
Rasanya begitu cepat seperti mimpi saja, baru kemarin kita bersama saling mencurahkan kasih sayang penuh kebahagian, kini semua hanya tinggal kenangan, sekarang aku benar- benar sendirian, tak ada lagi tempat untukku bersandar, berkeluh kesah dan membagi kebahagian, kemana aku harus menyampaikan rasa rinduku padamu jika aku tidak tahu dimana dirimu berada sekarang, rasanya tak adil untuk kita karena takdir telah memisahkan kita untuk selamanya, bahkan kita tak dipertemukan untuk yang terakhir kalinya, jika akhirnya seperti ini mengapa kita harus bertemu dan dipersatukan, lebih baik menjadi orang asing yang tak saling mengenal, mungkin hati ini tak akan merasakan sakit yang teramat menyakitkan, hingga aku tak tahu lagi bagaimana caranya untuk tersenyum...
Belakangan ini Khalisa terus melamun dikamar Irsyad, kesedihannya karena kehilangan Irsyad membuat semangat dalam hidupnya hilang, ia benci pada takdirnya, mengapa ia harus kehilangan setiap orang yang ia sayangi? apakah ia memang ditakdirkan untuk hidup seorang diri? kenapa bukan dirinya saja yang pergi dari dunia ini?
"Khalisa apa kau baik- baik saja?" tanya Mama-nya yang sengaja menemani Khalisa dirumah kontrakannya.
"yah".
" apa kau tidak ingin makan, seharian ini kau belum makan sama sekali".
"aku sedang tidak nafsu makan".
" walaupun begitu kau harus tetap makan agar tidak sakit".
"nanti saja". jawab Khalisa kembali melamun.
Melihat keadaan putri-nya sekarang benar- benar sangat memprihatinkan, Anjana binggung bagaimana cara agar Khalisa kembali seperti biasa lagi menjalani kehidupannya, sudah seminggu sejak kepergian Irsyad Khalisa hanya melamun didalam kamar Irsyad, padahal ia sudah berusaha membujuk Khalisa untuk kembali tinggal bersama dirumahnya agar bisa melupakan Irsyad, namun Khalisa selalu menolak dengan alasan masih membutuhkan waktu. Orangtua mana yang tak hancur melihat anaknya menderita, namun tak ada yang bisa ia lakukan selain mendoakan kebahagian untuk Khalisa, semoga masih ada cahaya terang yang akan menyinari kehidupan Khalisa.
Meski Khalisa tak ingin makan, Anjana tetap membawakan makanan kedalam kamarnya.
" mama sudah membuatkan makanan kesukaanmu, kamu harus makan yang banyak".
Khalisa melirik sebentar dan menatap makanan didepannya, tetapi ia masih tetap tak berselera,semua makanan dimatanya kini terlihat sama, tak ada yang dapat menarik perhatiannya.
"biar mama suapi".
" tidak usah mah, aku tidak ingin makan".
__ADS_1
Anjana terlihat sedih karena lagi- lagi ia tak bisa membujuk Khalisa, air mata yang sejak tadi ia tahan tak bisa terbendung lagi dan lolos dari matanya begitu saja.
" kenapa Mama menanggis?" tanya Khalisa menyeka air mata diwajah Mamanya.
"Mama sedih melihatmu seperti ini, Mama mengerti perasaanmu tapi kau juga harus tetap melanjutkan hidupmu, kau masih muda, perjalananmu masih panjang".
" aku membutuhkan waktu, semua terjadi begitu cepat, aku benar- benar belum siap kehilangan Irsyad setelah kepergian Alika".
"semua sudah takdirmu nak, kamu harus ikhlas menerimanya, Mama juga pernah berada diposisimu saat Mama kehilangan Papa tapi Mama harus tetap tegar demi kalian anak- anak Mama".
" saat Mama kehilangan Papa masih ada aku, Kanya dan juga kak Kevin, sedangkan aku sendirian, Alika juga sudah pergi meninggalkanku".
"siapa bilang kamu sendirian, masih ada Mama ,Kanya dan juga Kevin, kami selalu ada untukmu".
Khalisa langsung memeluk Mamanya karena merasa terharu mendengar ucapan Mamanya, ia jadi merasa bersalah karena sudah membuat Mamanya bersedih.
"ya sudah lebih baik kau makan dulu, Mama tidak mau kau jatuh sakit".
