
Khalisa yang baru selesai beres-beres rumah dikagetkan dengan suara ketukan pintu yang cukup keras, siapa sebenarnya tamu yang kurang sopan yang bertamu kerumahnya? dengan kesal Khalisa membukakan pintu. mata Khalisa tak bisa berkedip, ia tak percaya jika Tante Mira yang ada didepan pintu rumahnya, seketika perasaan Khalisa merasa tidak enak, iya yakin jika tante Mira memiliki maksud tertentu.
"tante ada perlu apa?tapi sayang sekali Irsyad sedang tidak ada dirumah, ia sudah berangkat bekerja".
" aku tahu, aku tidak ingin bertemu dengan Irsyad, aku sengaja datang kesini untuk mencarimu".
"ingin bertemu denganku, untuk apa?".
" kau tidak ingin mempersilahkanku masuk terlebih dahulu".
"maaf tante silahkan masuk". ucap Khalisa menggeser tubuhnya yang menghalangi jalan tante Mira.
" itulah perbedaan jika tidak memiliki pendidikan yang tinggi, tidak memiliki etika sama sekali". sindir tante Mira.
Sementara tante mira sibuk melihat-lihat rumahnya, khalisa mengambil kesempatan membuatkan minum untuk tante mira, meski hanya segelas air teh Khalisa berharap tante mira akan menyukainya.
" Silakan diminum airnya tante". ucap Khalisa dengan senyum ramah.
"tidak perlu, aku kesini tidak untuk minum air tehmu". ketus tante Mira, duduk didepan Khalisa.
Khalisa hanya bisa menahan amarah didadanya mendapat perlakuan yang tidak menggenakan dari tante Mira, walau bagaimanapun juga wanita didepannya adalah ibu yang sudah melahirkan Irsyad suaminya.
" sebenarnya apa yang ingin tante bicarakan denganku?". kata Khalisa yang tak ingin berbasa basi lagi.
"kau pasti bukanlah wanita bodoh yang tak mengerti apa tujuanku, tentu kau tahu bukan aku hanya ingin kau dan Irsyad berpisah".
" maaf tante tapi aku dan Irsyad saling mencintai".
"jika kau mencintai Irsyad, kau tidak akan membiarkan Irsyad berkorban untukmu dan hidup menderita bersamamu".
" kami berdua selama ini hidup bahagia".
"kau ini memang tidak tahu diri terlalu naif, apa menurutmu Irsyad akan berbicara langsung padamu jika dia merindukan kehidupannya yang dulu yang penuh kemewahan".
Khalisa terdiam, kali ini ia sependapat dengan tante Mira, siapa juga orang yang sudah memiliki segalanya ingin hidup susah.
" kau jangan egois menahan Irsyad disisimu karena alasan cinta, jika kau benar mencintai Irsyad biarkan dia kembali ke kehidupan lamanya, bukankah kau juga pernah menjadi seorang ibu, bagaimana rasanya saat kau kehilangan anakmu?itu juga yang aku rasakan selama ini".
__ADS_1
"aku mengerti tapi kita berbeda aku tidak akan bisa bertemu Alika lagi, sedangkan kau masih bisa bertemu dengan Irsyad kapanpun kau mau, aku tidak pernah menjauhkan dia darimu, Irsyad masih tetap putramu".
" sebenarnya apa yang kau inginkan, apa kau mengingginkan uang, katakan saja berapa yang kau inginkan?".
"aku memang susah tapi aku tidak membutuhkan uang darimu, aku masih bisa mencarinya sendiri".
" kau ini sombong sekali, kau pikir dirimu itu hebat, kau pasti sudah mencuci otak anakku".
"maaf tante tapi aku tidak merasa diriku hebat, aku hanya berusaha untuk memperjuangkan cintaku, aku akan meninggalkan Irsyad jika dia sendiri yang mengingginkannya".
" baiklah kita akan lihat nanti, bagaimana kesombonganmu itu akan membuatmu menyesal dan cinta yang kau banggakan akan membuat kau terluka". ancam tante Mira.
Khalisa berusaha menahan airmatanya yang ingin menetes, ia tidak ingin terlihat lemah didepan tante Mira.
