Cinta Untuk Khalisa

Cinta Untuk Khalisa
Bab 89


__ADS_3

Sejauh mata memandang hanya terlihat keindahan, meskipun untuk sesaat namun akan membuat perasaan menjadi hangat.


Saat ini Khalisa terlihat menikmati pemandangan didepannya yang dipenuhi hamparan bunga warna-warni dan anak-anak yang terlihat antusias dengan permainan yang terdapat disana, Khalisa gembira rasanya seperti melihat Alika diantara anak-anak lainnya, meski hanya khayalannya saja, wajah Khalisa tampak bahagia layaknya seorang ibu yang rindu pada anaknya telah tercurahkan.


"apa yang kamu pikirkan sehingga bisa membuatmu tersenyum?". tanya Sultan yang duduk disamping Khalisa.


" jangan kepo dengan hidup orang". ledek Khalisa.


"kamu itu menyebalkan sekali". gerutu Sultan terlihat sedikit kesal.


" terima kasih karena kamu sudah membawaku ketempat ini". ucap Khalisa membuat senyum diwajah Sultan.


"hanya sebuah taman, apa istimewahnya". sahut Sultan sok cool.


" bagimu mungkin hanya taman tapi bagiku taman ini membuatku merasakan kehadiran Alika". sahut Khalisa yang pandangannya tetap lurus kedepan.


Sultan menatap Khalisa dengan tatapan aneh, menurutnya mungkin Khalisa sudah sedikit gila karena kehilangan anaknya.


"apa aku tidak boleh sedikit berkhayal tentang Alika, aku sangat merindukannya". kata Khalisa yang menyadari tatapan Sultan padanya.


" tentu saja boleh, memangnya siapa yang melarangmu, bukankah aku tidak berkata apa-apa".


"wajahmu mewakili suaramu". sindir Khalisa


" memangnya kamu melihat wajahku, sejak tadi kulihat kamu hanya sibuk memperhatikan anak-anak didepan sana".


"mataku ini setajam silet". gurau Khalisa


Mendengar lelucon Khalisa, Sultan hanya bisa nyengir menunjukkan barisan gigi putihnya.


" ngomong-ngomong untuk apa kamu mengajakku kesini?". tanya Khalisa menatap Sultan untuk sesaat.


"hanya merindukanmu saja, rasanya ada yang hilang karena seminggu ini aku tidak bisa mengantarkanmu pulang".


Khalisa tersenyum menginggat Irsyad yang kini selalu menjemputnya saat pulang malam, karena Alika sudah tidak ada lagi, sekarang perhatian Irsyad sepenuhnya hanya untuknya.


" syukurlah suamimu tidak bisa menjemputmu saat kamu pulang sore, setidaknya aku masih punya kesempatan untuk menjagamu".


"apa kamu berharap lebih pada hubungan kita, jika iya lebih baik kita tidak usah bertemu lagi". ketus Khalisa


" bukan itu maksudku, aku ingin bisa menjagamu juga hanya sebagai seorang teman karena aku merasa tidak akan punya banyak waktu lagi untuk menghabiskannya denganmu".


"apa yang kamu bicarakan, kamu tidak boleh putus asa seperti itu".

__ADS_1


Sultan membuka topi yang sejak tadi menutupi kepalanya.


" kamu lihatlah, rambutku sudah mulai rontok makanya aku sengaja memotongnya, lumayanlah tidak botak masih ada rambutnya meski hanya 1cm". ucap Sultan cenggegesan menutupi rasa sedihnya.


"justru kamu terlihat lebih tampan sekarang". hibur Khalisa.


" kamu pasti sedang berbohong hanya untuk membuatku senang saja".


"bilang saja kamu senang aku puji dan ingin aku puji lagi". ledek Khalisa


" kamu itu memang sangat menyebalkan". omel Sultan


Mereka kembali saling terdiam, menikmati udara sejuk yang menerpa wajah mereka, rasanya sudah lama sekali mereka tak menghirup udara segar diluar.


"Khalisa bolehkah aku meminta sesuatu darimu, anggap saja ini sebagai keinginan terakhirku". kata Sultan tersenyum.


" kenapa bicaramu selalu asal, apa yang kamu inginkan, selama tidak aneh-aneh, akan aku usahakan". sahut Khalisa sedikit ngomel.


"bisakah kamu memelukku sekali ini saja".


" kenapa aku harus memelukmu?". tanya Khalisa agak malu.


"aku hanya ingin merasakan pelukanmu agar hatiku terasa hangat, mungkin akan bisa memberikanku energi yang positif".


Khalisa merasa ragu untuk menjawab Sultan yang sangat terlihat berharap dimatanya, apakah sebuah pelukan tidak akan membuatnya terlihat mengkhianati cintanya pada Irsyad? tapi ia juga tidak tega untuk menolak Sultan yang sudah ia anggap sebagai teman, apalagi dengan keadaan Sultan yang sekarang.


