Cinta Untuk Khalisa

Cinta Untuk Khalisa
Bab 73


__ADS_3

Melihat air yang tampak tenang rasa nya membuat diri kita merasa damai dan tentram, meski hanya hamparan air tapi mampu membuat mata terpana saat memandangnya.


Khalisa berdiri disamping seseorang yang memintanya untuk datang ke sebuah taman yang terdapat danau buatan di dalam nya, ia segera datang kesana dan mengakhiri pertemuannya bersama Ketty, pemandangan disana terlihat indah meski berada dipertengahan kota yang bising dan berpolusi.


untuk beberapa saat Khalisa ikut memperhatikan danau didepannya sama seperti yang dilakukan oleh Sultan.


"ada apa kamu meminta bertemu denganku?" tegur Khalisa karena sejak tadi Sultan hanya diam saja.


"apa kamu menikmati pemandangan disini?" bukan menjawab Sultan malah bertanya juga. membuat Khalisa jadi heran saja.


"yah disini sangat indah". sahut Khalisa akhirnya.


tanpa sengaja Khalisa jadi teringat tempat favoritnya dan Arion dulu, tempat yang hampir sama persis dengan yang sekarang ia datangi, cepat-cepat Khalisa menyingkirkan ingatannya itu.


" kamu belum menjawab pertanyaanku". gerutu Khalisa.


Sultan memutar tubuhnya menghadap Khalisa, "apa yang kamu dan Nova sembunyikan dariku?".


" aku tidak mengerti maksudmu, aku dan Nova tidak menyembunyikan apapun darimu".elak Khalisa.


"jangan bohong, apa kalian sudah mengetahui penyakitku?". ketus Sultan


Khalisa tampak binggung, tak tahu harus berbicara apa pada Sultan tapi dirinya tak mungkin bisa berpura-pura lagi di depan Sultan karena ternyata Sultan lebih pintar dari sandiwara ia dan Nova.


" anggap saja kamu tidak pernah tahu, aku tidak ingin kalian mengasihani diriku, perlakukan aku sama seperti biasanya". ucap Sultan dengan tatapan kosong


"kamu salah, kami bukan mengasihani dirimu tapi sebagai teman kami sangat peduli padamu".


" sama saja". sahut Sultan


"tapi benarkah dirimu sedang sakit, karena dari luar kamu terlihat baik-baik saja".

__ADS_1


" yah begitulah, awalnya aku juga tak percaya jika diriku sakit, tapi saat aku divonis terkena kanker, aku tak bisa berbuat apa-apa".


Didepan Khalisa Sultan tak ingin terlihat lemah, dengan tegar Sultan berusaha membicarakan penyakitnya, yang sebenarnya tak ingin diingatnya dan membuatnya merasa menjadi tak berdaya.


"pertama kali aku merasakan sakit kepala, aku menyepelekannya karena kupikir hanya pusing biasa, tapi lama-lama aku sering sekali sakit kepala hebat bahkan sampai pingsan, hingga akhirnya dokter memvonisku terkena kanker otak, saat itu aku dan Angelyn masih berpacaran, setelah tahu keadaanku Angelyn mengakhiri hubungan kami". kata Sultan panjang lebar.


mendengarkan cerita Sultan membuat Khalisa menjadi sedih, ia tak menyangka dibalik kehidupan Sultan yang sempurna tersimpan duka.


Sultan kembali melanjutkan perkataannya " aku sangat terpuruk saat Angelyn meninggalkan diriku, rasanya hidupku benar-benar sudah hancur, tapi tak lama Angelyn kembali lagi dan membuat diriku bangkit dari keterpurukan, kami memutuskan untuk bertunangan namun sayangnya aku harus mengetahui jika Angelyn bukan wanita yang baik untukku, aku tak sengaja mendengar percakapan Angelyn dengan mama nya, jika ia hanya menginginkan hartaku saja, ia kembali padaku hanya untuk memanfaatkan kelemahanku karena ia sudah tak mencintai diriku lagi setelah ia tahu aku hanyalah seorang pria penyakitan". ada kesedihan diwajah Sultan yang sangat jelas terlihat yang sebelumnya tak pernah ia tunjukkan.


"apa kamu masih mencintai Angelyn".


