Cinta Untuk Khalisa

Cinta Untuk Khalisa
Bab 86


__ADS_3

Khalisa memandang wajah pria didepannya yang sedang tertidur pulas, wajah Irsyad begitu tampak tentram membuat hati Khalisa merasa nyaman saat melihatnya.


Diam-diam saat ini Khalisa sedang berdiri diluar kamar Irsyad yang pintunya sedikit terbuka, Khalisa belum bisa memejamkan matanya meskipun hari telah larut, ia masih kepikiran ucapan Sultan, mungkin ucapan Sultan semuanya benar tapi sayangnya Khalisa berpikir jika dirinya tak bisa setegar Sultan, setiap orang memang tak bisa disamakan mereka memiliki takaran masing-masing, jika Sultan kuat maka bukan berarti orang lainpun harus sekuat dirinya.


Khalisa melihat Irsyad yang gelisah dalam tidurnya, perlahan Khalisa yang berdiri didekat pintu mulai menghampiri Irsyad, untuk memastikan jika Irsyad baik-baik saja, badan Irsyad terlihat menggigil, Khalisa yang khawatir segera meletakkan tangannya diatas kening Irsyad, Irsyad juga mulai menggigau memanggil nama Alika.


"astaga badan kamu panas sekali". ucap Khalisa panik.


Khalisa langsung menggambilkan air dan handuk kecil untuk menggompres kening Irsyad, ia jadi merasa bersalah pada Irsyad, pasti karena dirinya Irsyad menjadi sakit, harusnya Irsyad tadi tak usah memaksakan dirinya terkena guyuran hujan untuk menjemputnya saat pulang bekerja.


Irsyad mulai membuka matanya yang terlihat sayu, ia tersenyum berharap Khalisa tak akan merasa cemas lagi melihat dirinya.


" apa kamu baik-baik saja, bagaimana jika kita ke klinik 24jam saja". kata Khalisa cemas memperhatikan jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari, pasti akan susah mencari toko obat disekitar rumahnya yang masih buka.


Irsyad tertawa kecil melihat kepanikan Khalisa, "tenanglah my dear, aku baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir". kata Irsyad yang hatinya merasa senang melihat Khalisa masih peduli padanya.


"mana mungkin baik-baik saja, badanmu panas sekali, semua memang salahku, maaf".


" kenapa kamu menyalahkan dirimu sendiri?" tanya Irsyad heran.


"kamu sakit pasti karena kamu terkena hujan saat menjemputku".


" tidak tapi ini salahku sendiri, mungkin karena aku lupa makan, aku hanya sarapan saja hari ini, jadi membuat daya tahan tubuhku lemah". jelas Irsyad membuat Khalisa merasa tambah bersalah.


"mengapa kamu sampai lupa makan?".


" sama seperti dirimu, bukankah kamu juga sering sekali lupa makan".


"tentu saja tidak sama, aku bukannya lupa tapi hanya sedang tidak nafsu makan".


" apa bedanya sama-sama tidak makan". ledek Irsyad.

__ADS_1


"maaf aku terlalu sibuk memikirkan diriku sendiri sampai tak memperhatikan dirimu". ucap Khalisa yang masih merasa bersalah.


Khalisa kembali teringat ucapan Sultan, sekarang ia mengerti jika bukan dirinya saja yang terluka karena kehilangan Alika, tapi Irsyad juga sama terlukanya dengan dirinya, jika Irsyad saja mau mengerti dirinya kenapa selama ini ia begitu egois, ia sama sekali tak menghargai Irsyad yang masih berada disisinya yang selalu setia menemaninya, jika sudah kehilangan barulah nanti menyesal telah menyia-yiakannya, mulai saat ini Khalisa berjanji jika dirinya tak akan lagi terhanyut dalam kesedihan, bukan ia ingin melupakan Alika hanya saja ia ingin menjadikan Alika kenangan terindah dalam hidupnya seperti yang Sultan katakan, sudah cukup airmata yang ia keluarkan, ia tak ingin lagi bersedih dan mengabaikan kehidupannya lagi, ia harus kembali bangkit dan mengejar mimpinya berharap Alika bangga memiliki ibu sepertinya, meskipun mereka tak lagi bersama.


" kenapa kamu melamun?" tegur Irsyad


Bukan menjawab Khalisa malah memeluk Irsyad dan meneteskan airmata.


