
Ketika mata tak dapat lagi melihatnya, rasanya dunia seperti tak lagi berwarna, semua tampak suram, cahaya seperti redup tak lagi terlihat bersinar.
Khalisa masih tak dapat melepas pandangannya dari rumah yang selama ini menjadi tempatnya berbagi cinta dan kasih sayang dengan keluarga kecilnya, Khalisa membayangkan jika Irsyad dan Alika menatapnya sambil melambaikan tangan kepadanya, Khalisa terlihat ragu melanjutkan langkah kakinya, ia tampak tersenyum menatap bayangan Irsyad dan juga Alika.
"Khalisa apa kamu baik- baik saja?". tanya Anjana, namun Khalisa masih terlihat melamun. " ada apa?"tanya Anjana kembali sambil meletakkan tangannya dipundak Khalisa.
Khalisa tampak tersentak kaget ," iya, kenapa Mah?".
"kamu sedang memikirkan apa?".
" tidak ada". sahut Khalisa berbohong.
"jangan bohong, sejak tadi Mama lihat dirimu melamun".
" aku hanya sedang teringat Irsyad dan Alika".
Anjana langsung memeluk tubuh Khalisa dengan erat, "Mama yakin kamu pasti kuat menghadapi semua ini".
" terima kasih karena Mama selalu menghiburku, aku sayang Mama". sahut Khalisa balas memeluk sang Mama.
"sebaiknya kita pergi sekarang, taksi yang Mama pesan sudah datang".
Khalisa hanya bisa menggangguk lemah mendengar ajakan Mamanya. rasanya ia masih merasa berat sekali melangkah kedepan meninggalkan semua masa lalunya.
Selamat tinggal rumahku....selamat tinggal kenanganku....!!!!
****
Sekarang Khalisa kembali kerumah orangtuanya, dikamar yang dulu pernah ia tempati, kini ia kembali seperti sebelumnya tak ada pernikahan, rumah tangga, suami bahkan anak, semua yang sudah dilaluinya selama beberapa tahun ini benar- benar bagaikan sebuah mimpi, sekarang dirinya hanya seorang diri lagi.
" tok..tok".
"siapa?". tanya Khalisa saat seseorang mengetuk pintu kamarnya.
" ada Nova datang". sahut sang Mama dari luar.
"iya, tunggu sebentar".
Setelah membersihkan wajahnya dengan tisu, Khalisa bergegas keluar kamarnya untuk menemui Nova, Didepan teras Nova terlihat sudah menunggu Khalisa ditemani seorang pria yang tak lain adalah Sultan.
" maaf sudah membuat kalian menunggu". sapa Khalisa.
"tidak apa, kami juga belum lama sampai". sahut Nova
" kalian ingin minum apa?"
"tidak usah repot- repot, lo duduk aja". sahut Nova kembali.
__ADS_1
Suasana tampak canggung, mereka hanya saling melirik satu sama lain, terlihat binggung memulai percakapan hingga Anjana Mama Khalisa datang dengan cemilan dan minuman ditangannya mulai mencairkan suasana.
" ayo silahkan Nova dan cowoknya dicicipi cemilan dan minumnya". tegur Anjana
"maaf tante tapi ini sepupu Nova bukan cowok aku". protes Nova membuat senyum diwajah mereka termasuk Khalisa.
" pantas kalian terlihat mirip, tante pikir jodoh". goda Anjana
"amit- amit deh tante aku mirip dia, lebih cantik akulah kemana-mana". sahut Nova dengan pedenya.
" iya tante Nova memang terlihat lebih cantik kalo dilihat dari monas pakai sedotan". timpal Sultan tak mau kalah.
"dia emang orangnya sirik tante kalo sama cewek cantik makanya jomblo". balas Nova yang masih tak terima dengan ejekan Sultan.
" sudah- sudah, lama- lama perut tante bisa sakit karena terlalu banyak tertawa, lebih baik tante permisi kebelakang lagi". ucap Anjana berlalu dari teras rumahnya.
Diam- diam Nova dan Sultan memperhatikan Khalisa, mereka senang melihat senyum diwajah Khalisa meski masih tak terlihat dengan jelas.
"bagaimana keadaanmu?, sudah seminggu ini tak melihatmu rasanya aku tak bisa tidur karena begitu mencemaskanmu". kata Sultan memberanikan diri menyapa Khalisa.
" aku baik- baik saja, terima kasih karena sudah mencemaskanku, maaf karena aku sudah bersikap seenaknya tidak masuk bekerja tanpa ijin dari oppa Seo jun ataupun dirimu".
"tidak masalah, aku mengerti keadaanmu, kamu boleh kembali bekerja kapanpun kamu menggingginkannya".
