Cinta Seorang Tuan Nauder

Cinta Seorang Tuan Nauder
Kedatangan


__ADS_3

"Kenapa kau menatapku begitu, Maudy?" tanya Steve ketika Maudy terus menetapnya dengan sorot aneh. Entah kenapa, sekarang feelingnya mengatakan bahwa perubahan Geo adalah karena pria ini.


Maudy tersadar, dia menggelengkan kepalanya saat teringat jika Geo menolak, Steve selalu berusaha membujuk anak itu untuk menerima apa yang dia lakukan. 'Ah, tidak, mungkin itu hanya perasaanku saja.'


"Ya sudah kalau begitu, aku ingin menyusul Geo masuk," ucap Maudy.


Steve mengangguk dan Maudy pun langsung melanjutkan langkahnya.


***


Maudy tersenyum saat melihat Geo sedang berolahraga di lapangan. Walaupun dia sudah makan, tapi dia berharap anaknya bersedia memakan masakannya meski sedikit, apalagi dia pun sudah membuatkan pudding kesukaan Geo.


"Geo," panggil Maudy ketika olahraga sudah selesai.


Geo menoleh, dia kemudian melambaikan tangannya pada Maudy sembari tersenyum. Jika biasanya anak itu akan langsung menghampiri sang ibu, tapi sekarang setelah melambaikan tangan dan tersenyum, Geo malah pergi bersama temannya hingga lagi-lagi Maudy terdiam.


Maudy yang tidak ingin menyerah begitu saja, langsung menyusul putranya. "Geo!" panggil Maudy ketika Geo akan masuk ke dalam kelas.


Geo menoleh. "Mommy, aku harus masuk."


Maudy menarik tangan putranya.


"Mommy!"


Maudy tersentak kaget ketika Geo menghempaskan tangannya, hingga paper bag yang berisi bekal untuk Geo jatuh dan tercecer di lantai. Maudy menatap tak percaya pada putranya, begitu pula dengan Geo.


"Geo," panggil Maudy dengan tatapan terkejut.


"Bukankah sudah kubilang bahwa aku harus pergi ke kelas, kenapa Momny menghalangiku?" jawab Geo.


Setelahnya, bocah kecil itu pun masuk ke dalam kelas tanpa memperdulikan Maudy yang terpaku menatap makanan yang berceceran di lantai.


Steve menyeringai saat melihat apa yang dilakukan oleh Geo. "Cukup bagus," ucapnya kemudian berbalik dan kembali ke mobil karena tidak ingin Maudy mencurigainya.


"Kau tidak apa-apa?" tanya teman Geo yang melintas di hadapan Maudy.


Maudy yang tersadar, menjawab, "Tidak, aku tidak apa-apa."


Maudy menoleh ke arah kelas Geo, di mana anak itu sudah masuk ke sana, sehingga dia pun langsung membereskan makanan yang tadi tumpah.


Setelah selesai, Maudy berlalu dari sana dengan langkah yang lesu. Berbagai perasaan bergemuruh di dalam hatinya. Dia sungguh tidak mengerti dengan apa yang dilakukan oleh Geo, kenapa bisa dia berubah seperti ini?


Mungkin di mata orang lain, sikap Maudy terlalu lebay, tapi tidak untuknya. Selama ini, dia sudah terbiasa dengan sikap manis sang putra dan sekarang Geo berubah, tentu saja dia merasakan ketakutan juga kehilangan.


"Maudy, apa kau tidak jadi memberikan makanannya pada Geo?" tanya Steve yang berpura-pura.


Maudy tersenyum. "Tidak, sepertinya dia tidak akan mau memakan masakanku."


"Mana makanannya? Biar aku yang menyuruhnya makan." Sepertinya biasa, dia bersikap bagai pahlawan. Dia merebut paper bag dari tangan Maudy yang langsung menariknya kembali.


"Makanan ini sudah jatuh di lantai, tidak mungkin bisa dimakan Geo," jawab Maudy menahan sesak.


