Cinta Untuk Khalisa

Cinta Untuk Khalisa
Bab 117


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang Khalisa terus menekuk wajahnya, ia masih kesal dengan Sultan yang saat ini sedang fokus mengendarai mobilnya, meski sudah berulang kali menolak, Sultan terus saja memaksa untuk mengantarkannya pulang, sampai menariknya masuk kedalam mobil dan mengunci pintunya, bukan Sultan memang namanya kalau tidak memaksa orang lain.


"mengapa diam saja, apa kamu sariawan?" tegur Sultan setengah meledek.


Khalisa terlihat enggan untuk menjawab dan hanya melirik saja dengan sudut matanya.


"kamu masih marah denganku?".


" sudah tahu kenapa bertanya". sahut Khalisa ketus.


"aku minta maaf, aku mohon jangan marah lagi denganku". bujuk Sultan


lagi-lagi Khalisa enggan untuk menjawab dan membuang pandangannya keluar kaca disampingnya.


Sultan akhirnya menyerah dan kembali fokus kejalan, menurutnya percuma membujuk Khalisa saat ini yang masih merasa emosi, setelah emosi Khalisa mereda baru ia akan membujuknya kembali.


Setelah sampai didepan rumahnya, Khalisa segera turun meninggalkan Sultan, Sultan yang keras kepala tetap mengejar Khalisa hingga kedalam rumahnya.


" kenapa ikut masuk kedalam rumahku?" omel Khalisa menepis tangan Sultan yang telah berhasil memegang tangannya.


"apa tidak boleh?"


"yah, aku tidak mengijinkanmu".


" baiklah, aku akan ijin pada tante Anjana saja".


" terserah". ketus Khalisa segera berjalan masuk kedalam kamarnya.


Sultan yang berniat ingin pulang dihentikan oleh Anjana yang tiba-tiba muncul dari dapur.


"eh nak Sultan, mau kemana? duduk dulu biar tante buatkan teh hangat". sapa Anjana


" tidak usah repot-repot tante".


"gak repot kok, kamu duduk saja dulu biar tante buatkan minum dan cemilan untukmu".


" baik tante". sahut Sultan duduk dibangku yang terdapat diteras.


Setelah 10 menit Anjana kembali keteras dengan sebuah nampan kecil ditangannya.


"maaf sudah menunggu lama". ucap Anjana meletakkan nampan berisi teh dan pisang goreng diatas meja.


" maaf jadi merepotkan tante".


"tidak apa-apa, ayo silahkan diminum tehnya, maaf cuma ada pisang goreng saja".


" iya tante, terima kasih banyak". sahut Sultan meraih teh diatas meja dan mulai menyeruputnya.


"ngomong-ngomong dimana Khalisa?tante belum melihatnya, kenapa tidak menemanimu?".


" Khalisa dikamarnya, tidak apa-apa tante, mungkin Khalisa capek".


"kau ingin makan malam sekalian disini?"

__ADS_1


"tidak usah tante biar nanti aku makan dirumah saja".


Sultan tiba- tiba merasa jika sekarang adalah saat yang tepat untuk meminta ijin pada Anjana, Khalisa atau dirinya yang bicara sepertinya sama saja, ia sudah tidak sabar ingin mengajak Khalisa pergi bersamanya ke Surabaya.


" mohon maaf sebelumnya tante, bolehkah aku bicara serius padamu?".


"tentu saja, soal apa?".


" begini tante....", Sultan merasa sedikit tidak enak, "aku berencana ingin menetap di Surabaya, dan aku berniat ingin mengajak Khalisa bersamaku".


" maaf bukannya tante tidak mengijinkan tapi kalian belum menikah, bagaimana bisa kalian tinggal bersama?".


Mendengar perkataan Anjana, Sultan merasa senang, mungkinkah Anjana merestui hubungannya dengan Khalisa dan menginginkan mereka menikah?


"tidak seperti yang tante pikirkan, aku dan Khalisa akan tinggal terpisah, aku mengajak Khalisa agar bisa membantuku karena orang kepercayaanku harus mengurus semua bisnisku dijakarta, jadi aku tidak bisa mengajaknya". jelas Sultan agar Anjana tak salah paham.


" tapi bukankah Khalisa tidak mengerti bisnis?".


"aku akan mengajarinya, pasti Khalisa akan cepat belajar".


Anjana terdiam, memikirkan permintaan Sultan yang menurutnya sulit untuk dijawab, tidak mudah baginya untuk melepaskan Khalisa sendiri apalagi tinggal begitu jauh darinya.


" apakah tante tidak ingin Khalisa memulai kehidupannya yang baru dan melupakan semua kesedihannya, aku akan membuatnya sibuk sampai tak ada waktu untuknya bersedih lagi". bujuk Sultan berusaha meyakinkan Anjana.