" jangan seperti itu, aku jadi tambah merasa tidak enak".
"bukankah kita ini sahabat, hanya itu yang bisa aku lakukan untukmu".
"ehm...ehm gue jadi nyamuk doang kayaknya disini". celetuk Nova.
" yah lo emang kayak nyamuk, sama- sama gatel". ledek Sultan.
Nova yang kesal pada Sultan langsung memukul bahunya dengan sangat keras.
"dasar nyamuk, tangannya juga gatel aja bawaannya mau mukul orang". omel Sultan yang tak terima bahunya menjadi nyeri.
" biarin". ledek Nova menjulurkan lidahnya".
Lagi- lagi kelakuan mereka berdua berhasil menarik perhatian Khalisa, senyum tampak terukir kembali dari bibir Khalisa.
"Nova apa ada kabar dari Dayu?" tanya Khalisa pada Nova disebelahnya.
"belum ada, Dayu juga udah kemakam kakeknya Irsyad dibandung tapi Dayu gak bisa temuin makam Irsyad disana".
" semoga aja Irsyad memang belum dimakamkan dan masih hidup". ucap Khalisa penuh harapan.
"amien...". sahut Sultan." aku juga berharap kamu bisa bersatu kembali dengan Irsyad dan hidup bahagia".
__ADS_1
"terima kasih".
" ini untukmu". ucap Sultan menyodorkan sebuah amplop putih pada Khalisa.
"apa ini?". tanya Khalisa menatap heran pada amplop yang Sultan berikan.
" gunakanlah untuk biaya hidupmu".
"maaf tapi aku tidak bisa menerimanya". kata Khalisa mengembalikan amplop itu kembali pada Sultan".
" hanya itu yang bisa aku lakukan untukmu, jadi terimalah". bujuk Sultan
"iya Khalisa tidak baik menolaknya, Sultan sudah berniat baik sama lo". timpal Nova.
" aku tidak ingin merepotkanmu Sultan".
"aku sama sekali tidak merasa direpotkan, justru aku senang jika bisa membantumu".
Dengan sungkan akhirnya Khalisa mengambil amplop pemberian dari Sultan.
" sekali lagi aku ucapkan terima kasih". ucap Khalisa malu- malu
"sudah berapa kali kamu menggucapkan kata terima kasih, sekali lagi kamu mengatakkannya maka aku akan marah padamu". ancam Sultan sedikit bergurau.
" baiklah, aku tidak ingin melihatmu marah".
Mereka kembali terdiam sambil menikmati teh hangat yang tadi di bawakan oleh Anjana. Sekali- kali Nova juga terlihat sibuk masukkan kue kedalam mulutnya.
"apa sekarang perasaan lo jauh lebih baik?" tanya Nova dengan mulut yang masih dipenuhi makanan.
"habisin dulu makanan dimulut lo kalo mau ngomong, nanti lo bisa keselek". tegur Khalisa.
Bukannya mendengarkan justru Nova malah kembali mengisi mulutnya seraya cenggegesan.
Setelah merasa cukup lama bertamu dan berbincang dengan Khalisa, Sultan dan Nova memutuskan untuk berpamitan pulang, mereka ingin membiarkan Khalisa beristirahat karena menurut mereka Khalisa terlihat letih dan lesu.
" hati- hati dijalan". kata Khalisa melambaikan tangannya pada Sultan dan Nova yang sudah berada didalam mobil.
Setelah kepergian Sultan dan Nova , Khalisa kembali merasa kesepian, karena mereka Khalisa jadi merasa terhibur dan lebih bersemangat,dia sangat bersyukur karena dikelilingi oleh orang- orang baik yang begitu peduli padanya.
"teman- temanmu sudah pulang?" sapa Anjana saat berpapasan dengan Khalisa didapur.
"yah".
" apa kau membutuhkan sesuatu?". tanya Anjana yang heran melihat Khalisa berada didapur.
"tidak, aku hanya ingin pergi kekamar mandi".
__ADS_1
" ok, jika kau membutuhkan sesuatu bilang saja". ucap Anjana kembali bergelut dengan wajan didepannya.
Khalisa kembali berpikir, apakah ia tidak merepotkan Mamanya jika ia tinggal disana? melihat Mamanya yang sudah tidak muda lagi Khalisa merasa iba, harusnya diusia tuanya sang Mama bisa hidup bahagia bukan malah mengurus dirinya lagi yang sudah cukup dewasa, Khalisa berjanji jika ia tidak akan menyusahkan Mamanya lagi, iya harus kembali menjalani hidupnya dengan tegar seperti sang Mama, meskipun saat ini dirinya tak punya tujuan hidup, setidaknya ia akan berjuang demi sang Mama.