
Dengan ragu Sultan memberitahukan keinginannya pada Khalisa yang sudah lama ia pendam, mungkin sekarang adalah saat yang tepat untuk bicara pada Khalisa, ia takut Khalisa akan menolak permintaannya mentah-mentah.
"tunggu Khalisa ada yang ingin aku bicarakan padamu". ucap Sultan menghentikan Khalisa yang akan turun dari mobilnya karena mereka sudah sampai didepan resto.
" ada apa?" sahut Khalisa menyandarkan kembali bahunya disofa mobil.
Sultan masih terlihat ragu membuat Khalisa yang menunggunya untuk bicara merasa jengkel.
"kalo kamu tidak jadi bicara lebih baik aku turun sekarang". ancam Khalisa
" bisakah kamu sabar sedikit, aku juga baru ingin bicara namun sudah keduluan olehmu".
"maaf, makanya jangan terlalu lama berpikir".
" begini....aku berencana akan pindah ke Surabaya dan aku berharap kamu mau ikut denganku untuk membantu bisnisku disana".
"maaf tapi aku masih tidak paham maksudmu, mengapa kamu harus pindah ke Surabaya, lalu bagaimana dengan bisnismu yang di Jakarta dan mengapa kamu mengajakku?" tanya Khalisa panjang×lebar.
"sebenarnya papi dan mami sudah lama menyuruhku untuk beristirahat dan fokus pada kesehatanku, kebetulan di Surabaya ada rumah keluargaku, disana suasananya lebih tenang dibandingkan Jakarta, aku pikir jika kamu ikut akan bisa membantuku mengawasi bisnisku, karena malvin tidak bisa ikut denganku, aku mempercayakan semua bisnisku di Jakarta untuk dihandle olehnya".
" tapi aku tidak mengerti apapun soal bisnis".
"aku akan mengajarimu".
" jujur aku masih terkejut dengan permintaanmu, kenapa harus mendadak seperti ini, bisakah aku memikirkannya dahulu".
"sebenarnya tidak mendadak, aku sudah memikirkannya sejak lama, aku yakin kamu juga membutuhkan suasana yang baru , apa kamu tidak ingin move on dari masa lalumu". bujuk Sultan berusaha meyakinkan Khalisa.
" saat ini aku memang sedang menata hatiku kembali tapi aku belum kepikiran untuk menata kehidupan yang baru, aku masih merasa nyaman dengan kehidupanku yang sekarang".
"apa kamu takut untuk melangkah kedepan".
__ADS_1
" aku bukannya takut tapi hanya belum siap saja".
"masa depanmu masih panjang Khalisa, kamu masih dapat mengejar mimpimu tidak sepertiku, tapi liat apakah aku berhenti berjuang untuk hidupku yang tinggal seumur jagung".
" jangan bicara seperti itu".
"habis aku harus bilang apa, jika kamu saja tidak berani melangkah untuk masa depanmu bagaimana dengan diriku, apakah aku harus lebih pesimis darimu?".
" kamu memang pemaksa yang ulung, aku yakin kamu tidak akan berhenti membujukku sampai akhirnya aku menyerah".
Sultan tersenyum lebar, dia memang tidak akan menyerah dan menerima penolakan dari Khalisa, ia juga sengaja mengajak Khalisa agar dokter Nill tidak bisa lagi mendekati Khalisa, Sultan tidak berbohong, ia memang akan tinggal sementara waktu diSurabaya untuk pemulihannya karena selain disana lebih tenang, ia juga akan dirawat oleh dokter keluarganya yang didatangkan langsung dari Amerika, Sultan sebenarnya sudah berulang kali menolak keinginan orangtuanya namun setelah kedatangan dokter Nill Sultan berubah pikiran, ia ingin bisa sehat kembali agar bisa selamanya berada disisi Khalisa.
"aku akan rundingkan dulu semua ini dengan Mama". ucap Khalisa akhirnya menyerah daripada terus berdebat dengan Sultan.
Setelah mengakhiri pembicaraannya dengan Sultan, Khalisa segera turun dari mobil, berlari kecil memasuki resto karena rintikan air hujan yang masih terus berjatuhan.