Anjana kembali terdiam dan merenungkan semua ucapan Sultan, bagaimanapun juga sebagai seorang ibu ia ingin Khalisa bahagia walaupun berat rasanya melepas kepergian Khalisa.


"tante terserah Khalisa saja". ucap Anjana akhirnya.


" apa itu artinya tante mengijinkan?"


"terima kasih tante".


" harusnya tante yang berterima kasih karena kau sangat peduli pada Khalisa" .


Bunga- bunga rasanya bermekaran dihati Sultan saking bahagianya melihat sikap Anjana yang sangat welcome padanya.


"baiklah tante aku pamit pulang, salam untuk Khalisa".


" yah, hati-hati dijalan".


Didalam kamarnya Khalisa sibuk mundar- mandir gelisah ingin kekamar kecil tapi ia takut Sultan masih menunggunya diluar, ia masih sangat kesal dengan Sultan dan sedang tak ingin melihatnya apalagi berbicara dengannya.


"tok...tok".


Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar Khalisa yang membuat Khalisa tersentak kaget.


" siapa?". teriak Khalisa


"ini Mama, ayo kita makan malam".


" apa Sultan masih diluar?".


"dia sudah pulang".

__ADS_1


Setelah mendengar jawaban Anjana Khalisa segera membuka pintu kamarnya, dan berlari kecil kekamar mandi.


" kau mau kemana?" tanya Anjana heran.


"kamar mandi".sahut Khalisa terburu-buru masuk kedalam kamar mandi.


" dasar". gerutu Anjana menggelengkan kepalanya.


Setelah melakukan ritual rutinnya dikamar mandi, Khalisa yang sudah merasa lega segera menyusul Anjana dimeja makan.


"kau kenapa tidak keluar kamar saat ada Sultan?". tegur Anjana merasa curiga.


" tidak apa-apa, tadi aku hanya sedikit pusing saja".


"benar-benar pusing atau hanya alasanmu saja".


"aku benaran pusing, lagipula tadi Sultan sudah pamit padaku akan langsung pulang". sahut Khalisa berbohong agar Anjana tak lagi curiga padanya. " oh iya dimana kak Kevin?" kata Khalisa lagi berusaha mengalihkan pembicaraan.


"kakakmu belum pulang, mungkin lembur". sahut Anjana, "kau ingin makan atau hanya berdiri saja". omelnya karena sejak tadi Khalisa tak juga duduk.


" tentu saja aku ingin makan". sahut Khalisa cengegesan.


Anjana melirik Khalisa yang sedang asyik menikmati makanan didepannya, ia ingin membahas masalah kepergian Khalisa dan Sultan ke Surabaya.


"ada apa Mah, apa ada yang ingin Mama bicarakan?". kata Khalisa yang sepertinya sadar Anjana sedang memperhatikannya.


" tadi Sultan bilang ingin mengajakmu ke Surabaya".


Khalisa yang sedang mengunyah tiba-tiba langsung tersedak makanan.


"uhuk..uhuk..", Khalisa berusaha meraih air didepannya dan buru-buru menenggaknya hingga habis.


" lalu apa keputusanmu?" lanjut Anjana.


"apa Mama mengijinkanku pergi?".


" jika itu yang terbaik untuk hidupmu, Mama pasti akan mendukung".


Khalisa terdiam sejenak seraya berpikir, sebelum akhirnya berbicara kembali. "sejujurnya aku tidak ingin pergi".


" kenapa?"


"aku tidak ingin jauh dari keluargaku terutama Mama tapi aku juga tidak tega jika harus menolak Sultan".


" apa karena kau mulai memiliki rasa untuknya?". Tebak Anjana.


"bukan".


" lalu?".


"aku tidak ingin mematahkan harapan Sultan untuk sembuh, ia sangat butuh dukunganku".


" sembuh? Memangnya Sultan sakit apa? Tanya Anjana binggung karena selama ini Sultan terlihat sehat-sehat saja.

__ADS_1


"Sultan sakit kanker, sebenarnya tujuan Sultan keSurabaya untuk pengobatan dan pemulihannya, dia ingin aku membantu mengurus bisnisnya yang di Surabaya agar iya lebih fokus pada penyembuhannya". Jelas Khalisa


Anjana terlihat kaget mendengar perkataan Khalisa, ia tak menyangka jika Sultan yang ia harapkan untuk membahagiakan Khalisa ternyata sedang sakit keras, sekarang Anjana tampak ragu jika Sultan adalah pria yang tepat untuk Khalisa, ia tidak ingin Khalisa merasakan kesedihan lagi dalam kehidupannya.


__ADS_2