"Kalau begitu, aku akan menasehatinya nanti, kau tenang saja, ya," ucap Steve.


"Tidak usah, aku titip Geo saja. Aku akan pulang sekarang." Rasanya, Maudy sudah tidak sanggup lagi menunggu Geo, hingga dia memutuskan untuk pulang lebih dulu dan itu membuat Steve tersenyum lebar.


"Nikmati saja, Maudy," lirih Steve.


***


"Ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Elsa yang baru saja masuk ke dalam ruangan suaminya di mana Nauder tengah melamun karena ternyata, ucapan Gina kemarin memberikan beban baginya.


Nauder terlalu berbahagia karena berpikir bahwa Steve telah berubah, tapi nyatanya dia lupa bahwa sang putra adalah tipe orang manipulatif. Dia mengenal Steve lebih dari siapapun, tapi dia tetap bisa kecolongan seperti itu.


Nauder tersadar dari lamunannya. Dia menoleh kemudian tersenyum saat Elsa bertanya, "Sayang, apa ada yang mengganggu pikiranmu? Kenapa kau melamun?"


"Tidak ada, aku hanya sedang memikirkan ucapan Gina kemarin. Aku rasa, kita memang tidak seharusnya percaya seratus persen pada Steve."


Ternyata, bukan hanya Nauder yang berpikiran seperti itu, tapi juga Elsa yang kini bertanya, "Lalu, sekarang kita harus bagaimana Nauder? Aku tidak ingin Maudy terluka untuk kesekian kalinya."


Nauder mengotak-atik ponselnya kemudian menelepon Neo. "Apa di sana baik-baik saja? Apa ada sesuatu yang terjadi dengan Maudy?" tanyanya bertubi-tubi.


Neo terdiam di seberang sana. Dia tidak langsung menjawab ucapan tuannya, karena dia juga bingung, sebab dia tidak melihat apapun yang berbeda dengan hubungan Steve dan Maudy. Mereka baik-baik saja, tapi yang menjadi keheranannya adalah, kenapa semalam wanita itu menangis di danau?


"Neo," panggil Nauder menyadarkan Neo dari lamunannya.


"Iya, Tuan."


"Apa ada yang terjadi antara Maudy dan Steve?" tanyanya lagi.


"Semuanya baik-baik saja, dan tidak ada hal yang aneh Tuan. Tapi semalam, saya ...." Neo menggantungkan ucapannya, dia bingung harus memulai cerita dari mana.


"Ada apa? Katakan saja jangan ragu," ucap Nauder.


"Semalam, saya mengikuti Nona Maudy ke danau, dan di sana aku melihat Nona Maudy tengah menangis."


"Apakah kau bertanya kenapa Maudy menangis?"


"Iya Tuan, Nona Maudy menghabiskan waktu di danau selama berjam-jam, dan dia hanya mengatakan bahwa dia sedang rindu pada keluarganya."


Nauder menghela napas. "Oh baiklah kalau begitu," ucap Nauder yang kemudian menutup panggilannya.


"Apa yang Neo katakan?"


Nauder pun menceritakan apa yang dia dengar, tidak ada hal yang mencurigakan dari cerita Neo, tapi entah kenapa, perasaan Elsa dan Nauder masih tidak tenang.


"Apa kau percaya dengan itu?"


"Tidak, Sayang," jawab Elsa. "Apa sebaiknya kita telepon saja Maudy dan bertanya secara langsung?"


"Aku rasa itu ide yang baik."


Elsa langsung mengutak-atik ponselnya. Dia berencana untuk menelepon Maudy. "Halo, Maudy?" sapa Elsa ketika wanita itu mengangkat panggilannya.


"Mommy," jawab Maudy.


"Kau tidak apa-apa? Kenapa suaramu terdengar seperti habis menangis?" tanya Elsa lagi karena suara Maudy terdengar parau.


