Cinta Tulus Aisyah

Cinta Tulus Aisyah
Episode 84


__ADS_3

Lelah menunggu antrean panjang saat akan menaiki lift menara Eiffel dimalam hari tidak dirasakan Aisyah.


Ia bersama suami menggunakan lift yang berbeda dari pengunjung pada umum nya.


dengan tangan saling menggenggam erat disana


Aisyah menatap sekeliling dengan takjub.


"Terimakasih membawa ku kemari"


Batin Aisyah memandang Farel tanpa bicara yang langsung bisa tertangkap dari sorot mata nya.


Farel mengusap usap kepala Aisyah yang tertutup hijab."Kau suka?"


"Ya, " Aisyah mengangguk.


"Kak Farel sering kemari?"


Menoleh pada Farel disamping nya.


"Beberapa kali."


"Dengan kekasih mu?"


"Terkadang dengan Kristian atau Rangga dan yang Terahir kali dengan nya."


Farel mengecil kan suaranya pada kata yang terahir.


"Dengan Friska?."


"Ya, "


"Kak Farel memiliki kenangan Indah disini."


Gumam Aisyah.


"Kau cemburu,?."


Farel berkerut dahi.


"Tidak, Aku lebih penasaran dengan cerita mu dari pada cemburu."


Aisyah menggelengkan kepala.


"Aku memberikan cincin untuk nya ditempat ini.


Melamarnya dan mengajak nya untuk menikah.


Dia dengan senanghati menerima nya. tiga bulan sebelum tragedi itu merenggut nyawa nya."


Farel menghela menatap Aisyah.


"Dia masa lalu ku. Dan kau masa depan ku."


Menyentuh dagu Aisyah.


"Aku mencintaimu sepenuh hati."


Kecup Farel pada bibir Aisyah membuat nya terkesiap.


"Kak Farel."


"Kau marah?"


"Aku tidak bisa marah pada mu."


Tersenyum tulus pada Farel suami nya.


"Mari melangkah kedepan bersama sama."


"Terimakasih sayang."


Aisyah melangkah memasuki restoran mewah yang terdapat di sana.


Pelayan menyapa sedikit membungkuk mempersilahkan kemudian membungkuk lagi berlalu dari sana.


"Terimakasih kau selalu memperlakukan ku istimewa."


lirih Aisyah.


"Karena kau memang istimewa dihati ku."


Menyentuh dagu Aisyah membenturkan dahi pada dahi Aisyah.


Alunan musik clasik dengan biola seketika terdengar menambah suasana semakin romantis.


"Sayang, Mau berdansa?"


Farel mengulurkan tangan pada Aisyah, Dan Aisyah pun menyambut dengan senyum bahagia.


"Kenapa tidak."


Farel dan Aisyah berdansa dengan tangan Farel berada di pinggang Aisyah. Mengikuti alunan musik kemudian Aisyah mengalungkan tangan pada leher Farel.


"Kak Farel sengaja mempersiapkan ini untuk ku?"


"Kau tidak suka?"


"Tentu saja aku sangat senang."


Aisyah mengusap mata nya yang basah.


"Kalau suka kenapa harus menangis?."

__ADS_1


Mengusap pipi Aisyah yang basah.


"Aku terharu, Aku menangis karena aku bahagia."


Farel mempererat pelukan nya mendekap Aisyah.


Pemain musik sedikit melirik Aisyah dan Farel yang saling memeluk mengulas senyum seperti turut bahagia.


Para pengunjung yang lain pun ikut berdansa bersama pasangan masing masing, mengikuti alunan musik clasik disana.


Hidangan makan malam telah siap di meja.


Sesekali Farel bertanya


"Kau suka?"


"Jika tidak, bisa aku ganti menu nya."


"Aisyah coba ini, ini enak sekali."


Menyuapkan sendok ke mulut Aisyah. terkadang mengusap bibir Aisyah dengan tisu.


"Makan lah yang banyak."


Mengusap pucuk kepala Aisyah.


"Lain waktu kita berkunjung lagi kemari."


menyentuh dagu Aisyah.


Itu lah yang dilakukan Farel. Membuat Aisyah mengharu.


Aisyah menikmati makan malam yang bagi nya terasa begitu istimewa.


"Terimakasih karena kau menjadi kan aku wanita paling beruntung yang mendapatkan cinta melimpah dari mu, berkesempatan untuk mengandung anak mu dan kau membuatku terasa istimewa."


Gumam Aisyah sambil mengusap perutnya menatap Farel yang berada di hadapan nya.


*****


"Semalam kau tidur nyenyak sekali."


Meletak kan kopyah melipat sarung disana setelah melaksanakan kewajiban nya untuk beribadah sebelum terbit nya matahari.


"Entahlah, mengapa mataku tidak mau terbuka."


Melepas mukena melipat nya kemudian.


"Kau tidak merasa ada yang aneh pada dirimu?


Farel duduk di tepi ranjang.


" Biasa saja."


Aisyah mengulas senyum sambil menatap kaca di meja rias memoles wajah nya kemudian.


