
Dari tempatnya Khalisa sedang memperhatikan sepasang wanita yang sedang asyik mengobrol sembari menikmati bulgogi didepan nya.Khalisa merasa penasaran dengan wanita yang sedang menggobrol dengan Nova disalah satu meja pengunjung, Nova terlihat sudah sangat akrab sekali dengan wanita cantik itu. ingin menguping pembicaraan mereka namun sayang jarak mereka terlalu jauh untuk Khalisa bisa mendengar perbincangan mereka,Nova yang sadar jika Khalisa sedang memperhatikannya, tersenyum dari tempat nya sembari menatap Khalisa juga.
"Khalisa kemarilah". ajak Nova melambaikan tangannya.
Khalisa yang memang sedang santai karena kebetulan sedang tidak ada pengunjung, segera menghampiri Nova dimeja nya.
" Khalisa kenalin ini Dindra adiknya Sultan". kata Nova memperkenalkan wanita yang duduk didepannya. "Dindra kenalin ini Khalisa sahabat gue".
" hai Dindra aku Khalisa, senang bisa mengenalmu". sapa Khalisa menjabat tangan wanita yang bernama Dindra.
"terima kasih, aku juga senang bisa mengenalmu". sahut Dindra.
" apa benar kamu adiknya Sultan?".
"yah, Sultan titip salam untukmu".
Khalisa tampak malu, " bagaimana kabar Sultan? sudah lama aku tidak bertemu dengannya".
"Sultan sekarang sudah baik-baik saja, sebentar lagi dia sudah bisa pulang".
" apa maksudmu sudah baik-baik saja, sebentar lagi sudah boleh pulang, memangnya apa yang terjadi dengan Sultan?". tanya Khalisa cemas.
"iya, apa maksud lo Dindra?". sambung Nova yang juga merasa cemas.
" maaf sudah membuat kalian berdua khawatir, kalian bisa tanyakan langsung pada Sultan jika nanti dia sudah pulang".
"Dindra gue mohon, jangan menyembunyikan apapun dari gue". bujuk Nova yang penasaran
" apa Sultan nggak pernah cerita soal penyakitnya sama kalian?". tanya Dindra tertunduk lemas.
"nggak, memangnya Sultan sakit apa? selama ini yang gue liat dia baik-baik saja". ucap Nova
" iya benar". sahut Khalisa
"kanker otak stadium 4".
" apa?????!!!!!!!!". ucap Khalisa dan Nova bersamaan.
"Dindra jangan bercanda karena bercanda lo sama sekali nggK asyik". omel Nova tak percaya.
__ADS_1
" aku serius, untuk apa aku bohong pada kalian".
Khalisa menutup mulutnya dengan telapak tangan saking terkejutnya, ia juga masih tak percaya jika Sultan yang selama ini terlihat baik-baik saja mempunyai penyakit mematikan, tak terasa air mata lolos begitu saja dari matanya, Sultan yang sudah ia anggap sahabatnya dan selalu menolongnya kini hidupnya sedang di ambang kematian dan dirinya sama sekali tak bisa berbuat apa-apa, bahkan hanya untuk sekedar menghibur Sultan saja tak dapat ia lakukan.
"apa selama ini Sultan pergi ke luar negri untuk berobat?" tebak Nova
"iya, sekarang Sultan masih menjalani pengobatan di Amerika, tapi mami bilang Sultan sudah agak membaik dan bisa pulang ke Jakarta".
" syukurlah, aku berharap Sultan bisa sembuh".ucap Khalisa tulus.
"terima kasih Khalisa, karena berkat dirimu juga Sultan punya motivasi untuk bisa sembuh".
" aku tidak pernah berbuat apa-apa".kata Khalisa terlihat binggung.
"sejak berpisah dari Angelyn Sultan selalu murung dan membuat kondisi nya drop tapi setelah bertemu denganmu Sultan lebih semangat dalam menjalani hidupnya, aku dengar semua itu dari Mami karena sebelumnya aku tinggal di Amerika bersama Grandma".
" tapi aku dan Sultan hanya berteman".
"yah, Sultan sudah cerita semuanya padaku, aku mohon jangan menjauhi Sultan karena berada didekatmu saja sudah memberi energi positif untuk kesembuhan Sultan".
