Cinta Seorang Tuan Nauder

Cinta Seorang Tuan Nauder
mengecoh Stev


__ADS_3

"Gina, sudah cukup!" ucap Elsa ketika Gina akan kembali memukul kepala Steven.


"Mom, dia sudah kurang ajar. Mana bisa dia berteriak seperti tadi?" Walaupun wanita itu barbar, tapi dia selalu mendahulukan sopan santun pada siapapun. Jadi, hal wajar ketika adiknya berteriak pada sang ibu, dia merasa tidak terima.


"Kalian pergi dari sini, Mommy tidak ingin melihat kalian lagi,” ucap Elsa.


"Mom, tidak bisa begitu. Aku akan membawa Geo dan tidak akan membiarkannya bersama Maudy," jawab Steve. Dia bangkit dari duduknya berniat untuk mengambil Stev.


"Sekali kau berani melangkah, maka Mommy tidak akan mengakuimu lagi sebagai anak!" Elsa berucap dengan nada penuh penekanan, dan Steve lemah jika berhadapan dengan sang Ibu. Dia begitu menghormati kedua orang tuanya.


"Pergi dari sini sekarang, sebelum aku menyiram kalian!" Kali ini, Gina yang mengusir Steve dan Alya, hingga pria itu mengusap wajah kasar kemudian menoleh pada sang kakak kembarnya.


"Kau ini bisa diam tidak sih?"


"Tidak, bisa aku tidak bisa diam. Mau apa kau?" tanya Gina pada Steve.


"Cukup, Mommy sedang pusing," ucap Elsa, "pergi sekarang, daripada aku tendang kau!"


Steve tidak punya pilihan lain. Sebelum dia pergi, dia menatap pada Maudy dengan tatapan permusuhan begitupun sebaliknya.


Kali ini, Maudy tidak gentar berhadapan dengan Steve karena yakin bahwa mertuanya akan melindungi dia.


Steven langsung bangkit dari duduknya, kemudian lelaki itu langsung keluar diikuti dengan Alya di belakangnya. Setelah anak dan menantunya pergi, Elsa menghela napas lega kemudian menoleh ke arah Maudy.


"Maudy, atas nama Steve, Mommy meminta maaf. Mommy lalai mendidiknya," kata Elsa.


Maudy menggeleng. "Tidak Mommy, tidak ada yang harus disalahkan. Aku yang harusnya jujur dari awal,” Jawan Maudy. "Geo di mana?"


"Dia sedang berada di kamar, pergilah temui dia dan dekati dia secara perlahan," jawab Elsa.


Maudy dia mengangguk lalu dengan cepat dia langsung pergi ke kamar Geo.


***


Stve menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia benar-benar emosi apalagi ketika sang ayah memutuskan akan mengirim Maudy dan putranya ke luar negeri.


Tidak, Steve tidak akan pernah membiarkan itu terjadi.


Alya yang berada di sebelah Steve, melamun. Dia begitu menyayangi Gio. Meskipun Gio bukan putranya, tapi saja kehadiran Geo sudah lebih dari cukup karena dia tidak ingin memiliki anak karena dia adalah seorang model, dan dia tidak mau badannya melar karena melahirkan.

__ADS_1


"Kau harus mencari cara bagaimana agar bisa mendapatkan Gio kembali," ucap Alya.


"Tutup mulutmu! Aku sedang berpikir." Lagi-lagi Steve berucap dengan pedas, karena jujur saja dia sedang pusing dengan semuanya.


Alya langsung terdiam, dia tidak lagi berbicara. Jika dia mengeluarkan satu patah kata saja, mungkin Steve akan kembali meradang.


***


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai Steve sampai di basement apartemen. Dia pun segera turun dan meninggalkan Alya begitu saja hingga wanita itu hanya bisa menghela napas.


Saat Steve masuk ke dalam apartemen, dia membuka jasnya lalu melemparnya ke sembarang arah. Lelaki tampan itu berteriak membayangkan bagaimana jika dia sampai kehilangan Geo?


Sementara Aliyah yang baru saja masuk, langsung memegang dadanya karena begitu terkejut dengan teriakan Steve tapi dia tidak berani berbicara, karena dia pasti akan menjadi sasaran amukan suaminya lagi.


***


Maudy masuk ke dalam kamar, wanita itu melihat Geo sedang menonton sebuah tayangan di ponsel.


"Geo," panggil Maudy.


Geo menoleh, secara tiba-tiba dia terlihat ketakutan saat melihat ibu kandungnya. "Geo, tenang, Bibi tidak akan menyakitimu. Apa kau mau es krim?" tanya Maudy berusaha membujuk Geo, dan seperti biasa jika dengan makanan kesukaannya anak itu akan luluh hingga dia tidak lagi menghindar.


"Bibi akan memberimu es krim, kemari."


Lalu dengan polosnya, bocah kecil itu pun langsung berjalan ke arah Maudy dan seketika itu juga, wanita itu langsung memeluknya.


