Cinta Seorang Tuan Nauder

Cinta Seorang Tuan Nauder
Murka


__ADS_3

Setelah berbincang-bincang dengan mantan ibu mertuanya, Maudy langsung membaringkan tubuh di ranjang. Wanita itu menatap ke depan lalu tersenyum, membayangkan hari di mana dia akan bertemu dengan Geo dan bisa kembali di memeluknya.


Setelah itu terjadi, dia tidak akan mengizinkan lagi Steve masuk ke dalam kehidupan mereka.


Tak lama, satu pesan masuk ke dalam ponsel Maudy membuatnya tersadar dari lamunan. Wanita itu mengerutkan kening saat melihat nomor yang tidak dikenal membuat dia segera membukanya.


Tidak ada apapun selain dia ucapan terima kasih disertai emot kelinci menangis. Maudy tidak tahu siapa yang mengirimkan, tapi dia merasa bahwa Leana ada di baliknya sebab tadi dia melihat banyak kelinci di kamar anak itu.


Maudy menyimpan ponselnya tanpa berniat menjawab pesan tersebut. Dia masih harus terus mengevaluasi sikap Leana ke depan hingga tidak ingin terjebak dengan sikap manisnya, karena dia tidak bisa menebak apa yang akan Leana lakukan padanya nanti.


***


Steve terus menggenggam tangan Geo yang sedang tertidur. Ini sudah berjam-jam lamanya dia diam di rumah sakit, dan sekarang mereka menunggu hasil tes tentang tulang sumsum semua anggota keluarga. Dia berharap ada yang cocok dengan Geo karena putranya harus segera melakukan transplantasi tersebut.


Sementara Geo, dia hanya akan bangun ketika perutnya lapar. Lebih dari itu, dia kembali tidur tertidur setelah meminum obat demam.


Tak lama, terdengar suara pintu terbuka dan ternyata yang masuk adalah Gina membuat Steve berdecak. Dia begitu malas menghadapi kakaknya karena dia tahu, wanita itu hanya akan mengejek.


"Aku malas berdebat Gina, pergilah," ucap Steve begitu saat Gina mendekat.


"Siapa juga yang mengajakmu berdebat? Aku hanya ingin menjenguk Geo."


"Apa kau sudah mengetes dirimu?" tanya Steve.


"Sudah, kita hanya tinggal menunggu hasilnya. Oh iya, mana Alya?" tanya Gina. Dia sengaja bertanya membuat Steve kesal, padahal dia tahu bahwa pria itu sedang merasakan amarah pada istrinya.


Steve berdecak kesal kemudian diam tanpa menjawab ucapan Gina, sebab jika diperpanjang, wanita itu akan terus bertanya.


"Di mana Alya? Bukankah dia ingin menjadi Ibu yang baik?" tanya Gina, seolah mengolok Stev.


"Cukup!" Steve meninggikan nada bicaranya membuat Gina tertawa mengejek.


"Kau itu terlalu dibutakan oleh cinta," kata Gina, yang semakin meledek Steve.


"Urus saja dirimu yang menjadi perawan tua!" Hardik Gina.


Gina mengibaskan rambutnya. "Aku bukan perawan tua, aku sedang menunggu jodohku yang ada di Korea," jawabnya dengan santai.


"Mimpi saja, mana mungkin Park Chanyeol mau dengan wanita sepertimu."

__ADS_1


"Kenapa? Aku cantik dan aku kaya."


Steve yang merasa sudah tidak mampu lagi untuk menanggapi kehaluan sang kakak, bangkit dari duduknya kemudian mendorong Gina secara paksa hingga dia keluar dari ruangan ruang rawat Geo.


"Awas saja jika kau ke mari lagi," kata Steve yang langsung menutup pintu ruangan. Dia tidak bisa membedakan demam biasa dan leukimia.


Steve berbalik kemudian mendudukkan dirinya di kursi sembari mengutak-atik ponsel. Haruskah sekarang dia menelepon Alya untuk memberitahukan apa yang terjadi pada Geo?


Steve menggeleng, lelaki itu harus menyelesaikan dulu pengobatan Geo dan setelah ini dia akan mengurus Alya.


Steve berniat untuk menceraikan Alya. Tidak perduli sebaik apapun wanita itu di masa lalu, tapi dia sudah membohonginya membuat Steve kecewa. Lalu yang paling parah, ternyata Alya pernah melahirkan anak dari lelaki lain.


***


Alya terbangun dari tidurnya. Entah kenapa, tiba-tiba wanita itu merasa sesak. Dia melihat jam yang menunjukkan pukul lima sore.


Pagi tadi dia mengatakan pada Steve ingin menenangkan dirinya, tapi baru beberapa jam di apartemen, dia sudah merasa kesepian.


Alya menghela napas. Dia meraih ponsel yang ada di sampingnya dan ternyata, tidak ada satu pun panggilan dari Steve. Pria itu tak sama sekali bertanya tentangnya membuat dia tersenyum getir.


Alya bangkit dari berbaringnya kemudian turun dari ranjang, dia berencana untuk menyegarkan diri.


