
Kairo, Mesir.
Di gedung Apartement mewah kawasan elite negara Mesir. Merupakan anak perusahaan milik Farel Ramadhian. lantai tertinggi gedung ini hanya terdapat satu pintu yang hanya di huni oleh sang pemilik Apartemen ini.
"Baby Fasya (Farel dan Aisyah). Daddy pulang sayang.Mana mommy mu?."
Berkata sambil memandang putri mungil nya yang terlelap di dalam box bayi.
"Kak Farel sudah datang?."
Aisyah yang sedang sibuk dengan layar lipat nya terkesiap mendengar suara Farel yang baru pulang dari kantor.
Aisyah menghampiri dan mengecup punggung tangan suaminya.
"Mengapa tidak mengucapkan salam?."
Berkata dengan lembut dan senyum yang manis.
"Sudah, tapi kau tidak mendengar. "
Mengecup dahi Aisyah kemudian fuduk di tepi ranjang sambil melonggarkan dasinya.
"Kemarilah."
Farel meraih tangan Aisyah. Membuatnya duduk di pangkuan nya.
"Sudah enam bulan aku menahan nya lho."
Menggelitik perut Aisyah.
"Hentikan kak Farel, ini menggelikan."
Menggeliat di pangkuan Farel dengan tangannya yang melingkar di leher.
"Lalu kak Farel mau apa?."
"Kau menggoda ku ya?."
Merebahkan tubuh Aisyah, Menind*h nya disana.
"Tunggu kak Farel, Aku ingin bicara sebentar."
"Nanti saja bicara nya. Aku sedang sangat merindukan mu."
Cup..
Kecupan mendarat di dahi, pipi hingga bibir menaut disana.
Dan terjadilah, didalam kamar yang sunyi hingga tetesan peluh membasahi kedua nya. De..sa..Han.. Lirih pun tercipta di sana.
Melepas kerinduan yang baru terlampiaskan setelah enam bulan Farel menahan itu.
Beruntung karena Baby Fasya tidak terbangun kali ini.
Oe..Oe..
Baby Fasya menangis saat Aisyah telah melesat ke kamar mandi.
Farel meraih handuk mendekat pada putri nya berusaha mendiamkan dengan menggendong nya.
"Sssttt..Sayang."
Baby Fasya kembali terlelap.
Farel kembali meletakkan nya di box bayi.
"Kak Farel kau hebat sekali."
Aisyah keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri.
"Kau sudah selesai?. Kalau begitu ceritakan pada ku yang ingin kau katakan tadi."
Farel merebahkan kepala nya di pangkuan Aisyah di atas ranjang.
"Aku mendapat tawaran untuk menjadi Dosen di universitas itu."
Menunjuk layar lipat yang ada di meja.
"Lalu?."
Farel berkerut dahi. Raut wajah menunjukkan Seperti nya keberatan.
"Itu Impian ku sayang."
Berkata dengan lembut dan tatapan memelas.
Mengusap usap rambut Farel berharap hati nya luluh.
"Impian? Sayang?."
"Cih. Kau memanggilku sayang karena ada maunya kan?"
Farel memicingkan mata nya.
"Hehe, Iya."
"Please.."
Memelas lagi.
Jika sudah begini, menolak pun tidak akan tega
__ADS_1
"Kak Farel tahu kan, bagaimana perjuangan ku hingga bisa meraih gelar Doktor. Berusaha keras agar mendapatkan bea siswa. Seorang gadis Desa yang berusaha mengejar impiannya bahkan sambil mengurus resto. Aku hanya ingin ilmu yang Aku dapat bermanfaat, Sayang."
Aisyah berusaha meyakinkan.
Farel diam tampak berfikir sesuatu.
"Aku mohon."
Aisyah menggigit bibirnya.
"Kau sudah sibuk mengurus resto kan?."
"Kalau untuk resto, Kak Farel telah mengembangkan nya kan? Bahkan Aku tidak pernah membayangkan bisa berkembang sebesar itu."
Resto Aisyah memang berkembang pesat. Dibawah awasan GEO, sesuai perintah Farel. Berhasil menjadikan Resto bekerja sama dengan perusahaan perusahaan di kota ini.
Hingga memiliki ratusan karyawan untuk menyiapkan catering untuk perusahaan perusahaan di kota ini.
"Bagaimana dengan Fasya?."
Mencari alasan lagi untuk melarang.
"Aku sudah memikirkan nya kak Farel."
Masih terus mengusap rambut Farel.
"Baby sister?."
Farel berfikir sejenak.
Aisyah mengangguk.
"Aku mengajar hanya tiga jam di setiap hari nya."
"Aku mohon."
Ucapan tulus Aisyah hingga menitikkan air mata.
"Apa yang kau lakukan,?. Kenapa menangis."
Farel bangun dan meraih Aisyah kedalam pelukan nya.
"Baik lah, jika kau memaksa. Tapi berjanjilah satu hal."
Farel mengusap mata Aisyah yang basah.
"Jangan pernah lupakan tanggung jawab mu sebagai Ibu dan Istri ku."
Mengecup dahi Aisyah.
"Terimakasih kak Farel."