Kali ini, Geo tidak berteriak. Entah kenapa, dekapan wanita di depannya ini begitu nyaman, hingga tanpa sadar Geo mengangkat tangannya lalu balas memeluk Maudy.


***


Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam ketika Maudy menarik selimut, kemudian menyelimuti tubuh Geo yang sudah tertidur. Sedari tadi siang dia tidak henti-hentinya terus mendekati sang putra hingga pada akhirnya Geo mau didekati olehnya.


Tak lama, ponsel Maudy berdering pertanda sebuah panggilan masuk yang ternyata dari nomor tidak dikenal, hingga Maudy pun langsung mengangkatnya. "Hallo, dengan siapa ini?"


"Jangan main-main denganku Maudy, kau akan tahu akibatnya!"


Walaupun, nomor yang menelponnya adalah nomor tidak dikenal, tapi Maudy tahu ini adalah suara Steven "Aku tidak akan pernah takut lagi padamu, karena Mommy dan Daddy pasti akan melindungi aku dan Geo."


Stev tertawa di seberang sana. "Berani sekali kau menyebut mereka dengan sebutan Mommy Daddy. Mereka bukan orang tuamu," kata Steve.

__ADS_1


Hati Maudy terasa nyeri saat mendengar ucapan Steve. Namun, dia berusaha tersenyum. "Aku tidak ingin mendengar apapun lagi, kamu akan pergi ke luar negeri dan jangan pernah ganggu aku lagi. Aku bukan Maudy yang lemah lagi,” katanya kemudian mematikan panggilan Steve.


Maudy kini menata putranya lekat-lekat. Dia kemudian menggenggam tangan Geo. "Apapun yang terjadi, Mommy pasti akan melindungimu. Tidak perduli meski harus melawan ayahmu."


Tidak lama, pintu terbuka. Ternyata Nauder yang membuka pintu. " Maudy, Ayo kita bicara," ucap Nauder berbisik, agar suaranya tidak terdengar oleh Geo yang sedang tertidur.


Wanita itu menggangguk, kemudian keluar dari kamar Geo dan mengikuti Nauder yang berjalan ke arah ruang tamu yang juga terdapat Elsa di sana


"Maudy, kau ingin pergi ke negara mana? Kau ingin tinggal di mana? Mommy dan Daddy akan selalu mendukungmu," ucap Elsa.


Maudy diam berpikir. "Apakah ada negara yang tidak diketahui oleh Steve? Aku takut dia akan kembali mengambil Geo."


Nauder tampak berpikir. Dia yakin putranya tidak akan tinggal diam, sedangkan dia ingin memberi pelajaran untuk Steve dan dia berharap dengan cara seperti ini Stev bisa kembali pada Maudy


Dia akan menjauhkan terlebih dahulu Steve dan Geo, kemudian setelah itu dia akan mulai mendekatkan lagi putranya dan Maudy. Walaupun dia juga tidak yakin caranya akan berhasil, tapi setidaknya dia ingin keluarga anaknya kembali utuh.


"Kau mau pergi ke India?" tanya Nauder. "Jika iya, jangan khawatir kau akan mendapatkan pelayanan yang nyaman di sana. Kami juga punya satu rumah mewah yang bisa kau tempati dan itu tidak akan pernah diduga oleh Steve."


Maudy menggangguk. "Di mana pun asal aku bersama Geo," ucap Maudy.


***


Dua hari kemudian, Maudy sudah siap untuk pergi ke landasan pacu. Begitu pula dengan Geo beserta mertuanya, karena mereka akan mengantarkan Maudy ke India.


***


Stev menyeringai saat mobil sang ayah keluar dari Mansion, dia sudah menunggu sedari tadi di depan Mansion. Di belakang mobil Stev, ada beberapa anak buahnya.


Stev berencana nekat menculik Geo dari tangan ayahnya, dan dia akan membawa Geo pergi ke luar negeri. Dan setelah mobil sang ayah keluar dari Mansion, Steve dan anak buahnya mengikuti mobil tersebut.


Setelah di jalan yang cukup sepi, Steve langsung menyalip mobil ayahnya, begitu pula anak buah Steve hingga sekarang mobil Nauder dikepung.


“Buka!" ucap Stev yang menggedor kaca jendela. Hingga kaca pintu mobil terbuka.


Saat kaca terbuka, tubuh Steve diam mematung, karena di mobil itu tidak keluarganya. “Ke-kenapa kalian ...”


Rupanya, Nauder sudah bisa menebak pikiran putranya, dia juga melihat mobil Stev dari CCTV, itu sebabnya Dia menyuruh orang-orangnya untuk memakai mobil pribadinya agar Stevi mengikuti mobil itu, dan ketika Stev sudah terkecoh, barulah dia serta Elsa dan juga Maudy keluar dari Mansion dengan mobil yang lain.


Hingga Stev ..

__ADS_1


__ADS_2