Maudy membekap mulut di seberang sana. Dia tidak ingin tangisnya terdengar oleh Elsa, tapi dia tidak bisa mengendalikan diri lagi ketika Geo melemparkan makanan yang dia buatny.


"Maudy, ada apa? Coba ceritakan pada Mommy," ucap Elsa.


Pada akhirnya, tangis Maudy meledak. "Mommy, kenapa sekarang Geo menjauhiku?" tanyanya.


"Apa maksudmu, Maudy?"

__ADS_1


"Geo sekarang berubah, Mommy. Dia tidak pernah mau aku dekati. Dia juga enggan melakukan hal yang biasanya dia lakukan bersamaku."


Nauder yang mendengarnya, merebut ponsel itu dari tangan Elsa. "Ceritakan semuanya, Nak."


Maudy dengan terbata menjelaskan pada Nauder yang kini berkata, "Baiklah, biar kami yang akan mengurusnya."


"Lihat, kita berpikiran yang sama tentang ini," ucap Elsa.


"Lalu sekarang, apa yang harus kita lakukan?"


"Sekarang, pertama aku akan coba temui Alya. Aku yakin, dibalik sikap Geo itu ada Stev dan Alia di belakangnya. Aku akan menemui Alia, untuk menegurnya.”


Nauder menggangguk. “Aku rasa itu ide yang bagus.”


***


Di sinilah Elsa berada. Dia berdiri di depan apartemen Steve. Wanita paruh baya itu mengangkat tangannya, kemudian langsung memencet bel, hingga tak lama pintu terbuka.


"Mommy." Alya membulatkan matanya saat melihat Elsa, karena ini adalah pertama kalinya wanita itu datang ke apartemen.


"Silakan masuk," ucap Alya.


Elsa tidak menjawab. Setiap kali melihat Alya, dia selalu mengingat Sandra dan masa lalu mereka. Tanpa basa-basi, dia langsung masuk ke dalam unit apartemen anak dan menantunya itu dan mendudukkan diri di sofa.


"Mommy ingin minum apa? Aku akan membuatkannya," tawar Alya.


"Tidak perlu, aku tidak haus," jawab Elsa yang sampai saat ini, tidak pernah memanggil Mommy pada dirinya sendiri jika berhadapan dengan Alya, karena dia benar-benar tidak menyukai menantunya itu.


"Ada apa Mommy?" tanya Alya dengan jantungnya yang berdebar kencang karena takut Elsa akan meminta dia untuk bercerai. Dia bingung kenapa dari dulu sampai saat ini, dia tidak bisa akur dengan Elsa.


“Kau ingin tau bukan, kenapa selama ini kami membencimu."


Sejujurnya, Alya sendiri memang penasaran, karena sikap keluarga mertuanya di mata orang lain sangat baik, dermawan dan juga bersahabat, tapi selama ini, mertuanya tidak pernah menganggap dia ada. Padahal seingatnya, dia tidak pernah membuat masalah apapun dengan mereka.


"Aku akan menjelaskan kenapa aku tidak menyukaimu, karena kau adalah Putri Sandra."


"Kenapa kau membawa ibuku?" tanya Alya. Dia menatap Elsa dengan bingung.


Elsa menghela napas. Dia tahu Alya tidak bersalah dan Alya tidak sepatutnya menanggung apa yang dilakukan oleh Sandra, tapi tetap saja setiap melihat wanita di depannya ini, ia selalu merasa mual dengan benak yang selalu terbayang akan masa lalu. "Karena dulu, ibumu pernah menggoda suamiku."


Elsa kemudian menjelaskan semuanya pada Alya tanpa ada yang terlewat sedikit pun, termasuk saat Sandra menculik dan menyiksanya. Selama mertuanya bercerita, wanita itu tidak berkedip sekali pun. Dia bahkan menatapnya dengan sorot tak percaya.