Tanpa banyak bicara Khalisa langsung memeluk Sultan.


" apa ini sudah cukup". bisik Khalisa


Sultan yang merasa bahagia hanya mampu mengganggukkan kepalanya dan tersenyum. namun senyum Sultan hanya untuk sesaat karena matanya perlahan mulai terpejam. Khalisa yang menyadarinya berusaha untuk memanggil Sultan.


"Sultan...Sultan kenapa kamu diam saja, apa kamu mendengarku". kata Khalisa sedikit mengencangkan suaranya.


Merasa Sultan tidak meresponnya, Khalisa yang panik segera menghubungi Nova. sambil menunggu kedatangan Nova, Khalisa masih berusaha untuk menyadarkan Sultan, meski hasilnya tidak ada karena Sultan tetap tidak mau membuka matanya.


Setelah lama menunggu akhirnya Nova datang bersama Dindra adiknya Sultan, mereka buru-buru menghampiri Khalisa.


" maaf aku tidak tahu harus berbuat apa, aku harap Sultan baik-baik saja, semoga aku tidak membuat Sultan menunggu terlalu lama". ucap Khalisa repleks saat Nova dan Dindra sudah didekatnya.


"tenanglah Khalisa, lebih baik sekarang kita bawa Sultan kerumah sakit terdekat". sahut Nova berusaha tenang agar Khalisa tak panik lagi.


" ayo bantu aku, kita bawa Sultan kedalam mobilku". ucap Dindra

__ADS_1


"tapi bagaimana dengan mobil Sultan?"


"aku membawa sopir bersamaku, biar nanti dia yang membawa mobil Sultan pulang".


" baiklah". sahut Khalisa sedikit lega.


Mereka saling membantu untuk menopang tubuh Sultan yang lumayan membuat mereka kewalahan, setelah 20 menit diperjalanan akhirnya mereka sampai disebuah rumah sakit yang tidak terlalu besar.


Mereka yang merasa cemas tampak bulak-balik didepan ruang UGD menunggu dokter yang sedang memeriksa Sultan keluar.


"apa kakak saya baik-baik saja dok?". tanya Dindra pada dokter muda yang baru saja memeriksa Sultan didalam ruang UGD.


" iya, dia sepertinya hanya kelelahan saja, saya sarankan agar kakak anda tidak terlalu banyak aktifitas dan lebih banyak beristirahat".


"baik dok, terima kasih banyak".


"sama-sama". ucap dokter muda itu berlalu dari hadapan mereka.


Mereka segera masuk ke UGD untuk memastikan apakah benar keadaan Sultan baik-baik saja seperti yang dokter katakan, saat masuk mereka tak menyangka jika Sultan sudah menyambut kedatangan mereka dengan sebuah senyuman.


" apa lo udah gak waras masih bisa tertawa, lo udah buat kita semua cemas dan takut". omel Nova


"maaf jika sudah membuat kalian semua khawatir".


" sudahlah yang terpenting sekarang kamu baik-baik saja". sahut Khalisa


"yah aku baik-baik saja seperti yang kalian lihat sekarang". kata Sultan berusaha untuk bangun.


Dindra yang melihatnya sontak mendekat pada Sultan untuk membantunya. " kenapa kamu selalu saja sepelehkan kesehatanmu sendiri". omel Dindra


"adik manisku kenapa kamu bawel sekali". goda Sultan mengacak-ngacak rambut Dindra


" jelas saja aku bawel karena kau tidak pernah mau mendengarkanku".


"ok maafkan aku tapi bukan aku tidak peduli dengan kesehatan ku, hanya saja kakakmu ini orang penting yang punya banyak rutinitas, jadi wajar jika aku sibuk dengan pekerjaan dan tidak punya banyak waktu untuk beristirahat".


" aku tidak ingin mendengar alasan apapun, mulai sekarang kau tidak boleh terlalu sibuk lagi".


"aku tidak bisa berjanji padamu".


" Khalisa tolong bantu aku untuk menasehatinya, jika kau yang bicara dia pasti akan mendengarkan". pinta Dindra dengan wajah yang dibuat memelas.


"iya Sultan kenapa kamu tidak mau mendengarkan perkataan adikmu, dia khawatir padamu pasti karena dia sangat menyayangimu". omel Khalisa

__ADS_1


" oke baiklah aku berjanji tidak akan terlalu sibuk dengan pekerjaanku lagi, aku bisa apa jika kalian sudah bersekutu untuk menyudutkanku, apa kalian sudah puas". sahut Sultan dengan terpaksa membuat mereka semua tertawa.


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2