
Armada besi menerbangkan Aisyah dan Farel menuju kota London.
Telah menunggu seorang pria yang berdiri disampingnya sebuah mobil Limousine.
"Silahkan tuan."
Pria itu membukakan pintu.
Farel pun masuk kedalam mobil itu bersama Aisyah dan putri nya.
Barang barang milik Farel segera Ia masuk kan kedalam bagasi, bergegas ke tempat nya kemudian melajukan mobil.
"Apa masih jauh?."
Aisyah menatap sekeliling, kota indah dan sangat bersih dengan gedung gedung tinggi terlihat dari jalan yang mereka lalui.
Nuansa klasik sangat kental dari design gedung indah itu.
Burung burung dara beterbangan disana yang bagi Aisyah semakin memperindah kota.
Hingga mobil sampai di sebuah rumah klasik di pinggiran kota yang tidak terlalu mewah namun sangat nyaman kelihatan nya. halaman yang luas dan rumput yang hijau menghampar.
Aisyah turun dari mobil sebelum dibuka kan pintu.
"Ini rumah Geo."
"Ya, itu rumah nya. Tidak nampak jauh berubah dari terahir aku kesini."
Farel turun dari mobil meletak kan Baby Fasya di atas stroller baby yang sopir itu siap kan, mendorong nya mendekati rumah itu.
Aisyah mendekati pintu yang tertutup menekan tombol bell disamping.
Glory yang sedang menyiram tanaman disamping rumah mendengar bell berbunyi berjalan mendekat.
"Siapa yang datang sore sore begini?."
Glory terperangah tidak percaya, Mendapati siapa yang datang berkunjung.
"Oh anak ku."
"Aisyah?!."
Glory melempar selang menghambur memeluk Aisyah.
"Aku senang kalian datang, Oh Tuhan mimpi apa aku semalam."
"Bagaimana kabar anda nyonya Glory?.'
"Panggil aku madam seperti panggilan Farel untuk ku."
Glory melepaskan pelukannya kemudian berteriak memanggil Elis.
Elis segera muncul dibalik pintu.
"Mengapa Kau berteriak, ada Siapa disana, Apa itu Geo?."
"Bukan, ini Farel?!.
Entahlah Geo tidak kunjung datang, padahal aku sudah melempar semua babi dan menggantinya dengan kalkun. Dan kau tahu Farel, bahkan anjing di rumah sudah ku ganti dengan kucing Persia yang manis. Tapi anak nakal itu tidak juga kembali."
Glory menggerutu.
"Awas saja kalau dia pulang, aku pukuli bokong nya dengan sapu!."
Farel tergelak begitu pun dengan Aisyah yang tertawa sambil menutup mulut nya.
"Kau hebat sekali madam, punya kekuatan apa kau bisa melempar babi."
"Maksudnya aku jual?! Dasar bodoh!."
Aisyah semakin tertawa, " baru kali ini ada yang berani mengatai kak Farel begitu."
Aisyah berbisik.
"Sssttt... Madam Glory sangat menyeramkan. Dia pernah memukuli ku dan Geo."
Menempel kan jari nya di bibir Aisyah.
Dengan polos nya Aisyah hanya manggut manggut.
"Tapi Madam sangat menggemaskan."
"Lihat Elis, Farel kemari membawa Aisyah dan anak nya."
Aisyah tersenyum ramah mendekat memeluk Elis.
"Bagaimana kabar anda nona Elis."
" Aku baik, nona Aisyah. Ayo masuk kedalam."
Aisyah farel dan Elis masuk kedalam rumah, sedangkan Glory mendorong stroller baby mengikuti dibelakang nya dari belakang.
"Elis, buatkan makan malam untuk mereka.
Kau bisa memanggang kalkun kesayangan ku."
Menunjuk kandang kalkun di belakang.
__ADS_1
" Aku sebenarnya sudah bosan dengan kalkun panggang mu. Tapi baik lah, menu istimewa untuk tamu istimewa."
Berkata sambil menuju ke dapur.
"Lihat Elis, Baby nya cantik sekali."
Glory mendekati Baby Fasya meraih dan menggendongnya.
"Nama nya Fasya kan? Aku pernah membaca berita nya di internet.
Aku mau memasak Glory, berhenti lah memanggil."
berteriak dari arah dapur.
"Kau sensitif sekali."
"Farel kemarilah?!."
Elis berteriak.
"Ada apa Elis"
Farel diikuti Aisyah pun mendekat menuju Elis.
"Farel, kau bisa menyembelih kalkun dengan benar kan? Aku hanya tahu memenggal kepala nya saja. Bagaimana jika nanti Aisyah tidak bisa memakan nya."
"Bagaimana kau tahu?."
Farel meraih pisau.
"Aku pernah menonton nya di YouTube."
"Apa kau demam social media,?."
"Tutup mulutmu Farel, lakukan saja yang ku perintah kan. Cepat potong kalkun nya."
Farel pun menyembelih kalkun itu dengan cara yang benar sesuai syariat dan Elis yang memegang nya.
"Terimakasih Farel."
"Aku yang berterima kasih Elis, kau menghargai kami meski kita berada."
