Cinta Tak Terlupakan

Cinta Tak Terlupakan
Adek Fael, kakak faiz dan izza


__ADS_3

Suara rintihan tertahan yang sejak tadi terdengar berubah menjadi riuh karena sudah tergantikan dengan tangisan bayi yang baru saja lahir itu


dokter rina yang membantu persalinan ralin tersenyum sembari mengangkat bayi yang baru lahir itu


" bayi nya laki-laki, sehat sempurna.. gemuk lagi Ka.. " ucap dokter rina sembari tersenyum


ralin tersenyum lega, sementara arka hanya diam mematung sembari menatap anaknya yang sedang di gendong oleh dokter rina


" itu anak arka tante ?" tanya nya


" iya dong Ka.. emang mau anak siapa lagi hah ?" sahut dokter ilham, suami dokter rina yang ikut memantau proses persalinan ralin


arka menangis haru, dia refleks mencium kening ralin


" terimakasih "


ralin yang mendengar ucapan arka yang begitu tulus, membuat dirinya ikut menangis. arka mengusap pipi ralin lembut dan mereka menatap bayi mereka yang sedang dibersihkan oleh perawat.


...


dokter ilham keluar dan langsung mendapat pertanyaan dari bu mona


" gimana ham ? menantu dan cucu ku baik-baik saja kan ?" tanya bu mona


" tentu saja. cucu kakak laki-laki. " sahut dokter ilham


" lalu keadaan ralin bagaimana ?" tanya pak hadi


" dia baik-baik saja, setelah dibersihkan dia akan segera dipindahkan keruang rawat kak " sahut dokter ilham lagi


" terimakasih " ucap pak hadi seraya menepuk bahu dokter ilham


" sama-sama kak. aku permisi dulu " ucap dokter ilham lalu berjalan menuju keruangannya.


" Ma , Pa.. selamat ya jadi oma sama opa lagi " ucap alicia sembari memeluk bu mona


" makasih ya sayang, jangan lama-lama cepetan nyusul juga " ucap bu mona


" tidak. jangan dulu " sahut raka


semua orang menoleh pada raka dan menatap nya heran


" kenapa ?" tanya bu mona


" raka tidak mau istri raka mengalami kesakitan seperti ralin tadi " sahutnya


pak hadi dan bu mona hanya tertawa geli,


" lihat suami mu yang posesif itu " ucap bu mona pada alicia


alicia hanya tersenyum menatap raka.


...


Ralin dan bayinya sudah dipindahkan ke ruang rawat, semua keluarga mengerubungi bayi yang baru lahir itu, mereka gemas sendiri melihat bayi itu yang begitu montok, pantas saja ralin menjadi hobi makan semenjak hamil lihat saja bayi nya itu, pipi nya yang benar-benar gembul membuat bu mona tak tahan untuk terus menciumi nya


" Ma..nanti anak arka menangis jika mama terus menciumi nya seperti itu. " ucap raka


" memang kenapa ? mama gemes sama cucu mama " sahut bu mona kesal

__ADS_1


arka hanya diam saja, sementara yang lainnya tersenyum geli saat melihat perdebatan ibu dan anak nya itu.


" coba kamu gendong, mama mau lihat " ucap bu mona pada arka


" gak berani ma, lehernya itu terlihat masih sangat lembut sekali. arka takut ma " sahut arka


bu mona memukul bahu arka,


" kamu ya, tau buatnya saja " ucap bu mona kesal


bayi mungil itu menggeliat dan mulai menangis saat merasa di sekelilingnya itu berisik


" cup..cup.. nak " ucap ralin sembari menepuk pelan bayinya


raka mendekat dan menggendong bayi nya arka, papa 2 anak itu terlihat terampil menggendong bayi


alicia tersenyum dan mendekati raka sembari mencium pipi gembul bayi itu.


raka menoleh pada alicia


" dia imut sekali sayang, lihatlah pipi nya yang gembul ini. " ucap raka


" iya mas...gemesnya " sahut alicia


Pak hadi dan bu mona mendekati raka dan alicia


" wih..anak papa satu ini, udah pinter sekali menggendong bayi ya . nah arka, belajar sama kakak mu bagaimana cara menggendong bayi. supaya nanti kamu bisa membantu istrimu merawat bayi mu." ucap pak hadi


" iya Pa, nanti raka belajar "


Ralin menatap harus keluarga yang berkumpul di hadapannya sekarang ini , ia sangatlah bersyukur


karena mendapatkan mertua sebaik pak hadi dan bu mona serta keluarganya


....


