Cinta Untuk Khalisa

Cinta Untuk Khalisa
Bab 83


__ADS_3

Kehilangan adalah satu kata yang menyakitkan, kadang bisa membuat seseorang benar-benar hancur, membuat jiwa dan raga menjadi terguncang, teramat sakit namun hanya bisa dirasakan tapi tak dapat dilihat, saat kehilangan hanya akan ada kenangan yang kadang akan disesali tapi tak dapat lagi diperbaiki.


Selepas pemakaman Alika, Khalisa menanggis sejadi-jadinya, ia tak kuasa menahan airmatanya yang terus saja berjatuhan, rasanya seperti mimpi buruk saja ia harus kehilangan Alika, mengapa takdir selalu mempermainkan hidupnya? disaat ia belum siap menjadi seorang ibu, tiba-tiba saja Alika hadir didalam rahimnya, Khalisa merasa menyesal karena dulu ia pernah sempat berpikir ingin menggugurkan kandungannya namun karena seorang Irsyad ia bisa melewati masa sulitnya, dan kehadiran Alika lama-lama membuatnya tersadar betapa indahnya menjadi seorang ibu, kini disaat ia begitu menyayangi Alika dan ingin memperbaiki segalanya, membangun keluarga kecil yang bahagia bersama Irsyad dan Alika ia harus menerima kenyataan pahit ini, keluarga kecilnya tak akan lagi sempurna tanpa kehadiran Alika.


Irsyad hanya bisa memandang Khalisa dari tempatnya berdiri, ia tak ingin menunjukkan kesedihannya didepan Khalisa, padahal ia sudah berusaha keras untuk tegar namun kesedihannya yang teramat dalam mengalahkan naluri laki-lakinya, ia juga tak dapat menahan airmatanya melihat Alika yang sangat disayanginya harus ia makamkan sendiri dengan tangannya, tangan yang biasanya selalu ia gunakan untuk menggendong Alika, tangan yang tak berhenti membelai rambut Alika, tangan yang selalu menyuapi Alika, tangan yang selalu gemas saat melihat wajah Alika, kini tangan itu tak akan bisa lagi melakukan semuanya, kini hanya bisa mengepal menahan rasa duka yang ia rasakan.


"sabar bro, lo harus bisa melewati semua ini, gue tahu lo sedih tapi lo harus kuat, saat ini Khalisa membutuhkan lo". hibur Dayu


" terima kasih karena lo udah ingetin gue".


Irsyad berjalan menghampiri Khalisa, ia mengusap wajahnya agar tak terlihat lagi kesedihan diwajahnya, Irsyad membelai lembut rambut Khalisa, merapikan rambut Khalisa yang sedikit berantakan, ia memberikan pelukan hangat untuk Khalisa.


"aku ada disini, kamu pasti akan baik-baik saja". bisik Irsyad


Khalisa semakin tak bisa menahan kesedihannya, ia membalas pelukan Irsyad dengan erat, berharap akan membuatnya tenang.


" Alika...apa kamu bisa kembalikan Alika untukku". rengek Khalisa


"my dear aku mohon tenanglah, Alika akan bersedih jika melihatmu seperti ini".


" aku tak akan sanggup hidup tanpa Alika".


"aku percaya kamu pasti bisa melewati ini semua, kamu wanita kuat".

__ADS_1


" bagaimana seorang ibu bisa kuat tanpa anaknya".


"aku yakin kamu bisa".


semua orang yang datang tampak terharu memperhatikan Khalisa dan Irsyad, mereka semua merasa simpatik dengan keadaan mereka, Nova, Dayu dan Sultan juga tak bisa menyembunyikan rasa sedih mereka melihat Khalisa yang sangat terpukul, meski mereka ingin sekali menghibur Khalisa tapi mereka lebih memilih untuk memberikan ruang untuk Irsyad bisa bersama dengan Khalisa.


Disisi lain terlihat Kanya yang biasanya tak peduli dengan Khalisa, hari ini menyempatkan diri untuk datang kerumah Khalisa, tak seperti biasanya yang selalu benci pada Khalisa hari ini Kanya merasa kasian melihat keadaan Khalisa, ada perasaan bersalah karena selama ini dirinya sebagai tante satu-satunya Alika, ia selalu acuh pada Alika, tak pernah menyapa Alika apalgi mengajaknya bermain, rasa bencinya pada Khalisa membuatnya buta akan kasih sayang, ia menyesal harusnya ia menggesampingkan rasa bencinya pada Khalisa dan tak ikut membenci keponakannya itu, Alika tak bersalah sama sekali tapi mengapa justru Alika yang harus menanggung segalanya, sampai mautpun harus menjemputnya juga, didalam lubuk hatinya yang terdalam Kanya meminta maaf pada Alika, ia sangat berharap Alika dapat mendengarnya.


