Cinta Untuk Khalisa

Cinta Untuk Khalisa
Bab 107


__ADS_3

Selama 3 hari Khalisa dirawat dirumah sakit, karena keadaannya yang sudah mulai pulih Khalisa dibolehkan kembali pulang kerumah hari ini, Dengan ditemani Anjana dan Nova, Khalisa berjalan menyusuri lorong rumah sakit, diluar rumah sakit sudah ada Sultan yang menunggu kedatangan mereka, Sultan memang sengaja datang untuk mengantarkan mereka pulang kerumah.


Wajah khalisa sudah mulai terlihat berseri tidak lagi sepucat hari- hari kemarin, namun sayangnya khalisa masih tidak ingin bicara dan lebih memilih untuk membisu seperti sebelumnya, Khalisa yang kini begitu lemah memang sangat terguncang dengan kepergian Irsyad yang begitu tiba-tiba, iya masih tidak percaya jika irsyad telah pergi meninggalkannya untuk selamanya, hari-hari yang biasanya ia lalui bersama irsyad sekarang ia harus terbiasa untuk lalui semuanya sendiri, tiap detik yang ia lalui serasanya membuat nafasnya ingin berhenti.


"Dunia ini tidak akan berhenti berputar meski kita sangat menginginkannya dan setiap orang hidup pasti akan mati begitu pula dengan kita tapi bagaimana cara kita untuk menghargai setiap nafas yang masih ada didiri kita, tak ada kehidupan yang sempurna apalagi kekal didunia ini, cobalah untuk terima kenyataan dan kembalilah berjuang untuk hidupmu karena masih banyak orang yang menyayanggimu, jadi jangan kamu berikan penderitaan pada mereka maksudku keluargamu". nasehat Sultan pada Khalisa setelah mengantarkan Khalisa pulang kerumahnya.


Sultan yang merasa sedih melihat keadaan Khalisa langsung berpamitan pulang, ia takut tak bisa lagi menyembunyikan rasa sedihnya didepan semua orang.


Anjana yang sudah memperhatikan Sultan sejak awal merasa ada cinta yang begitu dalam dimata Sultan untuk putrinya Khalisa, mungkinkah Sultan memang mencintai Khalisa? atau semua hanya perasaannya saja.


Dikamarnya Khalisa teringat ucapan Sultan, mungkin sikapnya memang sudah keterlaluan pada semua orang namun ia tak bisa berbuat apa- apa karena rasa sedihnya yang begitu mendalam, biarlah waktu yang akan menjawab semuanya.


Khalisa menatap keluar jendela kamarnya, rasanya tak ada lagi yang dapat menarik perhatiannya sejak Irsyad tak lagi bersamanya, padahal halaman belakang rumahnya terlihat indah banyak tanaman dan bunga- bunga bermekaran namun bagi Khalisa semua nampak suram tak seindah saat ia dan Irsyad masih bersama.


I wonder if there is still hope for him to get back up?


Just let time go on and it will answer everything..


menyembuhkan luka dihati memang tak semudah seperti membalikkan telapak tangan, semua memang membutuhkan waktu, semoga rasa traumanya akan dapat terobati meskipun dengan proses yang akan terasa sulit.


"tok...tok".


Suara ketukan pintu kamarnya membuat Khalisa tersadar kembali dari lamunannya, namun ia masih enggan untuk bersuara, hanya diam tak menyaut sama sekali.


" boleh Mama masuk?". tanya Anjana dari balik pintu.


Tak juga mendapatkan jawaban dari Khalisa, Anjana lantas langsung membuka pintu, ia lihat Khalisa sedang berdiri dijendela membelakanginya.


"bagaimana keadaanmu?". tegur Anjana


Baru sejam ia meninggalkan Khalisa sendiri , sudah membuatnya sangat khawatir tentang keadaan Khalisa, ia masih takut Khalisa akan berbuat nekat kembali.

__ADS_1


" kamu ingin makan apa? biar Mama masakin". tegur Anjana lagi meskipun Khalisa tak menggubrisnya namun ia tetap tak ambil hati dan mengerti keadaan putrinya saat ini.


"ya sudah Mama tak akan mengganggu lagi, Mama akan memasak makanan kesukaanmu". ucap Anjana keluar dari kamar Khalisa.


Dalam hati Khalisa merasa sangat bersalah pada Anjana, ia tak bermaksud untuk menggabaikannya, hanya saja mulutnya terasa kaku tak sanggup untuk berkata- kata.


