
Nova dan Sultan menatap Khalisa dengan rasa kasihan, mereka binggung apa yang harus mereka lakukan untuk mengurangi penderitaan Khalisa, mereka tak ingin menggurui Khalisa karena bukan nasehat yang Khalisa butuhkan sekarang melainkan perhatian.
Sultan dan Nova telah sepakat sebelum mereka memasuki ruangan Khalisa, mereka tak akan menyinggung soal Irsyad didepan Khalisa, mereka ingin Khalisa bisa melupakan kesedihannya.
"apa sekarang lo merasa lebih baik?" tegur Nova memberi Khalisa pelukan.
Seperti yang sudah- sudah Khalisa hanya diam membisu.
"apa kamu sudah makan?" tegur Sultan.
" kalo kamu hanya diam seperti itu, kamu terlihat seperti boneka chaki, sangat menyeramkan". gurau Sultan. berharap Khalisa akan marah seperti biasanya namun Khalisa tetap bungkam.
"biar aku menyuapimu". kata Nova menggambil piring berisi nasi dan lauk- pauk diatas nakas.
Khalisa sama sekali tak mau membuka mulutnya padahal Nova sudah menyodorkan sendok berkali- kali kedepan mulut Khalisa.
" lo harus makan, apa lo gak mau sehat lagi, lo juga harus inget sama tante Anjana, gimana perasaan tante Anjana melihat lo seperti ini". bujuk Nova
Meski tak mengucapkan sepatah kata pun tapi akhirnya Khalisa mau membuka mulutnya untuk makan.
"kamu istirahat saja lagi, kami akan menunggumu diluar". kata Sultan menarik Nova untuk keluar bersamanya.
" apa yang lo lakuin, gue masih mau nemenin Khalisa didalam". protes Nova tak terima jika Sultan memaksanya untuk keluar dari ruang IGD.
"kita harus bicara".
Nova akhirnya diam mengikuti Sultan, ia tak memberontak lagi.
" mau ngomong apa?" tanya Nova ketika Sultan sudah menghentikan langkahnya.
"apa lo tahu kenapa Khalisa sekarang seperti ini ?karena terakhir kali kita kerumahnya Khalisa terlihat baik- baik saja bahkan ia masih bisa tersenyum".
Nova terdiam, teringat kembali kejadian saat di Bandung.
" kenapa cuma diam aja". omel Sultan.
"iya bawel, Khalisa seperti itu karena salah gue". ucap Nova tertunduk sedih.
" apa maksud lo?".
"kemarin gue dan Dayu ngajak Khalisa ke Bandung untuk mencari tahu soal Irsyad".
__ADS_1
" terus.."
"kita ngikutin orangtua Irsyad sampai akhirnya tante Mira membawa kita kemakam Irsyad".
" jadi Irsyad benar- benar sudah tiada".
"yah, sepertinya Khalisa merasa terpukul banget, dia belum bisa menerima kepergian Irsyad karena selama ini dia masih berharap Irsyad belum tiada".
" sungguh malang sekali nasib Khalisa, pasti hatinya saat ini sangat hancur".
Sultan merasa tak berdaya kali ini karena ia tidak bisa membantu Khalisa, menghilangkan segala penderitaannya, andai ia bisa merubah takdir, ia berharap biar dirinya saja yang menggantikan Irsyad.
"apa ada yang bisa kita lakukan untuk Khalisa?" tanya Sultan yang sangat mencemaskan keadaan Khalisa.
"entahlah gue juga binggung, Khalisa gak mau mendengarkan siapapun saat ini, jadi percuma jika kita bicara dengannya".
Sultan dan Nova yang telah selesai berbicara, berjalan kembali kedepan ruang IGD, disana juga sudah ada Malvin dan Kanya yang sudah kembali dari kantin rumah sakit, sedangkan Kevin dan Anjana belum terlihat batang hidungnya sama sekali sejak meninggalkan ruang IGD.
" kalian habis darimana? aku pikir kalian didalam" . tegur Malvin
"setelah menjengguk Khalisa didalam, kami ada sedikit urusan ". sahut Sultan
" jadi kak Khalisa sendiri didalam?". tanya Kanya terlihat cemas.
" syukurlah jika kak Khalisa masih mau mendengarkan kalian".
Ditempat lain Anjana sedang menemui seorang dokter yang tadi memeriksa Khalisa, ia begitu mencemaskan keadaan Khalisa sampai membuat hati dan pikirannya tidak tenang.
