
"Sial kita kehilangan jejak."
ujar salah satu orang suruhan sekertaris Rey yang melelesat mengejar mobil yang menembaki dan berusaha menyerang.
"Turus lajukan mobil nya. Biar ku laporkan pada tuan Rey sambil menunggu perintah selanjut nya."
ujar bodyguard yang disamping nya dengan tangan meletakkan sen...ja..ta.. menyimpan kembali didalam dashboard.
"Tuan kami kehilangan jejak."
Lapor bodyguard pada Sekertaris Rey dengan radio HT yang terhubung satu dengan lain nya.
"Tetap awasi sekeliling mu."
terdengar suara disana.
"Baik tuan."
Tiba tiba..
Dorr.. !! Dorr....!!
Bodyguard saling bertatapan.
"Sial"
Bodyguard meraih revolver kemudian membalas serangan itu.
Dorr..?!
Dorr..?!
Dor..?!
Baku tem..bak tidak bisa terelak kan.
Dengan mobil terus mengejar melesat dengan kecepatan tinggi kemudian..
Dor..?!
Dorrrttt...?!
Doooorrrrr.....?!
Mobil mengenai ban dan memboat oleng seketika mobil terbalik.
"Bbrraaaakkkkk....Brruuuggghhh..."
Ciiiitttt......!!
Mobil berdecit dengan rem yang mendadak diinjak.
"Tuan, Kita mendapatkan nya."Lapor bodyguard pada sekertaris Rey dengan Radio HT ditangan nya.
" Tahan mereka dalam lima menit."
"Baik tuan."
Bodyguard meraih paksa dua orang yang berada di dalam mobil yang terbalik. Sepersekian detik orang orang sekertaris Rey datang dengan mobil hitam memblokadir jalan, Keluar dari mobil dengan membawa revolver ditangan nya.
Bugh... bugh... bugh...?!!
Hantaman bertubi tubi menghujani wajah dan tubuh mereka.
"Ampun tuan..." rintih kedua orang itu.
Sirine mobil keamanan negara datang. Keluar pria tinggi tegap berseragam membawa borgol dan me..nye...ret.. kedua orang itu dengan tangan yang ter..ik...at kebelakang memasukan nya kedalam mobil.
"Terimakasih atas bantuan nya."
ujar pria berseragam.
Bodyguard sedikit membungkuk tanda menghormati Polisi yang barusaja berlalu.
***
"Sepertinya mereka berhenti mengejar."
ujar Farel.
"Orang orang mu dan sekertaris Rey sepertinya bekerja dengan baik."
__ADS_1
"Masih ada yang lolos. Maka jangan pernah lengah." pungkas Geo mencengkram kemudi.
"Apa Felisya benar disin" tanya Aisyah.
Geo diam tidak merespon. Artinya Geo pun belum memastikan Felisya masih di london atau tidak.
Mobil terus melaju hingga sampai didepan Resto.
Resto Aisyah nampak sedikit berbeda. Lebih Mewah dari sebelum nya.
"Kak Farel?" bertanya pada suaminya yang mungkin tau akan hal ini.
"Kau suka?"
"Ini indah sekali, Terimakasih."
Senyum Aisyah padanya.
"Geo, Berterimakasih lah pada nya."
Aisyah pun mengucapkan itu pada Geo.
"Kalian akan jauh lebih aman disini. Untuk sementara Biarkan restoran tutup hingga semua berahir."
Geo menghela.
"Masih perlu waktu."
"Jangan takut, Semua akan baik baik saja."
Farel mengecup dahi Aisyah membawa nya masuk kedalam resto.
"Ini kamar mu?" tanya Farel menatap sekeliling ruangan.
Aisyah mengangguk."Namun ini sangat berbeda dari sebelum nya. Ini nyaman sekali."
"Maaf ya.." Farel berbicara sambil duduk ditepi ranjang.
"Tidak apa, aku pernah mengalami yang lebih mengerikan dari ini." Senyum tulus Aisyah.
"Oh..ya?" Farel meninggikan alis nya.
"Hmmm." Aisyah mengangguk.
Farel meraih Aisyah meletak kan tangan si pinggang nya.
"Terimakasih kau selalu disisi ku."
"Aku mencintai mu karena Allah." Usap Aisyah pada rambut Farel yang berdiri di hadapan Farel dengan tangan masih menyentuh pinggang Aisyah.
"Kau terlihat begitu tulus."
Farel meraih Aisyah meletak kan dipangkuan nya.
"Tentu saja."
Aisyah mencubit hidung suami nya.
"Kau tidak takut?"
"Kau tidak perlu cemas, aku tidak apa apa. lagipula banyak yang menjaga kita disini."
"Kau masih mencemaskan Felisya?"
Aisyah mengangguk. "Dia selalu bertindak semaunya. Dan tidak bisa ditebak."