Khalisa akhirnya tak menolak lagi untuk makan, ia makan disuapi oleh sang Mama yang begitu mencemaskan dirinya.
" lebih baik kau tinggal bersama Mama supaya kamu tidak kesepian". ucap Mama- nya disela makan Khalisa.
"aku tidak mau merepotkan Mama".
" kamu sama sekali tidak merepotkan Mama justru Mama akan sangat bahagia bisa tinggal bersamamu lagi".
Khalisa tampak berpikir, meyakinkan hatinya agar tak ragu lagi dalam mengambil keputusan, mungkin tinggal ditengah keluarga yang sangat menyayanginya akan mengurangi sedikit kesedihannya dan mengobati rasa sepinya.
__ADS_1
" baiklah aku akan tinggal dirumah Mama, meskipun rasanya sulit sekali meninggalkan rumah kontrakan yang dipenuh dengan kenangan keluarga kecilku". ucap Khalisa seraya menatap sekelilingnya.
"Mama yakin kamu akan kembali menemukan kebahagian".
" kebahagianku sudah pergi bersama Irsyad, aku masih menjalankan hidupku saat ini itu semua hanya demi Mama dan keluargaku".
Anjana sedih sekaligus senang mendengar perkataan Khalisa, ia merasa senang karena Khalisa akhirnya mau tinggal bersamanya tapi juga sedih melihat takdir putrinya, menjadi janda diusianya yang masih muda tidaklah mudah, ia takut jika Khalisa akan menutup hatinya dan memutuskan untuk hidup sendiri selamanya, ia sangat mencemaskan masa depan Khalisa.
"sudah malam sebaiknya kamu tidur, besok pagi kita akan mengemas barang- barangmu".
" jual saja semua barang- barangku, aku sudah tidak membutuhkannya lagi, aku hanya akan membawa pakaianku dan beberapa barang penting milikku lainnya".
"baiklah, terserah kamu saja, biar nanti kakakmu Kevin yang mengurus semuanya".
Anjana yang mulai merasa mengantuk, bergegas tidur dikamar sebelah, rasa khawatirnya juga sudah mulai berkurang setelah berbincang dengan Khalisa.
Setelah sang Mama pergi ,Khalisa kini kembali sendiri , ia tidak berniat memejamkan matanya karena malam ini adalah hari terakhirnya bisa berada dirumah kontrakannya, ia ingin menghabiskan waktu untuk mengenang semua hari- hari yang sudah dilaluinya disana terutama dikamar Irsyad yang begitu banyak kenangan mereka berdua, menginggat kebersamaannya kembali bersama Irsyad, dada Khalisa rasanya begitu sesak, sentuhan Irsyad ditubuhnya masih dapat ia rasakan, Semuanya begitu manis hingga rasanya sulit untuk dilupakan, ia masih sangat berharap jika semua yang ia lalui adalah sebuah mimpi buruk dalam tidurnya, semoga ketika ia terbangun dari tidurnya, Irsyad akan tidur disampingnya.
Sudah hampir sepekan Irsyad meninggalkan dunia ini tapi belum ada kabar dari Dayu, mungkinkah Dayu gagal mendapatkan informasi tentang Irsyad? harapan Khalisa yang berharap jika Irsyad belum meninggal sepertinya telah sirna, Irsyad menghilang bagaikan ditelan bumi, bahkan makam Irsyadpun Khalisa tidak mengetahuinya.
"apakah kamu disana tidak merindukanku?". gumam Khalisa seraya menatap foto pernikahannya dengan Irsyad, " kamu jahat karena sudah benar- benar meninggalkanku dan tak kembali lagi".
Khalisa yang belum mengantuk dan merasa bosan berada didalam kamar, memutuskan untuk keluar kamar dan pergi keteras rumah, Khalisa kembali menanggis karena teras adalah tempat favoritnya dan Irsyad untuk bersantai dan menikmati angin malam, ia jadi terbayang- bayang pada kebersamaannya dan Irsyad, ingat pada semua kejahilan Irsyad yang sering membuatnya jengkel, saking tak bisa menahan perasaannya Khalisa sampai tak sengaja berteriak histeris dan menanggis sejadi- jadinya.
"Irsyad.........!!!!".
Teriakan Khalisa berhasil membuat Mama-nya terbangun dan segera berlari menghampiri Khalisa untuk menenangkannya. Anjana yang tak ingin Khalisa larut dalam kesedihannya segera membawa Khalisa kembali kekamarnya.
__ADS_1