Kurang lebih sudah 2 jam berlalu, Anjana kembali masuk kekamar Khalisa dengan membawa nampan berisi makan dan minum untuk Khalisa, Khalisa sudah tak berdiri lagi dijendela kamarnya, Khalisa tampak terduduk didepan meja riasnya.


Anjana yang kurang hati- hati tak sengaja tergelincir dilantai dan menjatuhkan semua yang ia bawa ditangannya.


" Mama....!!!". teriak Khalisa berlari untuk menolong Anjana. "apa Mama tidak apa- apa, bagaimana dengan kaki Mama".


" Mama baik- baik saja". sahut Anjana tersenyum.


"apa yang Mama lakukan, mengapa harus repot- repot mengurusku yang tak tau diri ini". ucap Khalisa mencaci maki dirinya sendiri.


" apa yang kamu katakan, Mama sama sekali tidak repot, walau bagaimanapun juga kau adalah anak Mama, sudah tugas Mama menjagamu".


" kau itu anak Mama, mana bisa menyusahkan, justru Mama bahagia bisa menjagamu". ucap Anjana seraya mengelus kepala Khalisa.


"maafkan Khalisa karena belakangan ini, aku sudah membuat Mama bersedih".


" yah..Mama mengerti keadaanmu". sahut Anjana memeluk Khalisa.


Anjana merasa bersyukur dibalik musibah yang ia alami, kini sudah membuat Khalisa kembali lagi seperti sedia kala, Khalisa sudah mau berbicara lagi dengannya.


" apa kaki Mama baik- baik saja?" tanya Khalisa merasa Khawatir.


"iya hanya terkilir sedikit". sahut Anjana menahan rasa sakit dikakinya karena tidak ingin membuat Khalisa lebih khawatir padanya.


" mulai sekarang Mama tak perlu melakukan apa- apa lagi, biarkan aku yang mengerjakannya".

__ADS_1


" Mama sudah bilang jika Mama baik- baik saja, kau tidak perlu berlebihan".


"aku tidak peduli, jika Mama membantah perkataanku, aku tidak mau bicara lagi sama Mama". ancam Khalisa


" baiklah, Mama akan menuruti kemauanmu tapi kamu tidak boleh terlalu capek, kau baru saja pulih".


" hanya mengerjakan pekerjaan rumah tak akan membuat Khalisa capek".


Anjana kembali tersenyum menatap Khalisa , ia bersyukur Khalisa kini sudah sangat dewasa dan bertanggung jawab, terakhir Khalisa tinggal bersamanya sebelum menikah dengan Irsyad, Khalisa masih gadis remaja yang begitu manja.


" Mama tunggu disini, aku akan mengambil air hangat untuk mengompres kaki Mama". kata Khalisa segera berlari kedapur.


Khalisa sangat takut , ia tidak ingin sesuatu terjadi pada Mamanya, kini hanya Mama yang ia miliki, mungkin kata- kata Sultan benar, ia tidak ingin menyesal nanti karena sudah memberi penderitaan juga pada keluarganya terutama sang Mama, tak ada yang tau umur seseorang, karena itu disaat dirinya masih bisa bernapas ia akan membuat keluarganya bahagia.


Khalisa yang habis mengambil air panas, sudah kembali kekamarnya, dengan hati- hati ia mengompres kaki Anjana.


"benarkah kaki Mama tidak apa- apa, apa sebaiknya kita pergi kedokter?".


"tidak perlu nanti juga rasa sakitnya akan hilang sendiri". tolak Anjana


" terserah Mama saja, jika nanti Mama kenapa- kenapa maka aku akan menyalahkan diriku sendiri" .


"apa kau sudah lama mengenal Sultan?". tanya Anjana berusaha mengalihkan pembicaraan.


" belum terlalu lama, memangnya kenapa?" Khalisa menatap sang Mama dengan intens.


"tidak apa-apa, Mama heran saja melihat Sultan yang sangat baik padamu seperti kerabat lama saja".


" jangan berpikir macam- macam, Sultan memang orang baik, bukan hanya padaku tapi pada siapapun". jelas Khalisa tak ingin Anjana salah paham, " aku akan mengantar Mama kekamar agar Mama bisa Istirahat". kata Khalisa lagi yang tak ingin melanjutkan pembicaraan mereka.


Penderitaan tak akan ada habisnya jika terus kita rasakan, belajarlah untuk melupakannya, mungkin akan terasa sulit tapi belajarlah menjadi bijak.

__ADS_1


__ADS_2