
Geo telah membawa Felisya masuk kedalam kapal pesiar.
Berdiri di atas kapal berpegangan pada besi pengaman yang ada di sisi kapal itu.
Tidak ada orang lain selain mereka berdua, Kapten kapal, Para pelayan, awak kapal dan bodyguard juga security.
Hamparan lautan luas terlihat seperti tak berujung. Senyum mengembang di bibir Felisya tidak dapat tertahan lagi sejak tadi. Hatinya berbunga bunga karena bahagia. Meski telah beberapa bulan menikah, hati nya tetap saja berdebar ketika berada di dekat Geo. Mungkin karena hubungan jarak jauh dan rasa cinta yang begitu besar atau semacam nya.
Sirine kapal berbunyi tanda kapal berlayar sudah lewat sejak beberapa jam yang lalu.
Angin kencang menerjang wajah dan rambut Felisya, rasa nya ingin terbang karena hati nya sedang senang.
"Eh?!."
Felisya bergetar ketika tangan kekar itu menyentuh pinggang nya dari belakang.
Menenggelamkan wajahnya di bahu Felisya.
Semakin merinding saat bibir lembut itu menyentuh bahu nya. Dan tangan kekar itu beralih semakin mendekap.
"My wife."
ya!
Ucapan singkat yang membuat Felisya semakin bergetar. hembusan nafas begitu terasa di bahu membuat nya semakin merinding.
Ya, Aku istri nya. Istri seorang Geofani. Aku sangat bangga apa lagi seluruh Penduduk negeri pun tahu akan hal itu.
Ingin rasa nya berteriak pada lautan aku mencintaimu Geofani!
Felisya Menyentuh pipi Geo, mengusap nya disana.
"Terimakasih, kau selalu memiliki cara untuk mengejutkan ku dan membuat aku bahagia."
Geo tidak menjawab, mata nya memejam.
Hanya dekapan nya yang semakin erat dan nafasnya yang terdengar di telinga.
Aku mencintaimu meski tidak tahu cara mengatakan nya. Aku merindukan mu meski tidak tahu cara mengungkap kan nya.
Aku menginginkan mu meski harus menahan nya.
I love you...my wife.
Felisya dan Geo saling diam menikmati angin yang berhembus menerpa mereka di atas kapal pesiar. Rasa lega dan bahagia terdengar meski hanya dari hembusan nafasnya.
Awak kapal yang melihat itu seketika berpaling.
Teringat kata kata mengintimidasi sebelum kapal berlayar.
"Apapun yang akan kalian lihat selama sebulan ini, Simpan untuk diri kalian sendiri."
Glek
Awak kapal menelan Silva . Menyadarkan diri nya dari lamunan.
Pura pura tidak melihat apapun pemandangan dihadapan nya. Tapi hati si jomblo ini penasaran sehingga masih enggan pergi dari tempat nya berdiri.
Felisya mengusap lagi pipi Geo yang masih belum beranjak dari tempat nya semula. Mendekap erat Felisya seperti enggan untuk melepaskan.
"Eh,?."
Geo mengusap usap perut rata Felisya.
"Tidak semudah itu untuk dia tumbuh di sana."
Felisya menggenggam tangan Geo yang berada di atas perut nya. Seperti faham yang Geo maksud.
"Mungkin seluruh dunia tidak akan percaya jika kau tidur dengan ku tidak lebih dari 5kali."
Felisya Terdengar menarik nafas nya dalam dan menghembuskan nya.
" Kita akan melakukan nya disini, sebanyak yang kau mau."
"Apa?."
Felisya tersentak mencerna kata-kata Geo, melengos menutupi wajah yang memerah padam kemudian.
Benar juga, aku yang selalu memulai menggoda mu. Bahkan aku pernah menerjang mu saat malam pertama. Astaga malu nyaaa.!
__ADS_1
Tubuh Geo bergetar menahan tawa. Akhirnya benar benar tertawa di belakang punggung Felisya apalagi saat Ia melihat wajah Felisya yang semakin memerah.
"Baiklah, aku mengalah. Kita akan melakukan nya sebanyak yang aku mau. Tapi ingat ya?! Sebanyak yang aku mau!."
Menekan kata terakhir sambil berbisik di telinga membuat merinding menjalar keseluruh tubuh.
"Aaa GEO!."
Berbalik memukul dada Geo namun tidak sakit.
Geo menyentuh dagu Felisya. Mendekatkan wajah nya hingga berjarak beberapa centi.