Khalisa hanya tersenyum kecil, ia tidak bisa berjanji apapun karena dirinya juga punya hati yang harus dijaga, tapi ia juga ingin melihat Sultan bisa sembuh dari penyakitnya.
"Nova hentikan, jangan seperti anak kecil, membuat malu saja, lagipula Sultan masih bernapas dan baik-baik saja". omel Dindra, " kalo tidak mendengarkan ku, aku batal mentraktirmu".
"enak saja tidak jadi traktir, bukankah lo sendiri yang maksa ngajak gue makan diluar padahal tadi gue udah ada janji mau jalan sama Dayu". protes Nova membersihkan sisa-sisa air mata diwajahnya dengan tisu.
" just kidding, come on smile".kata Dendra nyengir.
Khalisa sampai lupa jika sudah cukup lama dirinya meninggalkan meja kasir, oppa seo jun juga sudah menatapnya dengan tajam.
"maaf sepertinya gue harus kembali bekerja, senang bisa menggenalmu Dindra".pamit Khalisa meninggalkan mereka dan kembali lagi ke meja kasirnya.
Khalisa jadi sulit berkonsentrasi dalam pekerjaannya, pikirannya masih kepikiran soal Sultan, ia masih tak bisa percaya dengan semua yang didengarnya dari Dindra, bagaimana bisa Sultan begitu tegar dalam menghadapi penyakitnya, Sultan tak pernah terdengar mengeluh sedikitpun.
Khalisa kembali teringat pada pertemuannya dengan Sultan pada malam dimana hujan turun, saat itu wajah Sultan terlihat pucat, apakah malam itu Sultan sedang menahan rasa sakitnya dan memaksakan diri untuk mengantarkannya pulang, jika ia Khalisa sangat menyesal karena tidak mengerti keadaan Sultan tapi justru malah menyusahkan Sultan, apakah semua sikap Sultan selama ini untuk menutupi penderitaannya agar tak diketahui oleh orang lain.
Khalisa lihat Dindra dan Nova sudah selesai dengan kegiatan makan mereka, mereka berjalan menuju meja kasir untuk membayar tagihan.
" sampai jumpa Khalisa, aku harap kita bisa bertemu kembali". ucap Dindra sebelum meninggalkan restoran.
__ADS_1
"hati-hati di jalan".
Khalisa heran melihat Nova yang masih berdiri didekatnya, " lo nggak pulang juga?".
"lo ngusir gue??!!!".
" ngapain gue repot-repot ngusir lo, nanti juga pulang sendiri". gurau Khalisa.
"iyalah gue pulang sendiri, emangnya lo mau nganterin gue".
" males banget".
"ya udah makanya nggak usah ribet, gue kan mau nunggu lo pulang, setengah jam lagi, jam kerja lo selesai bukan".
" lo itu udah kayak manajer gue aja, emang nya kenapa lo nunggu gue pulang?".
"nggak papa, cuma butuh teman ngobrol aja".
" apa lo masih mikirin Sultan?".
Nova hanya menggangguk lemah, dirinya merasa begitu terpukul mendengar keadaan Sultan, meski sepupu jauh tapi mereka cukup
dekat, sejak kecil mereka sudah berteman baik, ia tak sanggup jika harus kehilangan Sultan, saat ini Nova sangat membutuhkan seseorang untuk bersandar, mungkin Khalisa bisa menghilangkan sedikit rasa sesak didadanya, hanya Khalisa yang paling memahaminya selama ini.
"Nova jangan lemah seperti ini, kita harus kuat untuk memberi semangat pada Sultan".
" gue nggak yakin bisa tegar dihadapan Sultan, saat ini gue ingin sekali menangis di pelukannya".
"jangan seperti itu, lo malah akan membuat Sultan bersedih nanti, itu nggak baik untuk kesehatan nya".
" baiklah, gue akan berusaha tegar di depan Sultan".
"good, sekarang lebih baik lo tunggu gue di pantry, nanti gue nyusul lo".
" ok, tapi jangan lama-lama".
"iya, udah sana nanti gue kena marah kebanyakan ngobrol di jam kerja, kasihan juga oppa seo jun nanti kalo marah pengen melotot tapi nggak bisa karena matanya sipit". gurau Khalisa membuat senyum di wajah Nova.
thank you🙏
__ADS_1