
"Kak Farel Apa yang sedang kau lakukan?."
Aisyah melihat Farel yang sedang berkemas.
"Kau bilang ingin ke pulau itu. Kita akan kesana."
Menoleh pada Aisyah kemudian melanjutkan nya lagi.
"Sungguh?!. Waaa senang nya. Kau baik sekali".
Merangkul Farel mencium pipinya kemudian.
" Kau girang sekali."
Mencubit hidung Aisyah.
"tentu saja."
Membantu Farel berkemas.
"Kota Paris, mungkin aku akan kembali di lain waktu. Mengelilingi kota ini namun tidak lagi hanya berdua. Akan ada yang menemaniku dengan segala keceriaan nya."
Gumam Aisyah menggenggam erat Farel keluar dari hotel tempat mereka menginap.
Sopir membukakan pintu.
Kemudian sedikit membungkuk dan menutupnya kembali.
Limousine melaju meninggalkan tempat itu.
"Kau pucat,Apa kau sakit?."
Menyentuh dahi Aisyah dengan tangan kanan nya.
"Kau terlalu berlebihan. Aku baik baik saja."
Senyum manis Aisyah pada nya.
"Kau sangat bersemangat. Perjalanan membutuh kan waktu cukup lama di dalam pesawat. Sebaik nya periksakan dulu dirimu sebelum nya. Kau terlihat berbeda dari biasa nya."
Aisyah tertawa menutup mulut nya kemudian.
"Kak Farel sampai begitu kah kau memperhatikan ku?."
"Kalau sudah tau kenapa bertanya."
Meraih Aisyah masuh kedalam pelukan Farel.
Waktu terus berlalu hingga mobil limousine sampai di bandara tempat pesawat pribadi milik Farel siap untuk lepas landas.
"Kau Siap?!."
Aisyah mengangguk.
Berdo'a dalam hati memohon perlindungan dari Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih.
*************
Di belahan bumi yang lain.
Perbedaan waktu antara Mesir dan Perancis cukup lama.
Sekertaris Rey datang setelah Felisya melaksanakan kewajiban nya untuk ber Ibadah di waktu maghrib.
"Anda sudah siap nona?"
"Maaf membuat semua jadi menunggu terlalu lama."
Berkata sambil menyentuh besi tralis di jendela kamar tamu yang Ia tempati.
"Konfrensi pers harus nya sudah di laksanakan sejak beberapa hari yang lalu. Namun aku terbawa dengan perasaan ku sehingga membuang buang waktu. semua nya jadi mundur begitu jauh."
"Papa Mama Maafkan aku."
Ujar Felisya masih belum beranjak dari sana.
__ADS_1
"Anda bisa menemui nya sebelum kita berangkat nona."
"Eh.."
Felisya refleks menoleh pada Sekertaris Rey.
"Katakan yang ingin anda katakan."
Mengulas senyum disana.
Felisya menghambur memeluk Sekertaris Rey.
"Terimakasih kau menjagaku dengan baik paman"
Felisya menangis di pelukan pria paruh baya yang dia anggap sebagai ayah.
"Sudah waktunya saya pensiun nona, akan ada anak saya sebagai pengganti nya."
Mengusap kepala Felisya.
"Tuan Nyonya, lihatlah anak kalian sudah dewasa dan cantik. Janji saya pada kalian sudah hampir semua terpenuhi."
Gumam sekertaris Rey.
Felisya masih menangis sambil memeluk erat Sekertaris Rey.
Menjadikan jas yang dikenakan menjadi sedikit basah.
Sekertaris Rey melepas pelukan Felisya mengusap air mata nya kemudian.
"Temui dia nona, Katakan apapun yang ingin anda katakan."
Felisya mengangguk "Antarkan aku kerumah nya."
Felisya melangkah keluar dari resto bersama Sekertaris Rey dengan menarik travel bag keluar dari resto Aisyah.
Felisya berpamitan pada Syifa dan para karyawan yang lain.
Syifa mengharu memeluk Felisya.
"Berkunjunglah kemari di lain waktu kak."
Mengusap pucuk kepala Syifa yang tertutup hijab.
Tentu saja Felisya jauh lebih tinggi dari syifa.
Felisya melambai pada Para karyawan resto yang mengantar nya sampai di depan resto.
Mobil melaju meninggalkan resto terus melesat sampai di depan gedung apartement mewah di pusat kota Kairo.
"Naik lah nona, aku akan menunggu mu disini."
Sekertaris Rey membukakan pintu mobil.
"Terimakasih Sekertaris Rey. Aku akan menghubungi mu jika nanti akan lama berada disini."
Felisya tersenyum dengan mata berbinar.
