Cinta Untuk Khalisa

Cinta Untuk Khalisa
Bab 87


__ADS_3

the best we can plan for life, we will not be able to change destiny....


Khalisa mulai menyadari satu hal dalam hidupnya, hidup itu bagaikan sebuah mimpi yang kadang bisa menjadi nyata namun bisa juga hanya menjadi angan-angan saja, tetap optimis dan berusaha, meskipun akhirnya takdirlah yang tetap akan menentukan...


Perlahan-lahan Khalisa mulai belajar untuk melupakan kesedihannya, keterpurukan dalam hidupnya juga sudah dapat dilewatinya, Khalisa berusaha menata kembali hatinya yang telah hancur, sudah kedua kalinya ia merasakan perasaan yang sama ditinggalkan oleh orang yang ia sayangi, rasanya memang berat tapi ia belajar dari pengalaman yang membuatnya kini menjadi wanita kuat, memang butuh waktu yang cukup lama untuk bisa menyembuhkan luka dihatinya karena ditinggalkan Arion, sekarang ia harus kembali lagi merasakan terluka karena kehilangan Alika pelita hidupnya, namun saat ini ia memiliki Irsyad disisinya yang membuatnya mampu bangkit kembali.


Khalisa menyeka airmata yang tak sengaja jatuh dari matanya karena teringat lagi pada luka dihatinya, semua sudah barlalu, ia tak akan lagi terlarut dalam kesedihan lagipula ia juga sudah berjanji pada Irsyad akan melupakan semua yang akan membuatnya bersedih kembali.


Khalisa berusaha menyibukan dirinya saat bekerja, ia tak ingin memberi celah sedikitpun untuk dirinya melamun, saat sedang merapikan meja kasirnya Khalisa terpaku saat melihat wanita yang duduk didepannya, ia merasa femiliar dengan wajah wanita itu, Khalisa berusaha menginggat kembali wajah wanita itu, ia baru saja sadar jika wanita itu adalah Thania, wanita yang pernah Irsyad akui sebagai pacarnya, lama tak melihatnya Thania terlihat semakin cantik, tiba-tiba Khalisa jadi kepikiran, apakah Irsyad masih sering bertemu dengan Thania dibelakangnya? ada sedikit rasa cemburu dihati Khalisa saat memikirkan kedekatan Thania dengan Irsyad.


Rupanya Thania menyadari jika Khalisa sedang memperhatikannya, Thania tampak tersenyum dan melambaikan tangannya menyapa Khalisa membuat Khalisa salah tingkah dan tersenyum kikuk, sepertinya Thania menjadi penasaran, ia meninggalkan mejanya dan berjalan mendekati Khalisa.


"bukankah kau Khalisa?" sapa Thania.


"iya, maaf jika kau merasa risih, aku tidak bermaksud apa-apa".


" tidak sama sekali justru aku senang bisa bertemu denganmu, bagaimana kabar Irsyad?".


Mendengar pertanyaan Thania membuat Khalisa merasa jengkel, terlihat sekali Thania sangat peduli pada Irsyad, tapi Khalisa sedikit lega sepertinya Thania sudah lama tidak bertemu dengan Irsyad.


"Irsyad baik-baik saja". jawab Khalisa malas.


" apakah Irsyad masih bekerja dibengkel?".


"iya begitulah".


" aku rindu pada Irsyad karena sudah lama tidak melihatnya, aku mohon sampaikan salamku nanti untuknya".


Khalisa bertambah jengkel, rasanya ia ingin muntah saja melihat Thania begitu tak tahu malu membicarakan Irsyad suaminya, apakah wanita ini sudah gila?


"baiklah Khalisa terima kasih atas waktumu, bye". ucap Thania sebelum kembali kemejanya.


Khalisa tak lagi mengarahkan pandangannya pada Thania, ia membuang wajahnya kesisi lain, ia benar-benar menyesal karena sempat memperhatikan Thania tadi, harusnya tadi ia menggunakan cadar saja agar Thania tak sok kenal padanya.


Karena pertemuannya dengan Thania, Khalisa menjadi badmood, ia bersikap cuek saat Irsyad menjemputnya, karena masih merasa kesal pada Thania, Khalisa jadi melampiaskannya pada Irsyad.


" ada apa denganmu my dear?" tanya Irsyad menatap wajah jutek Khalisa dari kaca spionnya.


"aku baik-baik saja". ketus Khalisa


" wajahmu tidak menunjukkan kamu baik-baik saja, apa aku punya salah padamu".


