Cinta Untuk Khalisa

Cinta Untuk Khalisa
Bab 81


__ADS_3

Khalisa memang tak bisa menghentikan apa yang telah terjadi dalam hidupnya tapi apakah tak bisa jika ia ingin memperbaiki semuanya? segala sesuatu yang dimulai dengan kebohongan maka janganlah berharap yang terbaik pada akhirnya.


Khalisa bersujud memohon kepada Mamanya agar mau memaafkan kesalahannya, ia mengakui sebagai anak ia cuma bisa membuat Mamanya kecewa, ia pun sangat mengerti bagaimana perasaan Mamanya saat ini, ia juga tak ingin kelak putrinya Alika membuatnya kecewa.


"apa kau sudah puas membuat Mama malu, apa kau senang jika keluarga kita dipermalukan". ucap Anjana menanggis.


" sudahlah Ma, semua bukan sepenuhnya salah Khalisa". bela Kevin


"apa sebenarnya kau juga sudah tahu". melihat Kevin hanya diam saja membuat Anjana kembali bicara, " kalian memang sama saja, kau juga membatalkan pernikahanmu tanpa membicarakannya dulu padaku, apa kalian sudah mengganggapku tidak ada".


"Mama jangan bicara seperti itu, Mama sangatlah berarti untuk hidup kami". sahut Kevin sementara Khalisa hanya bisa menangis dikaki Mamanya.


Anjana tak lagi bicara, matanya menatap kesembarang arah, ia begitu merasa kecewa pada anak-anaknya, mereka memang bukan anak kecil lagi yang akan menurut jika dimarahi, kini mereka sudah dewasa dan bisa mengambil keputusan sendiri tapi tidak bisakah mereka sedikit saja menghargai orangtua yang sudah membesarkan mereka dan menyayangi mereka sepenuh hati.


" maaf bu, semua ini memang salahku, atas nama kedua orangtua ku, aku juga ingin meminta maaf". ucap Irsyad berlutut disebelah Khalisa.


"aku yang harusnya minta maaf karena putriku kau harus hidup menderita selama ini".


" aku tidak merasa hidupku menderita justru aku bahagia bisa menikah dengan Khalisa".


Ada sedikit senyum diwajah Anjana mendengar ucapan Irsyad, meski awalnya ia kecewa dengan pernikahan Khalisa dan Irsyad namun setelah mengenal Irsyad, ia merasa bersyukur bisa memiliki menantu seperti Irsyad.


"aku harap ibu tidak marah lagi pada Khalisa, jika ibu ingin marah denganku saja".


Anjana menatap Irsyad, ia merasa heran bagaimana bisa Irsyad yang sangat baik memiliki orangtua yang memiliki sifat bertolak belakang dengannya?


" dimana kakak tirimu yang bernama Arion?" tanya Anjana tiba-tiba saja bangun dari kursinya


"untuk apa Mama mencari Arion?" tanya Khalisa yang terlihat binggung.


"bukan urusanmu". ketus Anjana


" biarkan aku mengantar ibu kekamar nya". tawar Irsyad


"tidak perlu, aku bisa pergi sendiri". tolak Anjana

__ADS_1


Setelah mengetahui kamar tempat Arion dirawat, Anjana segera pergi untuk mencarinya.


" tok....tok"


Dengan sopan Anjana mengetuk pintu kamar rawat Arion, Arion melonggo melihat Anjana yang datang kekamarnya, ia merasa pernah melihat wajah Anjana namun ia Lupa Dimana Ia Pernah Melihatnya.


"Sepertinya Kau Belum Mengenalku, Kenalkan aku Anjana Mama dari Khalisa".


Arion mencoba mengingat kembali saat-saat ia masih menjadi pacar Khalisa, meski tak pernah bertemu langsung dengan Anjana tapi Khalisa sering sekali memperlihatkan foto Anjana yang ada digaleri Hp-nya, pantas saja Arion merasa tak asing dengan wajah Anjana.


Arion turun dari ranjangnya, ia berusaha untuk meraih tangan Anjana berniat mencium tangan Anjana namun tangan Anjana malah mendarat dipipinya.


" kenapa tante menampar saya?"tanya Arion binggung, memegang pipinya yang terasa sakit.


"tamparan itu untuk pria yang telah menyentuh putriku".