Selama bekerja Khalisa terus kepikiran kata- kata Sultan, apakah ia harus menerima tawaran Sultan atau harus menolaknya? sangat tidak mudah baginya untuk mengambil keputusan, ia masih terlalu takut untuk melangkah kedepan meninggalkan kenangan masa lalunya, sejujurnya ia tidak ingin meninggalkan ibu kota karena terlalu banyak kenangan tentang Irsyad dan Alika yang tak ingin ia lupakan.
"dokter Nill, sedang apa disini? membuat aku kaget saja".
" apa seorang dokter tidak boleh makan disini?".
"bukan begitu maksudku, aku hanya kaget saja melihatmu tiba- tiba ada didepanku".
" sepertinya kau tidak sadar dengan keberadaanku karena sejak tadi aku perhatikan kau sibuk melamun". ledek dokter Nill.
Khalisa yang merasa malu hanya bisa tersenyum kaku.
"baiklah aku kesini untuk membayar tagihanku karena aku sudah selesai makan". kata dokter Nill lagi menggeluarkan selembar uang merah dari dompetnya.
" sekali lagi aku minta maaf karena tidak melihatmu". ucap Khalisa yang merasa tidak enak karena tidak menyapa dokter Nill, ia takut dokter Nill salah paham dan mengganggapnya sombong, bagaimanapun juga dokter Nill pernah menolong dirinya.
__ADS_1
Dokter Nill hanya tersenyum manis, ia tahu Khalisa tidak mungkin sengaja mengacuhkan dirinya.
"baiklah, sampai jumpa lagi Khalisa". pamit dokter Nill berlalu dari sana.
Khalisa hanya diam sembari melontarkan sebuah senyuman pada dokter Nill.
Entah mengapa belakangan ini Khalisa merasa selalu dipertemukan dengan dokter Nill, apakah hanya sebuah kebetulan?
Setelah hari yang melelahkan diresto akhirnya Khalisa bisa meregangkan otot- ototnya yang lelah, ia langsung menghempaskan tubuhnya diatas kasur begitu sampai dirumah.
Khalisa kembali mengginggat pembicaraannya dengan Sultan, ia binggung bagaimana menyampaikan kepada Mamanya, karena apa yang baru saja dilalui dalam hidupnya sangatlah berat, sangat tidak mungkin bagi sang Mama untuk membiarkannya pergi jauh, pasti akan membuat Mamanya bertambah cemas, tapi semua yang Sultan katakan ada benarnya, kata- kata Sultan memberi motivasi untuknya, ia tidak ingin selamanya terjebak dalam situsi yang sama, ia sangat berharap ada perubahan besar dalam hidupnya, bukan cinta tapi sebuah kesuksesan, jika tidak berani melangkah maju bagaimana ia bisa mengejar mimpi dan masa depannya, mungkin sedikit terlambat tapi lebih baik daripada tidak sama sekali.
Khalisa yang merasa perutnya keroncongan segera keluar menuju dapur, ternyata tak ada makanan yang bisa dimakan langsung olehnya, tumben sekali sang Mama tidak memasak apapun, ia juga belum melihat Mamanya sejak ia pulang kerumah.
Khalisa yang sudah tak bisa menahan rasa laparnya terpaksa harus memasak mie instan, simple dan mudah tak perlu cape-cape memasak apalagi disaat perutnya sudah kelaparan.
" dor......!!!" teriak Kevin seraya memegang pundak Khalisa berusaha menggagetkan.
"apaan sih kak Kevin bikin kaget orang saja". omel Khalisa namun Kevin cuma nyengir menunjukkan deratan giginya yang berbaris rapi.
" apa lo liat Mama?". tanya Kevin memperhatikan sekelilingnya.
"nggak, dari tadi gw juga belum liat Mama".
" gak biasanya Mama pergi tanpa pamit padahal dari tadi gue ada dikamar".
"mungkin Mama lagi ada urusan, buru-buru makanya lupa pamit". sahut Khalisa seraya menggangkat mienya yang sudah matang kedalam mangkok.
" gue laper, sekalian masakin buat gue dong". pinta Kevin menyerahkan sebungkus mie instan pada Khalisa.
Dengan terpaksa Khalisa menuruti permintaan Kevin, meskipun ia merasa kesal karena harus rela menunda makannya padahal cacing cacing di perutnya sudah berdemo.
__ADS_1
Kevin yang melihat wajah cemberut Khalisa hanya bisa menahan tawanya karena sudah berhasil mengganggu adik perempuannya itu.