Cinta Untuk Khalisa

Cinta Untuk Khalisa
Bab 115


__ADS_3

Sultan yang merasa telah mendapatkan lampu hijau dari Anjana, sepanjang perjalanan ke kantornya terus memasang senyum diwajahnya, apalagi mengginggat wajah Khalisa yang terlihat lebih cantik pagi ini dan sangat menggemaskan untuknya.


Bahkan saat sampai dikantornya, Sultan bersikap lebih ramah dari biasanya kepada semua pegawai, hampir seluruh pegawai yang bertemu dengannya ia sapa dan berikan senyum termanisnya.


"apa lo salah minum obat pagi ini?" tegur Malvin yang sudah menunggu kedatangan Sultan dilobi.


"memangnya siapa yang sakit?". sahut Sultan cuek.


" bukannya elo lagi sakit".


Sultan menatap Malvin dengan tatapan binggung. "gue udah bilang , gue gak sakit". ketus Sultan


"masa sih, sepertinya lo harus periksa kejiwaan lo deh". ledek Malvin membuat Sultan mengerti kali ini dan langsung melintir tangan Malvin kebelakang.


" arghhhh.....sakit, tolong lepasin tangan gue".


"berani ledekin gue lagi, nggak bakal lo gue ampunin".


" iya sorry bos, sekarang bisa kan lo lepasin tangan gue". pinta Malvin dengan melas.


"it's ok, berhubung hati gue lagi bahagia, gue maafin lo". sahut Sultan dengan santainya meninggalkan Malvin yang masih sibuk dengan tangannya yang sakit.


Dalam hati Malvin ingin sekali menggutuk Sultan yang sudah kelewatan hingga membuat tangannya merah dan terasa sakit, tapi sebenarnya ia juga merasa penasaran apa yang sudah membuat Sultan terlihat sangat bahagia pagi ini, Malvin yang baru sadar jika Sultan sudah meninggalkannya segera berlari untuk mengejarnya, para karyawan yang sejak tadi melihat tingkah mereka hanya bisa menggelengkan kepala dan tersenyum, mereka memang sudah tidak heran lagi dengan tingkah konyol atasan dan asistennya itu.


" hei bos, kenapa ninggalin gue sih". omel Malvin yang sudah berhasil mengejar Sultan.


"ngapain gue harus tunggu lo, nggak penting banget". omel balik Sultan.


Sultan kembali berjalan meninggalkan Malvin masuk kedalam lift khusus untuk para petinggi perusahaan, Malvin yang takut dirinya tertinggal langsung menahan pintu lift dan menerobos masuk kedalam, melihat kelakuan Malvin, Sultan hanya bisa memasang wajah malas, kalo saja bukan untuk menjaga imagenya diperusahaan sebagai seorang ceo, pasti ia akan melakukan hal konyol juga dengan mendorong Malvin keluar lift.


" lo belum kasih tahu gue, kenapa pagi ini lo terlihat bahagia banget". ucap Malvin menyandarkan tubuhnya yang sedikit kelelahan.


"apa gue harus laporan sama lo, sebenarnya siapa yang bosnya disini".


" gak ada orang disini, kenapa lo masih kaku aja kayak kanebo kering". ledek Malvin

__ADS_1


"ini masih dikantor jadi jaga sikap lo, jangan memberi contoh yang buruk sama bawahan lo". ucap Sultan dengan tegas padahal dalam hatinya tertawa geli sudah berhasil mengerjai Malvin, kapan lagi ada kesempatan seperti sekarang untuk memberi Malvin sedikit pelajaran karena selalu saja mengganggu ketenangannya.


" cih.....dasar bos l**n*t". gerutu Malvin.


" gue dengar kata-kata lo barusan, disini juga ada cctv, jangan sampai satu kantor menghujat lo". kata Sultan yang tampak belum puas menggoda Malvin yang sudah terlihat kesal padanya.


Dengan terpaksa Malvin hanya bisa terdiam mendampingi Sultan dari keluar lift hingga sepanjang jalan menuju ruang kerjanya.


Melihat Malvin yang diam saja, Sultan sedikit merasa bersalah, sepertinya ia sudah keterlaluan.


"bagaimana hubungan lo dengan Kanya?" tanya Sultan berusaha mencairkan suasana tegang diantara mereka.


"apa gue harus jawab pertanyaan lo?"


"maksud lo?".