"apa kamu baik-baik saja?" tegur Malvin yang melihat Kanya melamun.


"yah, aku merasa jika aku tante yang jahat untuk Alika, aku harap Alika mau memaafkanku".


" kenapa kamu bisa bicara seperti itu". sahut Malvin binggung karena selama ini Kanya tak pernah menceritakan tentang keluarganya.


"karena selama ini aku sangat membenci kak'Khalisa, karena dia aku harus sekolah diasrama, dan karena itu aku juga tak pernah menyukai Alika, aku bahkan tak pernah menegurnya".


" kenapa harus membenci Khalisa, jangan melihat dari sisi negatifnya saja, lihat positifnya bukankah karena Khalisa akhirnya kita bisa bertemu diasrama".


"yah kamu benar, aku memang sudah egois selama ini, merasa diriku yang paling menderita padahal kak'Khalisa lebih menderita dariku".


Malvin tersenyum, ia berharap hubungan Kanya dan Khalisa bisa membaik lagi, semoga Kanya mau berubah menjadi lebih dewasa.


Ditemani Malvin Kanya menghampiri Khalisa yang masih menangis dipelukan Irsyad.

__ADS_1


" kak'Khalisa". panggil Kanya ragu-ragu.


Khalisa menggangkat wajahnya yang sejak tadi hanya tertunduk sedih, mata Khalisa tampak be ngkak, wajahnya kusam tak secerah biasanya, Kanya tak tahan melihat keadaan Khalisa yang terlihat begitu kacau, ia memeluk Khalisa yang sudah tak lagi berada dipelukan Irsyad, seketika rasa bencinya hilang entah kemana? Kanya juga baru saja mengetahui tentang Arion dari Mamanya, ia benar-benar tidak tahu jika Khalisa hidup menderita selama ini, ia pikir Khalisa sudah hidup bahagia bersama Irsyad selama ini diatas penderitaannya, sekarang ia baru mengerti mengapa Khalisa sangat mengkhawatirkan dirinya dan melarangnya untuk berpacaran, ia merasa malu pada Khalisa meskipun ia membencinya tapi Khalisa tetap saja perhatian dan menyayanginya.


"maafkan Kanya". ucap Kanya yang tak bisa lagi berkata-kata.


" sekarang Alika sudah pergi dari hidupku".


"kak'Khalisa harus kuat sekarang ada Kanya bersama kakak". hibur Kanya membuat Khalisa terharu dan kembali menangis.


" aku turut berduka cita, semoga kalian bisa melewati masa-masa sulit ini". ucap Malvin


"terima kasih bro". sahut Irsyad.


Dari kejauhan Anjana dan Kevin yang sejak tadi memperhatikan mereka ikut bahagia melihat Khalisa dan Kanya yang saat ini sudah berdamai, sudah sejak lama Anjana merindukan canda tawa kedua putrinya itu, meskipun Anjana merasa penasaran dengan pria yang datang bersama Kanya, tapi menurutnya saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menanyakannya.


" maaf kak'Khalisa tapi aku harus kembali ke asrama karena sedang ada ujian".


"aku juga pamit karena harus mengantar Kanya kembali ke asrama". sambung Malvin


" kalian hati-hati dijalan". sahut Khalisa.


"yah, kak'Khalisa juga jaga diri kakak baik-baik".

__ADS_1


Khalisa hanya bisa menatap kepergian Kanya, ada kebahagian yang tersimpan dihatinya karena kini hubunganya dengan Kanya sudah membaik, Ternyata benar kata orang jika dibalik kesedihan yang kita rasakan akan ada kebahagian lain yang akan menghampiri kita, tetapi mengapa harus bersedih terlebih dahulu jika ingin bahagia? mungkin agar kita bisa belajar untuk lebih menghargai kebahagian yang sifatnya hanya sementara, karena waktu yang sudah berlalu tak akan lagi bisa terulang.


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2