
sudah hampir 2 minggu semenjak kejadian tak mengenakkan yang dialami oleh risya, pak hadi dan bu mona pun sudah mengambil alih keputusan apa yang akan diberikan kepada dion,
dan hari ini dion sudah duduk dengan patuhnya di hadapan pak hadi dan bu mona. sementara itu raka, arka dan arsya duduk di sisi lainnya dan ikut menatapnya tajam, dion benar-benar merasa terintimidasi jika begini
ah sial, kenapa rasanya begitu menegangkan ? padahal mereka tidak sedang mengancamku dengan senjata. kenapa aku gemetar begini ?
" jadi dion danendra, apa kau benar-benar yakin akan bertanggung jawab atas apa yang akan terjadi pada putriku ?" tanya pak hadi
" saya yakin pak " jawab dion mantap
" kau sudah menikah ?" tanya pak hadi lagi
" belum pak " sahut dion
" sudah punya pacar ? tunangan ?" tanya pak hadi lagi
" tidak ada " sahut dion bingung
" kalau begitu, bawa orang tua mu kemari dan kita bisa bicarakan pernikahannya " sahut pak hadi
" pernikahan ? pernikahan siapa ?" tanya dion bingung
raka pun segera menarik kerah kemeja dion
" tentu saja pernikahan mu dengan adikku , siapa lagi memangnya . pertanggung jawaban yang kami minta adalah kau menikahi risya demi nama baiknya. " ucap Raka emosi dan tidak bertele-tele
pak hadi menepuk jidatnya
anak satu ini, aku berusaha berbicara lembut padanya agar tidak terpaksa menikahi risya, dia malah mengancamnya begitu .
dion pun terlihat bingung, dia datang kesini untuk kembali dipukuli jika memang kakak beradik itu masih marah padanya atau mungkin pak hadi juga akan memukulinya hari ini, dia sudah siap lahir batin untuk itu, dia bahkan meminum vitamin selama 2 minggu ini , setidaknya jika dia dipukuli nanti, dia tidak akan cepat pingsan.
tapi ini diluar ekspetasinya, dia malah diminta menikahi risya, benar-benar tidak ada dalam rencana nya sama sekali.
dan lagi dia tidak mau menjadi adik Raka dan Arka. dia benar-benar tidak mau, jadi saingan bisnis saja dia sudah sering ditindas, apalagi jika nanti jadi adik ipar mereka, dion sudah membayangkan apa yang akan terjadi nanti.
" tapi aku datang kesini untuk siap kalian pukul, aku tidak memikirkan tentang pernikahan saat kesini tadi " ucap dion yang sukses membuat arka bangun dan langsung menarik kerah dion
" kau pikir kami juga mau menikahkan kau dengan adik kami, jika bukan karena kami dipaksa kami juga tidak mau memiliki adik ipar seperti dirimu " ucap arka
raka hanya diam menatap dion yang terlihat bingung itu
sementara bu mona memukul bahu suaminya itu.
" begini saja tidak becus, awas saja jika laki-laki itu tidak jadi menikahi risya, papa tidur diluar selamanya " ancam bu mona lalu berdiri dan menaiki tangga lalu masuk ke kamar risya .
__ADS_1
risya sedang dikamarnya bermain bersama alicia, faiz dan faizza.
" bagaimana ma ? berhasil ?" tanya alicia saat melihat bu mona masuk ke kamar sambil cemberut
" berhasil apanya kak ?" tanya risya
" ah..tidak ada apa -apa , hanya masalah kecil saja " sahut alicia
keluarga memang merahasiakan perihal rencana pernikahan antara dirinya dan dion, takutnya hal seperti ini akan terjadi, dimana dion tidak langsung setuju untuk menikahi risya, dan jika risya tahu takutnya akan mempengaruhi psikis nya yang baru mulai membaik seminggu ini
" mereka gagal " sahut bu mona lesu
alicia terlihat lesu, lalu seperti melirik kesal ke arah pintu.
mas raka!! begitu saja tidak bisa !