*******
Felisya membuka mata nya, meregangkan otot otot yang kaku.
Menatap ke samping.
"GEO tidak ada. Mungkin dia sudah kembali ke Kairo bersama mereka."
Felisya menghela.
Ia baru ingat jika Ia tidak mengantar Aisyah ke bandara.
Felisya memandang langit langit kamar.
"Padahal aku masih sangat merindukan mu Geo, Kau sudah pergi lagi."
"Aku hanya ingin memandang bintang dan menikmati secangkir cappucino bersama mu. itu saja.
Felisya menarik selimut menenggelamkan kepalanya di bawah selimut.
Ponsel Felisya berdering.
"Bram? mau apa dia."
"Ya."
Jawab Felisya lesu.
"Bersiaplah nona, aku akan menjemput anda."
Terdengar suara Bram disana.
"Ini hari libur. Aku ingin tidur sepanjang hari."
"Ini sangat penting nona, kumohon bersiaplah."
Ujar Bram lagi.
"Kau seperti ayah mu. memaksa ku sesuka hati."
Menggerutu sambil bangun dari tidur nya.
Mobil terparkir di depan pintu utama rumah Felisya.
Sudah bisa dipastikan siapa yang datang.
Pria tampan yang selalu ber style rapih dan formal melangkah dengan sangat berwibawa.
Ya, itu Bram yang akan menjemput Felisya.
__ADS_1
Memasuki rumah dengan disambut membungkuk dari para pelayan dan penjaga disana.
Bram menaiki tangga. Berdiri di depan pintu menunggu Felisya keluar.
"Sudah ku duga, Kau pasti sudah menunggu ku."
Felisya membuka pintu kamar melewati depan Bram yang sedikit Membungkuk disana.
Felisya menuruni tangga di ikuti Bram yang secepat itu membukakan pintu mobil untuk Felisya.
"Aku tidak akan masuk sebelum kau katakan kita mau kemana."
Nona, jangan buat masalah untuk ku!.
Bram diam tidak menjawab. Tangan nya masih memegang pintu mobil.
Sedangkan para pelayan mengantar sampai depan pintu utama dengan wajah secerah mentari.
"Baik lah, Terserah kau saja."
Pada akhirnya Felisya mengalah, melihat Bram yang tidak bergeming dari tempatnya. Masuk kedalam mobil dan membiarkan Bram membawa nya menjauh dari sana.
Melambai pada para pelayan yang juga melambai dan berkata "Hati hati nona."
Apasih Bram! menyebalkan sekali.
Mobil terus melaju jauh dari kota ini. Sudah lebih dari satu jam perjalanan karena sempat terjebak macet.
Felisya terkesiap ketika tiba berada di Dermaga.
"Katakan pada ku kita mau kemana?!."
Felisya meninggikan suara. Geram menatap sekeliling mengedarkan pandangan. Pelabuhan besar tempat kapal berlayar dan berlabuh disana.
Kapal kapal berjajar disana. ada yang menurunkan peti kemas.Ada juga kapal yang membawa penumpang.
Ada juga kapal diantara nya yang baru saja berlabuh.
Bukan kita, tapi anda yang akan pergi nona.
"Jangan katakan kau ingin membuang ku BRAM!!."
Mencekik leher Bram dari belakang sekuat tenaga.
Astaga nona, apa yang anda lakukan?!.
Bram menunjuk ke arah depan tanpa berbicara.
Sorot mata Felisya mengarah pada satu kapal pesiar disana tepat diarah yang Bram tunjuk kan. Felisya menjatuhkan tangan nya dan lebih membelalak tidak percaya saat melihat Geo yang bersandar pada mobil sport milik nya sambil melihat arloji.
"Geo."
Senyum mengembang sempurna.
Bahkan Felisya terburu buru membuka pintu sebelum Bram membuka nya.
Felisya berlari menuju Geo disana.
"Ayo naik, Kita hampir terlambat."
Geo melihat arloji sambil berkata dengan nada datar seperti biasa.
Namun dari wajah nya ada rona bahagia walaupun tidak terlalu nampak.
"Naik? Kita? Apa maksud nya."
Felisya bingung tidak mengerti.
"Berhati hatilah Nona, Dan juga anda tuan Geo."
Sedikit membungkuk disana.
"Terimakasih Bram, Kau menjaga nya dengan baik."
Lirih Geo menepuk bahu Bram.
"Kau tidak ikut Bram?"
Felisya menoleh pada Bram.
"Tidak, dia akan mengganggu bulan madu kita."
Geo menggenggam tangan Felisya, membawa nya menaiki kapal pesiar itu.
"What? Bulan madu? Honeymoon? Apa aku tidak salah dengar. Apa aku bermimpi? Honeymoon di kapal pesiar?!Yang benar saja."
Plak
Felisya menampar pipi nya.
"Aku, Sakit. Aku sedang tidak bermimpi."
Senang nyaaa
"Dasar bodoh!."
Geo melirik Felisya.
"A...Geo, Berhenti mengatai ku bodoh."
Menggerutu sambil berbalik.
__ADS_1
"Da da Bram..?!"
Pekik Felisya melambai pada Bra.