
Gengs aku up dua bab scrol ya,
Tubuh Cecilia diam mematung saat mendengar ucapan Damian, dia bahkan menatap Damian tanpa berkedip. Bagaimana mungkin lelaki ini mengatakan hal seperti itu.
“Ayo Cecilia kemari!” Damian langsung bangkit dari duduknya, kemudian dia menarik tangan Cecilia. Saat menghampiri Cecilia, Damian menatap mata Cecilia dengan intens, lewat tatapan matanya Damina meminta Cecilia untuk mengiyakan ucapannya.
“Halo,” ucap Elsa, dia mengulurkan tangannya. Elsa benar-benar menghela nafas lega saat Damian sudah menemukan penggantinya, setidaknya dia tidak terlalu merasa bersalah.
“Ya sudah kalau begitu aku permisi Damian. Terima kasih atas semuanya.” Damian pun mengangguk. Lalu setelah itu, Elsa keluar dari ruangan Damian.
“Maaf nona Cecilia. Aku bener-bener minta maaf karena telah berbicara lancang,” ucap Damian sepertinya Cecilia mengerti dengan permasalahan yang dihadapi Damian, dia hanya tersenyum lalu mengganggu
Elsa keluar dari kantor Damian dengan senyum yang mengembang. Wanita itu sudah sangat lega karena dia sudah melepaskan pekerjaannya, dia juga sudah lega karena Damian sudah menemukan wanita yang dicintai. Jadi dia tidak harus merasa bersalah.
Tak lama, Elsa menghentikan langkahnya saat melihat Nauder sedang berdiri di depan mobil ,begitu pun Nauder yang juga melihat ke arah Elsa.
Elsa kembali melanjutkan langkahnya. Tatapan matanya terus menatap Irish mata Nauder. “Entah keputusanku benar atau tidak, entah kau berubah lagi seperti dulu atau tidak. Tapi aku tidak mau berburuk sangka, jika kau memang kembali lagi seperti dulu maka aku akan berbesar hati, jika kau tetap menyayangiku maka aku sangat berterima kasih.” Elsa membatin seraya berjalan ke arah Nauder, tatapan matanya begitu penuh dengan cinta.
“Kau sudah selesai?” tanya Nauder.
“Sudah, ayo.”
Nauder membukakan pintu untuk Elsa, dan mereka pun langsung masuk ke dalam mobil. Lelaki itu langsung menyalakan mobilnya dan menjalankannya.
“ Hari ini kita ke mana?” tanya Elsa.
__ADS_1
”Berbelanja.”
“Berbelanja, belanja apa?” ulang Elsa.
“Hnm, kau boleh membeli apapun yang kau mau,” jawab Nauder.
Elsa menggangguk, setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Nauder sampai di mall, Nauder turun dari mob, kemudian dia membukakan pintu untuk Elsa, membuat Elsa ingin sekali tertawa, ini seperti bukan Nauder, karena di masa lalu, jangankan seperti ini. Nauder bahkan selalu meninggalkannya dan tidak pernah lagi menoleh ke arahnya.
Satu 1 jam kemudian, Nauder benar-benar tidak habis pikir dengan Elsa, ini sudah satu jam berlalu tapi Elsa belum memilih satu pun barang. Nauder menawari Elsa ke seluruh store, tapi Elsa tetap menolak.
“Nauder kau kesal padaku?” tanya Elsa.
“Tidak, aku tidak kesal. Mana mungkin aku kesal,” jawab Nauder.
“Eee, tidak. Bukan begitu.” Nauder berusaha untuk menggenggam Elsa. Namun Elsa malah berjalan dengan bersidekap, membuat Nauder menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
“Wanita memang sulit dimengerti.” Nauder membatin, tiba-tiba Elsa menghentikan langkahnya kala melihat sebuah store pakaian.
“Kau tunggu di sini, jangan mengikutiku!” kata Elsa. Damian mengangguk, daripada dia terkena amarah lagi.
Elsa masuk ke dalam butik, sebenarnya di dalam butik ini tidak ada seleranya sama sekali, dan ketika melihat pakaian yang berada di sini dia malah teringat Sandra.
Elsa berpikir untuk merubah fashionnya seperti Sandra, Agar Nauder tidak bosan, walau bagaimanapun trauma itu tetap ada. Elsa akui, selama ini dia tidak mau ribet dengan urusan Fashion, dia tetap memakai hal yang sederhana, bahkan seperti sekarang dia hanya memakai dress polos dan blazer serta rambut yang diikat, dan ketika melihat ini tiba-tiba dia ingin merubah penampilannya agar Nauder dia tidak bosan padanya.
