
Di kediaman Ramadhian.
Aisyah yang jarang terlihat keluar dari kamar terus berdo'a dan bermunajat kepada Allah.
Ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk berIbadah di dalam kamar untuk mengadukan masalah nya kepada Allah Tuhan Yang Maha Pengasih.
Tidak lupa membaca Al-Qur'an yang bisa menjadi obat kegelisahan dan kesedihan di hati nya saat ini.
Tuan Ramadhian duduk di teras belakang memandang langit dengan fikiran melayang entah kemana.Sesekali masih mengusap air mata mengingat sang putra.
Tidak lama seorang utusan memberikan ponsel tuan Ramadhian yang sejak tadi berdering.
"Tuan,Mr Geo menghubungi anda."
"Hallo."
Suara Ramadhian terdengar parau.
"Apa???"
Ramadhian terkesiap atas ucapan Geo.
"Kau tau yang terbaik Geo,kuserahkan semua pada mu?"
Ramadhian mematikan panggilan nya
Tuan Ramadhian melesat menuju kamar tempat istri nya berbaring.
"Mommy..Mommy.. Bangun lah sayang."
air mata Tuan Ramadhian menetes.
"Ada kabar dari Geo." suara Mommy terdengar parau.
"Hasil tes DNA tidak cocok,Kau lihat?!"sedikit perasaan lega dihati Tuan Ramadhian.
" Artinya?"
tanya Mommy tidak mengerti.
"Artinya yang terbakar di dalam mobil bulan lah Farel putra kita."
"Bagai mana bisa?,bukan kan Rangga menemukan bangkai ponsel juga sidik jari Farel disana?"
Mommy masih tidak mengerti.
"Ada kemungkinan Farel melompat dari dalam mobil sebelum taxi terbakar." ucap tuan Ramadhian sambil memeluk istri nya,mengusap kepala nya kemudian mencium dahi nya.
"Serahkan semua pada Allah."
Mommy mengangguk."Jika pun Farel melompat dari taxi,mustahil bisa selamat melihat tinggi nya tebing itu.Atau Farel memang hangus terbakar dan menjadi abu?"
"Oh..ya Tuhan..."
"Sssttttt berfikir lah yang baik." Tuan Ramadhian kembali mencium dahi istri nya.
***
Mobil melesat menuruni bukit menangis.
__ADS_1
Melewati jalanan sepi yang hanya pepohonan dan perkebunan kelapa sawit terdapat di sebelah kanan dan kiri di sisi jalan.
Geo yang sebelum nya telah mendapatkan alamat rumah sopir taxi korban dari peristiwa naas itu kemudian melesat menuju kesana bersama Felisya yang berada di samping kemudi.
"Berhenti."
Geo pun menuruti perintah Felisya tanpa bertanya
Felisya turun dari mobil menuju mini market disana. Geo hanya menatap punggung Felisya yang berlalu menuju mini market.
Cukup lama Felisya berada didalam sana.Geo hanya menunggu tidak berpindah sedikitpun dari sana.
"Geo..Bantu aku." Pekik Felisya.
Felisya keluar dari mini market dengan belanjaan yang begitu banyak.Seperti akan membuka toko sembako.
"Astaga apa yang kau lakukan?!,kita bukan akan berkemah???"
Geo keluar dari dalam mobil dengan mulut menganga. Geo tertegun melihat apa yang Felisya beli dan masih banyak lagi yang sedang dikeluarkan oleh karyawan mini market.
"Lima karung beras,dua dus minyak goreng satu dus susu kental manis,dua dus mie instant
Bla....bla....bla...."Geo membaca satu persatu yang Felisya beli.
" Diam dan jangan banyak bertanya?!!!"
Geo memasukkan sembako yang Felisya beli dengan sedikit kesal.Untuk pertama kali nya ada wanita yang memerintah diri nya sesuka hati.
Gaya cool khas Geo seketika tidak nampak jika didepan Felisya.
"Ini tidak muat!!!."Gerutu Geo.
"WHAT....?!"
Geo terperangah melihat Felisya yang berjalan cantik seolah tanpa dosa meraih dua dus mie instan masuk kedalam mobil dan meletak kan dus itu dipangkuan nya.
"Da..da.....terimakasih.." Felisya melambai pada karyawan mini market.
Geo hanya bisa menelan silva.Ahirnya mengikuti perintah Felisya tanpa bertanya,mengangkat karung beras meletak kan di paha sambil menyetir melajukan mobil.
