
Khalisa merasa canggung saat berada didalam apartemen dokter Nill apalagi mereka hanya berdua saja, dokter Nill sepertinya juga menyadari kegelisahan Khalisa.
"Setelah mengobati kakimu kita akan segera pergi". Ucap dokter Nill untuk menenangkan Khalisa.
Dokter Nill segera pergi kedapur mengambil es batu untuk mengompres kaki Khalisa.
" Tunggu sebentar aku akan kekamar mengambil obat dan sapu tangan untuk mengompres kakimu". ucap dokter Nill meletakkan wadah berisi es batu didekat kaki Khalisa.
"Maaf sudah merepotkanmu".
" Tidak masalah".
Dokter Nill yang sudah kembali dari kamarnya segera mengompres kaki Khalisa dengan sapu tangan yang diisi dengan es batu agar kaki Khalisa tidak mengalami pembengkakan, setelah itu dokter Nill membalut kaki Khalisa menggunakan perban.
"Minum obat ini". ucap dokter Nill menyodorkan sebuah obat dan air minum. "jika kakimu tidak membaik juga segera pergi kerumah sakit".
" iya, terima kasih, saya juga ingin mengucapkan maaf atas kejadian tadi siang".
"maaf untuk kejadian apa? ".tanya dokter Nill tampak binggung.
" saat tadi siang diresto, bukankah dokter marah pada saya? ".
" marah untuk apa, aku sama sekali tidak marah padamu".
"bukankah dokter buru- buru pergi karena kesal pada saya? ".
Dokter Nill tampak tersenyum, ia baru ingat jika tadi siang ia memang sengaja menghindar dari Khalisa, ia tidak menyangka jika Khalisa jadi salah paham padanya.
" tadi siang aku buru- buru pergi karena ada pekerjaan penting". Sahut dokter Nill memberi alasan.
Khalisa tampak terlihat lega, "syukurlah, saya pikir dokter marah".
" bukankah aku sudah bilang jangan panggil aku dengan sebutan dokter, panggil aku Nill saja, kau jangan terlalu formal, lagipula saat ini kita tidak sedang berada dirumah sakit".
"Maaf saya belum terbiasa, tapi akan saya usahakan".
" anggap saja kita teman lama yang baru bertemu kembali jadi kau tidak perlu merasa canggung padaku".
Khalisa hanya bisa tersenyum kaku, bagaimana mungkin ia mengganggap dokter Nill yang belum lama dikenalnya sebagai teman lama.
__ADS_1
"apa saya sudah boleh pergi? " tanya Khalisa berusaha untuk bangun dari duduknya.
Dokter Nill yang melihat Khalisa kesulitan untuk berdiri segera menopang tubuh Khalisa dan membantunya berjalan.
"Aku sudah bilang jika aku akan mengantarkanmu".
" Saya tidak ingin merepotkan dokter lagi".
"aku sama sekali tidak merasa direpotkan dan belajarlah untuk memanggilku Nill saja".
" baik, Nill". ucap Khalisa ragu- ragu.
"Nah seperti itu lebih enak didengar, panggilan dokter membuatku merasa lebih tua". kata dokter Nill tersenyum lebar.
Khalisa melihat jam yang melingkar ditangannya sudah menunjukkan jam 8 malam kurang 5 menit, sepertinya ia akan datang terlambat ke pesta kejutan untuk Sultan, karena insiden yang menimpanya ia jadi belum membelikan Sultan hadiah.
" dok, eh maksud saya Nill, bisakah kita mampir ke toko tadi? "
Dokter Nill tertawa, "sepertinya kau masih saja kaku bicara padaku, bisakah kau rileks, aku tidak akan memakanmu". gurau dokter Nill. " apa kau masih ingin membelikan hadiah untuk temanmu, sepertinya temanmu itu sangat spesial sekali". goda dokter Nill.
"dia bukan hanya sekedar teman tapi juga sahabat baikku".
Setelah Khalisa membelikan hadiah untuk Sultan, dokter Nill menggemudikan mobilnya menuju resto, setelah sampai ia juga tidak membiarkan Khalisa turun dari mobilnya sendiri, dengan hati-hati ia menopang kembali tubuh Khalisa, dokter Nill sangat bersyukur karena insiden kecil ditoko tadi ia jadi bisa sedekat ini dengan Khalisa, bahkan ia dapat dengan jelas mencium aroma wangi ditubuh Khalisa, yang sekarang sudah menjadi candu baginya.
