
Kadang aku berpikir untuk menyerah,,
Semakin ku memikirkan tuk melupakanmu semakin aku merasa terluka,,
Rasanya ingin ku pergi kesisimu, merangkai mimpi kita yang belum usai,,
Tapi aku sadar jika semua itu hanyalah mimpi bagiku,,
Khalisa termenung didepan cermin, kembali teringat Irsyad, sangat tidak mudah baginya untuk menghilangkan sosok Irsyad yang pernah hadir didalam hidupnya, apalagi banyak cerita yang telah mereka lalui bersama, melanjutkan hidupnya bukan berarti selama ini ia telah bisa melupakan masa lalunya, sampai kapanpun Irsyad akan tetap singgah didalam hatinya.
Memang sangat sulit berpura-pura bahagia didepan banyak orang, tapi Khalisa harus melakukannya demi sang Mama agar tak sedih memikirkannya, padahal sebenarnya hati Khalisa masih sangat terluka kehilangan dua orang yang sangat ia sayangi.
Sementara itu dimeja makan Anjana dan Kevin saling menatap tak percaya, melihat sikap Khalisa membuat mereka sadar jika Khalisa masih terlarut pada masa lalunya, bagaimana bisa jika selama ini mereka berpikir Khalisa sudah benar-benar melanjutkan hidupnya dan melupakan semua kesedihannya.
"apa Mama salah bicara?" tanya Anjana pada Kevin.
"Mama nggak salah, hanya saja kita gak tahu jika hati Khalisa masih terluka hingga saat ini".
" iya Mama kira Khalisa sudah bisa melupakan masa lalunya".
"mungkin Khalisa masih butuh waktu Ma, karena semua yang terjadi begitu cepat didalam hidupnya". hibur Kevin
" semoga saja". sahut Anjana penuh harap.
"bagaimana hubunganmu dengan Ketty?".
" baik".
"apanya yang baik, Mama bukan tanya kabar Ketty". ledek Anjana
" lalu aku harus jawab apa, hubungan kami memang baik-baik saja".
"apa kamu serius dengan Ketty?".
" aku masih berpikir, aku tidak mau terlalu terburu-buru lagi".
"yah , jangan sampai seperti hubunganmu dan Ayumi".
" apa menurut Mama Ketty wanita yang baik untukku? karena sebelumnya Mama tidak menyukai Ayumi namun aku tidak mendengarkan akhirnya aku sendiri yang kecewa".
"meskipun Mama baru bertemu Ketty beberapa kali tapi menurut Mama Ketty wanita yang baik".
" yah penilaian Mama memang selalu benar". sahut Kevin nyengir.
"lebih baik kau mantapkan dahulu hatimu, baru ambil keputusan yang terbaik untuk hubungan kalian".
__ADS_1
"tentu Mah, Kevin juga nggak mau sampai gagal lagi, malukan sama orang kalo anak Mama yang ganteng ini sampai gagal nikah lagi".
" dasar kamu, masih saja sempet-sempetnya narsis". ucap Anjana sembari menoyor kening Kevin.
"sakit Mah, nanti kalo jidat aku benjol gak ganteng lagi gimana?". protes Kevin mengusap-usap keningnya.
Anjana yang geregetan segera menoyor kembali kening Kevin, tidak peduli dengan Kevin yang protes padanya.
Kevin yang belum merasa kenyang dengan mie instannya, merasa tergiur melihat Anjana yang sedang makan, ia segera bergegas mengambil nasi dan menyantap sop iga bersama Anjana, mereka tampak menikmati kebersamaan mereka, Kevin yang anak laki satu-satunya memang sangat dekat dengan Anjana, ia bahkan tak malu bermanja- manja dengan Mamanya.
" menurut Mama Sultan bagaimana?" tanya Kevin disela makannya.
"kenapa tiba-tiba bertanya soal Sultan?".
" apa Mama berpikiran sama denganku untuk menjodohkan Khalisa dengan Sultan".
"jangan macam-macam, jika Khalisa tahu dia pasti akan marah".
" Khalisa tidak perlu tahu".
"bagaimana caranya?".
" aku akan mendukung Sultan untuk dekat dengan Khalisa, aku akan buat seolah- olah semua kebetulan bukan direncanakan".
"terserah kau saja, Mama tidak ingin memaksa Khalisa, semua keputusan Mama serahkan pada Khalisa, karena dia sendiri yang menjalaninya dan merasakannya, kita cuma bisa mendukungnya saja".
