
Tak ada yang bisa menghindar dari takdir
suka ataupun tidak suka harus diterima dengan lapang dada .........
Khalisa hanya bisa menangisi nasib buruk yang harus menimpa dirinya, mengapa sekarang anaknya yang harus menjadi korban dari keegoisan mereka, Alika yang tak mengerti apapun, yang harusnya bermain diusianya kini harus berada disituasi yang rumit, bahkan Alika belum mengerti dan bisa memilih antara mama ataupun papa nya tapi mengapa Arion begitu teganya memperalat Alika demi kepentingannya sendiri.
"hentikan, kamu jangan menangis lagi, aku janji akan segera menemukan Arion".
" bagaimana aku bisa tenang jika keberadaan Alika saja tidak kita ketahui, aku sangat mencemaskan Alika".
"kamu pikir aku tidak mencemaskan Alika? meskipun Alika bukan darah dagingku tapi aku sangat menyayanginya seperti putriku sendiri".
" kenapa sejak tadi kalian terus saja bertengkar, apa dengan berdebat kalian bisa menemukan Alika". omel Nova menatap Khalisa dan Irsyad bergantian.
Khalisa dan Irsyad terdiam, mereka tak lagi berdebat satu sama lain karena mereka merasa apa yang Nova katakan memang benar.
"aku akan pergi bersama Dayu mencari Arion, aku janji padamu tidak akan pulang sebelum aku menemukan Arion".
" biarkan aku ikut denganmu". pinta Khalisa
"tidak. lebih baik kamu dirumah saja bersama Nova".
" iya Khalisa biarkan mereka saja yang pergi, gue akan temenin lo disini, kalo perlu gue bakal nginep dirumah lo". bujuk Nova
"kali ini aku setuju dengan Nova". sahut Irsyad
" ok. kalian hati-hati".
Sebelum pergi Irsyad mencium kening Khalisa, "kamu harus kuat". bisik Irsyad
Irsyad segera pergi bersama Dayu menggunakan mobil Dayu, malam yang begitu dingin mereka tidak ingin sampai masuk angin jika keliling kota jakarta dengan motor milik Irsyad.
Baru beberapa menit Irsyad dan Dayu pergi tapi Khalisa sudah tak sabar menunggu kabar dari mereka.
" tidak bisakah lo duduk aja, jangan kayak setrikaan". omel Nova yang sejak tadi memperhatikan Khalisa hanya mondar mandir.
"gue nggak akan tenang sebelum dapat kabar dari mereka".
π₯π³π¦π΅π΅.......π₯π³π¦π΅π΅
saku celana Khalisa bergetar, Khalisa sangat senang karena ia pikir Irsyad yang menghubunginya, Khalisa segera mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
" Sultan". gumam Khalisa.
__ADS_1
Khalisa tampak kecewa karena yang menghubunginya ternyata bukan Irsyad melainkan Sultan.
"untuk apa Sultan menghubungiku malam-malam begini". gumam Khalisa lagi, menggeser tombol hijau dihp nya.
Sultan :" malam Khalisa maaf jika aku mengganggumu".
Khalisa :"iya tidak apa, apakah ada hal penting?". tanya Khalisa to the point karena sedang tidak mood.
Sultan :"kamu dimana, apa Alika sedang bersamamu?"
Khalisa :"aku dirumah, memangnya kenapa?". tanya balik Khalisa yang penasaran.
Sultan :"tidak apa, hanya saja aku melihat anak kecil yang mirip sekali dengan Alika, mungkin aku hanya salah lihat saja, lagipula kamu juga sedang berada dirumah".
Khalisa:"aku memang dirumah tapi Alika tidak bersamaku, sekarang coba katakan kamu sedang dimana?"
Sultan :"aku saat ini berada dirumah sakit Harapan".
Khalisa :"kamu jangan pergi kemana-mana, aku akan segera menyusulmu kesana".
Sultan :"baiklah aku akan menunggumu".
Khalisa segera menutup panggilan Sultan , buru-buru mengambil tas miliknya yang ia letakkan sembarang diatas sofa.
" barusan Sultan telepon, dia lihat Alika dirumah sakit".
"lo serius".
" yah iyalah lo pikir gue masih sempet bercanda disituasi genting seperti ini". omel Khalisa
"gue pikir lo lagi mencoba menghibur diri sendiri". sahut Nova nyengir.