Iklan dulu bentar. Cinta Seorang Mualaf di BKM (Sihijau) Bab Elsa Nauder scroll
__ADS_1
Amora berdiri di depan sebuah perusahaan, dia melihat jam di pergelangan tangannya, ini sudah setengah jam dia menunggu tapi Freed belum juga keluar, dia sudah mengirim pesan pada Freed.
Tapi Freed hanya membacanya tanpa membalas pesannya. Padahal dia baru saja tiba ke Amerika dan berniat untuk merayakan ulang tahun Freed bersama, tapi seperti biasa dia harus menunggu kekasihnya tanpa kepastian. Untuk masuk ke perusahaan Freed pun rasanya, Amora tidak berani dan alhasil, dia hanya bisa menunggu diluar.
Selalu seperti ini, 4 tahun berpacaran dengan Freed, hanya Amora yang selalu yang berjuang untuk untuk bertemu Freed dan untuk melihat wajah lelaki itu. Butuh Effort yang besar untuk Amora menemui Freed. Dia yang menetap di Rusia harus jauh-jauh pergi ke Amerika untuk menemui kekasihnya, walaupun setiap dia pergi ke Amerika dia sadar betul rasa sakit seperti apa yang akan di terimanya.
Amora dan Freed sudah berpacaran selama 4 tahun. Bahkan bisa dibilang selama 4 tahun itu Amora lah yang berjuang untuk hubungan mereka, bahkan lucunya Freed sama sekali tidak pernah mengucapakan kata cinta padanya, jangankan kata cinta, Freed bahkan tidak pernah mengucapkan kata manis padanya.
Dulu Amora merasa tertantang karena Kepribadian Freed yang dingin dan acuh membuat Amora tertantang untuk mendapatkan lelaki itu. Dulu, butuh waktu 2 tahun Amora berjuang untuk mendapatkan Freed. Hingga akhirnya, Freed menjadi kekasihnya.
Namun perjuangan Amora rupanya tidak cukup sampai di situ, Amora pikir setelah mereka resmi berpacaran Freed akan berubah, tapi khayalan Amora terlalu tinggi dan Freed malah seperti tidak menganggap kehadirannya
Tapi walaupun begitu, Amora tidak menyerah dia tetap bertahan dengan sikap dingin Freed. Selama 4 tahun ini Amora berjuang sendiri untuk menaklukkan lelaki, itu terkadang lelah dengan sikap Freed. Namun dia selalu mengingat perjuangannya saat dulu mendekati Freed sebelum mereka berpacaran.
Cinta Amora pada Freed begitu menggebu-menggebu. Dia bahkan rela terbang jauh-jauh dari Rusia ke Amerika untuk merayakan ulang tahun Freed. Walaupun dia tahu apa yang akan terjadi, yang pasti saat nanti malam Freed hanya datang sebentar, meniup lilin lalu kembali pergi meninggalkannya, karena setiap tahun selalu seperti ini.
Lamunan Amora buyar saat melihat siapa yang keluar dan perusahaan, dan ternyata itu adalah Freed, dan saat Amora melihat ke arahnya, Freed pun melihat ke arah Amora. Seperti biasa, bukan Freed yang menghampiri Amora. Namun Amora yang menghampiri Freed.
“Hai Fred,” kata Amora. Freed hanya tersenyum tipis setelah itu dia tidak berekspresi lagi.
“Ayo,” ajak Fred tanpa basa-basi. Freed mendahului langkah Amora, hingga Amora mengekor di belakang Freed dan masuk ke dalam mobil. Harusnya Amora tidak merasa sakit lagi karena dia sudah terbiasa dengan sikap kekasihnya yang seperti ini. Tapi, tetap saja sekarang Amora merasakan sakit bukan main.
Beruntung sikap Freed yang dingin bukan hanya padanya saja, melainkan pada semua orang bahkan pada keluarganya pun Freed bersikap seperti ini, hingga Amora tidak terlalu merasakan sakit dan tidak terlalu merasakan terabaikan karena dia tahu itu adalah murni sifat kekasihnya.
Saat berada di dalam mobil, Freed fokus mengemudi sedangkan Amora dari tadi melihat ke arah jendela. Dia sedang memutar otak untuk mencari topik pembicaraan dengan Freed.
__ADS_1