Cinta Tulus Aisyah

Cinta Tulus Aisyah
Episode 92


__ADS_3

Masih di dalam kantor perusahaan. Felisya melangkah tergesa menuju ruang meeting. Diikuti


Bram dibelakang nya melewati lift juga melewati karyawan yang tidak sengaja berpapasan dengan Felisya.


"Selamat suang Nona Difta"


Karyawan sedikit membungkuk.


"Siang."


Felisya mengangguk tersenyum ramah.


Karyawan bergedik ngeri melihat tatapan Bram yang setajam elang.


"Kembali ke tempat mu, Bekerjalah dengan baik."


Kita kira itu makna dari sorot mata Bram tadi.


Felisya dan Bram sampai di depan ruang meeting.


"Kau menakutinya Bram."


"Siapa Nona?."


"Karyawan tadi."


"Masuk lah Nona, Anda telah ditunggu."


Bram enggan membahas membukakan pintu mengalihkan perhatian.


Felisya masuk ke ruang meeting.


Disambut dengan berdiri para staf manager dari masing masing divisi.


Satu persatu menjelaskan keuntungan dan pencapaian yang diraih perusahaan dari masing masing divisi hingga meeting berlangsung cukup lama.


Bukan Felisya yang membuat suasana tegang disana. Tapi pria di samping Felisya yang rumor kekejaman nya melebihi Sekertaris Rey ayah nya.


Meeting diahiri dengan Felisya menyulas senyuman dan berkata.


"Tingkatkan terus kinerja kalian. Semangat..!."


Seluruh yang hadir di ruang meeting terpana dengan ucapan Felisya yang jauh dari kara formal. Namun hati para staf tidak terkecuali Bram menjadi menghangat.


***


Di tempat lain...


Prrrrraaaaang...!!!


Seseorang dari dalam ruangan melempar gelas yang baru saja Ia minum isi nya.


"Brengs*k kau Rey..!! Rencana yang telah kita susun rapih selama 15 tahun sedikitpun tidak membuahkan hasil!!."


"Anak sialan yang kita anggap sudah mati muncul menghancurkan rencana kita."


"Lalu Bagaimana cara menyingkirkan Difta anak sialan itu?"


"Bersabarlah, kita akan cari cara nya."


***


Di Gedung perusahaan L.A.A


"Bram, Bagaimana perkembangan mereka?. Apa ada pergerakan?."


"Nona tidak perlu cemas. Saya dan ayah akan berusaha melindungi anda juga akan ada seseorang yang berdiri disamping anda."


"Begitu ya? Seseorang?! Siapa itu?Aku pikir sudah waktunya aku membalas mereka meski Aisyah selalu melarangku untuk balas dendam."


Berfikir sejenak melipat tangan menyandar pada kursi kebesaran nya.


"Tuan Geo akan menjaga anda, itu sebab nya ayah berharap kalian segera menikah. Tuan Geo mampu berdiri di samping anda sehingga orang akan melihat tuan Geo sebelum melihat anda."


Gumam Bram dalam hati.


"Mungkin ahir pekan aku akan ke London. Ku serahkan semua pada mu."


menolek pada Bram yang duduk di sofa.


"Baik Nona."


"Tapi kau tidak boleh ikut."


Menatap awas pada Bram.


"Tapi nona?!."


Keberatan.


"Bram kau bisa mengganggu ku?!. Kau tau kan aku pergi dengan Geo."


tersenyum senyum sendiri membayangkan Geo akan melakukan hal seperti saat di dalam lift.


"Waktu itu kan sangat gelap, Aku hanya bisa merasakan dekapan nya tanpa melihat wajahnya memerah atau tidak..?!Aaaaa Geo, Peluk aku lagi."


Gumam gumam dalam hati.


PLAK...!!


Felisya tersadar.


"Eh.. apa yang aku bayangkan tadi?."


Bram mengherdikkan bahu."Mungkin anda membayangkan kemesraan bersama tuan Geo. "


Memicingkan mata nya melirik Felisya.


"Tutup mulut mu BRAM..!! kembali bekerja!."


Kesal Felisya menutupi rasa malu nya.


"Eh.. Kenapa marah??."


Gumam Bram kemudian membuka layar lipat nya masih dengan duduk di sofa

__ADS_1


"Ya Tuhan.. Aku malu sekali."


Felisya kembali sibuk dengan layar lipat nya.


Hening.........Krek...krek...krek Suara jam dinding.


"Bram."


"Ya nona?."


"Ini sudah malam?."


"Lihat arloji mu!! Kenapa bertanya?!."


Kesal Bram dalam hati.


"Sudah nona."


"Aku tidak menghubungi Geo sejak pagi, apa dia baik baik saja?."


"Kenapa tidak menghubungi nya sekarang!!."


Batin Bram.


"Tuan Geo baik baik saja Nona. Anda tidak perlu cemas."


Kembali sibuk dengan pekerjaan nya masing masing hingga malam telah larut.


"Aku sudah selesai. Maaf Bram membuatmu pulang selarut ini."


Senyuman khas Felisya.


"Tidak apa Nona. Silahkan."


Membuka pintu.


Mobil melesat menembus hening nya malam.


Membawa Felisya menuju rumah nya.


Security membuka pintu gerbang. Mobil pun masuk kedalam hingga terparkir sempurna di depan pintu utama.


"Selamat malam nona."


Para pelayan datang menyambut.


"Malam, Lain kali tidak usah menyambutku jika aku pulang larut. Kalian beristirahat saja, sudah lelah bekerja sejak pagi."