Hari hari berlalu, ralin menjalani hari-harinya sebagai seorang ibu yang baik, begitu juga dengan arka yang terus belajar bagaimana menjadi ayah yang baik untuk anak nya yang diberi nama Rafael.


faiz dan faizza semakin ceria setiap harinya karena mempunyai teman bermain baru, mereka berdua menjadi kakak yang baik untuk rafael. balita berusia 3 tahun semakin pandai dan menurut jika dimintai bantuan.


" kakak faizza, tante minta tolong ya ambilkan 1 bantal untuk adek fael ya " ucap ralin meminta tolong pada faiz


balita itu langsung berdiri dan mengangguk, dengan langkah kecilnya dia berjalan ke kamar tamu dan mengambilkan bantal seperti yang diminta oleh tante nya


ralin bersorak gembira melihat keponakannya yang semakin hari makin pintar itu.


alicia menghampiri faizza dan mencium pipinya


" pintarnya anak mama "


" anak pappaa " sahutnya


alicia tersenyum gemas


" iya iya ..anak papa, faizza gak sayang ya sama mama ? jadi anak papa terus hemm.." tanya nya gemas


" kakak cayang mamma " ucap faiz


" izza juga ma " sahut faizza tau mau kalah

__ADS_1


" izza kan anak pappa , kakak anak mamma " ucap faiz


" huwa.....mamma punya izza...kakak jahat..huwaaa... " si kecil faizza akhirnya mengeluarkan jurus terakhir nya jika sudah kalah berdebat dengan kembarannya, yaitu menangis sekencang-kencangnya


alicia langsung menggendong faizza dan menenangkannya


" izza mau pappa..pappa huuhuu... " isaknya sembari memeluk erat alicia


" papanya lagi kerja nak..izza main sama mama, kakak faiz.tante ralin sama adwk fael dulu ya nak.. " bujuk alicia


" izza mau pappa..pappa...huwa..." rengek faizza


alicia pasrah, kalau sudah begini satu-satunya cara ialah menelepon suaminya, tapi jam masih pukul 10 pagi, dan biasanya suaminya itu sedang rapat. alicia tidka ingin mengganggu suaminya itu, meskipun raka selalu bilang mereka lah yang terpenting bagi raka, tapi tetap saja alicia sering merasa tidak enak jika terus mengganggu suaminya saat sedang bekerja.


" kakak telpon papa ya ma ?" tanya faiz


" tapi papa masih kerja nak..nanti kita ganggu papa kerja, tunggu jam makan siang saja ya izza ya.. anak mama ?" tanya alicia lagi


izza menggeleng, ingusnya sudah meleler kemana-mana, air mata gadis kecil itu terus mengalir.. alicia jadi tidak tega, akhirnya dia memutuskan untuk menelepon raka


faiz pun menekan nomor papanya dan melakukan panggilan video pada papanya,


sebelum dering ketiga raka sudah mengangkat telepon nya


" kenapa kak ? " tanya raka


" izza pa, nanya papa terus " jawab faiz


faiz pun menyerahkan ponsel nya pada mamanya


" izza kenapa sayang ?" tanya raka pada istrinya


" biasa mas. nanyain kamu terus " sahut istrinya yang masih terlihat sibuk mengelap air mata putri kecilnya


" huwa...pappa..." isaknya saat melihat wajah raka di ponsel mamanya


" anak gadis papa yang cantik ini kenapa hem ? siapa yang nakal sama anak papa ?" tanya raka lembut


" kakak faiz... kaka faiz bilang izza anak papa trus kakak anak mama...huwa..izza juga mau mama..huwa pappa..." adu nya pada papanya


" izza juga anak mama sama papa sayang, kakak faiz juga begitu nak.. jangan berebut mama lagi sama kakak ya nak" ucap raka membujuk putrinya itu


" pappa kapan pulangnya ? izza kanen pappa.." ucapnya masih dengan wajah memelas


raka terenyuh melihat wajah memelas putrinya itu.


" nanti papa usahakan pulang cepet ya nak.. anak-anak papa sudah makan belum ?" tanya raka


" sudaaah pa " sahut faiz dan faizza


" pintarnya, ya sudah nanti papa pulang cepat ya nak...jangan nakal nurut sama Mama ya. jaga adik fael ya.. jadi kakak yang baik ya anak-anak papa " ucap raka


faiz dan faizza mengangguk


" siap pappa "


raka menutup telepon itu setelah melihat putrinya tidak lagi menangis histeris


raka mengusap foto kedua anaknya yang berada di mejanya

__ADS_1


" anak-anak papa yang pinter " ucapnya sembari tersenyum


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2