" tidak, aku tahu jika dulu aku hanya melihat kecantikan nya saja bukan mencintainya". jelas Sultan, "sekarang aku baru memahami arti cinta yang sesungguhnya, cinta bukan hanya dari pandangan mata saja tapi dari dasar hati kita, bahagia melihat dia bahagia, sedih ketika dia tak bahagia, cinta tidak egois tapi mengalah, cinta juga tak harus memiliki dan terobsesi".


Khalisa terdiam, ia merasa Sultan sedang membicarakan dirinya atau mungkin hanya dirinya saja yang kepedean.


"sekarang aku hanya ingin disisa hidupku bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik, mungkin Sultan yang sekarang Kamu kenal jauh lebih baik dari diriku yang dulu arogan, tak berperasaan, selalu terobsesi untuk mendapatkan wanita good looking, aku juga selalu egois dan mau menang sendiri, mungkin sekarang aku sudah mendapatkan karma nya".


"yah kamu benar, tapi aku harus membayar mahal untuk semua itu, setelah aku berubah maka hidupku pun akan berakhir".


" aku mohon jangan pesimis, tidak ada yang tidak mungkin didunia ini".


"tapi kemungkinanku hanyalah 10%".


" aku yakin 10% itu akan membawamu pada kesembuhan".


"jangan bicara harapan palsu, aku sudah bisa menerima takdirku jika hidupku memang tidak akan lama lagi".


Khalisa merasa terharu hingga meneteskan airmatanya, mungkin dirinya tidak akan sekuat Sultan jika semua itu menimpa dirinya.


" semoga semua ini tidak mempengaruhi dirimu, jangan berteman denganku hanya karena rasa kasihan mu karena aku sama sekali tak membutuhkannya".

__ADS_1


"kamu itu pede sekali siapa juga yang kasihan padamu". gurau Khalisa membuat Sultan tersenyum.


" jika nanti aku botak dan tak tampan lagi, apa kamu masih mau berteman denganku?".


"memangnya kenapa jika botak, justru kamu akan terlihat lebih maco". goda Khalisa


" apa aku juga akan terlihat lebih seksi seperti pangeran william?". sahut Sultan membuat tawa mereka pecah.


Sultan merasa bahagia karena ia tak salah menilai Khalisa, wanita yang apa adanya dan memiliki hati yang tulus, ia sama sekali tak menyesal mencintai Khalisa walau tak bisa memiliki nya, ia bangga bisa mencintai wanita seperti Khalisa, andai ia bisa dilahirkan kembali ia berharap Khalisa yang akan menjadi rekan hidupnya.


"apa kamu bicara juga pada Nova?"


"tidak".


" kenapa tidak? Nova juga sangat mencemaskanmu".


"malas, percuma saja dia pasti tidak akan mendengarkanku, malah seenaknya sendiri, kamu lihat kemarin dia memelukku seolah-olah aku ini anaknya saja yang baru pulang dari perang".


Khalisa cekikikan mendengar ucapan Sultan, ia kembali teringat kejadian kemarin saat direstoran, Nova kadang memang suka overprotektif karena rasa pedulinya.


" terima kasih karena sudah tulus berteman denganku".


"kamu itu bertingkah seperti anak sd saja, kenapa harus berterima kasih, saat dewasa kita dekat dengan seseorang itu adalah sebuah pilihan tapi saat masih kanak-kanak kita berteman hanya karena terpaksa ingin punya teman bermain saja, makanya saat dewasa tak perlu lagi mengucapkan terima kasih tapi cukup perlakukan saja temanmu sebaik-baiknya dan hargai dia".


" aku tidak menyangka jika dirimu bisa juga bijaksana selain marah-marah". ledek Sultan membuat Khalisa menggangkat tangannya namun tak jadi melayangkan pukulan nya pada Sultan.


"kenapa tidak jadi?". goda Sultan


" kata siapa tidak jadi". sahut Khalisa yang langsung mencubit bahu Sultan.


Bukan rasa sakit yang Sultan rasakan dibahunya, tapi justru merasakan kebahagiaan di hatinya, hidupnya jauh lebih berarti saat ada Khalisa didekatnya, semoga saja ia masih memiliki banyak waktu untuk membuat kenangan indah bersama Khalisa.

__ADS_1


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2