"Kau berbohong, 'kan? Ibuku tidak mungkin seperti itu," ucap Alya karena di memorinya, sang ibu adalah malaikat.


Walaupun Alya ditinggalkan ibunya saat dia belum mengerti apapun, tapi setidaknya dia masih mengingat sosok wanita itu.


"Tidak, Alya." Elsa kini membuka tasnya, dia kemudian mengambil sesuatu dari dalam sana berupa sebuah foto di masa lalu, yakni ketika dia diculik oleh Sandra.


"Lihat ini, ini adalah kelakuan ibumu," ucap Elsa.


Alya langsung melihat foto-foto itu yang bahkan salah satunya memperlihatkan saat sang ibu sedang ditangkap oleh polisi.


"Walaupun kami punya segalanya, tapi kami tidak pernah membedakan siapapun, apalagi dari masalah finansial. Jika kami tidak menyukaimu, itu berarti ada yang salah denganmu."


Alya menyimpan foto itu kemudian menghapus air matanya. Dia menatap Elsa dengan tegar. "Lalu, apa hubungannya denganku, Mommy? Ini, 'kan, masa lalu kalian. Aku bahkan tidak mengetahui apapun, lalu kenapa kalian membenciku?"


"Kau memang tidak terlibat dengan apa yang dilakukan ibumu di masa lalu, tapi setiap melihatmu, aku dan Nauder selalu teringat dengan kejahatannya. Dan kau tahu, bahkan saat ibumu bebas dari penjara, dia nyaris berhasil membakar kami di dalam mobil. Beruntung saat itu Tuhan masih berbaik hati menyelamatkan kami, jika tidak, aku tidak tahu apa yang terjadi padaku dan suamiku."


Tubuh Alya terasa lemas mendengar ucapan Elsa. Dia sungguh tidak menyangka bahwa inilah alasan kenapa mertuanya membenci dia.


"Lalu sekarang, Mommy ingin apa dariku?" tanya Alya.


Elsa terdiam merasa bahwa inilah pertanyaan yang sejak tadi dia ingin dengar dari menantunya.


"Apa jika aku menyuruhmu berpisah dengan Steve, kau akan menurutinya?"


Jantung Alya berdebar dua kali lebih cepat. Dia bahkan tidak bisa bernapas dengan normal saat mendengar pertanyaan ibu mertuanya. Padahal baru tadi dia berandai-andai bagaimana jika mertuanya menanyakan tentang hal ini, tapi dia tak pernah menyangka bahwa itu akan terjadi sekarang juga.


"Bagaimana?"


Alya berusaha menegarkan hatinya. "Aku akan menjawab tidak, Mommy. Aku tidak akan meninggalkan Steve, karena walau bagaimanapun, bukan aku yang bersalah, tapi ibuku."


"Apa kau yakin Steve tidak akan meninggalkanmu jika sudah mengetahui semuanya?"


"Aku yakin, pasti dia tidak akan meninggalkanku karena dia tahu aku tidak terlibat apapun."


Elsa mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baik, apa kau sedang merencanakan sesuatu dengan Steve terkait kepergiannya ke India?"


"Tidak," jawab Alya.


Cukup melihat raut wajah Alya saja, Elsa sudah bisa menyimpulkan bahwa menantunya ini berbohong. "Kau tahu, jika sampai terjadi apapun pada Maudy, maka kalian benar-benar tidak akan pernah melihat Geo lagi."


Elsa bangkit dari duduknya. "Aku tidak akan memaksamu untuk pergi dari hidup Steve, karena bisa saja suatu saat nanti dia sendiri yang akan menendangmu."


Elsa langsung keluar dari unit apartemen Alya yang merasa tubuhnya menegang. Kedatangan wanita itu dan penjelasan yang diberikan, seperti malaikat pencabut nyawa untuknya, yang bisa kapan saja mengambil kehidupannya.