"tidak ada, sebaiknya kamu fokus pada jalan didepanmu saja". omel Khalisa

__ADS_1


Irsyad mencoba meraih tangan Khalisa yang tak memeluknya seperti biasanya, namun Khalisa menepisnya, Irsyad yang sudah tak tahan dengan sikap Khalisa, menghentikan laju motornya secara mendadak.


" katakan padaku mengapa sikapmu aneh malam ini". ucap Irsyad menatap Khalisa.


"aku biasa saja". elak Khalisa


" katakan atau kita tidak akan pulang". ancam Irsyad.


"sudah aku bilang aku tidak apa-apa". sahut Khalisa masih keras kepala.


" kalau kamu tidak mau bicara juga, aku akan menciummu disini".


Khalisa memperhatikan jalan disekeliling mereka yang terlihat masih ramai walau hari telah malam, ia merinding sendiri membayangkan jika Irsyad menciumnya dan menjadi pusat perhatian semua orang.


"tadi aku bertemu dengan Thania direstoran". ucap Khalisa akhirnya.


" benarkah, mengapa Thania tidak memberi kabar jika ia kembali kejakarta".


melihat reaksi Irsyad yang juga terlihat peduli pada Thania membuat Khalisa semakin kesal.


"sepertinya kamu sangat peduli padanya". sindir Khalisa


" aku peduli karena dia sahabatku, sudah lama aku tidak mendengar kabarnya, terakhir saat ia berpamitan ingin pindah ke inggris, jadi kamu jangan berpikir macam-macam".


" astaga, bukankah aku sudah bilang padamu jika aku hanya membohongimu untuk membuatmu cemburu saja".


"entalah".


" kamu tidak mempercayaiku, sampai kapanpun aku hanya mencintaimu saja".


Khalisa masih saja menekuk wajahnya meskipun Irsyad sudah membujuknya.


"melihat Thania yang sangat peduli padamu, dan kamu juga kelihatan sangat peduli padanya, aku tidak yakin diantara kalian hanya teman saja".


"jadi kamu meragukan perasaanku".


"aku percaya padamu tapi aku tidak percaya pada wanita itu, aku melihat cinta untukmu dimatanya".


" meskipun Thania mencintaiku, tidak berpengaruh apapun untukku karena aku hanya mencintai dirimu". ucap Irsyad mengecup kening Khalisa dan memeluknya.


"apa kamu yakin tidak akan tergoda dengan Thania?". tanya Khalisa yang perasaannya masih merasa tidak enak.


" 1000β„… aku yakin karena tidak ada wanita yang semenarik dirimu dimataku".

__ADS_1


"gombal".


Khalisa yang hatinya mulai luluh, berusaha untuk menyembunyikan senyumnya.


"IIIIIIIIIIIIII................loveeeeee.........yooooouuuuuuu...........Khalisa!!!!!!!!!!???????". teriak Irsyad, membuat Khalisa malu karena semua orang mulai memperhatikan mereka.


" ssssssttttttt...mengapa kamu berteriak, lihatlah kita jadi pusat perhatian". omel Khalisa


"biar saja, aku hanya ingin semua orang tahu jika aku bangga mencintaimu".


"baiklah, usahamu boleh juga". goda Khalisa


" apa itu artinya kamu tidak bete lagi padaku".


"aku rasa tidak, tapi aku tidak ingin melihatmu dekat-dekat dengan Thania".


" oke, aku tidak masalah jika aku tidak boleh memiliki teman wanita, ternyata benar wanita memang egois". ledek Irsyad.


"apa maksudmu?".


" bukankah kamu masih berteman dengan Sultan meskipun aku tidak menyukainya".


"aku dan Sultan hanya berteman saja".


" apa bedanya aku dengan Thania, kami juga hanya berteman".


"jelas berbeda, aku percaya pada Sultan yang tulus berteman denganku tapi aku tidak percaya pada Thania, sepertinya dia berbakat untuk jadi pelakor". sahut Khalisa apa adanya.


Irsyad tertawa mendengar perkataan Khalisa, sepertinya Khalisa benar-benar cemburu pada Thania, entah apa yang membuat Khalisa bisa berpikiran seperti itu?


" apa kamu cemburu pada Thania".


"kenapa masih bertanya, pikir saja sendiri". ketus Khalisa.


" jadi hanya kamu yang boleh cemburu, sedangkan aku tidak boleh cemburu pada Sultan temanmu itu". ledek Irsyad.


"yah karena c-i-n-t-a ku hanya mentok untukmu saja, jadi kamu tidak perlu cemburu lagi pada siapapun, My heart is only for you, you are my life".


Irsyad tak bisa menyembunyikan perasaannya, jika ia bahagia mendengar perkataan Khalisa, Irsyad kembali mencium kening Khalisa.


" thanks for your love ". bisik Irsyad.


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2