"aku akan pulang, jangan coba menjelekkanku didepan Irsyad atau aku akan semakin membencimu". ancam tante Mira lagi.
Khalisa yang hendak berdiri berniat mengantarkan tante Mira sampai depan pintu, tidak jadi bangun karena tangan tante Mira menghentikannya.
" tidak perlu mengantarku, aku bisa pergi sendiri". ketus tante Mira.
Setelah kepergian tante Mira, Khalisa menyandarkan tubuhnya disofa agar lebih rileks karena didekat tante Mira untuk beberapa saat membuatnya merasa tegang, Khalisa jadi binggung apa yang harus ia lakukan sekarang, meskipun terlihat biasa saja didepan tante Mira namun hatinya sebenarnya merasa takut, bagaimana jika tante Mira serius dengan semua ancamannya, mengapa ujian selalu saja datang didalam hidupnya? tidak bisakah takdir membiarkan hidupnya bahagia?
"kau sedang ada masalah?" tegur oppa Seo jun yang cemas melihat Khalisa tak bersemangat seperti biasanya.
"aku baik-baik saja oppa".
" benarkah? lalu mengapa kau tidak sadar jika sejak tadi temanmu sedang melambaikan tangannya padamu".
"teman". kata Khalisa tampak terkejut dan binggung.
" iya temanmu yang barbar, lihatlah dia tampak kesal karena sejak tadi kau mengacuhkannya". sahut oppa Seo jun tersenyum mengarahkan jari telunjuknya ke Nova yang duduk disalah satu meja pengunjung.
"Nova". Khalisa tampak terkejut, bukannya merasa bersalah Khalisa justru cekikikan melihat Nova yang tampangnya kesal.
" maaf oppa boleh aku menghampiri Nova sebentar".
"silahkan tapi jangan lama-lama".
__ADS_1
" terima kasih banyak oppa". Khalisa membungkukkan badannya dan segera berjalan menghampiri Nova.
Nova yang marah, pura-pura tidak menyadari kedatangan Khalisa, ia menikmati makanan didepannya tanpa menghiraukan Khalisa sama sekali.
"lo marah sama gue, sumpah gue gak tahu kalo lo datang".
" really, dari tadi tangan gue rasanya mau patah tapi tetap saja lo cuekin".
"gue benaran gak sadar kalo ada lo, sorry yah Nova bestie gue yang paling cantik". bujuk Khalisa.
" giliran ada maksudnya aja bilang gue cantik, mangnya lagi mikirin apa sih sampai gak sadar ada bidadari didekat lo". gurau Nova.
"lo tuh yah narsis banget jadi orang". ledek Khalisa
" biarin, by the way lo lagi ada masalah?"
"sedikit, nanti yah gue ceritain sama lo tapi tunggu jam istirahat gue, lo mau nunggu kan?".
" okey, apa sih yang nggak buat sahabat gue". sahut Nova sambil nyengir.
Khalisa yang gemas mencubit pipi Nova, membuat Nova manyun dan mengelus pipinya yang terasa sakit.
Khalisa yang sudah diijinkan beristirahat, mengajak Nova ke pantry agar mereka lebih enak mengobrol, hanya memiliki waktu setengah jam, Khalisa tak ingin membuang waktunya, ia mulai menceritakan masalah tante Mira kepada Nova sambil menikmati bekal makanan yang ia bawa dari rumah.
"gue nggak nyangka kalau tante Mira bisa sejahat itu, memang salah lo kalau Irsyad cinta sama lo". ucap Nova yang terlihat kesal.
" gue jadi binggung harus gimana".
"yah lo harus perjuangin dong cinta lo, jangan sia-siain pengorbanan Irsyad selama ini, gue yakin kebahagian Irsyad itu lo".
"makasih karena lo selalu support gue, perasaan gue jadi sedikit lega setelah ngomong sama lo".
" sahabat gak butuh ucapan makasih, cukup traktir gue aja". ucap Nova cengegesan
"dasar lo, itu sih namanya pemerasaan". gurau Khalisa melayangkan tangannya kepundak Nova.
" enteng banget yah tangan lo". gerutu Nova menahan rasa perih dipundaknya.
__ADS_1
Tertawalah meski hatimu ingin sekali menanggis...
πππππππππ