Padahal, Alya baru saja bahagia karena Steve berhasil merebut hati Geo. Dia juga sangat senang ketika mendengar perubahan anak itu pada Maudy, tapi sekarang kebahagiaannya sirna begitu saja saat mendengar perkataan ibu mertuanya.


Alya bahkan mendadak tidak bisa menggerakkan tubuhnya saat dia mengingat tentang ucapan Elsa bahwa kapan saja, Steve bisa menendang dia dari kehidupannya, jika pria itu mengetahui semuanya.


"Tidak, Steve pasti tidak akan berlaku seperti itu, dia pasti mengerti aku tidak tahu apa-apa," ucap Alya.


Alya memang tidak mengetahui apapun, tapi dosanya adalah tidak berempati sama sekali pada Maudy, dengan menjadi duri dalam pernikahan Steve juga Maudy.


Tidak lama, ponsel Alya berdering pertanda panggilan masuk yang ternyata dari Steve. Dia pun langsung mengangkatnya. "Halo Steve, bagaimana?"


"Alya, apa kau tahu apa yang terjadi hari ini?" tanya Steve dengan bersemangat, hingga Alya mengerutkan keningnya.


"Apa yang terjadi?"


"Tadi Maudy membawakan makanan untuk Geo, dan ternyata dia menghempaskannya."


Perlahan, wajah Alya yang tadinya risau, berubah menjadi bahagia saat mendengar ucapan Steve. "Benarkah? Kalau begitu, percepat saja kepulangannya karena kita harus segera berkumpul."


"Alya, apa kabarmu? Apa kau baik-baik saja?" tanya Steve ketika mendengar nada bicara istrinya yang berubah.


"Aku baik-baik saja."


"Ya sudah kalau begitu." Steve pun mematikan panggilannya.


***


"Daddy," panggil Geo ketika dia masuk ke dalam mobil.


"Hai, kau sudah selesai?" tanya Steve. "Oh ya, kenapa tadi kau menumpahkan makanan Mommy?"

__ADS_1


Steve berpura-pura tidak tahu. Dia mempengaruhinya dengan perkataan agar dia bisa secepatnya bertemu dengan Alya.


"Karena aku tidak boleh menerima apapun yang Mommy Maudy berikan agar aku bisa bertemu dengan Mommy Maudy secepatnya." ucap Geo dengan polosnya. Sayangnya, dia terlalu mudah di doktrin oleh sang ayah.


"Kita akan bertemu dia sebentar lagi, dan kali ini, Daddy izinkan kau memakan makanan Mommy."


"Kenapa?"


"Tidak apa-apa, jika Mommy-mu menawarimu makanan, kau makan saja tapi jangan terlalu banyak bicara dengannya. Kau mengerti?" tanyanya lagi.


Geo menganggukan kepalanya. Steve kemudian menyalakan dan menjalankan mobilnya.


***


Maudy melamun di tepi kolam renang. Sejak pulang dari sekolah, dia tidak sekali pun beranjak pergi dari sana. Dia terdiam melamun memikirkan apa yang salah. Ini benar-benar tidak masuk akal.


Bayangan saat tadi Geo melempar makanan yang ia bawa, terus tergambar di benaknya membuat rasa sesak Maudy semakin menjadi-jadi.


Tak lama, terdengar suara mesin mobil dan itu adalah Steve yang baru saja tiba bersama Geo. Jika biasanya Maudy ingin menyambut sang putra, tapi sejak kejadian tadi, dia berpikir untuk tidak menemui anaknya terlebih dahulu, karena dia ingin memenangkan diri dan berpikir bahwa dia akan merasa baikan setelah beberapa jam ke depan.


"Maudy," panggil Steve ketika menghampiri Maudy di area kolam.


Maudy menoleh sembari tersenyum. Saat melihat mata mantan istrinya yang berkaca-kaca dan lengkungan bibir wanita itu, tiba-tiba jantung Steve berdebar. Ada rasa tidak tega bersemayam dalam dirinya ketika melihat Maudy seperti ini. Dia juga tahu benar apa yang sedang dipikirkan oleh wanita itu. Namun tak lama, sisi egois dia kembali bangkit membuat dia menggeleng.