***


Hal itu membuat Alya secara sadar memilih diperlakukan tidak baik oleh anak dan suaminya, daripada tidak melihat mereka sama sekali, hingga kini memutuskan untuk pulang ke rumah sekarang juga.


Alya kini mematut diri di cermin. Dia tampak sudah rapi dengan pakaiannya. Sebelum pulang, dia berencana untuk mampir ke toko kue untuk membeli beberapa macam kue dan camilan kesukaan Geo.


***


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang dan setelah sebelumnya berhenti untuk membeli camilan, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Alya sampai di basement.


Alya berjalan dengan riang membayangkan Geo memakan kue yang dia beli. Baru beberapa jam dia berpisah dengan anak itu, tapi dia merasa begitu rindu padanya. Apalagi selama ini, Geo banyak menghabiskan waktunya di mansion.


Alya menekan tombol kemudian membuka pintu. Hening karena tidak ada siapapun di apartemen. Semuanya pun tampak berantakan, sama seperti semalam saat dia pergi.


Alya berjalan ke arah meja makan yang bahkan, makanan buatannya semalam pun masih ada di sana. Tiba-Tiba rasa khawatir menelusup masuk dalam hatinya membuat dia bergegas pergi ke kamar.


Setibanya di sana, dia mendapati kamar dalam keadaan kosong.

__ADS_1


"Steve! Steve!" panggil Alya berteriak ke sana ke mari, berharap Steve ada di salah satu ruangan apartemen mereka. Namun setelah dia mencarinya ke mana pun, dia masih belum menemukan pria itu. .


Alya kembali lagi ke kamar, mencoba mencari petunjuk. Setibanya di sana, dia melihat sebuah baskom dan juga obat demam membuatnya menyadari bahwa semalam Geo demam.


Rasa khawatir langsung mendera wanita itu yang kini merogoh saku untuk mengambil ponsel kemudian mengutak-atiknya bermaksud menelepon Steve.


Namun ternyata, Steve tidak panggil mengangkat panggilannya membuat Alya kian khawatir. Dia berjalan mondar-mandir setelah berulang kali menelepon dan tidak sekali pun terangkat.


Pada akhirnya, Alya memberanikan diri untuk menelepon Gina karena dia tidak berani menelepon ibu mertuanya. Dia hanya ingin memastikan apakah Geo dan Steve ada di sana atau tidak.


"Halo?" sapa Alya saat Gina menerima telepon darinya.


"Ada apa?" tanya Gina.


"Apa Geo dan Steve ada di sana?" tabya Alya dengan nada pelan, sebab dia merasa canggung dengan Gina walaupun umur mereka tidak berbeda jauh.


"Kau ini ibu macam apa? Anak sakit saja sampai tidak tahu," ucap Gina dengan tajam membuat mata Alya membulat.


"Ma-maksudmu Geo sakit?" Alia teriak saat mendengar ucapan Gina, jika Geo sudah dibawa ke rumah sakit itu tandanya yang udah penyakit Geo cukup parah.


"Datang saja ke rumah sakit, dia ada di rumah sakit keluargaku."


Setelah mengatakan itu, Gina menutup panggilannya. Sementara Alya kini tengah dihantam oleh rasa khawatir yang luar biasa.


Secepat kilat, Alya keluar dari kamar dan kemudian keluar dari apartemennya. Dia berniat untuk pergi ke rumah sakit tempat di mana Geo dirawat.


Alya kini mengendarai mobil dengan rasa khawatir juga menyesal karena meninggalkan apartemen bercampur aduk. Andai saja malam itu dia tak pergi, mungkin dia masih bisa menemani putranya.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Alya sampai di parkiran rumah sakit. Dia bergegas keluar kemudian berjalan masuk ke dalam rumah sakit dan bertanya pada pihak resepsionis.


Setelah tahu ruangan ruang rawat putranya, Aliya langsung berlari ke arah lift rasanya Dia tidak sabar untuk bertemu dengan Geo. Setiap detik yang berlalu, Aliya melaluinya dengan rasa penyesalan yang dalam, seandainya semalam Dia tidak pergi, seandainya semalam dia tidak berpikir untuk menenangkan diri pasti dia akan ada di samping putranya.


Alia meneliti satu persatu ruangan dan pada akhirnya dia sampai di ruangan yang diberitahukan oleh resepsionis, dia pun bergegas untuk masuk dan ketika masuk ternyata sedang ada Steve di sana, sedangkan Geo masih tertidur


Mendengar pintu terbuka, Stev langsung menoleh, dia pikir itu dokter atau kedua orang tuanya, tapi ternyata itu adalah Aliya. Saat melihat Alya, rasa sesak langsung menghantam Freed. Amarah yang sempat reda kembali terpancing.


Stev bangkit dari duduknya membuat Alia mengerutkan keningnya, karena tatapan Stev begitu tajam, seharusnya Steve mengerti kenapa pergi, karena dia sudah menjelaskannya tadi pagi. Tapi nyatanya sekarang, Stev menatapnya seperti orang yang akan melahapnya.


Tak lama Alia terpekik ketika Steve menarik tangannya, dan membawanya keluar. Saat berada di luar Stev menghempaskan tangan Alia dengan keras hingga tangan Alia mengenai tembok, dan selanjutnya ....

__ADS_1


__ADS_2