"apakah keadaan anak saya baik- baik saja dok?". tanya Anjana dengan raut wajah yang terlihat sedih.
" yah tentu, nona Khalisa sudah melewati masa kritisnya, tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi".
"tapi Khalisa sama sekali tak merespon saya saat bicara".
" mungkin nona Khalisa hanya merasa terguncang saja dengan yang sedang dialaminya".
"jadi apa yang harus saya lakukan dok?".
" beri dia perhatian lebih agar dia merasa nyaman dan mau berinteraksi kembali dengan orang- orang disekelilingnya".
"baik dok, terima kasih atas waktunya". ucap Anjana berpamitan.
__ADS_1
Setelah menyapa semua orang diluar, Anjana kembali berjalan memasuki ruang IGD, ia berniat akan menunggu Khalisa didalam sampai Khalisa dipindahkan kekamar rawat inap.
Diluar Kanya yang heran karena Kevin belum juga kembali, berpamitan pada semua orang untuk mencari Kevin, ia penasaran kemana kakaknya itu pergi?
Kanya menyusuri setiap lorong- lorong rumah sakit, tapi tak juga bisa menemukan keberadaan Kevin, ia kembali mencari Kevin diluar rumah sakit dan ternyata benar Kevin sedang berada dihalaman rumah sakit, duduk termenung dibawah pohon yang rindang.
" kak Kevin sedang apa disini?". tegur Kanya duduk disebelahnya.
"tidak ada hanya sedang mencari angin saja".
" benarkah? jika kak Kevin ada masalah cerita saja pada Kanya, Kanya siap mendengarkan".
Kevin diam sejenak menatap langit yang tampak mendung, " kakak hanya sedang mencemaskan Khalisa saja".
"bukan kakak saja yang cemas tapi Kanya dan juga Mama sangat khawatir dengan keadaan kak Khalisa".
" kakak memang bukan kakak yang baik untuk kalian, kakak sudah gagal menjaga kalian".
"apa yang kakak katakan, mengapa harus merasa bersalah, semua bukan salah kak Kevin tapi memang sudah takdir".
" tapi kakak adalah anak laki satu- satunya, yang harus menjaga keluarga kita menggantikan almarhum Papa".
"tetap saja itu bukan alasan untuk bisa menyalahkan diri kakak sendiri, yang terpenting sekarang kita sama- sama menjaga kak Khalisa agar bisa segera sehat lagi dan melupakan masa lalunya yang pahit".
" kakak tidak menyangka ternyata adik kecil kakak sekarang sudah dewasa". puji Kevin mengacak- acak rambut Kanya.
"ihhhh... kak Kevin menyebalkan, mengapa harus mengacak- acak rambutku, aku pasti sekarang terlihat jelek dan berantakan". omel Kanya.
Kevin yang gemas sengaja mengacak - acak rambut Kanya kembali, membuat Kanya menekuk wajahnya karena jengkel dengan kelakuan Kevin.
" sebaiknya kita kembali kedalam, nanti Mama binggung mencari kita". ajak Kanya
"kau saja, kakak masih ingin disini".
" masih ingin merenungi kesalahan kakak?" goda Kanya cengegesan.
"yah tertawakan saja kakakmu ini sepuasnya". omel Kevin
Kanya hanya tertawa melihat Kevin yang merajuk, ia pun berlari kecil meninggalkan Kevin yang masih terus menatapnya.
Sementara Kevin kembali memandang langit setelah Kanya tak dapat lagi terlihat oleh matanya, meskipun Kanya sudah menghiburnya tetap saja ia masih merasa bersalah karena tak bisa menjaga Khalisa, sebagai seorang kakak ia akan berkorban apapun untuk kebahagian adiknya termasuk meninggalkan Ayumi meskipun ia masih sangat mencintainya, ia berharap jika nanti Khalisa akan kembali menemukan kebahagiaannya.
__ADS_1
Kevin kembali teringat janjinya
pada sang Papa sebelum menghembuskan napas terakhirnya, jika dirinya akan menggantikan tugas Papanya untuk selalu melindungi Mama dan adik- adiknya, tidak akan membiarkan mereka tersakiti dan hidup menderita, Kevin berjanji kali ini ia tidak akan membiarkan Khalisa sampai terluka lagi.