
"Khalisa apa kamu baik-baik saja?". tanya Sultan yang cemas mendekat pada Khalisa yang berniat untuk duduk.
" kamu tidak perlu cemas, aku tidak apa-apa hanya sedikit pusing saja".
"apa kamu yakin?".
" tentu saja, kamu itu berlebihan sekali".
Khalisa kembali terdiam, ia berharap jika Irsyadlah yang ada disampingnya saat ini bukan Sultan, ia pasti akan merasa bahagia sekali.
"apa yang kamu pikirkan?". tanya Sultan lagi menggagetkan Khalisa.
" tidak ada". elak Khalisa
"jika kamu enggan bercerita denganku tidak masalah, mungkin kamu belum menerimaku sebagai sahabatmu". goda Sultan membuat Khalisa jadi serba salah.
Khalisa memilih untuk tetap mengacuhkan ucapan Sultan, ia bukannya tidak mengganggap Sultan sebagai sahabat, hanya saja ia terlalu malu untuk mengatakan masalahnya saat ini pada orang lain.
"kenapa kamu sampai lupa makan dan hujan- hujanan?" tanya Sultan mengubah topik pembicaraannya karena melihat Khalisa yang merasa tidak nyaman.
"bagaimana kamu bisa tahu, seperti dukun saja". gurau Khalisa
" dokter yang memberitahuku, apa kamu tidak tahu jika kamu punya penyakit maag".
"aku tahu".
" lalu kenapa kamu sampai tidak makan, apa kamu mau membuat tubuh rampingmu menjadi krempeng, dasar wanita!!". omel Sultan setengah meledek.
"terserah katamu saja, aku heran mengapa kamu bisa tiba-tiba menolongku, apa kamu mengguntitku". ucap Khalisa curiga sambil menyipitkan matanya.
Sultan terdiam untuk sesaat, ia tidak mungkin menggatakan yang sebenarnya jika tadi ia memang sengaja datang kerumah Khalisa untuk melihat keadaan Khalisa karena kabar yang disampaikan oleh Seo jun tapi ia menggurungkan niatnya karena takut Irsyad akan salah paham padanya, namun ternyata ia malah menemukan Khalisa dijalan.
" sembarangan saja menuduh orang tampan sepertiku pengguntit, aku tadi tidak sengaja lewat dan kebetulan melihatmu, bukan berterima kasih tapi malah menuduh malikat penyelamatmu ini". ucap Sultan akhirnya memberi alasan.
Khalisa tersenyum melihat tampang Sultan yang cemberut berpura-pura marah.
"apa aku terlihat lucu". ketus Sultan ikut duduk dipinggir ranjang Khalisa.
"tidak, kamu terlihat sangat manis". goda Khalisa membuat senyum diwajah Sultan.
Tiba-tiba seorang perawat datang membawakan makanan dan obat untuk Khalisa, membuat mereka harus menghentikan pembicaraan mereka sejenak.
" malam tuan dan nyonya, ini saya bawakan makan untuk nyonya Khalisa, tolong dihabiskan setelah itu anda bisa meminum obatnya".
__ADS_1
"terima kasih sus". sahut Khalisa
" sama-sama, maaf tuan silahkan anda mengurus administrasinya terlebih dahulu sebelum nyonya Khalisa pulang".
"baik sus, terimakasih".
Setelah perawat pergi, Sultan juga bangun dari duduknya menyusul langkah perawat yang sudah lebih dulu keluar ruangan.
" kamu mau kemana?" tanya Khalisa heran.
"tenang saja aku tidak akan meninggalkanmu, aku hanya pergi sebentar untuk mengurus administrasi".
" biar aku sendiri saja, aku tidak mau merepotkanmu".
"aku sama sekali tidak merasa repot, lebih baik kamu habiskan saja makanmu, setelah itu minum obatnya agar kita bisa segera pulang, aku sudah muak mencium bau rumah sakit". ucap Sultan sedikit bergurau.
" maafkan aku jika sudah membuatmu repot".
"jika tidak merepotkanku namanya bukan Khalisa". ledek Sultan seraya nyengir kuda.
Sambil tersenyum Khalisa terus memperhatikan Sultan yang akhirnya menghilang dibalik pintu, Khalisa merasa kekosongan yang ia rasakan sedikit terisi oleh kehadiran Sultan yang membuatnya terhibur, untuk sesaat ia lupa akan kesedihannya, ia sangat bersyukur memiliki seorang sahabat yang tulus seperti Sultan.
Meski perutnya terasa kelaparan tapi Khalisa sama sekali tak berselera untuk makan apalagi jika menginggat kejadian tadi siang, ia hanya sibuk mengaduk-ngaduk makanan di dalam piringnya.