Benar dugaan Aisyah, Felisya benar benar berada disana mengendarai mobil hitam yang terus melesat mengejar mobil yang menyerang Farel.
Mengenakan kaca mata hitam dan pakaian serba hitam lain nya dengan revolver yang terselip di paha.
"Geo, Dasar payah?!.. Kau fikir aku akan diam saja melihat Aisyah dalam bahaya???"
Felisya menginjak pedal gas semakin kuat mengejar mobil dihadapan nya kemudian..
Dooorrrrrtttt.......?!
Satu tembakan melesat pada ban depan sebelah kiri kemudian mobil hilang kendali dan berguling beberapa kali.
Brraaakkkk ..
Brruuuukkk..
__ADS_1
Brruugghh...
Ciiiitttttttt......Mobil Felisya berdecit disamping mobil yang terbalik.
"Bye... bye...." Felisya meniup revolver yang baru saja Ia gunakan dan masih hangat mengeluarkan asap.
Aparat keamanan negara segera datang sesuai perintah menuju tempat kejadian. Sedangkan Felisya telah melesat dengan mobil nya menuju hotel yang tidak jauh dari resto Aisyah.
Para bodyguard membungkuk tanda menghormati Felisya yang keluar dari mobil dengan dibukakan pintu oleh salah satu bodyguard disana.
"Perketat lagi penjagaan terhadap saudaraku.
Aku bisa menghabisi kalian jika sampai dia terluka."
Ucapan penuh intimidasi dari Felisya yang untuk kali ini berbar benar tersulut emosi.
"Ba-Baik Nona." Ucapan terbata dari salah satu bodyguard disana.
Felisya melangkah lebar melesat menuju lift khusus menuju kamar hotel lantai teratas.
Tujuan nya menginap disana tidak lain karena ingin mengawasi sendiri Aisyah dan Farel suami nya.
Di dalam Resto, Geo yang memilih kamar tamu memperbanyak Cctv dari seluruh penjuru Resto kecuali kamar Aisyah.
Ya.. tentu saja Geo tidak tertarik dengan adegan yang dilakukan Aisyah dan Farel didalam sana.
Di kamar Aisyah.
"Aku ingin mandi."
Farel menggendong Aisyah membawa nya kekamar mandi.
"Mandi saja sana, untuk apa menggendong ku?"
Aisyah berusaha turun dari dekapan Farel.
"Diam, jangan bergerak." Bisik nya.
"Hentikan.. geli..?!." Aisyah bergedik ketika Farel mengelitik pinggang nya.
Farel meletak kan Aisyah di bawah shower. Dengan tangan kokoh itu memutar kran membiarkan tubuh keduanya terguyur air.
"Aku sudah berusaha menahan nya ketika di pesawat." lirih nya.
Aisyah memukul dada Farel yang basah terguyur air dari shower namun tidak sakit.
Farel mengecup dahi, pipi hingga bi..bir.. menautkan nya disana.
Tautan semakin dalam hingga li...dah.. nakal masuk kesana mengajak bermain.
Aisyah berusaha mengimbangi hingga bertaut sempurna lama dan semakin dalam.
Tangan Farel mulai melepas kai yang melekat pada tu...buh.. lembut Aisyah yang basah. Hingga menyisakan cup pink yang senada dengan bawahan nya.
Farel terus memperdalam tautan nya hingga tangan me..re...mas di bagian da..da.. ke..nyal lembut terawat.
"Kak Farel.."
lirih Aisyah me...nik..ma..ti..
setiap sen..tu..han.. dari Farel membuka cup pink melempar sembarangan.
Tangan kokoh Farel meraih sabun me..ngu..sap seluruh lekum Aisyah bermain me..re...mas.. pada gu..du..kan kembar itu membuat Aisyah meremang.
"No..ka Farel."
De.. sa..han.. Aisyah terdengar berkali kalienyebut nama nya membuat Farel semakin bersemangat me..nye..sap disana dengan tangan kiri me..re..mas sempurna dan tangan kanan menjelajah ke bawah.
Entah sejak kapan kedua nya polos dibawah shower yang terus mengguyur.
Harum nya sabun yang melekat pada tu..buh.. mulus Aisyah membuat hor..mon semakin meningkat. Farel siam membenamkan milik nya perlahan.
"Akh...hh..."
de..sa...han keduanya mengiringi ritme perlahan dengan sesekali bi..bir.. bertaut meresapi setiap ke...nik..ma..tan.. disana.
"Aahh.. No..."
Farel mempercepat ritme nya dengan Aisyah yang telah meledak disana membuat Farel semakin memperkuat ritme nya me..mo..mpa
menghentak disana, Kemudian meledak bersama.
__ADS_1
Bi..bir keduanya kembali bertaut me..nik..mati aktifitas yang baru saja terjadi...
Next...