabiskan soda, Aaron pun bangkit dari duduknya kemudian dia menatap ke arah Leana.
"Ato kita pergi sekarang," ucapnya.
Leana menggangguk.
Saat berada di mobil, Leana menyandarkan tubuhnya ke belakang. Wanita itu melihat ke arah luar. Kecanggungan melandanya. Entahlah, setiap dia merasa di dekat Aaron, dia merasa nyawanya terancam. Bukan tanpa sebab dia mengatakan seperti itu, sebab wajah Aaron benar-benar berdarah dingin dan mengingatkannya pada cerita mafia di luar sana.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai Aaron sampai di tempat tujuan. Aaron keluar dari mobil dan mereka pun langsung masuk ke dalam.
Dua jam berlalu, akhirnya acara penelitian sampel pun selesai. Aaron dan Leana keluar dari ruangan itu.
"Tuan," panggil Leana hingga Aaron menoleh. Dia tidak berbicara, hingga Leana kembali melanjutkan ucapannya dan berkata, "boleh aku pulang sendiri? Aku akan pulang memakai taksi." Leana merasa tak enak pada Aron, hingga dia mempunya ide pulang seorang diri.
Aaron melihat jam di pergelangan tangannya, ternyata waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Jelas-Jelas daerah sini tidak ada taksi. "Terserah kau saja," jawab Aaron hingga lelaki itu pun berbalik lalu pergi ke mobilnya.
Setelah Aaron pergi, Leana melihat ke sekitarnya. Dia baru menyadari bahwa jalanan tampak sepi. Jarak dari satu rumah ke satu rumahnya lain sangat jauh, dan yang terparah mana mungkin ada taksi melewati daerah sini.
"Kenapa kau tidak ikut saja dengan Tuan Aaron?" Leana menggerutui dirinya sendiri. Tadi, dia benar-benar terlalu malu untuk pulang bersama Aaron dan sekarang, pilihan apa yang Leana punya? Tidak. Dia hanya harus terus berjalan dan sialnya juga, dia lupa jalan keluar dari komplek perumahan ini.
Leana mendudukkan dirinya sejenak, kebingungannya semakin melanda ketika perutnya keram. Dia lalu mengusap perutnya dan bergumam lirih. Tiba-Tiba terdengar suara klakson dari arah luar membuat Leana yang sedang menangis, karena terlalu bingung, dia langsung menoleh.
"Tuan Aaron," lirihnya. Ternyata, Aaron kembali lagi menghampiri Leana hingga tanpa diperintah dua kali, wanita itu pun langsung bangkit dan berjalan dengan sedikit kencang menghampiri mobil Aron.
"Terima kasih, Tuan Aaron. Terima kasih," kata Leana. Dia pun langsung masuk ke dalam mobil, sedangkan Aaron sama sekali tidak berbicara. Lelaki itu diam-diam tersenyum, dan setelah Leana naik, Aaron langsung menjalankan mobilnya kembali.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai Aaron sampai di basement apartemen. Lelaki itu langsung menoleh ke arah Leana, dan diam-diam dia tersenyum ketika melihat Leana tertidur.
"Ekhem." Tiba-Tiba, Aaron berdeham dengan kencang membuat Leana tersadar. Dia pun langsung menegakkan tubuhnya.
__ADS_1
"Maaf Tuan, maafkan aku," kata Leana. Dia melihat ke sekitarnya, ternyata dia ada di basement apartemen Aaron.
"Menginap saja di apartemenku. Ini sudah malam. Aku tidak punya tenaga untuk mengantarkanmu," kata Aaron. Seperti biasa, nadanya terdengar rendah.
"Tapi Tuan ...."
"Terserah jika kau ingin pulang sendiri, tapi aku tidak bisa mengantarkanmu. Cepat turun dari mobil," jawabnya dengan singkat padat dan jelas.
Leana tidak mempunyai pilihan. Mau tak mau dia pun langsung mengikuti langkah Aaron.
Saat berada di apartemen Aaron, Leana dilanda kebingungan. Dia hanya melihat ada satu kamar di sana dan mungkin dia harus tidur di sofa.
"Tuan, boleh aku tidur di sofa?" tanya Leana ketika Aaron sepertinya akan berjalan ke arah kamar.
"Tidur di kamarku," jawabnya.
"Hah?" Leana menatap bingung pada Aaron. Mana mungkin lelaki di depannya ini yang tak lain bosnya, dan dia baru beberapa kali bertemu dengan Aaron, mempersilahkan dia untuk tidur di kamar. Lelaki itu sungguh tidak masuk akal, begitulah pikir Leana.
"Tuan, aku akan tidur di sofa," kata Leana.
Arone tidak menjawab, dia malah pergi ke dapur untuk mengambil air minum, lalu setelah itu dia memberikan minum itu pada Leana."Cepat masuk," perintah Aaron bagai ultimatum untuknya, hingga Leana pun langsung melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam. Leana menatap kagum pada kamar Aaron. Walaupun ini apartemen, tapi kamar Aaron benar-benar mewah.
***
Satu jam kemudian, pintu kamar terbuka. Aaron masuk ke dalam. Dia menghela napas ketika Leana sudah tertidur. Lelaki itu langsung membuka pakaiannya, hingga kini dia bertelanjang dada lalu setelah itu dia berjalan ke arah ranjang dan membaringkan tubuhnya di sebelah Leana.
Dia menatap Leana dengan tatapan berbinar. Dia menopang kepalanya dengan tangan, hingga sekarang kepalanya ada di atas kepala Leana. Dia mengelus pipi wanita itu kemudian tersenyum.