" hubungan gue sama Kanya gak ada hubungannya sama perusahaan, jadi gak perlu kita bahas dikantor".


"lo marah sama gue?".


"terus apa? ngambek doang!!". ledek Sultan.


" terserah lo, sebenernya emang gue lagi males aja harus bahas soal Kanya".


"lah.....tumben biasanya paling semangat ". sindir Sultan


"itukan waktu itu, sekarang beda".


" beda gimana?"


terlihat dari wajahnya, Malvin tampak enggan untuk menjawab pertanyaan Sultan.


"lo aja gak mau jawab pertanyaan gue tadi, kenapa juga gue harus jawab lo". sindir Malvin mencoba mengalihkan pembicaraan.


" jadi maksud lo mau bales dendam sama gue?".

__ADS_1


"emangnya gue baperan kayak lo, gue beneran lagi gak mau bahas soal kanya aja karena cuma bikin mood gue jelek".


" separah itu".


Malvin menggangguk berpura-pura memasang wajah sedihnya, sementara Sultan memberi tepukan dibahu Malvin untuk menyemangatinya.


"apa Kanya putusin lo?". tebak Sultan


Bukannya memberi jawaban, Malvin justru malah memeluk Sultan.


" ternyata benar Kanya putusin lo". ledek Sultan, "tapi gak usah lebay juga nanti orang-orang kira kita ini homo".


Malvin yang mendengar ucapan Sultan lantas langsung mendorong tubuh Sultan agar berjauhan dengannya.


" dasar gak ada akhlak, tadi lo yang peluk-peluk gue sekarang malah gue didorong". maki Sultan namun Malvin hanya nyengir tak merasa bersalah sedikitpun.


"maaf pak Sultan, meeting dengan PT Pertama akan segera dimulai". tegur Maya sekertaris Sultan yang baru saja datang menghampiri mereka.


" kau duluan saja nanti kami akan menyusul". ujar Malvin.


"baik pak". sahut Maya kembali meninggalkan mereka berdua.


Setelah merapikan penampilan mereka yang sedikit berantakan, mereka segera menyusul Maya keruang meeting.


" lo masih hutang penjelasan soal Kanya". ucap Sultan sebelum mereka menginjakkan kaki kedalam ruang meeting.


***


Di Resto Khalisa terlihat melamun, ia merasa heran dengan sikap Anjana pada Sultan, ia berharap semoga saja Anjana tidak berpikiran untuk menjodohkan Sultan dengannya karena baginya Sultan sama seperti Kevin , ia sudah mengganggap Sultan sebagai seorang kakak laki-lakinya.


Apakah sekarang Sultan berharap lebih pada hubungan mereka? bagaimana jika Sultan memang mengharapkan dirinya, ia tidak ingin sampai nanti Sultan tersakiti karena sampai kapanpun ia akan terus menutup pintu hatinya untuk pria lain, Irsyad mungkin bukan yang pertama untuknya tapi baginya Irsyad adalah yang terakhir dalam hidupnya, tak ingin Irsyad tergantikan oleh siapapun karena sejujurnya Khalisa masih mengharapkan Irsyad kembali kesisinya, biarkan saja jika orang mengganggapnya egois, sebab mereka tidak tahu bagaimana rasanya menjadi malam yang selalu merindukan bulannya, seperti sebuah rumah tanpa atap.


Cinta bukan hanya soal perasaan tapi tentang segalanya,,,bukan seberapa besar perasaan tapi seberapa tulus kita mencintai seseorang,,cinta kadang memang egois dan sedikit gila, mungkin bisa membuat sedih, bisa juga membuat kita bahagia, walau kadang sulit untuk membedakan mana airmata kebahagiaan dan penderitaan..tapi nyatanya banyak yang rela mencintai walau tersakiti..


Seperti yang Khalisa rasakan saat ini, mencintai seseorang yang tidak mungkin bisa membalas cintanya lagi, menunggu seseorang yang mungkin tak akan pernah hadir didalam hidupnya lagi, berharap pada seseorang yang tak bisa ia harapkan lagi , mungkin cinta sudah membuat Khalisa buta tak ingin melihat kenyataan lagi, tapi seperti itulah cinta yang ia rasakan untuk Irsyad.

__ADS_1


Be big when you love someone because maybe it will make you suffer and hurt but true love will not expect anything in return.


__ADS_2