Cinta Untuk Khalisa

Cinta Untuk Khalisa
Bab 92


__ADS_3

Di bawah gemercik air hujan Khalisa menyusuri jalan, ia sudah tidak peduli jika pakaiannya jadi basah terkena air hujan, pikiranya saat ini begitu kosong sama dengan hatinya, Khalisa masih saja kepikiran dengan masalah yang saat ini ia hadapi dengan Irsyad, jika Irsyad terus menghindarinya bagaimana masalah diantara mereka akan berakhir, keadaan seperti ini hanya akan memperpanjang jarak permasalahan yang sedang terjadi, Khalisa berharap semoga waktu kesendirian Irsyad akan dapat membuat Irsyad berpikir untuk memaafkannya kembali.


Ditengah lamunannya Khalisa tak sengaja menangkap sosok yang mirip dengan Irsyad, entah itu benar Irsyad atau hanya khayalannya saja karena terlalu merindukan Irsyad, Khalisa berjalan menghampiri agar lebih dekat lagi pada sebuah kafe, dimana ia melihat seseorang yang mirip dengan Irsyad, dengan cemas Khalisa berharap agar yang ia lihat itu salah karena tidak mungkin Irsyad dijam bekerja seperti ini bersama seorang wanita yang duduk membelakanginya, mereka terlihat sedang terlibat perbincangan sampai tak menyadari kehadiran Khalisa yang hanya berjarak 2 meter dari mereka.


Jantung Khalisa bagai tersambar petir melihat yang ada didepan matanya ternyata memang Irsyad dan wanita itu adalah Thania, bagaimana mungkin Irsyad begitu tega mengkhianati kepercayaannya, walaupun saat ini ia memiliki kesalahan bukan berarti Irsyad berhak melanggar janjinya untuk tidak menemui Thania dan menyakiti dirinya, Khalisa yang marah hanya bisa meneteskan air matanya, ia memilih untuk pergi dari sana karena ia tidak ingin menambah masalah yang sedang terjadi diantara mereka.


Khalisa berlari melawan air hujan yang mulai deras, ia tak mengerti mengapa angkot yang ia tumpangi harus mogok dan membuatnya berjalan sehingga ia jadi melihat kebersamaan Irsyad dan Thania, rasanya Khalisa sudah tak mempunyai semangat lagi untuk pergi ke Resto, saat ini Khalisa seperti tak punya arah tujuan, sampai langkah kakinya berhenti disebuah taman yang cukup sepi, dengan lemas Khalisa terduduk dikursi panjang, mengistirahatkan tubuhnya yang sudah lelah.


Khalisa yang sedang memperhatikan taman didepannya dengan tatapan kosong tiba-tiba dikejutkan dengan suara dari ponselnya, ternyata panggilan masuk dari oppa Seo jun, Khalisa yang kaget lantas melihat jam diponselnya, ternyata sudah satu jam ia terlewat dari jam kerjanya, Khalisa yang merasa tak enak pun segera mengangkat panggilan dari oppa Seo jun sambil memikirkan alasan untuk diberikan pada oppa Seo jun, kali ini ia memang sudah keterlaluan karena telah mencampur adukan urusan pribadinya pada pekerjaan, harusnya tadi ia mampu untuk mengkontrol dirinya.


oppa Seo jun:"halo Khalisa, kau dimana?kau tahu sekarang sudah jam berapa?"


Khalisa :"maaf oppa, tadi saya kurang enak badan dan saya minum obat tapi malah ketiduran".


oppa Seo jun:"baiklah kau istirahat saja tapi lain kali tolong kasih kabar".


Khalisa :"iya oppa maaf, terima kasih banyak atas pengertiannya".


Khalisa merasa lega sekaligus merasa bersalah pada oppa Seo jun karena telah berbohong tapi saat ini dirinya benar-benar tak punya kekuatan lagi untuk menjalani rutinitasnya seperti biasa.


Khalisa yang terdiam kembali termenung memikirkan nasibnya, apakah sekali lagi ia harus merasakan trauma pada hubungannya dengan seorang pria? apakah sudah takdirnya menjalani hidup seperti ini? dimanakah kebahagiaan yang selama ini ia cari? semula ia berpikir jika Irsyadlah kebahagiaan untuknya, tapi sekarang ia merasa ragu jika kebahagiaan akan datang dalam hidupnya.


Meski hari sudah mulai gelap namun Khalisa masih enggan untuk pulang, ia masih ingin menghabiskan waktunya diluar rumah, karena menurutnya kembali kerumah hanya akan membuatnya terus mengginggat Irsyad, ia juga merasa belum siap jika nanti bertemu dengan Irsyad, yang ada mereka akan kembali berdebat dan saling melukai.