tring...sebuah pesan masuk ke hp raka, setelah membaca pesan itu raka menelan saliva nya dengan susah payah. lalu dia mendekat dan melepaskan cengkraman tangan arka di kerah dion
" lalu kau akan bagaimana ? mau dipukuli sampai mati ? tapi kami tidak berniat menjadi pembunuh " ucap raka pada dion
" dan sepertinya menikah adalah pilihan terbaik untuk mu , lagipula kau sudah membuat reputasi adikku jelek, dia tidak akan mudah diterima oleh pria lain nanti. " ucapnya lagi
Arka menoleh bingung pada raka, jelas-jelas kemarin raka lah yang paling menolak rencana pernikahan dion dan risya, arka akui memang dirinya juga tidak merestui ini, tapi demi memikirkan kemungkinan risya akan kesulitan mendapatkan jodoh di kemudian hari, arka menelan pahit-pahit egonya dan setuju jika nanti memang dion bersedia menikahi risya.
tapi raka tetap pada pendirian sampai kemarin, meskipun risya kesulitan mendapat jodoh nantinya, raka tidak peduli, dia tidak ingin menyerahkan risya pada dion , perihal jodoh untuk risya, raka akan memikirkan bagaimana nanti caranya.
" kenapa kau berubah pikiran kak ? sampai kemarin kau tetap menolak rencana ini ? lalu kenapa sekarang ?" bisik arka bingung
" aku tidak mau tidur di sofa !" sahut raka
arka pun terkejut lalu sadar dan menepuk jidatnya, arka pun kelepasan untuk tertawa ngakak
" hahahahahahah...." arka tertawa dan membuat dion menatapnya bingung, sementara raka terlihat menahan rasa malunya.
" mas... risya harus menikah dengan dion, " kata-kata itu diucapkan alicia saat mereka berdua akan tidur malam tadi.
" tidak akan , aku tidak sudi jika memiliki adik ipar seperti dion, dia itu cassanova. suka bermain wanita " sahut raka dingin
" lalu risya bagaimana ?" tanya alicia
" aku akan carikan jodoh yang sesuai untuknya nanti " sahut raka lagi
" tapi dion lah yang terbaik untuk risya, bagaiman jika nanti risya hamil ? dion lah yang wajib bertanggung jawab " ucap alicia
" tidak mungkin karena sekali berhubungan risya akan langsung hamil , kau ini ada-ada saja " ucap raka sembari tertawa santai
__ADS_1
alicia kesal lalu memukul suaminya itu
" aww..sakit.. " protes raka
" menurut mas, mereka itu ada karena berapa kali berhubungan ?" tanya alicia kesal
raka menoleh ke box bayinya dimana kedua anaknya sedang tertidur lelap, lalu dia cengengesan dan menoleh pada istrinya dengan memasang muka semanis mungkin
" hehe,, sayang yang itu berbeda " ucap raka
" berbeda darimana ? memang dion itu bukan laki -laki dan risya itu bukan perempuan ?" tanya alicia emosi
raka hanya diam dan dalam hati membenarkan ucapan istrinya itu, bayi -bayi mungil nya itu ada di dunia ini karena satu kejadian yang terjadi di hotel saat itu dan bukan tidak mungkin risya tidak akan mengalami hal serupa, tapi dia tetap tidak rela menjadi kakak iparnya dion.
alicia menatap tajam suaminya itu menunggu jawaban darinya
" aku tetap tidak mau, akan kucarikan laki-laki lain " sahut raka lagi
" setuju dengan ku atau mas tidur di sofa ruang tamu !" ancam alicia
raka benar-benar kehabisan kata-kata nya
tidur di sofa? tidur di ranjang yang sama juga aku tidak punya kesempatan, apalagi jika aku beneran tidur di sofa ?
dan akhirnya dia setuju untuk mencoba rencana menikahkan risya dengan dion.
" ya sudah nanti mas bicarakan sama papa dan juga arka sama arsya ," sahut raka
alicia tersenyum menang
" mas gak jadi kan tidur di sofa ?" tanya raka lagi
alicia mengangguk lalu berbaring, raka pun lega dan ikut berbaring di sebelah alicia,
alicia lalu mengetikkan pesan di hp nya
" ma, mantra mama berhasil, mas raka langsung setuju ! misi berhasil "
sementara bu mona tersenyum senang
memang mantra tidur di sofa selalu berhasil
bu mona pun melirik suaminya yang juga sedang memasang wajah merayu
" iya ma, nanti papa bujuk raka sama arka agar setuju menikahkan risya dengan dion ya, papa tidur di kamar ya " bujuk pak hadi
__ADS_1
bu mona diam dan lalu kembali tidur. pak hadi pun perlahan ikut berbaring di samping istrinya itu.