"Begitu ya. Baik lah nona, ini kunci mobil nya. anda bisa kembali sesuka hati anda. Saya akan menunggu di hotel. Anda punya waktu hingga esok pukul 7 pagi."
Melihat arloji disana.
Felisya meraih kunci mobil berlalu melesat memasuki Apartement dengan tergesa.
Sekertaris Rey sedikit membungkuk kemudian memperhatikan punggung Felisya yang bergegas masuk kedalam sana.
"Ya Tuhan, kenapa aku gugup sekali."
Felisya sudah mempersiapkan kata kata yang tepat dari mulai masuk ke mobil tadi.
"Geo, aku mencintai mu."
Berfikir sejenak "Ah tidak. itu terlalu berterus terang."
"Aku berubah Fikiran. kau benar Geo, aku tertarik pada mu. hanya kau yang aku lihat dan aku sukai."
__ADS_1
"Ah.. tidak jadi. itu memalukan."
Gelisah di dalam lift sendirian menatap diding kubaikel besi yang memantulkan wajah dan tubuh nya seperti cermin. terus berlatih untuk mengutarakan isi hati nya.
Gugup, berdebar ah entah lah. ini lebih menegangkan dari pada diruang sidang berhadapan dengan majelis hakim sedang menuntut suatu kejahatan.
"Astaga?!. Apa yang aku bayangkan!."
Kesal sendiri.
Ting...
Sudah sampai di gedung yang tertinggi sesuai dari Sekertaris Rey katakan.
Felisya melangkah dengan dada yang berdebar debar keluar dari dalam lift. Melangkah perlahan sebelum lift benar benar tertutup.
Mata Felisya membulat terkesiap hingga mundur beberapa langkah membentur dinding.
Brugh...
Aisyel sedang memeluk Geo di depan pintu kamar apartement nya.
Air mata Felisya lolos begitu saja dengan kaki gemetar dan dada yang begitu sesak.
Sorot mata Felisya menangkap tangan kekar itu yang berada pada punggung Ainsyel.
"Apa Ainsyel sering kemari?"
"Apa semalam dia menginap disini?"
Mengingat sejak kepergian Farel dan Aisyah, Geo tidak pernah sekalipun berkunjung ke resto.
"Apa karena Ainsyel Geo tidak lagi menemui ku?."
Felisya berbalik arah menekan tombol lift yang sial nya tidak kunjung terbuka.
Air mata terus berlinang sesekali Ia mengusap nya disana.
Felisya terus menekan hingga tidak peduli lagi dengan sikap nya yang jadi begitu bodoh.
Felisya terus mengusap air mata nya di dalam lift.
Beruntung karena dia menggunakan lift khusus hingga tidak ada orang lain yang berada di dalam sana.
Kata kata yang sudah dia susun hilang terhapus begitu saja bagaikan menulis di atas pasir di pinggir pantai dan terhapus begitu saja oleh ombak pasang seketika.
Hati Felisya benar benar sesak dan sakit kali ini. Ia berlari keluar dari apartement tidak peduli dengan orang orang yang melihatnya menangis dan sesekali mengusap nya disana.
Terus berlari keluar menuju parkiran.
Melesatkan mobilnya kemudian.
Entsh hal gila apa yang menghantui nya.Felisya melesatkan mobil nya melebihi kecepatan rata rata.
Mobil terus berpacu sambil sesekali mengusap air mata nya yang terus mengalir deras.
"Mengapa kau menangis Felisya? Ini pukan hari pertama kau melihat mereka berpelukan?. Itu sudah beberapa kali kau lihat bahkan hampir setiap Ainsyel bertemu dengan Geo."
"Felisya ada apa dengan mu?!."
"Bukan kah kau sudah tahu sebelumnya jika Ainsyel menyukai Geo? Bukan kah Ainsyel memang mencintai Geo sejak lama? Mengapa kau harus menagis?."
Gumam Felisya menghibur diri nya sendiri.
Terngiang lagi di kepala saat tangan kekar itu berada di punggung Ainsyel. Tangan kekar itu membalas pelukan Ainsyel.
Felisya baru menyadari. seberapa besar pria itu memenuhi hati nya.
"Mungkin seperti ini yang kau rasakan saat kau mempersiapkan pernikahan Aisyah bersama Farel."
Felisya terus melesatkan mobil nya hingga tanpa dia sadari polisi lalu lintas kota Kairo mengejar nya, karena mengemudi dengan kecepatan di atas batas ketentuan negara itu di jam jam tertentu.
Tiiii......nnnnnnnnnn......?!
Ciiiii.....tttttttt.......?!
__ADS_1
Felisya menginjak pedal rem mendadak ketika mobil polisi telah menghadang nya di depan sana.
"Sial..?! Mengapa aku lupa kalau ini belum jam 10 malam." Memukul kemudi.