Banyak sekali yang dipikirkan oleh Aaron terhadap Leana. Tentu saja ada sebuah rahasia dibalik sikap Aaron saat ini, dan tak lama Leana membuka matanya ketika Aaron mengelus pipinya.
"Tuan," panggil Leana, dia menatap Aron dengan mata yang membulat.
Sebelum Aaron menjawab, Aaron sudah terlebih dahulu membungkam Leana dengan mencium bibir Leana, membuat mata Leana membulat. Aaron langsung mencium bibir wanita itu dengan rakus. Dia mencekal tangan Leana karena Leana terus meronta.
Bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Leana ketika Aaron mencium paksa bibirnya. Dia kehilangan tenaganya, dan pada akhirnya Leana lelah meronta hingga Aaron menjauhkan wajahnya di wajah Leana.
"Tuan, jangan lakukan," kata Leana dengan bibir bergetar.
__ADS_1
"Kau tidak punya pilihan, Sweet Heart. Mari lewati malam ini dengan indah," kata Aaron. Dia menarik selimut kemudian menyelimuti tubuh mereka berdua, lalu setelah itu Aaron berusaha keras untuk menggoda Leana. Awalnya, Leana meronta, tapi ternyata sentuhan Aaron mampu membuat Leana terbakar.
Leana tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Sayangnya, Leana tidak mengetahui bahwa Aaron mencampurkan sedikit obat perangsang di minumannya, dan ketika Leana terbangun obat itu sudah bereaksi hingga sekuat apapun Leana meronta pada akhirnya dia kalah dengan sentuhan Aaron.
Malam itu mereka pun melakukan apa yang tak seharusnya mereka lakukan.
***
Malam berganti pagi. Leana terbangun dari tidurnya. Dia melihat ke arah bawah di mana tangan yang melingkar di pinggangnya. Otak Leana kosong. Dia melihat ke arah bawah, di mana tubuhnya sedang polos dan akhirnya dia mengingat apa yang terjadi.
Tak lama, Leana menarik selimut kemudian dia menyelimuti seluruh tubuhnya, lalu setelah itu dia menggigit selimut yang sedang dia pegang lmdsn menangis sesenggukan. Bagaimana mungkin dia berakhir di sini dengan bosnya? Bagaimana mungkin?
"Jangan menangis. Tidak ada yang harus disesali." Tiba-Tiba terdengar suara Aaron dari belakang. Rupanya, Aaron sudah terbangun tapi dia tidak menyingkirkan tangannya dari pinggang Leana.
"Tuan, kenapa kau tega melakukan ini padaku?" tanya Leana
"Sudah kubilang jangan menangis. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," jawabnya. Aaron melepaskan tangannya dari pinggang Leana, kemudian bangkit dari ranjang. Dia memakai pakaian, lalu berjalan ke arah kamar mandi meninggalkan Leana yang berbaring di ranjang miliknya.
***
Leana yang sudah duduk di sofa menunduk. Rasanya, dia ingin pergi sejauh-jauhnya dari Aaron. Bagaimana mungkin dia akan menghadapi lelaki itu setelah apa yang terjadi semalam? Tidak mungkin dia mencari pekerjaan lain karena sangat sulit mencari pekerjaan, sedangkan dia harus tetap bertahan hidup.
Tak lama, terdengar suara pintu terbuka dan Leana tahu itu adalah Larry yang keluar dari kamar, hingga Leana pun langsung bangkit dari duduknya.
"Tuan, aku harus pulang," ucap Leana.
"Istirahatlah, dua hari setelah itu kau boleh masuk lagi ke kantor. Larry akan menang mengantarmu. Dia menunggu di basement," kata Aaron hingga Leana mengangguk, dan setelah itu Leana pun berbalik kemudian pergi. Jangan ditanyakan betapa hancurnya Leona saat ini, yang pasti dia benar-benar hancur. Luka akibat Geo saja belum sembuh, dan sekarang dia harus mendapatkan luka dari Aaron. Tanpa Leana sadari, mungkin Aaron akan menjadi semua penebus luka Leana di masa lalu.
***
"Geo, Geo." Claudia memanggil Geo, sebab ini sudah seharian penuh Geo mengurung diri di kamar tamu. Lelaki itu terlalu terpukul dengan apa yang dia tahu tentang kepergian Leana, hingga setelah dari kamar Leana, dia memutuskan untuk menenangkan dirinya.
Claudia yang tidak tahu menahu tentang apapun, berusaha mencari Geo dan ternyata pelayan mengatakan Geo sedang berada di ruang di kamar tamu.
Ketika Claudia mengetuk pintu, Geo mengirim pesan bahwa dia tidak mau diganggu. Namun, tetap saja Claudia kekeh memanggil dia untuk keluar, karena dia begitu bingung dan yang lebih membuat dia bingung, ayah dan ibu mertuanya tadi pergi dengan tergesa-gesa tanpa menjawab pertanyaannya yang bertanya mereka akan pergi ke mana?
Mertuanya pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaannya, dan itu membuat Claudia begitu aneh. "Sudah kubilang. Aku tidak mau diganggu. Tolong pergi."
__ADS_1
Terdengar suara dari balik pintu. Rupanya Geo sudah geram karena Claudia terus mengetuk pintu, hingga dia berbicara. Geo rasa dia butuh menenangkan dirinya, mengambil langkah apa yang harus diambil ke depan.
Claudia menghela napas saat mendengar ucapan Geo, hingga wanita itu berbalik kemudian dia pun turun ke bawah. Dia berniat bertanya pada pelayan tentang apa yang terjadi.