
Hari ini sekali lagi Khalisa akan pergi ke Bandung bersama Nova dan Dayu, mereka masih berusaha untuk menemukan keberadaan Irsyad, kebetulan Dayu yang selalu sibuk mengurus usahanya kini sedang ada waktu luang, pagi- pagi sekali mereka telah berangkat agar tak terjebak macet dijalan, keluar di tol bandung mereka langsung menuju kediaman orangtua Irsyad, sesampainya disana Dayu sengaja memarkirkan mobilnya disebrang jalan yang jaraknya lumayan cukup jauh untuk memantau rumah orangtua Irsyad, Dayu tidak ingin mobilnya sampai terlihat oleh orangtua Irsyad dan membuat usaha mereka kembali sia- sia.
"kamu yakin, kita akan mengawasi mereka, bagaimana jika om Evan dan tante Mira tidak ada dirumah?". tanya Nova pada Dayu sedikit khawatir.
" tenang saja, semalam aku mendengar Mama berbincang dengan tante Mira, aku dengar tante Mira akan berkunjung kerumah kerabatnya siang ini sekalian berziarah kemakam Irsyad". jelas Dayu.
"apa lo yakin?". timpal Khalisa.
" makanya kita tunggu saja disini, setelah mobil mereka keluar, diam- diam kita akan mengikutinya dari belakang". kata Dayu memberi intruksi.
Mereka kembali terdiam, fokus memperhatikan rumah besar bergaya eropa disebrang mereka, setelah sekian lama menunggu, akhirnya mobil orangtua Irsyad terlihat keluar melewati pintu gerbang, melihatnya Dayu buru- buru menghidupkan mesin mobilnya, bersiap menjadi penguntit.
Dayu yang tak ingin om Evan dan tante Mira curiga, memberi jarak antara mobilnya dengan mobil om Evan didepannya, meski grogi Dayu tetap percaya diri jika kali ini usahanya akan membuahkan hasil.
Sudah satu jam lebih tapi mobil yang dikendarai om Evan tak kunjung berhenti, Dayu merasa heran kemana sebenarnya tujuan orangtua Irsyad, siapakah kerabat yang akan mereka kunjungi?
Laju mobil om Evan tampak melambat, berbelok memasuki perkampungan yang masih tampak sepi, banyak pohon- pohong tinggi yang menjulang disepanjang jalan yang berjurang, untunglah Dayu sudah mahir mengendarai mobilnya, jadi tidak mengalami kesulitan sama sekali mengejar mobil om Evan yang sudah berada jauh didepan.
Meski harus bekerja ektra keras namun Dayu tak menyerah melawan jalan yang penuh bebatuan dan rusak yang dilaluinya sampai akhirnya mobil om Evan terlihat berhenti didepan sebuah rumah yang terlihat usang, om Evan dan tante Mira turun dari mobil mereka, mengetuk pintu rumah tersebut, setelah beberapa kali ketukan seorang wanita paruh baya keluar dari dalam rumah itu dengan senyum diwajahnya.
Om Evan dan tante Mira terlihat mencium tangan wanita itu secara bergantian, setelahnya wanita paruh baya itu mempersilahkan keduanya masuk kedalam rumahnya.
"siapa wanita itu, apa kamu mengenalnya?" tanya Nova yang penasaran pada Dayu.
"tidak, aku tidak pernah melihatnya, mungkin kerabat dari tante Mira karena kerabat om Evan hampir semua aku mengenalnya".
__ADS_1
" apa sebaiknya kita turun untuk mencari tahu kebenarannya, siapa tahu kita bisa mendapatkan informasi tentang Irsyad". saran Khalisa yang juga merasa penasaran.
"yah , tapi hati- hati jangan sampai om Evan dan tante Mira melihat kita, gue udah malas berurusan dengan mereka yang begitu egois". ucap Dayu yang merasa sakit hati dengan orangtua Irsyad yang sudah tak mengganggap keberadaannya, bisa- bisanya mereka tak memberi kabar apapun soal Irsyad padanya, padahal mereka tahu jika dirinya dan Irsyad adalah sahabat dari kecil.