Sejak tadi menaiki angkot Nova tak banyak bicara lagi, ia hanya mengekor dibelakang Khalisa, mengikuti langkah Khalisa yang begitu cepat, membuat napas nya terengah-engah karena kelelahan.
" lo nggak mau kasih kabar ke Irsyad". tegur Nova saat mereka berada di lobi rumah sakit
"lebih baik kita pastiin dulu kalo yang Sultan lihat benar Alika".
" iya benar, bisa jadi Sultan cuma salah lihat".
Mereka langsung mencari keberadaan Sultan yang belum mereka lihat batang hidungnya, mata mereka sibuk mengawasi setiap orang yang berada disana, berharap menemukan sosok Sultan yang sedang mereka cari.
"kalian sedang mencari seseorang". goda Sultan yang tiba-tiba sudah berada di belakang mereka.
__ADS_1
" dasar anak Sultan ngagetin aja". omel Nova mengelus dadanya.
"apa kalian sudah sampai sejak tadi".
" baru saja, dimana kamu melihat Alika?" tanya Khalisa yang sudah tidak sabaran.
"tadi aku melihat di bawa ke UGD".
Khalisa mengikuti Sultan dengan perasaan yang bercampur aduk, antara senang ia bisa menemukan Alika namun juga cemas dengan keadaan Alika jika benar yang berada di UGD adalah Alika.
Nova merangkul Khalisa seakan mengerti dengan apa yang sedang Khalisa rasakan saat ini, ia mencoba memberikan semangat pada Khalisa.
Dengan hati yang berdetak tak karuan Khalisa memasuki ruang UGD, ia berharap Alika akan baik-baik saja.
Tubuh Khalisa bergetar hebat saat melihat Alika putrinya terbaring tak sadarkan diri dengan berlumuran banyak darah, Khalisa merasa kakinya lemas tak dapat lagi menopang tubuhnya yang ramping, pandangan Khalisa mulai kabur dan gelap.
" Khalisa....Khalisa!!" teriak Nova histeris melihat Khalisa yang jatuh pingsan, ia juga tak bisa menahan airmata nya saat melihat keadaan Alika, jika bisa ia berharap biar dirinya saja yang menggantikan Alika terbaring disana, mengapa anak sekecil Alika harus merasakan penderitaan seberat itu?
"tenang Nova, jika lo lemah terus siapa yang akan kasih kekuatan untuk Khalisa nanti". ucap Sultan yang juga cemas dan tak tega melihat keadaan Khalisa saat ini.
Dibantu perawat mereka memindahkan tubuh Khalisa ke atas brankar, perawat juga memberikan infus pada tubuh Khalisa yang lemah.
" tolong jaga Khalisa sebentar, gue mau telepon Irsyad". pinta Nova pada Sultan sebelum dirinya keluar ruangan.
Nova menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, berusaha menenangkan dirinya sebelum menghubungi Irsyad, ia tidak ingin membuat Irsyad cemas.
Nova :"Irsyad lo dan Dayu kerumah sakit Harapan sekarang juga".
Irsyad:"siapa yang sakit, apa Khalisa baik-baik aja?".
Nova :"yah Khalisa baik-baik saja, sekarang pokoknya lo datang kesini".
Irsyad:"tapi gue belum berhasil nemuin Arion".
Nova :"lo nggak perlu nyari Arion lagi, gue dan Khalisa udah temuin Alika".
Irsyad:"ok, sekarang gue dan Dayu langsung kesana".
Nova merasa bersalah karena tidak bisa berbicara jujur pada Irsyad, biarkan saja Irsyad melihat sendiri keadaan Khalisa dan juga Alika, Nova tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Irsyad nanti saat melihat keadaan Khalisa dan Alika yang terbaring lemah tak sadarkan diri, karena Nova sangat tahu seperti apa tulusnya perasaan Irsyad untuk mereka, Irsyad sangat menyayangi mereka melebihi rasa sayangnya pada dirinya sendiri.
Nova menyandarkan tubuh nya yang lemas di dinding, seketika kekuatan dalam tubuhnya menghilang, ia berusaha menghapus air matanya yang terus saja mengalir tanpa henti, Sultan benar dirinya harus tetap kuat untuk Khalisa, ia tidak boleh lagi meneteskan airmatanya apalagi didepan Khalisa.
ππππππππ
__ADS_1