Ternyata acara pesta ulang tahun kejutan untuk Sultan sudah berlangsung, meskipun sedikit terlambat tapi Khalisa masih belum terlewat dengan acaranya.
Semua orang yang melihat kedatangan Khalisa dengan dokter Nill tampak heran dan penasaran, terutama Sultan yang sedang merasa bahagia mendadak jadi kecewa, ia tidak mengira jika saat ini Khalisa sedang dekat dengan seorang pria.
"kenapa dengan kakimu? " tanya Sultan merasa Khawatir menghampiri Khalisa yang baru saja datang.
"tidak apa- apa, hanya terkilir sedikit". sahut Khalisa tak ingin membuat Sultan khawatir.
" apa kamu yakin? "
"Iya tenang saja tadi dokter Nill sudah menolongku untuk mengobatinya". sahut Khalisa.
Sultan baru ingat jika ia pernah bertemu sekali dengan dokter Nill dirumah sakit, pantas saja ia merasa tidak asing melihat wajahnya.
"Happy birthday Sultan, maaf hanya hadiah kecil ini yang bisa aku berikan padamu". ucap Khalisa memberikan hadiah yang baru saja dibelinya.
__ADS_1
Sultan berusaha untuk tersenyum, " Terima kasih, sebenarnya kehadiranmu saja sudah membuatku bahagia, kenapa harus repot- repot memberiku hadiah".
"jadi kamu tidak mau hadiah dariku? baiklah kembalikan padaku". gurau Khalisa.
" bagaimana jika berikan aku satu pelukan saja".
Khalisa yang gemas langsung memukul bahu Sultan.
"ahwww... Kenapa dipukul, bukankah aku minta dipeluk". rengek Sultan.
Sultan melirik kedokter Nill, sengaja ingin melihat reaksi dokter Nill, karena sebagai seorang pria sangat mudah baginya untuk menebak perasaan dokter Nill pada Khalisa, Sultan yakin jika dokter Nill punya maksud untuk mendekati Khalisa, sepertinya mulai sekarang ia harus lebih waspada pada dokter Nill.
" Dasar anak Sultan masih sempat nya mencari kesempatan". Ceplos Nova.
Semua orang tertawa mendengar ucapan Nova, Khalisa tak menyangka jika Nova juga hadir disana, mungkin semua acara ini diadakan adalah ide Malvin dan juga Nova, Khalisa kembali merasa kesal karena hanya dirinya saja yang tidak diberitahukan, lihat saja setelah acara selesai ia pasti akan memarahi Nova.
"Baiklah semuanya kenalkan dia adalah dokter Nill". Kata Khalisa mengenalkan dokter Nill disebelahnya.
" malam semuanya, maaf jika kehadiran saya mengganggu kalian semua". sapa dokter Nill dengan ramah pada semua orang.
Semua orang tampak membalas sapaan dokter Nill dengan senyuman, hanya Sultan saja yang terlihat tidak menyukai kedatangan dokter Nill di pestanya.
"baiklah Khalisa sepertinya aku harus pergi sekarang, disini banyak orang yang akan menjagamu". pamit dokter Nill yang merasa tidak enak berada diantara mereka semua yang tak dikenalnya.
" Kau tidak ingin menunggu sampai acaranya selesai? " tanya Khalisa.
"iya dokter sebaiknya kau minum atau makan dahulu, Kenapa langsung Pulang". tegur Nova.
" tidak apa-apa aku masih kenyang, terima masih banyak atas tawaranmu".
"Kau benar- benar ingin langsung pulang?". tanya Khalisa lagi.
" Iya, apa kau keberatan jika aku Pulang? ". goda dokter Nill.
" untuk apa aku keberatan, jika kau mau pulang yah pulang saja sana". Ketus Khalisa, " terima kasih atas bantuanmu tadi, aku berhutang budi Padamu".
"Khalisa lo gak boleh ketus seperti itu sama orang yang udah menolong lo". omel Nova.
Dokter Nill hanya tersenyum, tak diambil hati sama sekali sikap ketus Khalisa padanya.
__ADS_1
" baiklah aku pamit pulang, maaf Sudah mengganggu acara kalian". ucap dokter sebelum akhirnya meninggalkan resto.