
Masih di kamar Utama kediaman keluarga Gunatama.
Felisya membuka mata.
"Jam 3."
Mengulas senyum karena rambut Geo menempel di pipi nya.
Ya...! Pria yang Ia cintai semalaman dalam dekapan nya menenggelamkan diri di bahu Felisya.
Felisya mengusap rambut Geo yang tertidur pulas. Tu..buh polos Geo menempel pada nya sejak semalam tadi. Hanya nafas nya lah yang terdengar beraturan
Felisya mencium rambut Geo yang berada di dalam dekapan nya.
Felisya meringsut perlahan. Bangun dari tidur nya dengan hati hati agar Geo tidak terbangun.
Turun dari ranjang perlahan menuju kamar mandi.
Felisya membersih kan diri di dalam kamar mandi.
"Au..Perih sekali."
Lirih nya.
Felisya merasakan nyeri di bawah sana. Keluar dari kamar mandi merasa sangat tidak nyaman.
Felisya melaksanakan Ibadah Shalat Sunah sepertiga malam terahir. Menunggu waktu subuh dengan melantunkan ayat suci perlahan.
Tidak lama terdengar Suara Adzan berkumandang di Masjid masjid terdekat dengan kediaman Keluarga Gunatama.
Felisya melipat Mukena yang baru saja Ia gunakan untuk melaksanakan kewajiban nya ber Ibadah di waktu subuh.
Menyisakan lingerie yang menutupi tubuh nya.
"Astaga Felisya..?! Lihat ini!."
Geo menunjuk leher dan dada nya. Begitu banyak tanda tanda disana.
Felisya terkesiap melihat Geo di belakang nya.
Geo yang baru saja mandi. Dengan handuk yang masih melilit pada pinggang nya sambil memperhatikan bayangan tubuh nya di depan cermin.
"Hm..."
Felisya tidak meng Idah kan.
" Kau mem..per..ko..sa.. ku malam tadi."
Berkata sambil menunjuk leher memperlihatkan tanda tanda ciptaan Felisya.
"Apa!! Kau mau lagi???."
Felisya berdecak pinggang.
"Mari kita lakukan!."
Geo tergelak. "Hahaha."
Menyentuh kepala Felisya kemudian.
Felisya memajukan bibir nya"Menyebal kan."
Melengos tidak ingin melihat Geo yang menertawakan nya.
"Bisa bisa nya menertawakan ku sesuka hati."
"Marah?"
"Eh?"
Geo tiba tiba memeluk Felisya dari belakang.
Membenamkan wajah nya di bahu Felisya.
"My wife."
Lirih Geo.
"Geo..."
Hati Felisya menghangat.
"Sudah ku katakan sebelum nya, menjauhlah dari ku Geo. Kau malah memberiku harapan.
Kau yang juga memberi kesempatan pada ku.
Jadi jangan salahkan aku jika aku serakah ingin memiliki mu seorang."
"Hidup bersamaku tidak lah mudah. Aku sudah berjanji untuk setia terhadap keluarga Ramadhian. Kau tau itu kan? Mungkin aku tidak bisa mendampingi mu setiap hari nya. Karena aku akan kembali ke Mesir."
"Aku sudah mempertimbangkan nya Geo. Tidak masalah jika kau datang padaku hanya sekali setiap bulan nya. Aku akan menunggu mu setiap hari nya.
Lagi pula aku juga sangat sibuk mengurus perusahaan sehingga sulit untuk mengunjungi mu ke sana."
Tersenyum manis disana.
"Maaf kan aku Felisya."
__ADS_1
"Tidak apa Geo."
Mengusap kepala Geo.
"Satu lagi."
Geo mencium pipi Felisya.
"Apa?"
Melirik ke arah Geo.
"Aku tidak bisa keluar kamar dengan leher seperti ini."
Melepas pelukan nya.
Pada ahir nya Felisya menggunakan krim dan make up menabur kan pada leher Geo.
"Apa ini membantu?."
Masih mendongak melihat cermin.
"Sedikit lebih baik dari yang tadi."
Berfikir sejenak.
"Geo, aku menarik kata kata ku tadi. Sepertinya aku tidak sanggup berlama lama jauh dari mu. Aku akan mengunjungi mu ke Mesir sesuka hati kapan pun aku mau."
Tertawa memperlihat kan gigi gigi nya.
"Felisya...."
Mengusap pucuk kepala Felisya.
"Aku mencintai mu."
Lirih Geo
Mengecup bibir Felisya kemudian.
"Felisya, wajahmu memerah."
"Ini karena aku sedang senang."
Menenggelamkan tu..buh nya di dada Geo.
"Felisya..."
"Hm?."
"Mau kah kau mengajariku ber Ibadah seperti yang kau lakukan tadi?."
Mempererat pelukan nya.
*****
Sesuai harapan Aisyah.
Memberikan kado pernikahan yang istimewa untuk Felisya.
Aisyah membuat Rumah sakit bersalin Gratis di kota solo di atas tanah yang sebelum nya Ia beli. Aisyah menguras tabungan nya, dan Uang pemberian Felisya selama Aisyah berada di Kairo tidak pernah Ia gunakan.