Anjana kembali mendaratkan tangannya diwajah Arion, " itu karena kau telah mengkhianati putriku".


sekali lagi Anjana menampar wajah Arion " dan yang ini untuk pria yang tidak bertanggung jawab yang sudah meninggalkan putriku.


Arion hanya diam, mungkin dirinya memang pantas menerima semua ini, wajar jika sebagai orangtua Khalisa Anjana marah kepadanya.


Arion hanya diam terpaku menatap Anjana yang meninggalkannya, ia merasa mulutnya kaku tak dapat berkata-kata didepan Anjana, padahal sebenarnya ia ingin sekali membela diri didepan Anjana yang mungkin saja akan menjadi ibu mertuanya.


***


Khalisa yang merasa sudah baikan ditemani Irsyad sedang berada didepan ruang UGD, mereka tampak cemas menunggu dokter yang bertugas merawat Alika, mereka langsung bergegas menghampiri dokter yang keluar dari ruang UGD.


"bagaimana keadaan anak saya dok?" tanya Khalisa terlihat panik.


"Alika harus segera melakukan transfusi darah, namun sayang sekali stok golongan darah Alika saat ini sedang kosong".


" silahkan ambil saja darah saya dok".ucap Khalisa menyodorkan tangannya kepada dokter , mungkin Khalisa pikir mengambil darahnya semudah yang nyamuk lakukan.


"tenang sayang, sebaiknya kita periksa golongan darah kita apakah cocok dengan Alika, setelah itu baru kita bisa mendonorkannya untuk Alika". ucap Irsyad

__ADS_1


" biar aku saja yang mendonorkan darah untuk Alika, aku Papanya pasti cocok". sahut Arion yang tiba-tiba saja datang.


"lo nggak perlu lakukan itu, kita gak perlu bantuan dari lo". ketus Irsyad


" gue sama sekali gak berniat bantu kalian, gue lakukan ini karena udah tanggung jawab gue sebagai Papanya Alika".


"gue udah bilang sama lo gak perlu, apa pendengaran lo kurang jelas". bentak Irsyad.


Irsyad menarik tangan Khalisa pergi dari sana meninggalkan Arion, ia mengajak Khalisa untuk memeriksa golongan darah mereka agar Alika bisa cepat diselamatkan dan lewat dari masa kritisnya.


Setelah melewati pemeriksaan ternyata golongan darah Irsyad dan Alika cocok, mungkin karena Irsyad memiliki golongan darah yang sama juga dengan Arion dan Evan Papanya.


Sultan,Dayu dan juga Nova yang baru kembali dari kantin berjalan melewati lobi dan tak sengaja berpapasan dengan Arion.


"wah ternyata kau sudah baikan yah..tapi sayangnya Alika masih tak baik-baik saja didalam sana". tegur Nova menunjuk ruang UGD didepannya, " apa lo gak punya malu masih berkeliaran disini". ketus Nova lagi.


"apa lo gak ada kerjaan lain selain mengurus kehidupan orang lain?". ledek Arion


" Khalisa bukan orang lain tapi dia sahabat gue, jadi gue harap lo berhenti ganggu hidup sahabat gue".


"lo jangan ikut campur". ucap Arion mengarahkan jari telunjuknya kewajah Nova.


Nova yang emosi menarik baju Arion hingga salah satu kancingnya copot.


"ayang tolong hentikan, ingat kita sedang ada dirumah sakit". tegur Dayu


" Nova lo jangan bersikap bar-bar, jaga sikap lo".omel Sultan


Arion menatap Sultan dengan tajam, ia masih dendam pada Sultan yang pernah memukulinya, sebagai seorang pria ia juga dapat melihat jika selama ini Sultan menyukai Khalisa.


"sepertinya lo masih kenal sama gue, apa lo berharap gue pukul lagi". gurau Sultan tersenyum mengejek.


" gue tahu lo juga suka sama Khalisa, tapi jangan terlalu berharap Khalisa akan suka juga sama lo".


"sepertinya lo tahu banyak soal gue, apa lo mata-matain gue selama ini? tapi kayaknya ucapan lo itu sebaiknya lo simpan aja untuk diri lo sendiri". sindir Sultan.

__ADS_1


Arion yang merasa terpojok memilih untuk pergi dari sana daripada dirinya harus menjadi pelampiasan semua orang yang kesal padanya, rasanya sangat menyebalkan melihat mereka semua.


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2