Pelayan tidak langsung mengiya kan memilih melirik pada Bram terlebih dahulu.


Bram mengangguk. artinya meng iya kan.


"Baik nona."


Sedikit membungkuk serempak.


Felisya menaiki tangga menuju kamar nya.


Sedangkan Bram pulang kembali ke rumah nya.


Mobil melesat menembus malam. Bram menginjak pedal gas melaju dengan kecepatan tinggi.


"Apa nona bekerja dengan baik?."


Sekertaris Rey menyambut putra nya.


"Nona luar biasa. diluar perkiraan ku.


Wanita jerdas dan mandiri. Sikap nya yang tidak membedakan status sosial membuat dia dicintai semua orang."


"Begitu ya?Semua berkat Bu Inah dan Aisyah."


Sekertaris Rey menimpali.


"Nona akan ke London ahir pekan. Mohon kerahkan orang mu untuk menjaga nya disana. Aku memiliki Firasat buruk."


"Baiklah kita akan ahiri disana."


Menepuk bahu putra nya.


*************


Di Kediaman tuan Ramadhian.


"Mengapa tidak pernah terfikir oleh ku jika Sunat adalah Khitan?!."


" Ah... Sial burung camar ku nyeri sekali."


Masih berbaring diatas bed belum beranjak dari sana. Sebelumnya Geo mengusir semua orang yang berada didalam kamar itu tidak ingin diganggu.


Terngiang ngiang di kepala saat perawat yang tiba tiba membuka ce...lana membuat Geo berteriak memaki hingga Dokter menjelaskan proses khitan yang akan di lakukan.


Hampir pingsan saat melihat jarum suntik menusuk burung camar nya.


"Hii...Astaga!!."


Terngiang bunyi krek krek saat mata nya tidak berani membuka " Mungkin Dokter memahat burung camar ku"


Bergedik ngeri.


tok..tok..


Kristian membuka pintu membawa nampan mendekati Geo.


"Silahkan makan dulu tuan Geo, setelah itu minum obat nya."


terkekeh kemudian terbahak bahak lagi.


"Puas kau mengerjai ku?!."


Geo memicingkan mata nya.


Kristian mengangkat kedua tangannya "Ampun."


Terbahak bahak lagi.

__ADS_1


"Digigit semut apanya..?! Ini nyeri sekali."


Mengintip burung camar yang dibalut kasa dibawah selimut.


" Biar kau intip sepuluh kali, Bentuk nya tetap lah sama..!!"


Hahahahaha.


"Nikmati lah Geo."


"Tutup mulut mu!!."


Melengos kesal.


"Bisa bisa nya kau bertingkah menggelikan begini?."


Kembali tertawa.


"Keluarlah Kris, aku sangat membenci mu!"


Tertawa lagi "Nikmati lah Geofani."


Kristian menutup pintu kamar.


Geo memeriksa ponsel nya. Tidak ada pesan dari Felisya.


"Kau pasti sangat sibuk Felisya."


Menatap langit langit kamar tempat nya berbaring.


"Huh.. Nyeri sekali."


***


Kristian berlalu sambil tersenyum senyum sendiri.


"Ada apa Nak Kristian?."


Tanya Bu Inah.


"Tidak bu, Hanya puas menertawakan Geo."


"Biar Ibu lihat dulu."


Bu Inah masuk kedalam kamar.


Mendekati Geo mengusap dahi nya.


Bu Inah tidak bisa komunikasi dengan Geo. Hanya bisa menunjukan dari sikap dan bahasa tubuh nya disana.


Bu Inah meraih nampan berisi potongan kue menyuapkan pada Geo.


"Makan lah nak Geo."


Geo pun membuka mulut nya. hingga beberapa potongan kue pun Ia habis kan.


Meraih obat anti nyeri dan menelan nya.


"Thank you."


Bu inah tersenyum kemudian keluar dari kamar Geo.


Geo meraih ponsel nya lagi menghubungi adik nya Jhose.


tut...tut...tut...


Jhose tidak kunjung mengangkat panggilan.


"Hallo?"


Terdengar suara mobil sedang berpacu.


"Kau dimana?."


Aku di Tokyo. Sedang dalam misi.Aku akan menghubungi mu esok."


Tokyo. Japan.


Mobil sport sejenis ferrari berpacu melesat menembus larit nya malam di kota Tokyo.


Wuuuuusssshhhhhh......!!!"


"Kau sudah gila Jhose.."


Kapten Hwo merasa tegang berpegangan disana.


"Dooorrrtttt...?! Doooorrrrtttt...?!


Jhose melesatkan amunisi pada ban mobil yang ada di samping nya.


Dooorrrr!!!.


Ban mobil meledak hingga mobil hilang kendali.


Ciiittttt....?!


Mobil berdecit berputar 180 derajat.


Ciiiii......tttttt...!!!


Jhose menginjak pedal rem mendadak melepas seatbelt keluar dari mobil dengar revolver ditangan nya.


Brrraaaakkkkkk...!


Jhose me..nin..ju kaca mobil di depan nya.


-


-


Like...like...like.... Terimakasih kawan sudah mendukung Cinta Tulus Aisyah.


Untuk kelanjutan cerita tentang Jhose lanjut di novel yang berbeda ya kawan..


Berjudul "The Police"

__ADS_1


Jadilah orang pertama yang membeli Vote.. Like..dan komen ya.. Terimakasih..



__ADS_2