Aisyah berharap Felisya bisa mengembangkan Ini menjadi pemilik Rumah Sakit gratis dan menyedekah kan sebagian harta nya untuk Ibu bersalin dan anak yang baru lahir.
Aisyah memberi nama
"Rumah Sakit Doktor Felisya."
6 Bulan kemudian...
Terjadi kepanikan di Kediaman tuan Ramadhian
Aisyah yang baru datang dari Kairo 1 minggu yang lalu, Mendadak merasakan nyeri yang luar biasa pada sekitar perut besar nya.
"Kak Farel, mungkin aku akan melahirkan."
Sentuh Aisyah pada perut nya.
"Sayang, kita ke rumah sakit sekarang."
Memapah Aisyah turun menggunakan lift yang ada di dalam rumah nya.
"Ada apa Nak?"
ujar Mommy panik
Mommy memekik memanggil suami nya, Kristian, pelayan dan siapa saja penghuni rumah itu.
Hingga ahir nya mobil mengantarkan Aisyah dan Farel menuju rumah sakit.
Sebuah ruangan Vvip menyaksikan kepanikan Farel. Melihat Aisyah begitu menahan rasa sakit yang luar biasa.
"Maaf kan Aku Aisyah."
"Maafkan Aku sayang."
Farel mengusap mata yang basah, Panik melihat Aisyah yang menahan rasa sakit di sana.
__ADS_1
"Jika ingin menangis, ku mohon jangan menahan nya."
Farel menggenggam Aisyah menciumi tangan nya berkali kali.
Aisyah malah tersenyum dan hanya menggeleng.
"Kalau begitu genggam lah tangan ku. Bagi rasa sakit itu dengan ku Aisyah."
Aisyah pun melakukan nya menggenggamdan me..remas tangan Farel dan berucap Istighfar saat rasa sakit itu semakin menjadi jadi.
Tuan dan Nyonya Ramadhian menunggu gelisah di luar sana.
Tempat ini sudah di steril kan hingga tidak ada orang lain apalagi awak media.
Gedung Vvip dijaga ketat oleh para bodyguard sesuai perintah dari Kristian.
Oe...Oe..
Bayi mungil lahir dengan normal berat 3,4kg dan tinggi 52cm. Dan ber jeniskelamin perempuan.
"Alhamdulillah."
Aisyah menitikan air mata penuh haru.
Farel pun melakukan hal yang sama sambil terus mencium dahi Aisyah.
Tuan dan Nyonya Ramadhian berucap Syukur.
"Aku jadi Oma, Dad"
Mengharu memeluk Tuan Ramadhian.
"Kau lihat Kris, Mommy sudah memiliki cucu. Lalu kapan kau akan menyusul?"
Menarik telinga Kristian.
"Au.. Sakit Mommy. Ini namanya kekerasan."
Kristian terkekeh.
"Mana wanita yang kau sukai dan cinta mu yang selalu kau bangga banggakan di depan mommy!."
Melepas tangan nya dari telinga Kristian.
"Mommy, jangan mengintimidasi begitu."
Pintu terbuka.
"Nona Aisyah sudah bisa di kunjungi."
Perawat berkata kemudian bwrlalu begitu saja.
Tuan dan Nyonya Ramadhian masuk ke ruangan.
Mendekati bed tempat Aisyah berbaring.
"Anak mu cantik seperti mu Aisyah."
Usap Nyonya Ramadhian pada kepala Aisyah yang tertutup hijab.
"Selamat Boy. Jau jadi seorang Ayah."
Peluk tuan Ramadhian pada putra nya.
"Terimakasih Dad"
Kebahagiaan terlihat di dalam ruangan itu. Bu Inah dan Felisya datang untuk menjenguk dan mengucapkan selamat.
"Kau jadi Ibu Aisyah. Cinta tulus dari mu membahagiakan semua orang."
TAMAT....
-
-
Terimakasih untuk yang telah mendukung Cinta Tulus Aisyah hingga ahir.
Maaf jika Up nya selalu lama.
Namun saya pribadi sangat terharu ketika kalian tidak meninggalkan Aisyah dan tetap menunggu Up nya hingga ahir.
Sedikit berbagi cerita.
Alasan kenapa Up selalu lama karena kesibukan yang tidak bisa di tinggal kan.
Merawat keluarga yang sedang sakit akibat kecelakaan patah tulang belakang yang menyebabkan kelumpuhan.
ini untuk pembelajaran kita semua. hati hati dalam berkendara.
Maafkan saya harus membagi ini semua karena mulai dari sinilah membuat saya jadi ingin menulis.
Membuat tulisan untuk menghibur diri dan para pembaca semuanya.
Berbagi pengalaman dan saling mengingatkan agar tetap berhati hati dalam mengendarai sepeda motor atau mobil.
__ADS_1
Terimakasih untuk kalian semua. Saya tidak ada apa apa nya tanpa kalian. Sampai jumpa di Episode The Police dan Goodbye Kristian selanjut nya...
I Love You All..