Dengan ketidakpastian Khalisa berjalan meninggalkan taman, Khalisa lupa jika dari pagi tadi ia belum makan nasi, hanya semangkuk mie instant yang dimakannya saat sarapan, Khalisa tak peduli pada perutnya yang sakit karena kelaparan, ia berusaha menyusuri jalan dengan sisa tenaganya.

__ADS_1


Khalisa merasa jalan didepannya berputar, Khalisa yang panik hanya bisa menyandarkan


tubuhnya disebuah tembok, Khalisa juga merasa kepalanya sangat berat membuat kedua matanya ingin terpejam, meski berusaha sekuat tenaga Khalisa akhirnya terjatuh tak sadarkan diri, namun untungnya ada seseorang yang menopang tubuh Khalisa kembali sehingga tidak terjatuh dijalan.


Dengan cemas Sultan menggangkat tubuh Khalisa kedalam mobilnya, syukurlah secara tidak sengaja ia melihat Khalisa dipinggir jalan, ia yang merasa ada yang tidak beres pada Khalisa segera menghentikan mobilnya dan berlari ketempat Khalisa berdiri, untungnya ia dapat menghampiri Khalisa tepat waktu, sambil menyetir mobilnya Sultan berusaha menyadarkan Khalisa yang ada disampingnya dengan menepuk-nepuk pelan pipinya, melihat Khalisa yang tak meresponnya , Sultan yang sangat khawatir menambah kecepatan mobilnya agar cepat sampai kerumah sakit, ia sangat takut jika sesuatu terjadi pada Khalisa, apalagi melihat wajah Khalisa saat ini begitu pucat dengan tubuh yang sangat dingin.


"Khalisa aku mohon sadarlah, aku sangat mencemaskanmu". gumam Sultan menggenggam tangan Khalisa berharap Khalisa bisa merasakan kehangatan tangannya.


Tanpa berlama-lama lagi Sultan segera menggangkat tubuh Khalisa begitu mereka sampai di depan rumah sakit.


" suster, dokter tolong teman saya!!". teriak Sultan panik saat dilobi rumah sakit.


"teman anda kenapa pak?" tanya seorang suster menghampiri Sultan.


beberapa perawat akhirnya juga datang membantu Sultan untuk meletakkan tubuh Khalisa diatas brankar dan membawa Khalisa keUGD, Sultan yang terus mengikuti segera dihentikan oleh seorang suster saat akan ikut masuk.


" maaf pak anda sebaiknya menunggu diluar"


ucap seorang suster.


"baiklah, tolong berikan perawatan yang terbaik untuk temanku". sahut Sultan berusaha menutupi rasa cemasnya.


Dengan sabar Sultan duduk dikursi tunggu yang ada dilorong-lorong rumah sakit, ia berharap keadaan Khalisa akan baik-baik saja, sambil terus menerus memperhatikan ruang UGD, Sultan tak henti-hentinya berdoa untuk Khalisa, sebenarnya sejak tadi Sultan juga sangat penasaran apa yang sebenarnya terjadi dengan Khalisa, mengapa keadaan Khalisa begitu memprihatinkan sekali, apa semua ini ada hubungannya dengan Irsyad? Sultan jadi kepikiran untuk mengabari Irsyad namun sayangnya ia tidak memiliki nomer handphone Irsyad, sebaiknya ia menunggu sampai Khalisa sadar, baru ia akan meminta nomer handphone Irsyad pada Khalisa.


Melihat seorang dokter yang keluar dari ruang UGD, Sultan buru-buru menghampirinya, ia sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaan Khalisa.

__ADS_1


" maaf dok, apa keadaan teman wanita saya baik-baik saja?".


"maksud anda nona Khalisa?".


" yah, apa Khalisa baik-baik saja".kata Sultan kembali mengulang pertanyaannya.


"nona Khalisa baik-baik saja, ia hanya telat makan karena itu asam lambungnya jadi naik, sepertinya ia juga habis kehujanan membuat daya tahan tubuhnya semakin lemah menyebabkannya tadi tak sadarkan diri".


" syukurlah". Sultan terlihat sedikit lega


"nanti akan ada suster yang mengantarkan makanan dan obat untuk nona Khalisa".


" baik dok, apa Khalisa harus dirawat?".


"tidak perlu, setelah makan dan minum obatnya nona Khalisa bisa anda bawa pulang dan beristirahat dirumah".


" apa sekarang saya boleh menemui Khalisa?".


"silahkan, kalau begitu saya juga pamit karena masih harus memeriksa pasien lain".


" terima kasih banyak dok".


Setelah menjabat tangan dokter tersebut, Sultan segera memasuki ruang UGD, ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Khalisa karena dirinya tidak bisa tenang jika belum melihat Khalisa dengan matanya sendiri.


πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2