Steve berjalan ke arah Maudy, lelaki itu langsung mendudukkan diri di sebelah mantan istrinya. "Aku sudah membujuk Geo. Sepertinya setelah ini, dia akan mau makan makananmu. Jika mau, kau bisa masak sekarang," Maudy.


Inilah yang membuat Maudy tidak percaya akan rasa curiganya terhadap Steve, karena pria itu selalu terlihat ada di pihaknya dengan senantiasa membantu membujuk Geo.


Maudy kini tersenyum getir. "Nanti saja, Steve. Koki sudah memasak untuknya."


Diam-Diam, Steve tersenyum saat melihat Maudy yang seperti ini. Dia yang awalnya berpikir harus mendekati wanita ini dengan usaha mati-matian, sekarang tak lagi memikirkan itu, karena ternyata Geo sudah lebih dulu ada di genggamannya.


"Ya sudah kalau begitu, aku masuk ke dalam dulu," ucap Steve. Maudy menggangguk.


***


"Sayang, apa kau sudah berbicara dengannya?" tanya Nauder ketika Elsa pulang ke mansion.


"Aku sudah berbicara panjang lebar dengannya, aku juga sudah menceritakan tentang masa lalu hubungan kita tanpa ada yang terlewat, termasuk soal Sandra yang berusaha untuk mencelakai kita," ucap Elsa. Dia mendudukkan diri di sebelah Nauder.


"Dad, sekarang perasaanku mendadak tidak enak. Ayo kita susul Maudy di sana dan suruh dia pulang ke Rusia. Feeling-ku mengatakan, bahwa Alya sedang merencanakan sesuatu dari ekspresi wajahnya tadi."


Nauder mengangguk. "Ayo kita susul dan minta dia untuk pulang."


“Hmm, sayang. Kita harus segera menarik Stev untuk pulang ke Rusia, agar dia tidak berbuat lebih jauh lagi," ucap Elsa.


“Sudah kubilang bukan, ini pasti akal-akalan anak itu," ucap Gina yang tiba-tiba berjalan datang dari arah belakang, hingga Elsa dan Nauder menoleh. Dia sudah menduga bahwa saudara kembarnya, memang tidak pernah berubah. “Jadi kalian ingin menyusul dia?" tanya gina.


“Hmm, kami akan menyusul besok."


***


Waktu menunjukkan pukul 08.00 malam, terdengar suara gelak tawa dari ruang makan hingga Maudy yang sedang berada di kamar merasakan sesak bukan main, karena sedari tadi sore semenjak putranya pulang sekolah Maudy belum lagi menemui Geo, ia masih berusaha menenangkan hatinya, walaupun perutnya terasa lapar tapi Maudy sama sekali tidak berniat untuk bergabung.


Maudy membaringkan tubuhnya, kemudian dia terus menatap fotonya dan foto Geo, hingga tidak terasa bulir bening kembali terjatuh dari pelupuk matanya.


“Geo!” panggil Steve Geo yang sedang menyuapkan makanannya menoleh.


“Ada apa Dad?" tanya Geo.


“Coba kau antarkan makanan ini ke kamar Mommy. Mommy belum makan dari tadi."


“Kenapa Daddy menyuruhku? bukannya Daddy bilang tidak boleh."


“Untuk sekali ini saja, tapi kau tidak boleh banyak berbicara. Antarkan saja ini," ucap Steve, dia melakukan ini bukan karena kasihan pada Maudy, tentu saja karena agar memperjelas bahwa sekarang Geo membenci wanita itu.


“Baiklah.” Stev memindahkan beberapa makanan ke dalam piring, dan setelah Geo selesai dia langsung menyuruh Geo untuk ke kamar Maudy.