Bisik Farel mencium telinga Aisyah.


"Hentikan, ini menggelikan."


Eh..tunggu.


"Apa kak Farel mau berkata, aku terlihat gendut?."


Aisyah memajukan bibirnya.


"Bukan sayang, tidak seperti itu."


Panik karena takut Aisyah marah.


"Aku hanya berharap kau mengandung anak ku."


Gumam Farel.


"Mengapa kak Farel terlihat takut pada ku?."


Berkata dengan tatapan menelisik.


"Kak Farel bukan tipe suami takut istri kan?."


"Apa yang kau bicarakan?"


Farel terkekeh mencubit pipi Aisyah.


"Bersiap lah, aku akan mengajak mu berkeliling."


"Aku tidak mau."


"Tidak mau?"


"Tidak."


"Ada apa? Apa yang kau ingin kan?."


Merebahkan dirinya di ranjang, menepuk nepuk bantal agar Aisyah mendekat pada nya.


"Katakan lah sayang."


Aisyah pun mendekat membaring kan tubuh nya disana.


"Aku ingin, um..."


Menggantungkan ucapan nya berfikir sejenak.

__ADS_1


"Katakan lah."


"Aku ingin pergi ke pulau ini."


Meraih tas menunjukan yang Felisya berikan.


"Dia memberikan ini pada ku, berarti dia sudah mempersiapkan sesuatu agar aku melihat nya."


Felisya sangat senang jika aku menyukai yang Ia berikan.


Aisyah berkata sambil menatap langit langit kamar.


"Baik lah sayang. Nanti kita akan kesana."


"Sungguh?"


Aisyah meringsut menyentuh wajah Farel.


"Kau senang?."


"Tentu saja."


Membayangkan desiran ombak sambil menghabiskan es kelapa muda.


" Tahan Aisyah, jangan sampai air liur mu menetes."Gumam Aisyah.


"Sampai begitu kah perasaan mu pada Felisya?."


"Dia saudara ku. Meski tidak terlahir dari rahim yang sama, namun Dia tetaplah saudara perempuanku."


"Baik lah, Kita Secepatnya kesana."


Berbicara dengan tangan menjelajah.


"Mau apa kak Farel, ini masih pagi."


Mencegah tangan nakal yang mulai bergerilya kemana mana.


"Aku lapar."


Aisyah bangkit dari tidur nya.


"Sarapan akan datang satu jam lagi, kau bisa berolahraga terlebih dahulu denganku sebelum pelayan datang mengantar makanan."


Menarik tubuh Aisyah menggelitik disana.


"Hentikan.. Sudah hentikan. Ini Geli sekali."


Terus tertawa di kerjai Farel.


Pergulatan di atas ranjang pun ahirnya terjadi menyisakan tetesan peluh diantara kedua nya.


Entah mengapa atau memang sengaja menuruti perintah dari Farel. pelayan mengantar sarapan kali ini sedikit terlambat hingga Farel melanjutkan aktifitas nya mengulang di kamar mandi.


Menikmati setiap sen..tu..han kedua nya dengan berkali kali de..sa..han pun terdengar.


Guyuran air shower dengan lembut nya setiap sen..tu..han dengan sabun dan aroma teraphi membuat keduanya menikmati halal nya cinta disana.


De..sa..han lembut Aisyah semakit terdengar berkali kali menyebut nama Farel hingga nafas yang tidak beraturan keduanya menuju puncaknya disana.


"Aku sangat mencintai mu."


Farel menyudahi aktifitas itu dengan menautkan bi..bir disana.


Tautan semakin dalam dibawah guyuran shower.


"Aku keluar dulu." Farel mengecup dahi Aisyah yang telah selesai melaksanakan mandi wajib nya melilitkan handuk di pinggang nya kemudian.


Aisyah melanjutkan mandi nya, entah apa saja yang Ia kerjakan hingga Farel menunggu begitu lama di luar.


"Sudah selesai?".


Ujar Farel yang telah siap dan duduk di depan meja makan sudah terdapat beberapa hidangan disana.


" Tunggu sebentar."


Aisyah memoles wajah nya di depan meja rias kemudian membuka lemari pakaian.


"Kak Farel, apa ini semua untuk ku?."


Melihat begitu banyak pakaian wanita beserta hijab nya di sana.


"Hm..Apa kau tidak suka?."


"Aku tidak begitu mengerti selera wanita."


"Aku sangat menyukai nya."


Aisyah memilih satu dress kemudian mengenakan nya.


"Kau cantik sekali sayang."


Memperhatikan Aisyah yang melangkah mendekati Farel.


Yang berada di balkon.


"Dress nya yang cantik."


"Aku sangat suka karena Kak Farel yang memilih nya untuk ku"


"Lain kali aku yang akan terus melakukan nya. Memilih beberapa pakaian untuk mu dan untuk anak kita kelak."


Bemeluk Aisyah dari belakang sambil menikmati hangat nya matahari yang baru saja terbit.

__ADS_1


-


Next


__ADS_2