"kamu sudah kembali, membuat orang kaget saja". ketus Khalisa
" maaf, aku hanya refleks karena melihatmu, jujur aku tidak suka melihat orang yang tidak menghargai makanan mereka, mengapa kamu tidak memakan nasimu, apa tidak enak?"
"aku tidak berselera makan". sahut Khalisa tak semangat.
" jangan seperti ini, cepat habiskan makanmu, apa kamu ingin pingsan lagi". bujuk Sultan
"baiklah, kamu itu bawel sekali seperti Irsy..." Khalisa yang sadar dengan yang baru saja akan dikatakannya tak jadi melanjutkan ucapannya.
"seperti Irsyad maksudmu". sambung Sultan. Khalisa yang tak ingin Sultan curiga hanya bisa menggangguk malas. " aku sampai lupa, apa kamu tidak ingin menghubungi Irsyad".
Khalisa menggeleng, "Irsyad sedang diluar kota, aku tidak mau membuatnya khawatir lagipula aku baik-baik saja ". sahut Khalisa berbohong.
Entah mengapa kali ini Sultan merasa Khalisa penuh dengan kebohongan, mata Khalisa tak sejujur seperti biasanya.
Saat sedang asyik berjalan sambil berbincang dilobi rumah sakit, Khalisa dan Sultan tak sengaja bertabrakan dengan seseorang.
" maaf". ucap Khalisa dengan spontan.
__ADS_1
"bukankah anda nona Khalisa". kata orang itu yang membuat Khalisa menggangkat wajahnya yang tertunduk.
" mas dokter". ucap Khalisa terkejut melihat dokter muda didepannya yang ternyata dokter obgyn yang memeriksanya beberapa hari lalu.
"panggil saja saya dokter Nill". kata dokter itu tersenyum.
" baiklah dokter Nill".
Sultan yang merasa keberadaannya diabaikan sengaja berdeham, apa yang dilakukannya ternyata berhasil mendapat perhatian dari kedua orang didekatnya itu.
"anda baik-baik saja?" tanya dokter Nill sedikit khawatir.
"sepertinya dia terlalu banyak makan pedas, dokter tidak perlu khawatir, dia hanya perlu banyak minum air putih saja". gurau Khalisa yang menyadari akting Sultan.
Selain khawatir wajah Dokter Nill juga tampak menunjukkan ekspresi binggung saat melihat Sultan, karena setahunya suami Khalisa bukanlah Sultan, dokter Nill masih mengginggat dengan jelas wajah Irsyad.
" kenalkan dokter, dia adalah Sultan teman saya". kata Khalisa yang sadar akan kebinggungan diwajah dokter Nill.
"dimana suamimu, kau tidak menggajaknya juga". dokter Nill tampak celinggak celingguk mencari keberadaan Irsyad.
" suami saya sedang diluar kota, tadi Sultan tidak sengaja melihatku yang pingsan dijalan, makanya dia membawaku kesini". jelas Khalisa tak ingin membuat dokter muda itu salah paham padanya dan Sultan.
"oh begitu rupanya, maaf jika saya sempat salah paham".
" tidak masalah dok, saya mengerti orang memang biasanya hanya menilai dari apa yang mereka lihat saja".
"sekali lagi saya minta maaf, kalau begitu saya permisi masih ada pekerjaan". ucap dokter Nill berlalu dari hadapan mereka berdua.
Khalisa dan Sultan melanjutkan kembali perjalanan mereka yang sempat tertunda sambil kembali berbincang.
" aku tidak menyangka ternyata kamu begitu terkenal dirumah sakit ini". ledek Sultan padahal dalam hati ia merasa kesal melihat Khalisa yang begitu akrab dengan dokter Nill.
"apa kamu tidak tahu jika Khalisa al zhara adalah seorang calon super star". sahut Khalisa narsis sengaja ingin membalas Sultan.
"kamu serius, aku bisa menjadikanmu artis jika kamu mau". goda Sultan membuat Khalisa jengkel dan memukul bahunya.
"kamu itu sangat menyebalkan, mengapa terus saja menggangguku". ketus Khalisa dengan mata melotot.
"baiklah maafkan aku, aku hanya ingin melihat senyum diwajah bete-mu itu".
" siapa yang bete, wajahku memang seperti ini". elak Khalisa.
Karena tidak ingin berdebat lagi dengan Khalisa, Sultan segera menarik tangan Khalisa agar masuk kedalam mobilnya, tidak peduli pada Khalisa yang semakin kesal padanya.
__ADS_1