“ Mommy!” panggil Geo. Maudy yang sedang melamun langsung tersadar, dia langsung menoleh ke arah pintu. Rasa senang langsung bersemayam di dalam diri Maudy ketika putranya memanggil. Secepat kilat, langsung menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya, kemudian berlari ke arah pintu. Rasa bahagia begitu memuncak hingga rasanya dia ingin berteriak karena Geo memanggilnya.


“Ada ap ....” tiba-tiba Maudy menghentikan ucapannya saat melihat raut wajah putranya yang seperti malas melihatnya. Hingga rasa bahagia yang baru terasa beberapa detik itupun sirna, berganti lagi dengan kesedihan.


“Ada apa Geo?” tanya Maudy.


“Mommy belum makan malam ini, makan dulu," ucap Geo. Maudy hanya tersenyum samar, kemudian dia mengambil piring itu dari tangan Geo. Baru saja mau dia akan berbicara, anak kecil itu sudah kembali berbalik dan meninggalkan Maudy, membuat hati Maudy berdenyut nyeri.


Sepertinya, memutuskan untuk tidak menemui Geo selama beberapa hari ke depan adalah hal terbaik yang bisa Maudy lakukan, ia rasa dia butuh waktu untuk menerima semua ini.


Maudy menutup pintu, kemudian dia berjalan ke arah ranjang. Sanita itu menundukkan dirinya di sana, dia melihat piring itu dengan tatapan nanar.


***


“Bagaimana, kau sudah memberikannya pada Mommy?" tanya Stev


“Hmm, aku sudah memberikannya, lalu aku langsung pergi lagi," jawab Geo dengan polosnya.


“God boy.” Steve mengelus rambut putranya kemudian dia langsung membawa Geo ke kamar untuk bersiap tidur.


***


malam berganti pagi, Steve dan Geo keluar dari kamar tentu saja mereka bersiap untuk sekolah. Saat keluar, Steve mengerutkan keningnya saat melihat tidak ada Maudy di meja makan, biasanya Maudy akan menyambut Geo. Dan entah kenapa perasaan Stev Mendadak tidak enak.


Namun seperti biasa, egonya kembali muncul “Kau makan terlebih dahulu, Daddy akan menyusul Mommy.”


“Kenapa Daddy menyusul Mommy. Bukankah bagus Mommy tidak ada sini.” Steve terdiam saat mendengar jawaban putranya, ternyata doktrin yang dia berikan pada putranya sudah sangat melekat.


“Kau ke meja makan duluan oke. Daddy jadi tidak akan lama," jawabnya, Geo mengangguk. kemudian bocah kecil itu langsung berjalan ke arah meja makan, sedangkan Steve langsung menuju kamar Maudy.


“Maudy!” panggil Steve. Tak lama terdengar suara derap langkah, dan akhirnya Maudy pun keluar.


“Hmm, Steve,” jawab Maudy.


“Kau baik-baik saja?” tanya Steve.


“Hmm, aku baik-baik saja. Aku hanya tidak enak badan,” jawab Maudy lagi.


“Kau tidak ingin menemui Geo, biasanya kau membuatkannya bekal untuknya.”


“Biarkan saja koki yang membuatkannya, aku ingin istirahat." Maudy dengan cepat menutup pintu karena dia tidak ingin Stev melihatnya hancur Bagaimana tidak, semalaman Maudy tidak bisa tertidur karena memikirkan hal yang terjadi padanya dan perubahan Geo.


***


Stev turun dari mobil, lelaki itu baru saja pulang mengantarkan Geo dari sekolah, senyum lelaki itu begitu mengembang karena dia merasa misinya sudah berhasil.


Namun tak lama, senyum Stev pudar kala melihat mobil yang terparkir di depan rumah, bukan mobil itu yang membuat Stev kejut melainkan beberapa orang berjas yang berdiri di sana. Sial! ternyata ayah dan ibunya ada di India. Hingga seketika ....

__ADS_1


__ADS_2