"jika itu yang terbaik untuk Khalisa Mama akan mendukungmu, Mama rasa Sultan cukup baik untuk Khalisa".
" yah, aku sudah mencari tahu soal Sultan, dia memang pria sempurna yang cocok untuk Khalisa".
"sepertinya kau niat sekali". ledek Anjana
" aku memang sudah berniat dan bertekad". sahut Kevin cengegesan
***
Pagi-pagi sekali Khalisa sudah bangun karena semalam tidurnya sangat nyenyak, ia berjalan keluar kamar menuju dapur karena mendengar suara berisik dari sana.
"kau sudah bangun?" tegur Anjana yang melihat kedatangan Khalisa.
"iya, Mama sedang apa?"
"biasa Mama sedang membuat kue".
" apa aku boleh membantu Mama?".
__ADS_1
"tidak usah, kau kan harus bekerja".
" ini masih terlalu pagi, aku masih punya banyak waktu".
"baiklah jika kau memaksa".
Dengan telaten Khalisa membantu Anjana didapur, ia yang sebelumnya sudah terbiasa memasak terlihat sangat cekatan.
" apa Mama tahu, Alika sangat suka kue bolu buatan Mama". ucap Khalisa tersenyum namun air mata tampak menggembang dimatanya.
Anjana yang menyadari kesedihan Khalisa, hanya bisa mengusap punggung Khalisa untuk menenangkannya.
Sebenarnya bukan hanya teringat dengan Alika, Khalisa juga kembali mengginggat Irsyad disaat ia membuat kue brownies untuk Irsyad di hari ulang tahunnya, namun ia tidak ingin membuat Anjana bertambah sedih melihat dirinya, apalagi semalam iya sudah membuat Anjana kecewa dengan sikapnya.
"Mama bisa mengerjakan semuanya sendiri, kamu kembali saja kekamarmu dan bersiap-siap".
" aku baik-baik saja, biarkan aku membantu Mama kali ini, jangan menolak terus bantuanku". protes Khalisa, "dihari tua Mama, harusnya Mama istirahat saja, aku dan kak Kevin kan bisa membiayai hidup Mama dan Kanya, tapi Mama masih saja sibuk berjualan kue".
" Mama tidak mau merepotkan kalian berdua".
"Mama dan Kanya adalah tanggung jawab kami, jadi Mama gak perlu sungkan seperti itu".
" terima kasih karena kau sudah peduli pada Mama dan Kanya tapi Mama tetap akan berjualan kue meskipun kalian melarang Mama karena Mama senang melakukannya, jika seharian hanya berdiam diri saja di rumah Mama pasti akan merasa bosan".
"baiklah tapi setidaknya jangan melarang aku untuk membantu Mama".
" iya asalkan kamu tidak bersedih lagi".
Khalisa yang merasa terharu lantas memeluk Anjana, ia sangat bersyukur memiliki orangtua seperti Anjana yang begitu baik dan peduli pada kebahagian anak-anaknya. Ia berjanji tidak akan membuat Anjana kecewa lagi padanya, untuk Khalisa saat ini yang terpenting adalah kebahagian Anjana, apapun akan ia lakukan agar Anjana bisa bahagia, meskipun ia harus berpura-pura bahagia juga.
Khalisa yang sudah selesai membantu Anjana didapur juga membantu Anjana membuka warung didepan rumahnya, ia membantu Anjana menata semua kue-kue kedalam etalase kaca, sehingga terlihat lebih menarik.
"selamat pagi". sapa Sultan yang baru datang menggagetkan Khalisa.
" pagi, ngapain pagi-pagi dateng kerumah orang". Ketus Khalisa.
"kenapa jutek sekali, apa aku tidak boleh datang kerumahmu lagi".
" masalahnya kamu datang terlalu pagi, jangan bilang jika kamu mau menumpang sarapan".
"apa boleh". gurau Sultan membuat Khalisa memutar bola matanya malas.
" tidak boleh". Ketus Khalisa lagi
Anjana yang baru keluar dari dalam rumahnya tampak senang melihat kedatangan Sultan.
__ADS_1
"eh nak Sultan, ayo silahkan masuk kita sarapan bersama". Tegur Anjana tersenyum ramah.
Sultan yang mendengarnya tentu saja sangat senang dan tanpa menolak segera masuk tak menghiraukan Khalisa yang melotot menatapnya.