"maaf selama ini aku sudah sangat egois, padahal aku tahu pasti dirimu juga merasa sangat kehilangan Alika". ucap Khalisa


" kamu tidak perlu meminta maaf karena aku sangat mengerti kesedihanmu, justru aku yang harus meminta maaf karena aku gagal membuatmu dan Alika bahagia".


"semua mungkin sudah takdir jadi kita tak perlu lagi saling menyalahkan".


Irsyad yang merasa bahagia karena Khalisanya sudah kembali tak berhenti menciumi setiap inci wajah Khalisa dan juga mengecup bibir merah merona Khalisa.


" terima kasih karena aku tak harus merasa kehilangan dirimu lagi". ucap Irsyad mendekap tubuh Khalisa dengan erat.


Khalisa merasa senang karena bisa melihat senyum bahagia diwajah tampan Irsyad. ia sudah cukup menderita kehilangan Alika, ia tak ingin sampai kehilangan Irsyad juga yang begitu ia cintai.


" apa?".


"aku belum melihat senyum diwajah cantikmu". goda Irsyad.


" kamu membuat aku takut saja, aku kira apa".


"senyummu itu sangat penting untukku, jadi kamu tak boleh menggabaikannya, sering-seringlah tersenyum untukku".


" aku tidak mau".


"memangnya kenapa, senyum itu ibadah".

__ADS_1


" aku tidak mau nanti gigiku kering karena terlalu banyak senyum". gurau Khalisa sambil cekikikan.


"ya sudah jika tak mau senyum tak apa-apa, tapi jangan menolak main bola bersamaku".


" apa kamu tidak waras ingin main bola dijam segini, lagipula kamu juga masih tidak enak badan, lebih baik kembali tidur saja, diluar juga masih gerimis".


" maksudku bukan sepak bola, tetapi bermain bola yang lain diatas tempat tidur".


Khalisa yang mulai paham maksud Irsyad merasa malu, membuat wajahnya merah merona.


"jangan berpikir macam-macam kamu itu sedang sakit". kata Khalisa mencoba mencari alasan untuk menolak.


" jika bermain bola denganmu aku pasti akan sembuh, aku janji hanya satu kali gol saja". rengek Irsyad


Khalisa tampak berpikir sebelum akhirnya menggangguk pasrah, dasar pria disaat sakit masih saja sempat-sempatnya berpikiran mesum.


Irsyad merasa begitu bergairah, rasanya sudah lama sekali ia tak merasakan kehangatan dari Khalisa, malam yang dingin mereka lewati dengan penuh cinta, saling melengkapi kekosongan masing-masing, mengobati perasaan rindu dihati mereka.


Khalisa dan Irsyad yang kelelahan mengatur napas mereka agar lebih teratur, mereka telah selesai bermain bola kasur, kini saatnya mereka beristirahat, dengan manja Khalisa tidur sambil memeluk Irsyad.


"kriuk,,kriuk".


" kamu lapar?". tanya Khalisa yang mendengar suara dari perut Irsyad.


Irsyad yang merasa malu hanya bisa tersenyum kikuk.


"biar aku buatkan nasi goreng untukmu".


" tidak usah, kamu tidur saja, kamu pasti lelah". tolak Irsyad yang tak ingin merepotkan Khalisa.


"aku tidak lelah, kamu tunggu sebentar, aku segera kembali". kata Khalisa segera pergi kedapur.

__ADS_1


Khalisa benar-benar merasa bodoh, kenapa ia bisa lupa menyiapkan makan untuk Irsyad, sebagai istri ia merasa belakang ini ia sudah lalai menjalankan kewajibannya, syukurlah ia memiliki suami seperti Irsyad yang sangat pengertian, Khalisa yang tak ingin membuat Irsyad menunggu terlalu lama segera mengolah nasi putih menjadi 'nasi goreng spesial penuh cinta'.


Karena kehilangan kita kadang lupa jika masih memiliki sesuatu yang juga berharga, jangan pernah menyesali sesuatu yang telah hilang dan tak mungkin kembali, karena semua itu hanya akan membuatmu terlihat bodoh, jadilah bulan meski tanpa bintang ia tetap terlihat bersinar, meski disekelilingnya gelap ia tetap memberikan cahaya bagi semua orang.


__ADS_2