Tatapan mata meredup saat semakin mendekatkan wajah hingga Bibir kedua nya bertemu, berciuman hingga waktu yang cukup lama.
Mata awak kapal membelalak Sempurna melihat adegan itu langsung di depan nya.
Mundur kebelakang hingga tubuh nya membentur di dinding kapal.
Bibir kedua nya masih terus bertaut Hingga tangan Geo beralih ke pinggang Felisya, sedangkan Felisya mengalungkan tangannya di leher Geo. Terpaan angin kencang diatas kapal
Membuat keduanya semakin menikmati cium-an hangat disana.
Geo melepaskan ciumannya. Mengulas senyum samar sambil mengusap bibir Felisya yang basah dengan ibu jari.
"Aaa..Geo..."
Felisya menenggelamkan wajah nya di dada Geo.
Sedangkan Geo melirik awak kapal yang gemetar seketika berbalik.
Mati aku! Jangan sampai aku dilempar ke lautan.
Kabur secepat mungkin dari tempat nya berdiri.
Melesat membawa raut wajah yang pucat pasi.
"Geo"
Geo tidak menjawab, namun Ia diam menunggu.
"Temani aku berkeliling. Aku ingin melihat apa saja yang ada di kapal ini."
Meraih Felisya dan mengangkat nya.
"Milik ku? Kau membelikan nya untuk ku"
Girang Felisya.
Yang ditanya tidak menjawab.
"Geo, apa yang kau lakukan?. Turun kan aku."
Geo tidak meng idahkan ucapan Felisya. Dia membawa nya masuk kedalam.
"Kita ke kamar."
"Apa?"
" Tapi ini masih siang."
Berkata ragu kemudian menenggelamkan wajah di dada Geo. Dan tangan nya mengalung dileher.
"Apa yang kau fikirkan Felisya?! Aku hanya ingin beristirahat."
Eh! Apa,? Apa yang aku fikirkan!
Aaaa malu nya!
" Singkirkan otak kotormu. Dasar Mesum!."
Melengos menutupi senyum samar disana sambil terus melangkah menaiki anak tangga menuju Dek atas( lantai teratas,) kapal itu.
"Geo menyebalkan!"
Felisya menggerutu menggigit dada Geo kemudian.
"Aww"
Geo menggerakkan tubuh nya.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan."
"Menghukum mu!.apa lagi."
"Seperti nya kau kecewa."
Geo menggoda berbicara sesuka hati.
"Terus saja menggoda ku, Geo jelek!."
"Kau manis sekali."
Apa,?Manis? Apa aku tidak salah dengar.
"Ini kali pertama kau memuji ku. Tampan."
Mencubit hidung Geo.
"Wajah mu hangat Geo, apa kau sedang malu sekarang?"
Menyentuh wajah nya.
"Sudah sampai."
Masuk kedalam kamar sesaat setelah awak kapal membukakan pintu.
Pergilah dan jangan menggangguku.
Ucapan tanpa suara dari Geo pada awak kapal terlihat dari lirik kan mata nya.
Geo merebahkan tubuh Felisya di ranjang.
Kamar indah yang berada di Dek atas. hanya satu ruangan ini yang ada di lantai ini.
Felisya mengedarkan pandangan.
"Kau suka?"
"Em."
Felisya mengangguk.
"Terimakasih."
Geo merasa lega, ternyata lebih mudah dari yang sebelumnya Ia fikirkan semalaman.
Mencari Hadiah yang Felisya inginkan.
Felisya menggeser tubuhnya menepuk-nepuk bantal disana.
"Rebahkan diri mu disini"
Geo pun mengikuti yang Felisya kata kan.
Merebahkan diri menatap langit langit kamar.
"Kemari lah."
Felisya mendekat, menjadikan lengan Geo sebagai bantal. Mengusap dada Geo dan berbisik.
"Sayang"
Geo bergetar kali ini, raut wajahnya merespons meski tidak begitu terlihat.
"Ya."
Kau menjawab juga ahir nya.
"Aku mencintaimu Geofani."
Berbisik lagi.
"Lalu apa yang kau inginkan."
Menggeser tubuhnya, menarik Felisya masuk kedalam dekapan nya.
Ah Geo, begini saja aku sudah sangat senang.
"Tidak ada. Seperti ini menghabiskan waktu dengan mu, sudah lebih dari cukup
__ADS_1
***