
Meski terasa amat sulit namun aku telah berhasil melewati hari-hari tanpamu, seperti ada yang hilang didalam hidupku tapi aku mencoba untuk mengabaikannya, terus menjalani hidupku yang terasa hampa tanpa kehadiranmu...
Kamu pernah hadir didalam hidupku seperti sebuah payung ditengah hujan, meski hujan bertambah lebat kamu tidak pernah menyerah berada dibawah guyuran hujan, hingga akhirnya payung itu menghilang terbawa derasnya air hujan dan tak pernah bisa kutemukan lagi...
Kuharap kamu bahagia meski tak lagi bersamaku, hanya doa yang bisa kuberikan untukmu saat ini, biarlah kusimpan cintaku padamu dilubuk hatiku yang terdalam sampai nanti Tuhan menyatukan kita kembali...
Cintamu
Khalisa al zahra
Malam ini rasanya mata Khalisa sulit untuk di pejamkan, ia kembali teringat pada Irsyad, kenangannya tentang Irsyad muncul kembali di benaknya, sudah lama sekali rasanya ia tak mendengar suara Irsyad, suara yang dulu sangat melekat ditelinga dan hatinya, ada rindu yang begitu mendalam yang tak bisa lagi ia bendung, ingin sekali ia pergi menemui Irsyad namun sangat mustahil baginya karena makam Irsyad jaraknya terlalu jauh dan ia juga tak menghafal jalanan menuju kesana, bisa saja ia meminta tolong pada Dayu dan Nova mengantarnya namun ia tidak ingin merepotkan Dayu dan Nova lagi.
Sekarang Khalisa hanya bisa memendam perasaannya, ia tidak boleh menunjukkan kesedihannya didepan semua orang agar mereka tak mengkhawatirkannya terutama Mamanya, biarlah mereka berpikir jika dirinya sudah move on dari masa lalunya bersama Irsyad karena sejujurnya sampai kapanpun Irsyad akan tetap singgah dihatinya, tak akan ada yang bisa menggantikan posisi Irsyad didalam hidupnya, ia rela menghabiskan sisa hidupnya seorang diri sampai maut menjemputnya untuk menyatukan kembali dirinya dan Irsyad.
"Tunggu aku Irsyad, aku akan tetap menjadi my dear mu". gumam Khalisa pelan.
Khalisa yang merasa bosan membuka gallery di ponselnya, ia melihat-lihat foto Irsyad dan Alika yang sempat ia abadikan dikamera, meski hanya melihat gambar saja ia berharap bisa mengobati rasa rindu yang ia rasakan pada mereka berdua, ia masih tak menyangka kehidupannya yang dulu hanya tinggal kenangan saja, Mereka berdua hadir dan pergi dari hidupnya tanpa ia duga-duga.
Khalisa yang tak ingin terlarut dalam kesedihannya mencoba untuk memejamkan matanya berharap Irsyad dan Alika akan hadir didalam mimpi indahnya.
Suara rintikan air terdengar samar- samar ditelinga Khalisa yang masih tertidur lelap, pelan- pelan Khalisa mulai membuka matanya, menenggok ke jendela kamar yang gorden nya sedikit tersingkap, ternyata hari sudah mulai terang namun tampak mendung, terlihat kaca di jendela kamarnya berembun pertanda jika diluar sedang turun hujan, cuaca yang terasa dingin membuat Khalisa malas untuk bangun, ia memilih untuk menarik selimut dan kembali tertidur padahal hari ini giliran ia bekerja shift pagi.
" tok....tok".
Suara ketukan pintu memekikkan telinga Khalisa yang sudah mulai terlelap lagi dalam tidurnya.
"siapa? ". teriak Khalisa dengan suara berat khas orang baru bangun tidur.
" kamu masih tidur? diluar ada nak Sultan".
Khalisa melompat kaget dari ranjangnya mendengar perkataan Anjana.
__ADS_1
"Sultan.. mau apa pagi-pagi dia kemari". gumam Khalisa pelan.
" aku akan mandi, tolong suruh Sultan tunggu sebentar". Ucap Khalisa segera menuju kamar mandi dengan terburu-buru.
Selesai mandi, Khalisa yang sudah rapi segera menuju teras rumah untuk menemui Sultan.
"Sultan kenapa bisa pagi-pagi sudah sampai disini? ". tegur Khalisa berdiri dihadapan Sultan.
" Yah naik mobil". sahut Sultan dengan entengnya.
