
Pagi ini Dokter juga beberapa perawat telah berada di Kediaman tuan Ramadhian. Siapa lagi kalau bukan atas permintaan Kristian.
Menyiapkan kamar khusus lengkap dengan alat alat medis disana hingga bed yang sama saat digunakan di Rumah Sakit pun juga ada di kamar itu.
Persiapan untuk donor darah pun juga ada.
"Donor darah? Memang nya bisa? pendarahan saat di sunat?."
"Jawaban itu ada di otak konyol Kristian."
"Kris tidak kah ini berlebihan?."Felisya berkomentar.
"Lihat dulu siapa yang akan di sunat?!. Laki laki yang sikap nya abnormal bisa saja akan terjadi sesuatu yang tidak normal pula."
Kristian menyeringai.
Felisya mengherdik kan bahu."Terserah saja pada mu."
Benar saja, Geo menuruni tangga. Telah menunggu anggota keluarga dengan harap harap cemas terlampir dari wajah mereka.
"Mengapa menatap ku begitu."
Batin Geo.
Namun berbeda dengan Kristian dan Farel. Senyum licik mengembang dari bibir kedua nya.
"Apa yang kalian rencanakan?."
Melirik pada Kristian.
"Tidak ada."
Kristian mengherdikkan bahu.
Geo memasuki kamar itu telah menunggu tim medis disana.
"Ada apa ini?"
Menatap sekeliling ruangan juga tim medis yang telah siaga. Menoleh curiga pada Farel dan Kristian.
"Masuk dan jangan bertanya!."
Kristian berkata dengan gaya khas Geo membuat Geo tidak lagi bicara.
Geo berbaring di atas bed yang telah disediakan.
"Ayo"
Farel mengerlingkan sebelah mata nya pada Kristian.
Kristian dan Farel menghampiri Geo secepat itu langsung memborgol kaki dan tangan nya.
"Apa yang kalian lakukan..!!"
Pekik Geo.
"Diam kau Sialan!!."
balas Kristian dan Farel.
"Kalian mau kemana?Lepaskan aku!!"
Pekik Geo sambil menarik tangan dan kaki nya yang di borgol.
"Ini hanya sebentar. rasanya seperti digigit semut. Hanya seekor semut."
Senyum licik Farel kemudian berbisik pada Dokter membuat Geo semakin curiga.
"Memalukan sekali Geo, kau seperti anak kecil..!!."
Kristian berkata pada sambil keluar menutup pintu.
Di luar Farel dan Kristian ber tos ria seperti mendapat kemenangan.
"Tunggu?!. Mengapa semalam aku tidak mencari tahu dulu apa itu di sunat?Padahal bisa saja mencari informasi di internet. "
"Ah Sial!!."
Umpat Geo dalam hati.
Kristian dan Farel terkekeh di depan pintu.
"Kalian kejam sekali."
Ujar Tuan Ramadhian.
__ADS_1
"Kapan lagi coba, ada kesempatan bisa mengerjai orang seperti Geo?."
Kristian mengembangkan senyuman.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa............?!" Pekik Geo di dalam sana.
"Hahaha Rasakan kau Geo."
Kristian terbahak bahak bersama Farel puas dengan yang mereka lakukan.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa....?!"
Teriakan Geo kembali terdengar.
Farel dan Kristian terbahak bahak memegang perut nya.
Felisya bergedik ngeri membayangkan yang terjadi di dalam kamar.
Hening..
Geo tidak lagi berteriak. Kristian menempelkan telinga nya di pintu.
"Apa Geo pingsan? Atau dia sudah mati?."
"Apa benar dia mati?."
Farel menempel kan telinga mengikuti Kristian.
"Anak NAKAL..!!"
Nyonya Ramadhian menarik telinga Kristian dan Farel.
"Au.. Ampun mommy."
Rintih Farel menatap Aisyah memelas.
Aisyah hanya menggelengkan kepala.
Tidak lama Dokter keluar dari kamar.
"Dokter, Bagaimana dengan Geo?"
Tanya nyonya Ramadhian.
"Sudah selesai silahkan masuk."
"Apa kau masih hidup Geo?."
Lirih Kristian menempel kan telinga pada dada Geo yang tertutup selimut.
"Apakah burung camar mu dipangkas habis?."
"Tutup mulut mu Brengs*k..!!"
Pekik Geo di dalam sana.
"Hahaha Kau masih hidup rupa nya."