Mobil melesat meninggalkan tampat itu menuju rumah duka,tempat keluarga sopir taxi berada.
"Kau yakin alamat nya tepat?"
Tidak ada jawaban dari lawan bicara.Felisya pun kembali diam sambil memperhatikan Geo yang tampak lucu membawa mobil dengan karung beras di paha nya.
Felisya menahan tawa."Bagai mana bisa pria dingin yang sangat disegani orang
berhasil ku kerjai."
"Aku tampan bukan?semua wanita berkata begitu."
"Eh..dia tau aku memperhatikan nya?" gumam gumam dalam hati.
"Aku tidak mengatakan apapun.Kau terlatu percaya diri!."Felisya memalingkan wajah nya menatap jalanan.
Sampailah mobil di kawasan padat penduduk dekat sungai karang mumus di pinggiran kota samarinda.
Banyak anak kecil berlari lari di hamparan jalan kayu yang tersusun rapi di pinggir sungai karang mumus.
__ADS_1
" Aku turun dulu Geo,ini soal perasaan wanita.
Pria datar seperti mu tidak akan mengerti."
"Pria datar?aku?.." Geo menggeleng."Seenaknya saja kau Felisya!. "
Geo turun dari mobil memperhatikan Felisya yang berbincang dengan penduduk.
"Geo kemarilah,ini rumah nya." Felisya menunjuk rumah panggung terbuat daru kayu yang seperti nya telah rapuh.
Felisya memeluk seorang ibu yang menggendong anak nya dengan mata yang masih sembab.
"Siapa kalian?"
ibu itu tertegun melihat pria asing bertubuh tinggi di hadapan nya.
"Nama ku Felisya dan ini Geo teman ku,Ibu tidak perlu takut Geo bukan lah orang jahat.
Aku adalah keluarga dari Farel penumpang taxi yang kecelakaan di gunung menangis."
"Maaf kan suami ku,dia tidak sengaja.Suami ku pun ikut menjadi korban dan pergi untuk selama nya..hik..hik.."wanita itu merendahkan tubuh nya duduk di lantai yang terbuat dari kayu.
Sepertinya sudah menjadi adat di sini,semua orang duduk dan tidur di lantai yang terbuat dari kayu,beralaskan tikar atau kasur disana.
"Tidak perlu meminta maaf." Felisya kembali memeluk ibu itu kemudian menggendong anak nya.Felisya mengeluarkan beberapa lembar uang untuk diberikan kepada istri sopir taxi.
"Terimalah bu.."
Ibu itu mengharu."Terimakasih nona."
"Tuan Ramadhian akan mengganti mobil ibu dengan yang baru. Geo juga akan memberikan bea siswa untuk anak anak ibu hingga perguruan tinggi.juga akan membeli kan rumah untuk ibu."
"Tidak nona,kami tidak akan pindah dari sini.
Ini adalah rumah kami bersama Almarhum. kami akan menjaga nya.Tentang mobil yang terbakar itu bukan milik kami.Itu milik perusahaan dan asuransi telah mengganti nya. Saya hanya akan menerima bea siswa untuk anak anak saya nona.
Itu saja sudah sangat besar luar biasa.Sekali lagi saya minta maaf,tolong sampaikan kepada keluarga korban penumpang taxi yang suami saya bawa."
Tutur Ibu itu panjang lebar membuat Felisya terharu.Felisya mencium dahi balita yang berada di pangkuan nya.
Geo memperhatikan Felisya seketika itu Ia menghangat.
"Geo bantu aku menurunkan barang barang dimobil."Felisya bangkit dari duduk meletak kan balita itu di pangkuan ibu nya menuju mobil menurunkan sembako disana.
Geo memperhatikan Felisya yang terus menurunkan sembako diletak kan dirumah Istri sopir taxi.
Geo membantu Felisya,mengulas senyum disana.
Geo terus memperhatikan Felisya, sambil membantu nya menurun kan sembako disana.Geo sedikit mulai memahami Felisya, Gadis baik yang memiliki jiwa sosial sangat tinggi.
Bertindak tanpa bisa ditebak memberi tanpa menginginkan di puji.
Itu lah Felisya...
-
-
Terimakasih sudah membaca..
__ADS_1
mohon maaf banyak tempo yang bertebaran dan kesalahan dalam menulis..