"bukan itu maksudku, tapi mau apa pagi-pagi seperti ini sudah dirumahku? ".
Sultan hanya tersenyum, tak menggubris pertanyaan Khalisa.
" apa kamu tuli tidak mendengar ucapanku? " ketus Khalisa.
"masih pagi tidak baik marah-marah, lebih baik kamu duduk".
" Kamu terlihat lebih manis jika diam". ledek Sultan. "apa kamu tidak melihat ada yang beda dariku hari ini? ".
Khalisa yang binggung dan penasaran langsung memperhatikan Sultan dari atas kepala hingga ujung kaki dengan intens, yah.. ternyata pagi ini penampilan Sultan memang berbeda dari biasanya, Sultan yang biasanya selalu menggunakan kemeja dengan setelan jas namun pagi ini Sultan tidak menggunakan jas melainkan sweater yang Khalisa berikan sebagai hadiah dihari ulangtahunnya.
" bagaimana menurutmu, apa cocok denganku, seleramu memang bagus". Ucap Sultan.
"Yah cocok, bukan seleraku yang bagus tapi memang dirimu yang keren jadi pantas menggunakan apapun, barang murahan pun terlihat mahal jika kamu yang memakainya". Puji Khalisa sedikit merendah.
" jangan bicara seperti itu, aku sangat suka hadiahmu ini, aku pasti akan sering memakainya".
Khalisa tersenyum bahagia mendengar perkataan Sultan, ia begitu senang karena ternyata Sultan sangat menyukai hadiah darinya.
"jadi kamu kesini Hanya ingin pamer saja". ledek Khalisa.
__ADS_1
" Tidak juga, sebenarnya aku ingin menjemputmu, aku lihat hujan pagi ini awet, bukankah lebih baik kamu ikut denganku, kebetulan pagi ini aku ada meeting dengan klien dikafe dekat Resto, jadi aku pikir bisa sekalian memberimu tumpangan".
"harusnya kamu tidak perlu repot- repot menjemputku, aku bisa berangkat sendiri dengan ojol atau angkot, aku juga bisa menggunakan jas hujan atau payung agar tidak terkena hujan".
" terserah tapi sekarang aku sudah terlanjur datang, kamu tidak boleh menolak".
"baiklah tunggu sebentar, aku akan bersiap dulu, apa kamu ingin minum teh atau kopi? "
"tidak usah, tadi aku sudah sarapan dirumah, lagipula nanti aku akan bertemu klien dikafe, aku tidak mau perutku jadi kembung karena terlalu banyak minum".
" baiklah, aku juga tidak memaksa". Ucap Khalisa menyelonong masuk kedalam rumah meninggalkan Sultan yang hanya tersenyum melihatnya.
Setelah berpamitan dengan Anjana, Khalisa dan Sultan segera pergi, meski cuaca yang terlihat tak mendukung namun semangat Khalisa untuk bekerja sangatlah besar, Khalisa berharap setelah kejadian yang dialaminya, ia dapat melanjutkan mimpinya kembali agar bisa menjadi wanita mandiri yang sukses, bekerja diresto bukanlah tujuan akhirnya tapi tempat singgahnya untuk menuju masa depan yang lebih baik, Khalisa masih berharap suatu saat nanti ia bisa memiliki resto sendiri.
"apa yang kamu pikirkan? ". tegur Sultan menggagetkan Khalisa yang sedang melamun.
" tidak ada".
"benarkah? tapi terlihat jelas diwajahmu ada yang sedang kamu pikirkan".
" apa ada tulisan diwajahku ini, dasar sok tahu". Omel Khalisa.
"jadi wanita jangan ketus, nanti wajah cantikmu cepat keriput". ledek Sultan
" biarin aja, bukankah bagus jadi tidak akan ada pria hidung belang yang akan mendekatiku". gurau Khalisa
"apa pria hidung belang yang kamu maksud itu adalah dokter Nill". ledek Sultan yang tiba-tiba jealous teringat dokter Nill.
"Hey mengapa asal menuduh orang saja, aku tidak mengatakan jika dokter Nill adalah pria hidung belang, mengapa beropini sendiri". omel Khalisa melirik Sultan dengan tajam.
Sultan yang sadar dengan tatapan Khalisa hanya tersenyum kecut, ia tidak menyangka jika Khalisa akan membela dokter Nill seperti itu, sebenarnya sudah sedekat apa hubungan Khalisa dengan dokter Nill? meski penasaran tapi Sultan enggan bertanya langsung pada Khalisa.
__ADS_1