Seluruh anggota keluarga masuk ke dalam kamar
kecuali Aisyah.
Aisyah merasa malu dan enggan untuk masuk kesana.
"Geo, kau baik baik saja?."
"Ini bukan urusan mu Felisya..?!"
Geo melengos menyembunyikan wajah malu nya disana.
"Sakit?."
Felisya berkerut dahi.
"Sudah ku katakan ini bukan urusan mu!."
Masih dengan memalingkan wajah.
"Ketus sekali!. Dasar menyebalkan."
"Jangan cemaskan aku. Pergilah ke kantor. Kau bisa terlambat."
Berbicara dengan nada yang sedikit lembut kali ini.
"Eh?, Iya Baik."
__ADS_1
wajah Felisya memerah.
"Aku pergi dulu Geo."
"Haaaaaa Senang nya, Geo hanya berbicara begitu saja hati ku berbunga bunga."
Gumam gumam dalam hati.
"Hm..."
Balas Geo.
"Tuan Ramadhian, terimakasih sudah mengizinkan ku menginap."
"Sering sering lah berkunjung kemari sayang."
Nyonya Ramadhian membalas.
Felisya sedikit membungkuk kemudian keluar dari kamar itu.
"Nona, Persiapkan diri anda. Ini pertama kali nya anda masuk kantor."
Pria berstelan jas menyerahkan pakaian pada Felisya.
"Apa kau anak nya sekertaris Rey?"
"Benar Nona, Nama saya Bram." Bram Reyhan. Yang akan menggantikan ayah saya untuk menjaga anda."
Sedikit membungkuk di hadapan Felisya.
Felisya mengangguk kemudian bergegas mempersiapkan diri.
Felisya melangkah tergesa keluar dari kediaman Ramadhian disambut Bram yang telah siap membukakan pintu.
"Anda sudah siap nona?."
"Silahkan masuk"
"Terimakasih Bram."
Bram kemudian menutup pintu mobil.
Bram menuju tempat nya menginjak pedal gas meninggalkan Kediaman tuan Ramadhian.
Mobil melesat melewati area perkantoran dengan gedung gedung tinggi pencakar langit disana. Dikota ini lah pusat perekonomian berkembang. Lalu lalang orang orang berpakaian rapih dan formal memasuki gedung tinggi di sana.
Mobil memasuki area gedung itu dengan security membungkuk hormat menyambut siapa yang datang.
Bram membuka pintu mobil untuk Felisya.
"Silahkan Nona."
Felisya keluar dari mobil itu, melangkah lebar dengan Bram berjalan di belakang nya disambut hamparan karpet merah dengan karyawan yang sedikit membungkuk menghormati.
"Selamat datang Nona."
Felisya membalas mereka dengan senyuman ramah dan ucapan Terimakasih.
Membuat para karyawan tertegun dengan sikap yang bukan hanya kecantikan dan bentuk tubuh indah yang memukau.
Namun ramah nya Felisya dengan wajah ceria khas nya membuat para karyawan semakin terkagum kagum.
"Nona sangat baik dan ramah.Sepertinya bu Inah mendidik nya dengan baik."ujar Bram dalam hati.
Felisya memasuki lift khusus menuju ruangan Presedir milik papa nya yang telah 15 tahun lebih tidak ada yang menempati.
Hanya dibersihkan setiap hari nya dan diberi pengharum sesuai selera Nyonya Gunatama tidak pernah dirubah hingga hari ini.
Sekertaris Rey menjaga semua nya hingga dalam hal sekecil apapun.
Felisya membuka sendiri pintu ruangan Presedir
Mencium aroma pengharum ruangan yang sama seperti dulu terahir Ia kemari.
Felisya melangkah perlahan mengedarkan pandangan pada sekeliling ruangan.
Menyentuh meja dan kursi juga meraih Foto Ibu nya yang selalu ada di meja kerja papa nya sejak dulu.
Felisya duduk di kursi tempat papa nya duduk kala itu.
Membuka layar lipat yang telah tersedia di meja.
" Bismillah."
"Papa, Hari ini aku duduk di meja kerja mu.
__ADS_1
Memulai hidup baru menjalankan perusahaan peninggalan dari mu. Papa, aku akan berusaha mengembangkan apa yang kau tinggalkan untuk ku. Terimakasih papa, mama. Sudah menjadi orang tua terbaik untuk ku."
Next...