Farel pun berlalu meninggalkan Elis menuju ruang tamu. Sedangkan Aisyah tetap tinggal di dapur membantu Elis memasak.
*******
Kapal pesiar itu menyandar di dermaga. Felisya
terus menempel pada Geo menyandarkan kepalanya di lengan sambil Keluar dari kapal menuruni tangga.
"Masuklah Felisya."
"Terimakasih Geo, Eh tunggu! Kau sedang tidak salah makan kan? Kau membukakan pintu untuk ku, tidak kah ini ajaib?."
"Mau masuk tidak?!."
Mode menyebalkan sudah kembali.
Felisya menggerutu masuk kedalam mobil memajukan bibir nya berkomat Kamit mengumpati Geo seperti sedang membaca mantra.
Geo menuju tempat nya duduk di belakang kemudi, kemudian menutup pintu.
Melirik Felisya yang memalingkan wajah melihat kearah kaca.
"Ini di London, kenakan seat belt mu jika tidak ingin membuat masalah."
Berkata sambil mendekat kearah Felisya memasangkan seat belt disana dengan satu tangan menyentuh pinggang.
Felisya mematung.
Muach!!
Geo mencium bibir Felisya tanpa aba aba.
"Jangan terus memancing jika kau tidak ingin Aku melakukan nya disini."
Apa?! Melakukan disini? Di tempat ini? Pelabuhan? Astaga!!
"Tidak, tidak!! Aku tidak mau, yang benar saja?!."
Geo tertawa sambil melajukan mobil nya.
Kemudian tangan kekar itu menyentuh kepala Felisya,"Tidurlah Felisya, kau pasti sangat lelah malam tadi."
"Aaaa Geo..."
Hanya begini saja aku sangat bahagia Geo, kau tahu? Gumam Felisya dalam hati.
"Felisya."
"HM?"
Felisya menoleh kearah Geo.
"I love you," Geo menggantung kan ucapan nya.
"My wife."
__ADS_1
Geo meraih tangan Felisya kemudian mengecup nya.
"Geo..."
Hati Felisya menghangat, menatap lekat lekat pria yang telah menjadi suami nya.
Terimakasih Tuhan, Engkau menjodohkan ku dengan pria ini.
batin Felisya kemudian matanya memejam dan Ahir nya tertidur.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, Geo sampai di rumah yang selalu Ia rindukan.
Menggenggam tangan Felisya mendekati rumah itu.
Rumah tampak sepi, mungkin Ibu dan Elis sudah tidur.fikir nya.
Padahal di dalam rumah mereka sedang menyiapkan kejutan kecil untuk Felisya, namun Glory sudah menyiapkan hadiah untuk Geo ketika Aisyah mengatakan Geo dan Felisya datang malam ini.
Geo menekan tombol bell.
Tidak lama pintu terbuka.
"Surprise..!!."
Aisyah menghambur memeluk Felisya.
"Aku merindukan mu Felisya."
Felisya mengembangkan senyumnya.
"Aisyah, aku juga tau!."
"Anak Bodoh?! Kenapa kau baru datang sekarang?!."
"Aww?! Sakit Bu..!"
Glory benar benar memukul bokong Geo dengan sapu.
"Rasakan!! Kau harus di pukul biar kau sadar. Anak nakal!! "
"Rasakan itu Geo, pukul saja madam. Pukul terus tidak usah berhenti."
Kapan lagi ada kesempatan seperti ini, batin Farel.
"Hus, Kak Farel ?!.'
Balas Aisyah.
Felisya merinding melihat ibu nya Geo yang terus memukul. Membayangkan bagaimana jika nanti malam Geo menyuruh nya mengompres luka memar di bokong nya.
"No, Aku tidak Mau?!."
Bergedik ngeri masuk kedalam rumah.
"Tunggu Felisya."
Felisya berhenti ketika nama nya di panggil Glory.
Jangan pukul aku?! Ampun madam.
Batin Felisya.
"Eh?."
Glory merendahkan tubuh nya, mengusap usap perut Felisya yang masih rata.
"Apa kau belum hamil?."
Apa lagi sih madam???
"Geo?! Apa kau itu bukan laki laki??."
"What?!."
Geo bingung atas pertanyaan ibu nya.
"Mengapa kau tidak bisa membuat istri mu hamil?! Bodoh!!."
Farel terbahak bahak disana. Aisyah hanya senyum sambil menggelengkan kepala.
Sedangkan Elis malah terharu melihat Glory yang menemukan kebahagiaan nya setelah sekian lama ditinggal mendiang suami nya.
"Glory sangat mencintai putra nya hanya saja cara nya berbeda."
Berbicara pada Felisya sambil mengusap air mata nya.
***
"Selamat Makan..?!"
Elis menarik kursi untuk Geo duduki.
"Duduk lah Geo. Ini Kalkun kesayangan Glory, nikmati saja."
"Bokong ku sakit Elis, bagaimana aku duduk."
Semua yang ada di sana menertawakan Geo.
__ADS_1
"Terimakasih Tuhan Kau mengumpulkan anak anak ku. Meski masih kurang satu personil, Tapi aku sangat bahagia."
Batin Glory dalam hati.