Mereka bertiga sibuk mencari sela- sela disekitar rumah itu untuk mereka bisa mengintip dan menguping, sampai mereka tak menyadari jika orang- orang yang ingin mereka lihat didalam rumah itu sedang berada dibelakang mereka.
" hem..hem..".
Suara yang keluar dari mulut Evan berhasil menggagetkan mereka bertiga, secara bersamaan mereka bertiga langsung menoleh dan tersentak kaget.
"apa yang sedang kalian cari?". tegur Evan memasang wajah tak bersahabatnya.
" tidak ada, kami hanya...." ucap Dayu terlihat gugup menggantung ucapannya.
"apa kalian masih penasaran dengan Irsyad anak kami?" ketus Mira. "baiklah, jika kalian masih penasaran silahkan ikuti kami". ucap Mira berjalan terlebih dahulu diikuti yang lainnya.
Ternyata Mira membawa mereka kehalaman belakang rumah, terlihat beberapa pundukan tanah disana dengan papan diatasnya, makam- makam tersebut terlihat baru saja dirapikan dengan bunga yang masih tampak segar bertaburan diatas makam.
" disini adalah makam kedua orangtuaku, dan yang tanahnya masih terlihat basah itu adalah makam anakku Irsyad". kata Mira menunjukkan wajah sedihnya.
Khalisa yang tak percaya melangkahkan kakinya kedepan makam yang Mira tunjuk, tertulis jelas dipapan itu IRSYAD MEKKA EVANO, membuat Khalisa menanggis histeris sambil berusaha memeluk makam Irsyad.
"aku sengaja memakamkan Irsyad disini agar Bibiku ini bisa merawat makam Irsyad dengan baik". ucap Mira kembali merangkul wanita paruh baya disampingnya yang ternyata adalah Tante, adik dari orangtuanya.
" apa kamu begitu marah padaku sampai pergi begitu jauh dan tidak ingin kembali lagi". gumam Khalisa pelan namun masih terdengar oleh semua orang.
__ADS_1
Nova yang merasa prihatin pada Khalisa segera menghampirinya dan memeluk Khalisa.
"kuatkan dirimu, Irsyad sudah tenang disana, jangan membuatnya bersedih". hibur Nova.
Bukannya berhenti menangis justru tangis Khalisa semakin pecah, hancur semua harapannya untuk bisa bertemu dengan Irsyad kembali, kini mereka tak akan bisa bersatu lagi, mereka sudah terpisah antara dua alam yang berbeda, semua tentang mereka sekarang hanya tinggal cerita.
" Nova bilang sama gue kalo semua ini hanya mimpi". kata Khalisa seraya menampar wajahnya sendiri.
"Khalisa jangan seperti ini, gue mohon lo harus bisa tegar menghadapi semuanya". bujuk Nova berharap Khalisa akan mendengarkannya.
" iya, walaupun Irsyad gak bisa bareng kita lagi tapi gue yakin dia selalu ada didekat lo". timpal Dayu ikut menghibur Khalisa.
Khalisa sepertinya tak menggubris perkataan Nova dan Dayu, ia terus saja menanggis tanpa jeda, merasakan sesak didadanya yang tak kunjung mereda juga.
"apa sekarang kalian sudah puas, kami tahu sejak tadi kalian mengintai kami dirumah dan mengikuti kami sampai kesini". maki Evan yang sejak tadi merasa kesal merasa privasinya terganggu.
" maafkan kami om, kami tidak bermaksud membuat kalian merasa tidak nyaman". sahut Dayu merasa bersalah.
"jika kalian sudah tak ada keperluan lagi, kalian boleh pergi dari disini". usir Mira yang memang tak suka melihat mereka disana.
" biarkan kami disini sebentar lagi". pinta Nova yang mengerti perasaan Khalisa.
"simpan saja air matamu untuk yang lain karena Irsyad tak membutuhkannya". ejek tante Mira berlalu kedalam rumah melewati pintu belakang disusul Evan dan juga Bibinya.
Nova merasa geram, ia tak mengerti bagaimana bisa ada orang seperti tante Mira didunia ini yang sangat tidak berperasaan, padahal dirinya juga seorang perempuan, jika ia menjadi Khalisa pasti tante Mira sudah ia cekik sampai kehabisan napas, tapi untung saja tante Mira bukan mertuanya.
__ADS_1